
Salah seorang preman yang tidak diketahui namanya itu memberikan serangan pukulan lurus kearah Ushijima dan membuat Ushijima langsung bergerak mundur untuk menghindari pukulan yang akan mengenai wajahnya itu.Akan tetapi, Serangan tak berhenti sampai disitu saja, sebab beberapa preman lainnya ikut menyerang Akashi dari berbagai arah yang membuat Akashi hampir terpojok bila kedua tangannya tidak bergerak secara naluriah untuk menangkis setiap Serangan pukulan yang ingin menghantamnya.
"Dasar sial!" umpat Mizuki yang merasa geram dengan anak buahnya sendiri, ia langsung turun tangan dengan memberikan pukulan lurus yang keras mengarah ke hidung Ushijima secara bertubi-tubi.
Dengan serangan dari anak buah Mizuki yang terus menyerang Ushijima dan serangan kejutan dari Mizuki sendiri membuat Ushijima tidak sempat mengelak, pukulan itu langsung menghantam keras di bagian Hidung Ushijima sampai membuatnya melangkah mundur dengan memegang hidungnya yang terasa nyeri dan darah yang menetes.
Ushijima menatap tajam kepada Mizuki, ia merasa harga dirinya benar-benar terluka saat ini. Tanpa berpikir panjang, ia langsung bergerak maju menghampiri Mizuki dan mengantarkan pukulan setengah bulat menuju kepala Mizuki.
Ushijima langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk mencengkram leher Mizuki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih kecil darinya, Bersamaan pula dengan hantaman keras ke hidung dan perut Mizuki yang gagal ditangkis olehnya, sepertinya Ushijima benar-benar marah kali ini dan terus menyerang secara membabi-buta.
Tidak sampai disitu saja, ia juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil batu yang berada di dekatnya. Ukuran batu tersebut seukuran kepalan tangan, ia langsung menghantamkan batu ditangannya ke hidung Mizuki sampai patah lalu membuangnya secara acak ke sebelah kiri.
Untungnya anak buah Mizuki langsung datang membantu, salah satu Anak buahnya malah ada yang berinisiatif menusukkan pisau dapur ke bahu Ushijima yang membuat ia berteriak-teriak kesakitan.
Ushijima langsung melepaskan cengkeramannya dari Mizuki, ia mendongak kebelakang dan menangkis pukulan lurus yang diberikan Anak buah Mizuki kepadanya lalu membuangnya kesamping luar.
Bagi Ushijima, tak ada waktu untuknya menyempatkan diri menarik pisau yang masih menancap di bahu selain membiarkan rasa sakit itu menjalar ditubuh. Ia juga bukan orang bodoh yang akan mencabut seenaknya dan membiarkan dirinya kehilangan banyak darah.
Akan tetapi, karena terlalu sibuk melawan anak buah Mizuki. Sekali lagi ia tak sadar kalau kali ini Mizuki dibantu oleh salah satu anak buahnya yang lain tengah mempersiapkan sebuah tali rapiah yang langsung mereka jerat dileher Ushijima, seketika Ushijima terjatuh ke tanah dan berusaha bergerak kesana-kemari untuk melepaskan jeratan tersebut.
Belum lagi tekanan dari tubuh Mizuki yang berada dibelakang Ushijima membuat pisau yang sebelumnya menancap menjadi semakin terdorong lebih dalam sampai membuat Ushijima berteriak kesakitan.
"Hentikan, kau bisa membunuhnya!" perintah Ryo yang membuat Mizuki buru-buru melepaskan jeratan tali rapiah yang mencekik leher Ushijima, seketika Ushijima tergeletak di tanah sambil batuk-batuk . Lehernya mulai memerah karena jeratan tali tersebut, tapi masih saja Mizuki yang amarahnya belum mereda tega memukul secara beruntung perut Ushijima dengan kakinya.
Ushijima benar-benar tak berdaya saat ini, ia hanya membiarkan rasa sakit mulai bersahabat dengannya dan tak berniat untuk segera bangkit kembali. Hingga sebuah hantaman keras mengenai wajahnya yang membuat ia benar-benar terkulai lemah dengan mata yang mulai sayup-sayup dan membuat panik Ryo yang memang tak punya niat melukai Ushijima sejauh ini.
__ADS_1
"Ayo pergi dari sini!" ajak Mizuki yang tampak tenang, seolah ia sudah biasa dengan situasi saat ini dan secara paksa menarik Ryo untuk meninggalkan Ushijima sendirian.
Ushijima yang mulai perlahan-lahan tak sadarkan diri hanya bisa mengepal kedua tangannya saja, ia meneteskan air matanya dan buru-buru menggunakan sisa tenaganya untuk menghubungi Ayahnya sendiri.
"Gedung kosong belakang SMP Teiko, tolong Pa! Perdarahan terbuka di bahuku mulai merembes, panggilkan ambulance dan jangan beritahu Mama," lirih Ushijima sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Dan pada saat Ushijima membuka kedua matanya kembali, ia tersadar sudah berada diatas ranjang. Dengan seorang lelaki tua paruh baya yang tengah berbincang dengan Dokter di sampingnya.
Dokter itu langsung buru-buru memeriksa tanda vital Ushijima, lalu lelaki paruh baya yang terlihat mirip Ayahnya itu tampak tersenyum lega saat Dokter mengatakannya kalau keadaan Ushijima baik-baik saja.
Luka tusuk memang tidak mengenai bagian vitalnya, untungnya bukan bahu kiri Ushijima yang cedera jadi ia masih bisa menggunakan tangan kirinya untuk bermain voli usai istirahat beberapa Minggu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Wakatoshi?" tanya sang Ayah, tatkala saat sang dokter pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Tidak ada, kau tidak memberitahu Mama kan?" tanya Ushijima.
"Terimakasih, Pa. Maaf, aku sudah membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa, aku tidak marah padamu. Tapi kau harus jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Walaupun belakangan ini aku jarang bertemu denganmu, tapi aku tetaplah selalu menyayangimu dan takkan rela bila sesuatu yang seperti ini lagi terjadi padamu." Ayah Ushijima mengacak-acak rambutnya, walau bagaimanapun ia adalah seorang anak kecil dimata Ayahnya meski saat ini usianya sudah menginjak usia hampir matang.
"Aku hanya ingin melindungi seseorang," ucap Ushijima.
Ayahnya Ushijima tersenyum, "Ternyata kau sekarang mempunyai orang yang sangat penting dihidupmu, kau memang mirip sepertiku. Dulu, aku juga akan rela mengorbankan segala yang kupunya hanya untuk orang itu."
Ushijima menatap mata Ayahnya, "Siapa orang itu, Pa?"
__ADS_1
"Tentu saja orang itu adalah kau, Wakatoshi. Kau adalah satu-satunya anakku yang paling penting dihidupku," jawab Ayahnya Ushijima.
"Berhenti berbohong, Pa. Kalau memang aku penting, lalu bagaimana dengan anakmu yang sekarang? Kau bahkan tidak pernah sedikitpun berusaha menemuiku, hampir saja aku berpikir kalau kau telah membuang ku kalau saja malam itu aku tidak mendengarkan curhatan anak itu."
"Aku tidak berbohong, Wakatoshi. Sepertinya kau salah sangka, aku bukannya tidak ingin mengunjungimu tapi aku baru saja dipecat dan harus bekerja keras untuk mencari pekerjaan buat menafkahi ibu dan saudara tirimu. Dilain sisi, aku juga harus menyimpan tabungan untuk masa depanmu dan setiapkali aku berniat menemuimu disekolah ataupun rumah mewah itu, entah kenapa aku merasa kecewa dengan diriku sendiri dan harga diriku terluka bila membiarkan keluarga ibumu nantinya akan memandang rendah diriku, aku tak ingin kau malu denganku ditambah lagi aku tidak ingin berdebat panjang dengan ibumu."
"Maafkan aku sudah berburuk sangka padamu, kau harusnya berterus-terang padaku. Bantu aku duduk, Pa!" tukas Ushijima mulai berusaha duduk yang dibantu oleh Ayahnya.
"Tidak apa-apa, aku tidak pernah sekalipun menyalahkanmu." Ayahnya Ushijima tersenyum.
"Lalu, siapa anak yang kau sebut-sebut itu? Apa dia orang yang kau bilang penting?" tanya Ayahnya Ushijima.
Namun pertanyaan tersebut tampaknya malah membuat kedua telinga Ushijima menjadi memerah, ia masih merasa malu mengakui kalau Akashi adalah adiknya yang paling penting saat ini. Dan tampaknya, ia masih belum menyadari sepenuhnya tentang hal tersebut.
"Bisa kita pulang sekarang, Pa?" tanya Ushijima berusaha mengalihkan percakapan.
Ayahnya hanya tersenyum saja, lalu mengangguk. " Memangnya kau tidak apa-apa pulang sekarang?"
"Kalau aku tidak pulang, Mantan istrimu akan mencariku dan malah menyalahkanmu lagi. Aku tidak suka melihat drama pertengkaran kalian, serasa melihat drama korea rumah Penthose dan Sky Castle saja."
Ayahnya Ushijima tertawa geli, ia tak menyangka anaknya masih bisa ingat drama korea favoritnya sampai detik ini. Ia mengacak-acak rambut Ushijima dengan malu, lalu membantu Ushijima bangkit dari ranjang.
"Kalau begitu kita makan bersama dahulu sebelum pulang, anggap saja permintaan maafku yang telah mengacuhkanmu beberapa bulan ini."
"Jelas saja kau harus membayar semua waktumu yang hilang kepadaku, Tuan Ushijima." Ushijima masih saja sempat-sempatnya meledek sang Ayah yang hanya dibalas tawa gelegar dari Ayahnya.
__ADS_1
Pasangan Ayah dan Anak ini tampak akrab seperti dahulu, tak ada yang menduga panggilan telepon yang tertuju pada Ayahnya bisa memperbaiki hubungan yang agak retak itu. Sepertinya perbuatan Ushijima yang berusaha melindungi Akashi mendapatkan balasan yang setimpal dengan pengorbanannya, bisa dikatakan kedekatan bersama Ayahnya kembali adalah bayaran atas. Pengorbanannya untuk melindungi Akashi.