STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
56


__ADS_3

Sorakan kemenangan yang dilantunkan oleh anggota Rakuzan menandakan berakhirnya pertandingan antara Henry dan Akashi yang mana dimenangkan oleh sang Kapten Rakuzan tersebut.


Banyak mata yang menatap kagum kepada kemampuan Akashi yang mulai membaik selepas dari tragedi yang sempat menimpanya, termasuk diantaranya ialah sang pelatih yang melihat dari jauh pertandingan tersebut tanpa sekalipun disadari oleh mereka keberadaannya.


"Kau sudah kalah dariku, itu artinya kau tidak bisa lagi menolak tawaranku." Akashi tersenyum, berbanding terbalik dengan Henry yang rasanya ingin menyumpahi kegagalannya hari ini.


"Terserah kau saja," ketusnya yang langsung pergi dengan kedua tangan yang saling mengepal.


"Kepribadiannya benar-benar buruk, aku tidak bisa membayangkan kalau Sei-Chan akan menjadikannya sebagai Tim Utama." Mibuchi yang mulai menyadari tentang kebenaran ini dan apa yang tadi dibicarakan oleh Akashi dan Henry merasa tidak terlalu senang akan keputusan Akashi, tapi disisi lain ia juga tidak ingin membantah keputusan Akashi yang memang selalu tepat terlepas dari ketidaksukaannya kepada sikap Henry.


"Tenang saja, Senpai. Kali ini aku akan menggendong tim kita untuk menjadi yang terbaik, aku akan membuatkan kemenangan yang terindah untuk kalian sebelum lulus SMA." Akashi tersenyum saat menatap Mibuchi, Hayama dan Nebuya secara bergiliran.


"Sei-Chan...," lirih Mibuchi yang terkagum-kagum, tak biasanya ia merasa sangat dihargai oleh seorang Junior hebat seperti Akashi.


"Hentikan reaksi kaget kalian itu, bukankah memang seharusnya itulah yang dilakukan seorang Junior kepada seniornya?"


"Ya, kau benar Akashi. Kau lama-lama membuat kami terkagum-kagum dengan pemikiranmu itu ya," puji Nebuya yang merasa bangga.


"Terimakasih Sei-Chan, kau memang Kapten terbaik."


Akashi memberikan bola ditangannya kepada Mibuchi, "Aku tahu itu." Ia mengatakannya dengan penuh percaya diri, lalu pergi meninggalkan lapangan sambil melihat notifikasi handphone dari Ushijima.


"Kau mau kemana, Akashi? Apa kita sudah selesai?" tanya Hayama.


"Aku ada urusan, kalian urus saja sisanya ya dan jangan lupa pendinginan!" perintah Akashi kepada ketiga senpainya itu, ia malah lebih tertarik untuk segera menghampirinya Ushijima yang telah menunggunya di pagar depan sekolah.


"Hei, Mibuchi! Menurutmu siapa yang akan lebih dipilih oleh Akashi untuk menempati posisi Tim utama selain Henry?" tanya Hayama penasaran.


"Menurutku sih Sei-Chan bakal memilih Carloz, meskipun ia berisik sepertimu tapi bakatnya tidak main-main."

__ADS_1


"Jangan bercanda, tidak mungkin orang gila itu terpilih." Hayama merasa tidak senang.


"Itu memang faktanya, Hayama. Walaupun aku juga tidak senang dengan Carloz, tapi aku bisa menerima keputusan Akashi untuk memilihnya." Nebuya masih terus menatap tajam kepada Carloz yang sedang mengobrol dengan anggota seangkatannya tanpa tahu malu.


"Padahal seingatku dia tidak terlalu bagus dulu," keluh Hayama yang masih ingat jelas hinaan Carloz tentang Raja tak Bermahkota.


"Ya, dia sudah berkembang pesat sejak hari itu. Apa mungkin kita yang sudah terlena dengan kemampuan kita ya? Makanya kita sedikit tertinggal darinya," ungkap Mibuchi yang sebenarnya merasa tidak senang untuk berterus-terang dalam mengkritik dirinya seperti ini.


"Kau benar, sepertinya kita harus lebih banyak latihan lagi. Tapi, kita juga tidak bisa mengecam fakta kalau dirinya memiliki bakat yang melebihi kita. Bahkan dua tahun yang lalu pun dirinya cukup hebat, ia mungkin saja bisa menjadi Tim utama seperti kita bila rumor itu tidak terdengar ditelinga pelatih."


"Rumor apaan rupanya, Nebuya?" tanya Hayama.


"Kau benar-benar kurang update ya, Hayama. Harusnya kau tahu dong tentang mereka berdua, apalagi sebentar lagi mereka akan menjadi anggota Tim kita." Mibuchi malah semakin kesal dengan pertanyaan Hayama yang sama sekali tidak mengetahui apapun.


"Memangnya apaan sih?" tanya Hayama.


"Oh gitu, lebay banget sih dia. Lalu, bagaimana dengan Henry?" tanya Hayama.


"Lain halnya dengan Carloz, kalau si Henry itu memilih mengundurkan diri dari tim karena selalu dicadangkan akibat turunnya performa dia... Kalau gak salah sih karena dirinya mengalami penurunan performa sejak dibanding-bandingkan dengan para anggota Kiseki no sedai, apalagi pelatih kan sering membandingkan kita dengan Akashi yang saat itu dirumorkan bakal masuk ke Rakuzan." Nebuya mencoba menjelaskan berdasarkan pengetahuannya kepada Hayama yang hanya dibalas anggukan oleh Hayama.


"Ah sudahlah, ayo kita pendinginan! Malah menggosip pula kita disini," tukas Mibuchi yang langsung menyudahi pembicaraan rahasia tersebut.


****


Akashi tersenyum melihat sosok Ushijima yang telah menunggunya di depan gerbang, ia bisa melihat terik matahari menyinari Ushijima dan membuat dahinya dibanjiri oleh tetesan keringat.


"Ada apa?" tanya Akashi.


"Kau masih mengenakan seragam Basket, apa aku terlalu cepat menjemputmu?" tanya Ushijima.

__ADS_1


"Ya, lain kali jemputlah saat matahari terbenam. Aku jadi tidak bisa mengganti baju karena dirimu, Ushijima-san. Dan selain itu, apa kita tidak dijemput dengan mobil saja?" tanya Akashi yang memperhatikan sekitarannya.


"Tidak untuk hari ini, soalnya aku mau mengajakmu untuk membeli kostum karakter dan aku tidak bisa bayangkan kalau Pak Supir akan mentertawakanmu nantinya."


"Kostum karakter? Tunggu, apa maksudmu aku harus melihat pertandingan.... Ah aku paham, kau sudah menulisnya didalam perjanjian kita." Akashi tidak bisa menolak ataupun membantah kali ini, ia hanya bisa pasrah saja untuk bersiap-siap mempermalukan dirinya.


"Baguslah kalau kau tidak membantah, aku pikir kau tidak akan menepati janjimu." Ushijima melangkahkan kakinya saat Akashi mulai duluan berjalan.


"Aku tidak selicik itu, Ushijima-San. Memangnya kau akan tanding dengan siapa?" tanya Akashi.


"Karasuno," jawab Ushijima.


"Balas dendam atas kekalahan waktu itu?" tanya Akashi sambil menoleh kepada Ushijima.


Ushijima mengangguk, "Sebenarnya sih sudah kubalas saat perkemahan musim panas lalu, tapi saat itu aku belum punya boneka supporter yang hebat sepertimu. Jadi, anggap saja kalau pertandingan persahabatan Minggu depan jadi ajang balas dendamku. Aku akan buktikan padamu kalau Shiratorizawa adalah tim yang hebat," ucap Ushijima penuh percaya diri, ia juga tidak lupa memberikan senyuman langkanya itu kepada Akashi, satu-satunya senyuman yang jarang sekali terlihat diwajahnya.


"Aku bukan boneka supportermu, Ushijima-San. Berhenti membuatku kesal," ketus Akashi.


"Baiklah, aku juga tidak berniat perang mulut denganmu kali ini." Ushijima meletakkan tangannya keatas kepala Akashi, ia tidak perduli apakah tindakan itu membuat Akashi kesal ataupun tidak. Namun yang jelas, ia memang sedikit senang untuk mengacak-acak rambut adiknya itu.


Akashi yang sudah terlalu lelah usai pertandingan dengan Henry sebelumnya, tak berniat untuk meributkan hal sederhana ini dengan Ushijima. Ia hanya membiarkan Ushijima mengacak-acak rambutnya dan tetap bersikap tenang seperti biasanya.


"Hei, Akashi! Boleh kutanya sesuatu?" tanya Ushijima yang tiba-tiba saja suaranya berubah menjadi serius.


"Apa itu, Ushijima-San?" tanya Akashi.


"Aku sudah mengetahuinya, tapi aku sama sekali tidak bisa memahami alasanmu bisa memiliki hal itu lagi. Apa itu karena aku?" tanya Ushijima yang membuat kedua langkah kaki Akshay terhenti.


"Apa maksudmu, Ushijima-San? Apa yang kau sebut "itu"?" tanya Akashi yang juga tidak kalah serius dalam menanggapi pertanyaan Ushijima.

__ADS_1


__ADS_2