STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
31


__ADS_3

"Anda tidak apa-apa, Tuan muda?" tanya Kento yang merupakan supir keluarga Akashi sekaligus supir pribadi Akashi.


"Tidak apa-apa, Kento-san. Terimakasih sudah mengantarkanku dan Anda tidak perlu menjemput saya, nanti saya bakal naik taksi saja." Akashi tersenyum.


"Baik, Tuan muda Akashi." Akashi langsung turun dari mobil dengan perlahan-lahan dan bergerak memasuki gerbang universitas tanpa menunggu kepergian mobil pribadinya.


Akashi memang bukanlah orang yang suka menunggu, karena menunggu adalah pekerjaan yang sangat meresahkan dan buang-buang waktu saja. Dan ia juga bukan orang yang suka minta maaf bila terlambat dan membuat orang lain menunggu untuk dirinya.


Dan saat ini, Akashi sudah terlambat 10 menit dari jam yang sudah dijanjikan. Tapi, hal tersebut tak sedikitpun menjadi masalah besar baginya yang malah berjalan santai menyusuri universitas.


Untungnya ia memiliki pemikiran yang cerdas untuk anak seusianya, sehingga ia tak perlu buang-buang waktu lagi untuk menambah keterlambatannya. Dimana dengan  bermodalkan alamat yang tertulis di potongan kertas, ia berhasil menemukan tempat itu tanpa sedikitpun kendala. Walaupun disana sudah ada Mayuzumi yang tengah mengobrol dengan salah seorang rekannya yang mengenakan seragam olahraga dan sebuah tongkat bantu di genggaman tangannya.


"Kau selalu saja datang terlambat, Akashi!" keluh Mayuzumi yang langsung menyadari kedatangan Akashi.


"Aku takkan meminta maaf atas keterlambatanku, Senpai."


Mayuzumi menghela nafas panjang, "Aku tahu itu, sudahlah tak usah dibahas lagi. Sia-sia juga mengeluh di hadapan orang sepertimu, kalau saja kau bukanlah mantan kaptenku dulu pasti aku takkan perlu lagi memperdulikanmu."


Pemuda berpakaian olahraga itu tersenyum, lalu berbicara keras ditelinga Mayuzumi sampai terdengar jelas ditelinga Akashi.


"Kau masih saja malu untuk mengakui keperdulianmu dengannya, Mayuzumi."


"Diamlah, Rei!" tukas Mayuzumi yang langsung berdehem dan mengalihkan topik.


"Oh iya, Akashi. Perkenalkan temanku ini bernama Rei Tsubaki, salah satu Atlit Judo nasional paralimpiade yang berhasil meraih juara 2 di ajang nasional beberapa bulan lalu." Mayuzumi membantu Rei untuk menyalami tangan Akashi.


"Salam kenal, namaku Rei Tsubaki. Senang berkenalan denganmu, Akashi Seijuro. Mayuzumi telah menceritakan banyak hal tentangmu," ucap Rei seraya tersenyum ramah.


"Mayuzumi-senpai bercerita apa tentangku?" tanya Akashi kepada Rei, lalu dialihkannya pandangannya kepada Mayuzumi. "Dan apa maksudnya semua ini, Mayuzumi Senpai?"


"Kau ingin menjelaskannya atau aku saja yang menjelaskannya, Mayuzumi?" tanya Rei.

__ADS_1


"Biar aku saja," jawab Mayuzumi yang langsung meletakkan ransel dan buku novelnya di salah satu bangku kosong yang ada didekat mereka.


"Aku sudah dengar dari Mibuchi, Hayama dan Nebuya, kalau kau masih ragu untuk berlatih bersama kembali dalam tim. Dan tujuanku sekarang ingin mengenalkanmu dengan Rei, mungkin saja Rei bisa menjadi contoh baik untukmu lebih percaya diri lagi terhadap semua hal yang telah direnggut darimu. Selain itu, Rei juga bakal memberikanmu bekal untuk meningkatkan kemampuanmu." Mayuzumi menepuk bahu Rei, seolah-olah memberikan isyarat untuk Rei berbicara.


"Benar, Akashi. Kau tidak akan sia-sia datang kesini hari ini, karena aku akan membantumu untuk bangkit kembali dan memberikanmu sedikit bekal. Apalagi kita ini sama-sama penyandang kebutaan, walaupun kau masih beruntung memiliki satu mata yang berfungsi. Tapi kupikir, tak ada alasan untuk calon atlet seperti kita menyerah hanya karena tidak lagi normal seperti orang lain."


Akashi tertawa geli, ia tak bisa berbohong kalau sebenarnya ia tak suka dikasihani seperti ini oleh orang lain.


"Kalian ini benar-benar lucu, memangnya aku ingin dikasihani oleh kalian? Apa sekarang kau ingin merendahkanku, Mayuzumi Senpai?" tukas Akashi.


"Tenanglah, Akashi. Aku hanya ingin membantumu, kau salah paham kalau berpikiran negatif seperti itu."


"Kalau begitu aku menolak untuk menerima bantuanmu, Mayuzumi-senpai. Lagian aku juga gak minta untuk dibantu oleh siapapun, aku ini Akashi Seijuro yang bisa dalam segala hal. Kalian tidak perlu repot-repot berniat baik padaku," ucap Akashi yang langsung pergi dari sana, tampak jelas wajahnya yang geram.


"Hei, Akashi! Bisakah kau menghargai sedikit bantuan orang lain?" tanya Mayuzumi yang langsung berlari dan mencoba menghalangi Akashi untuk pergi lebih jauh lagi.


"Maafkan aku, Senpai. Tapi menurutku anda sudah benar-benar keterlaluan, jadi bagusan biarkan aku pergi dari sini  Sekarang daripada nantinya hubungan persahabatan kita semak memburuk." Akashi memperingati Mayuzumi.


"Aku tidak mengancammu, aku juga tidak akan memasukkan kedalam hati terkait masalah ini untuk kedepannya. Tapi kuharap, lain kali berhenti mencoba membantuku dengan hal bodoh seperti sekarang yang kau lakukan."


"Bodoh? Kau pikir... Atau jangan-jangan kau sedang memandang rendah Rei? Kau ini memang orang yang angkuh dan kejam ya," celutuk Mayuzumi.


"Aku tak mengatakan apapun sama sekali, anda yang menyimpulkannya sendiri, Mayuzumi Senpai. Aku hanya tak mau dikasihi apalagi sampai dilatih oleh orang sepertinya, bukan maksudku ingin menghina tapi aku ini bukan atlet paralimpiade. Kelak, aku akan menjadi atlet basket bagi orang-orang normal! Kau harusnya tau itu, senpai."


"Jaga ucapanmu, Akashi." Mayuzumi mencoba menahan emosinya, ia sudah tak tahan lagi dengan sikap angkuh Akashi dan hinaan Akashi terhadap Rei seolah-olah tengah mengingatkannya terhadap dirinya dimasa lalu.


"Kau tak tahu apapun tentang mereka, justru mereka adalah orang yang paling banyak berjuang dibanding dirimu ataupun atlet normal lainnya untuk memperjuangkan kemenangan. Dan untuk Rei, dia adalah orang yang paling istimewa yang akan membuatmu iri padanya. Akan kupastikan, kau akan merasa sangat malu telah memandangnya sebelah mata."


"Kalau begitu katakan padaku, apa keistimewaan yang dimilikinya sampai membuatku harus malu, iri dan bersalah?" tanya Akashi.


"Ikut aku sekarang!" ajak Mayuzumi yang langsung menarik Akashi memasuki lingkungan kampus lebih dalam lagi.

__ADS_1


Hingga langkah kaki keduanya berhenti di sebuah gedung besar yang bertuliskan Gedung Olahraga di atas pintu gapura, Mayuzumi tak mengatakan apapun saat itu selain menariknya untuk masuk kedalam.


Dan disepanjang koridor gedung terpampang jelas berbagai macam piala yang mulai dari ukuran kecil sampai berukuran sebesar tubuh Manusia, bahkan dinding koridor juga di hiasi oleh bingkai foto dan piagam yang di lapisi kaca.


Tepat disalah satu foto yang tampak tak asing, Mayuzumi menghentikan langkahnya dan memaksa Akashi untuk memperhatikan lebih jauh tentang foto tersebut. Dimana foto tersebut memperlihatkan Rei Tsubaki yang mengenakan pakaian Judo dengan sebuah mendali emas yang melingkari lehernya dan piagam bertuliskan juara 1 di genggaman tangannya. Di saat yang bersamaan, Akashi juga melihat bingkai foto yang ada disebelah foto sebelumnya dimana foto tersebut memperlihatkan Rei sekali lagi dengan pakaian judo dan piagam bertuliskan juara 2 untuk cabang olahraga Judo nasional paralimpiade dan sebuah kacamata hitam yang menutupi kedua matanya.


Dalam sekejap Akashi langsung menyadari perbedaan diantara kedua foto tersebut, tapi ia masih belum mengerti tujuan Mayuzumi memperlihatkan hal ini kepadanya.


"Apa maksudnya semua ini, Mayuzumi-senpai?" tanya Akashi.


"Kau pastilah paham maksudku, Akashi. Kau pasti sadar kalau Rei itu bukanlah penyandang disabilitas dari lahir, ia juga mengalami nasib buruk setahun yang lalu. Dia mengalami kecelakaan fatal seperti yang kau alami waktu itu," beritahu Mayuzumi yang membuat Akashi sedikit tertarik.


"Rei itu sebenarnya angkatan senior dariku, ia adalah atlet Judo yang paling berbakat dan digadang-gadang akan menjadi emas untuk membawa nama negara kita ke kancah internasional dimasa depan. Selain itu, ia juga seorang mahasiswa berprestasi dalam bidang akademik dikampus. Namun nasib berkata lain untuknya, setahun yang lalu dirinya mengalami kecelakaan akibat kekerasan fisik yang dilakukan pihak lawan terhadapnya dan membuat kedua mata Rei mengalami cedera hebat sampai berujung kebutaan." Mayuzumi menepuk pelan kedua bahu juniornya itu.


"Tapi dia bukanlah orang yang berlarut-larut dalam keterpurukan, bahkan ia sama sekali tidak pernah membenci lawan yang telah mencelakainya itu. Memang sih ia terpaksa cuti kuliah untuk menjalani pengobatan mental dan fisik, tapi ia tak pernah patah semangat dan memutuskan beralih menjadi atlet paralimpiade untuk mewujudkan impiannya. Dan asal kau tahu saja, terkadang ia sering berlatih bersama dengan teman-temannya yang lain dan tak segan memberikan tips dan membantu mereka untuk persiapan kejuaraan Judo bagi orang normal seperti kita."


"Dan kau ingin dia membantuku saat ini?" tanya Akashi.


"Iya, aku sudah menceritakan semua hal tentangmu padanya. Dan aku juga sudah menceritakan kekuatan yang kau miliki, Rei bilang kalau dia tertarik untuk membantumu dan mempunyai ide yang bagus buat meningkatkan Kemampuan lagi. " Mayuzumi meletakkan kedua tangannya dibahu Akashi, ia berharap juniornya itu bisa mengerti.


"Dengar ya, Akashi! Aku tahu kau adalah orang yang hebat dan berbakat, bahkan Rei sendiri mengakui hal tersebut. Dan kekuatanmu itu sangatlah spesial, tapi gak ada salahnya kan menerima bantuan orang lain sesekali. Siapa tahu apa yang diberikan Rei padamu bisa membantumu suatu hari nanti?" tegas Mayuzumi yang masih berusaha meyakinkan Akashi, ia melepaskan tangannya dari Akashi dan berharap Akashi mau menerima bantuan mereka.


"Aku gak mengerti denganmu, Senpai. Mengapa kau repot-repot melakukan semua ini padaku? Tapi yang jelas, aku akan mempertimbangkannya kembali. Kalau begitu, aku pamit pulang." Akashi langsung pergi, ia rasa belum mempunyai jawaban apapun untuk tawaran bantuan Mayuzumi. Dan dirinya juga tak pernah biasa dibantu oleh orang lain, bergerak sendiri dengan usahanya adalah keyakinan yang diajarkan sang Ayah kepadanya.


Sementara itu Mayuzumi kembali menghampiri Rei usai gagal meyakinkan Akashi secara penuh, disana ada Rei yang sedang duduk sambil menunggu kedatangan Mayuzumi.


"Kau benar-benar orang yang aneh, apa bocah itu adalah orang yang paling berharga dimatamu sampai membuatmu melangkah sejauh ini dari zona nyaman dan melewatkan untuk membaca buku mu itu?" tanya Rei.


"Dia adalah orang yang pertamakalinya mengakui kemampuan dan keberadaanku saat itu, kau tahu betapa putus asanya aku sampai hampir mengundurkan diri dari tim Basket Rakuzan. Setidaknya karena anak itu, aku bisa merasakan masa-masa emas jadi tim regular di Rakuzan. Dan pastinya kau tahu, kalau aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri," ucap Mayuzumi yang langsung mengambil kembali buku dan ranselnya.


"Oh iya, aku minta maaf atas perbuatan dan perkataannya padamu. Dan kuharap kau masih mau memberinya kesempatan sekali lagi saat nanti dia berubah pikiran," ungkap Mayuzumi.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku juga masih mempunyai banyak ketertarikan untuk mengajarinya teknik itu." Rei tersenyum seraya berjalan pergi yang disusul oleh Mayuzumi disebelahnya. Sepertinya Rei memiliki sebuah teknik baru untuk diberikan pada Akashi, namun tetap saja semua itu kembali lagi kepada keputusan Akashi.


__ADS_2