
"Dengarkan aku! Aku memang jatuh hati padamu, tapi kau sama sekali tidak berharga dimataku. Dan alasanku menyembunyikan tentang Yuki darimu, karena aku tidak berniat buat mempertemukan mu dengan Yuki. Aku tidak ingin mendengar Yuki memintaku untuk menceraikanmu, karena pastinya aku takkan menolak keinginannya." Masaomi mengatakannya tanpa sekalipun memikirkan perasaan sang Istri, ia benar-benar orang yang tidak memiliki empati sama sekali.
Tanpa sadar, Nyonya Ushijima meneteskan air mata kekecewaan. Dia sampai memberikan tatapan penuh kekecewaan pada Masaomi, "Kau sudah keterlaluan,Mas. Aku sangat kecewa padamu. Lebih baik aku pulang saja ke Rumah orang tuaku," ancamnya yang langsung berjalan pergi, seolah-olah berharap agar Masaomi menghentikannya.
Namun, sepertinya dugaan Nyonya Ushijima salah besar. Jangan mencoba menahan Nyonya Ushijima untuk pergi, berbalik arah saja Masaomi enggan sama sekali. Malahan ia berteriak keras dengan nada tenang yang bisa didengar jelas oleh istrinya itu.
"Terserah kau saja, aku anggap keputusanmu ini sudah dipikirkan dengan matang. Dan kuharap kau kembali setelah sudah tenang, karena aku tak punya waktu buat membujukmu saat ini. Aku harus menghukum anakku yang sudah kelewat batas, tak sepantasnya ia berperilaku yang tidak mencerminkanku."
Dalam sekejap, tangisan Nyonya Ushijima langsung pecah usai Masaomi mengatakan hal tersebut. Dimana saat yang bersamaan, Ushijima sampai tak bisa berkata apa-apa lagi melihat kesedihan Mamanya, ia tak habis pikir kalau Pria yang ada dihadapannya itu sangatlah berbanding terbalik dengan sosok Ayah kandungnya. Betapa mirisnya sang ibu menikahi Pria keji seperti Masaomi, ia tak bisa bayangkan apa yang sekarang tengah dirasakan oleh ibunya itu.
"Aku membencimu, Mas." Nyonya Ushijima berteriak untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia membereskan baju-bajunya yang ada dikamar. Ushijima cuman bisa tercengang saja, ia sendiri bingung mau membela ibunya atau melindungi adiknya sekarang. Dia sendiri juga tak menjamin kemurahan hatinya bisa menenangkan perasaan sang ibu saat ini.
"Sekali lagi kuberitahu padamu, ikut aku sekarang Akashi Seijuro!" perintah Masaomi yang kembali memusatkan perhatiannya pada Akashi. Dan kali ini, tampaknya Akashi mulai berhenti melamun dan berhenti bersembunyi dibalik badan Ushijima.
"Mari kita berterus-terang saja, Pa. Kau tidak benar-benar menyayangiku, kan?" tanya Akashi.
"Kau menanyakan pertanyaan yang bodoh, jelaslah aku menyayangimu. Kau adalah diriku yang harus kudidik keras untuk bisa memegang nama baik keluarga kita, Akashi." Masaomi tak banyak berpikir tatkala menjawab pertanyaan dari Akashi.
__ADS_1
Akashi yang mendengarkan Jawaban dari Ayahnya mulai paham apa yang selama ini tengah diutarakan sang Ayah, ia sampai tersenyum geli bila membayangkan dirinya yang sejak dulu kerap salah sangka pada sang Ayah.
"Aku pikir kau sangat menyayangiku sebagai anakmu, ternyata aku salah sangka. Aku benar-benar bodoh, sampai tak menyadarinya." Senyuman Akashi berubah menjadi tawa ringan, ia terlihat semakin marah saat ini.
"Bukan kesalahanku kalau kau salah paham sama Papa, Akashi. Harusnya kau bersyukur bahwa aku mencoba mencari alasan yang tepat untuk belajar mencintaimu, tapi mengapa kau malah menemui Yuki? Neneknya memberitahuku kalau kondisi kesehatannya menjadi memburuk, karena ulahmu." Masaomi mulai berterus- kembali, tampaknya ia sudah tak mempermasalahkan keberadaan Ushijima dalam pembicaraan mereka.
Akashi mulai berhenti tertawa, ia menoleh kepads Ushijima. "Kali ini kau salah, Ushijima-san. Nyatanya memang ada seorang Ayah yang tidak benar-benar mencintai anaknya, ucapanmu sebelumnya itu salah."
Ushijima hanya terdiam saja, ia tak punya kamus kata yang tepat untuk menjawab perkataan Akashi saat ini. Dia juga seperti meragukan ucapan dari mulutnya saat itu, sepertinya perkataannya waktu itu menjadi sebuah kesalahan besar yang malah membuat Akashi berujung pada pengharapan yang berlebihan.
"Tidak semua Ayah mencintai anaknya, termasuk salah satu contohnya adalah Papa. Dan semua yang dilakukannya untukku karena ia tak mau piala sepertiku menjadi rusak dan bernoda, ia benar-benar menjagaku selayaknya bagaimana seorang atlet yang menjaga dan melindungi piala dan piagam yang dimilikinya. " Akashi mengalihkan pandangannya dari Ushijima, ia kembali menatap Papanya.
Akashi sampai tersenyum geli melihat sikap dingin Masaomi, ia sampai malu pada dirinya yang terus memuja sang ayah selama ini dan bersembunyi pada harapan yang palsu.
"Bodohnya aku selama ini terus menyangkal, padahal aku sudah tahu keraguanku selama ini. Aku hanyalah Boneanya, kalau saja aku bisa mempertahankan kesempurnaanku selamanya, maka secara tak langsung Papa akan mengakui dirinya sebagai bentuk manusia yang sempurna. Aku hanyalah bentuk kekecewaannya terhadap Yuki, ia tahu kalau dirinya butuh penerus yang akan menjalankan kewajiban sebagai seorang Akashi di keluarga ini. Biar nantinya, Papa bisa melepas tanggung jawab padaku dan hidup bahagia dengan keluarga yang sempurna bersama Yuki, kau dan ibumu. Itulah kenyataan yang sebenarnya, benarkan Pa?" tanyanya yang hanya di anggukan oleh Masaomi.
"Aku mulai paham alasanmu menemui Yuki, tapi tetap saja kau harus diberi hukuman untuk itu. "
__ADS_1
"Tunggu! Kalau memang yang dikatakan Akashi itu benar, terus kenapa kau mau menghukumnya?" tanya Ushijima yang masih agak bingung untuk sesaat, sebelum akhirnya ia mulai mendapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaannya sendiri.
"Kau benar-benar gila, Pak Masaomi. Jangan bilang kalau kau menganggap semua kesalahan Akashi sebagai kesalahan kau juga dan begitulah sebaliknya. Makanya kau menghukumnya sebagai bentuk hukuman terhadap dirimu juga. Sadarlah! Dia itu anakmu juga," teriak Ushijima yang benar-benar murka, ia tak menyangka bahwa semua luka lebam yang dialami Akashi adalah hukuman yang diberikan Masaomi pada adiknya. Dan sangat tidak masuk diakal, ia menjadikan luka yang diperoleh Akashi itu sebagai bentuk hukuman yang harus ditanggungnya karena tidak mampu menjadikan Akashi sebagai sosok yang sempurna.
"Kau sepertinya paham apa yang sedang kami bicarakan ya, Wakatoshi? Tapi kau juga tidak berhak menghakimiku, karena aku juga merasa hancur saat memberikan hukuman pada Seijuro, tapi hukuman itu adalah hukuman yang tepat untuk membuatku terluka. Sebab, Seijuro adalah diriku sendiri."
"Kau benar-benar gila, Pak Masaomi!" teriak Ushijima yang tak menyadari bahwa kini ia sedang berlari mendekati Masaomi. Dan tak menunggu waktu lama, ia sudah mendaratkan beberapa pukulan di wajah Masaomi yang membuatnya terjatuh ke lantai.
Namun rasanya pukulan Ushijima adalah sebuah kesalahan besar, sebab beberapa pelayan langsung menghampiri keduanya untuk menyelamatkan Masaomi. Dan menarik paksa Ushijima kedalam kamarnya sendiri dengan dikunci dari luar. Memang benar sih kalau Masoami memegang kekuasaan tertinggi di Rumah itu.
Untungnya ia dikunci tak begitu lama di kamarnya. Sebab, tak sampai dua jam saja pintu kamar itu terbuka lebar dan memperlihatkan sosok Nyonya Ushijima yang berlari memeluk putranya itu.
Tampak jelas air mata Nyonya Ushijima menangis kuat dipelukan Ushijima, ia sepertinya mengurungkan niat untuk pergi dari sana. Entah bagaimana cara Nyonya Ushijima membujuk Masaomi, tapi yang jelas setidaknya sikapnya ini memperjelas bahwa walau bagaimanapun ia masihlah Sangat menyayangi Ushijima terlepas dari sikap egoisnya selama ini .
Tapi sepertinya Ushijima tak punya waktu untuk menerima kehangatan sang ibu, ia langsung melepaskan pelukan ibunya dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tidak diperuntukkan untuk Nyonya Ushijima.
"Dimana Akashi?" tanyanya yang langsung membuat Nyonya Ushijima berjalan mundur.
__ADS_1
****
Hai guys, menurut kalian ceritanya udah ngawur atau belum? kalau mau krisan, silahkan aja ya kritik dan sarannya atau berikan pendapat kalian bila ada bagian yg kalian tidak suka. author menerima segala macam kritik dan saran, baik itu negatif Atau positif.