STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
39


__ADS_3

Bunyi alarm mulai berdering yang menandakan jam sudah menunjukkan pukul 6 Sore, Ushijima yang tadi malam sengaja menaruh jam alarm di sebelahnya langsung terbangun dan buru-buru mematikan alarm tersebut yang rasanya hampir memekakkan telinga.


"Harusnya aku tidak meletakkan alarm ini didekat telingaku,"keluhnya seraya mulai bangkit dan meletakkan kembali Alarm tersebut diatas meja belajar.


Dengan mata yang masih sangat mengantuk dan perasaan malas yang terus menggerogotinya tubuh, ia memaksakan diri untuk tetap bangkit demi menyiapkan bekal makan siang sang adik.


"Hufftt...." Ushijima menghela nafas panjang, ia lalu berbalik arah dan melihat Akashi yang saat itu tidur dengan keadaan selimut yang sudah jatuh kelantai.


Sontak saja Ushijima langsung tergerak mengambil kembali selimut yang ada dilantai dan menyelimuti sekujur tubuh Akashi, ia tak mau adiknya itu kedinginan karena memang saat itu suhu AC didalam kamar masih terasa dingin.


"Kenapa juga aku membiarkanmu seenaknya tidur dikasurku?" tanya Ushijima pelan, lalu ia teringat dengan pembicaraannya bersama Akashi tadi malam.


Ushijima langsung membuka laci mejanya dan meletakkan kembali Fotonya bersama sang Ayah di atas meja belajarnya.


"Lebih baik aku menyiapkan bekal sekarang," gumam Ushijima yang langsung pergi menuju Dapur.


Disana ia melihat Chef Tsubasa dan para koki lainnya sedang memasak untuk sarapan pagi. Jelas saja hal ini membuat Ushijima ingin sekali mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur, tapi niat itu langsung buyar saat dirinya dipanggil oleh Chef Tsubasa yang menyadari keberadaan Ushijima.


"Tuan Ushijima, ada yang bisa saya bantu?" tanya Chef Tsubasa.


"Enggak ada.., maksudnya ada. Saya mau masak buat bekal saya hari ini, Pak. Boleh saya pinjam dapur?" tanya Ushijima sopan.


"Bagaimana kalau saya saja yang membuat bekal buat tuan Ushijima? Jadi, Tuan Ushijima gak perlu repot-repot buat pergi ke dapur dan bisa bersiap untuk berangkat sekolah."


"Gak usah, Pak. Biar saya saja yang buat bekal pribadi, Bapak lanjut saja masak untuk sarapan pagi." Ushijima menolak dengan halus, Chef Tsubasa sendiri juga tak punya hak untuk menolak keinginan Ushijima.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan Ushijima. Memangnya tuan ingin masak apa? Biar saya bantu," tawarnya pada Ushijima.


Ushijima tampak masih bingung untuk menjawab pertanyaan Chef Tsubasa dan hanya berjalan memasuki arena dapur yang saat itu tengah dipenuhi oleh aroma sambal yang sedang di masak, Ushijima sampai batuk-batuk karena mencium aroma Yang menyengat.


"Menurut Pak Tsubasa, makanan apa yang simpel dan cepat dibuat?" tanya Ushijima yang tak ingin ambil pusing.


"Menurut saya sih bisa telur ceplok, Indomie kuah dan -" belum sempat Chef Tsubasa menjelaskan, Ushijima langsung menghentikannya.


"Indomie aja deh, saya mau masak itu aja pak." Ushijima berbicara seraya menutup hidungnya dengan tangan karena bau sambal yang semakin menyengat.


"Saya rasa indomie tidak cocok untuk bekal makan siang, tuan Ushijima. Bagaimana kalau saya sajalah yang buatkan untuk Anda?" tawar Chef Tsubasa yang merasa seorang atlet voli seperti Ushijima tak seharusnya makan sesuatu yang tidak mengandung banyak protein dan dikategorikan sebagai makanan sehat, Baginya ia bukan hanya seorang koki utama di dalam keluarga Akashi selama dua generasi saja melainkan seseorang yang harus bertanggungjawab betul terhadap makanan bergizi para tuannya.


"Tidak usah, Pak. Saya masak indomie saja kali ini, lagian cuman Indomie yang mempunyai tutorial memasaknya di luar bungkus kemasan. Jadi, anda tidak perlu khawatir dan bisa melanjutkan memasak sarapan pagi."


Sementara itu, Alarm kedua memaksa Akashi terbangun dari tidurnya. Ia tak banyak berleha-leha dan langsung bangkit dari ranjang saat itu sembari mematikan alarm tersebut. Dengan mata yang dipaksa untuk terbuka lebar, ia merapikan ranjang yang ditidurinya bersamaan dengan selimut dan bantal Ushijima yang ada dilantai juga ikut dirapikan olehnya.


Lalu ia melepaskan Eyes patchnya yang sudah sudah berkali-kali dipakai dan membuangnya ketempat sampah yang kebetulan ada dibawah meja belajar Ushijima, lalu kembali kedalam kamarnya untuk bersiap-siap dengan rambut yang berantakan seperti orang yang baru saja bangun pada umumnya. Bisa dibayangkan bagaimana penampilan Akashi saat ini, apalagi rambutnya sekarang sudah lumayan panjang seperti rambutnya saat dibangku SMP dulu dengan warna merah terang.


"Nanti saja aku isi formulirnya," gumam Akashi setibanya dikamar, ia letakkan dua lembar formulir itu diatas meja belajar dan buru-buru memasukkan buku pelajaran kedalam ransel. Tak lupa juga ia mengambil Eyes Patch baru dari kotak yang ada didalam box obat di dinding kamar.


Hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Mayuzumi seraya mengintip sekilas kearah luar kamar untuk memastikan bahwa Ushijima tidak sedang mengupingnya lagi.


Dan begitu panggilan tersambung, Akashi langsung menyampaikan niatnya tanpa berbasa-basi lagi selayaknya Akashi yang selama ini kita kenal.


"Selamat Pagi, Senpai. Maaf bila mengganggu waktu Anda, Senpai. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan kalau aku setuju dengan tawaranmu kemarin."

__ADS_1


"Kau benar-benar mengganggu waktu tidurku, Akashi." Mayuzumi terdengar seperti orang yang baru saja bangun tidur, tetapi ia sampai bela-belain mengangkat panggilan tersebut saat membaca nama Akashi dilayar handphonenya.


"Maaf, Mayuzumi-senpai. Jadi, kapan aku harus bertemu denganmu dan Rei-San?" tanya Akashi.


"Aku akan tanyakan pada Rei lagi, tapi kalau memang bisa hari ini pasti akan aku hubungi kau kembali."


"Baik, Senpai. Aku tunggu kabar baiknya," ucap Akashi seraya tersenyum puas.


"Ya, tapi kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Mayuzumi.


"Aku hanya ingin menjadi kuat, karena aku adalah ujung tombak bagi timku sendiri. Aku tak ingin lagi kalah, aku ingin terus menang dan membuktikan kepada semua orang kalau Rakuzan masihlah seorang Kaisar." Akashi mengatakannya dengan penuh yakin, terasa seperti seorang kapten yang sedang melantunkan kalimat motivasi kepada anggotanya.


Mayuzumi Sampai tersenyum geli saja mendengarkan hal tersebut, ia tak habis pikir bila memikirkan usia Akashi yang jauh lebih muda darinya tapi sudah bersedia menanggung beban kapten saat ini. Sementara itu dirinya malah memilih bersembunyi didalam lingkaran ketenangan, ia merasa tak perduli dengan segala sesuatu yang merepotkan dan membiarkan kehidupannya berjalan lurus apa adanya saja.


"Baiklah, sampai ketemu nanti." Mayuzumi langsung mengakhiri panggilan itu, ia sama sekali tak berniat memuji ataupun meledek Akashi saat ini. Tak ada yang harus dikritiknya dari seorang remaja yang tengah memasuki masa pubertas, tapi yang jelas Akashi sudah melewati tahap-tahap keputusasaan dalam hidupnya dan ia berharap agar Akashi bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan pemimpin yang hebat.


Disisi lain, Ushijima sendiri sedang berperang dalam membuat sebungkus Indomie kuah yang tak memiliki kuah sama sekali, bahkan telurnya saja benar-benar berubah menjadi warna hitam. Belum lagi, keadaan bagian Dapur yang digunakannya  sangat berantakan dengan tumpahan beberapa kuning telur dan bekas sachet bumbu Indomie.


Chef Tsubasa yang mengawasi Ushijima dari kejauhan sampai tak bisa fokus untuk memasak pagi ini, ia juga hanya bisa mengelus dada saja membiarkan dapur miliknya harus kotor dan salah satu panci miliknya harus gosong dibagian bawah.


*****


Disebuah ruangan kamar yang ditempeli berbagai macam poster para pemain basket Dunia, salah satunya ialah Michael Jordan dan Stephen Curry beserta Jason Tatum. Seseorang tengah mengompres lebam di lututnya, tetapi tak beberapa lama kemudian ia langsung membanting lampu tidur yang ada didekatnya ke lantai dibarengi oleh suara teriakan amarah. Orang tersebut tidak lain ialah Ryo, salah satu anggota Basket Tim Shiratorizawa yang tengah di skors saat ini.


"Aku akan membalasmu, Akashi! Kau bukan hanya menghancurkan masa depanku, perbuatanmu dulu juga sudah menghancurkan impianku dan kini kau juga membuatku hampir dikeluarkan dari Tim. Lihat saja hari ini pembalasanku!" ucapnya yang sangat membara dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


__ADS_2