
"Aku ingin kau kembali menjadi pemain basket, Henry-San. Dan kali ini bukan sebagai pemain cadangan, aku ingin kau menjadi pemain utama untuk menggantikan Miyazumi Senpai."
Henry yang mendengarkan tawaran itu hanya bisa tertawa saja, entah apa yang saat ini dipikirkannya selain merasa muak pada ucapan Akashi yang terdengar sangat tenang dan berkuasa.
"Aku menolak, aku takkan pernah lagi berkeinginan menjadi pemain basket. Kalaupun aku ingin menjadi atlet yang bisa dikenal dan dibanggakan semua orang, aku memutuskan untuk membidanginya didalam Dunia Voli saja. Jadi, kau tidak perlu repot-repot mengajakku lagi." Henry memantapkan keputusannya.
"Sebesar itu kekecewaanmu sampai membuatmu menyakiti dirimu sendiri, kau seharusnya menyadari betapa besarnya peluang yang kutawarkan untuk mengembalikan citramu." Akashi menyandarkan badannya di pintu gedung sambil melipat kedua tangannya.
"Hanya orang bodoh yang memiliki pemikiran yang sama denganmu, jelas-jelas menjadi atlet terkenal dalam olahraga yang tidak kau minati rasanya berbeda dengan olahraga yang kau sangat kau cintai dari kecil. Kau benar-benar bodoh seperti yang kuduga, membiarkan ego-mu untuk menghancurkan semua kesempatan yang bisa kau raih, apa kau benar-benar pantas untuk kuhormati?" tanya Akashi yang malah sedang meledek Henry tanpa ragu.
"Kau tidak pantas menghinaku, kau tidak pernah rasanya dianggap sebagai orang buangan oleh semua orang yang dahulu memujamu. Aku hampir gila rasanya saat semua media membicarakanku dengan komentar negatif, kau dan seluruh member kiseki no Sedai juga adalah salah satu dari alasanku mendapatkan komentar negatif itu." Henry memberikan raut wajah murkanya.
"Itu bukanlah sebuah alasan untuk orang sepertimu menyerah, kau itu hanyalah penakut. Kau takut untuk menerima kenyataan yang tidak selamanya indah, Henry-San. Kau selalu saja mengutuk semua orang atas ketidakmampuanmu untuk menjadi lebih hebat daripada yang lain, kau ternyata orang yang jauh lebih buruk dibandingkan Kuroko ataupun Mayuzumi. Padahal kalau dari segi kemampuan, kau malah berada diatas mereka. Kau benar-benar sudah dikalahkan oleh dirimu sendiri," ucap Akashi yang merasa kecewa dengan jalan pikiran Henry dan berjalan pergi, ia tak mau menghabiskan banyak waktu untuk merekrut Henry yang dianggapnya sudah gagal sebagai seorang atlet basket.
"Dasar Junior angkuh! Tahu apa kau tentang kegagalan? Kau hanya baru saja gagal sekali dari temanmu, lagian kau juga memang terlahir sempurna jadi tak punya waktu untuk merasakan apa yang kurasakan!" teriak Henry seraya memukul pintu berkali-kali.
Akan tetapi, ucapannya barusan telah memancing ketidaksukaan Akashi. Ia berbalik arah dan membuka Eyes patchnya yang langsung memperlihatkan bola mata kanan Akashi dengan warna abu-abu. Dengan wajahnya yang memancarkan aura menyeramkan, Akashi menatap tajam kepada Henry.
"Aku bukanlah anak sempurna seperti yang kau pikirkan, aku juga pernah berada dititik paling bawah seperti yang kau rasakan. Aku tahu rasanya berada dalam keterpurukan, tatapan mata orang yang tak berhenti menyudutkanmu dengan penuh remeh. Jadi, berhentilah mengeluh! Kalau kau memang mau bermain basket kembali, segera keluarlah dari voli dan temui aku di lapangan basket hari ini. Aku tak suka menunggu lebih lama lagi, Henry-San." Akashi langsung mengenakan kembali Eyes patchnya dan berjalan pergi, ia sampai membuat Henry tak bisa membalas perkataannya sama sekali.
Dan selagi menunggu keputusan dari Henry, kapten Rakuzan itu kembali menghampiri anggotanya sambil meraih papan penilaian dari atas meja.
Ia menduduki kursi yang telah disediakan Mibuchi dan menyuruh ketiga anggota tim utamanya untuk bertanding melawan para anggota Rakuzan, tak ada yang menanyakan kepergian Akashi saat itu. Sepertinya raut wajah ketat yang diperlihatkan Akashi sekembalinya tadi membuat seluruh anggota menjadi ragu untuk mengajak sang kapten berbicara.
__ADS_1
Dan penilaian yang dilakukan juga tidak berlangsung lama, sekejap mata saja semua anggota Rakuzan yang akan dicalonkan menjadi Tim Regular atau tim kedua telah dikalahkan oleh ketiga anggotanya tersebut.
Hingga seorang anggota seangkatan Mibuchi yang namanya terasa tak asing datang memasuki lapangan dengan pakaian seragam sekolah rapi dan kacamata bulat yang dikenakannya.
"Aku diundang oleh Akashi melalui via gmail kemarin, setelah kupertimbangkan secara matang semalaman. Aku sedikit tertarik untuk mengikuti seleksi tim hari ini," ungkapnya seraya tertawa keras, kepribadiannya sangat terbalik dengan penampilannya dan satu-satunya orang yang menatap tak senang ialah Nebuya karena kebetulan mereka adalah teman sekelas waktu kelas satu.
"Hei, Nebuya! Kau semakin berkulit hitam saja, tubuhmu juga telah dipenuhi roti sobek yang menjijikkan. Apa nafsu makanmu semakin bertambah?" olok-oloknya tanpa tahu malu atas posisinya saat ini.
Jelas saja Nebuya menjadi kesal, ia bisa saja menyerang orang tersebut bila tubuhnya tidak segera ditahan oleh beberapa anak kelas tiga termasuk salah satunya ada Mibuchi.
"Tenanglah, kau bisa membuat Akashi menjadi marah!" peringat Hayama kepada Nebuya yang membuat pria itu langsung terdiam seketika.
Akashi sendirian langsung menyambut kedatangan orang asing tersebut, ia memberikan bola basket dari keranjang kepada orang itu sambil tersenyum puas.
"Kau bisa memperlihatkan kemampuanmu sekarang, Carloz-san. Tunjukkan seberapa hebat kemampuanmu yang sekarang sampai membuat kami menyesal karena telah mencadangkanmu dua tahun yang lalu."
"Kau lihat ini, Kapten!" teriak Carloz yang penuh kegirangan, usai berhasil menerobos pertahanan Nebuya dan mencetak sebuah poin kemenangan melawan Nebuya secara 1 vs 1. Meskipun sebenarnya kali ini giliran Hayama, tapi perasaan kesal Nebuya membuatnya untuk mengambil alih giliran Hayama dan Hayama sendiri tak keberatan bila jatahnya direbut oleh Nebuya.
"Ayolah, Nebuya! Kalahkan orang gila itu!" teriak Hayama dari pinggir lapangan, ia merasa pertandingan Carloz dan Nebuya tampak menarik untuk ditonton.
"Tenang saja, lelaki sejati takkan mudah kalah!" reaksi Nebuya kepada Hayama, ia langsung memfokuskan kembali dirinya dan mengatur jalur pernafasannya yang sempat menggebu karena terpancing emosi.
Sebaliknya, Akashi hanya memasang wajah datar. Ia sedang sibuk untuk fokus menganalisa pergerakan Carloz demi memberikan penilaian yang suportif dan adil. Mibuchi sampai merasa terkesan dengan sikap Akashi yang semakin lama memperlihatkan sisi berbeda dari dirinya yang dahulu, ia semakin yakin kalau Akashi akan membawa mereka menuju kemenangan sekali lagi sebelum akhirnya melepaskan masa SMA mereka sebagai murid kelas tiga.
__ADS_1
Tapi senyuman bangga itu sedikit membuyar oleh omong kosong dan teriakan carloz yang berulangkali meneriaki Akashi, ia benar-benar ingin sekali dipuji oleh sang Kapten.
"Bagaimana menurutmu, Kapten? Apa aku layak menjadi anggotamu?" tanyanya saat berhasil menjebol ring Nebuya untuk keempat kalinya.
"Dia benar-benar orang yang berisik," keluh Mibuchi kepada Akashi.
"Hei, Akashi! Kau beri tawaran apa orang gila itu, kenapa dia selalu mencoba mencuri perhatianmu?" tanya Hayama yang kesal karena melihat Nebuya dikalahkan semudah itu oleh Carloz.
"Hei, Akashi! Kau harus memilihku setelah ini, aku akan jadi pengawalmu yang siap mencetak kemenangan. Kau tak perlu lagi berharap lebih kepada para Raja tak bermahkota itu," tawanya menggebu-gebu di atas lapangan basket, ia seakan menganggap remeh Nebuya yang mulai kehilangan tenaga dan tak bisa berpikir jernih kembali.
"Dia sudah meremehkan kami, aku sudah kehabisan kesabaran." Mibuchi sampai ikutan kesal.
"Dasar gila! Dia pikir dirinya adalah De Paul yang selalu menjaga Messi? Dia malahan lebih lemah dibandingkan preman kuat seperti De Paul, Justru dirinya lah yang bakal dijagain olehmu, Akashi." Hayama terus menggerutu disebelah Akashi.
"Hayama-senpai, apa kau juga penikmat bola sepertiku?" tanya Shin yang sejak awal sudah berada disana dengan posisinya yang sudah dilantik sebagai kapten basket tim Regular.
"Tidak terlalu sih, tapi Fyp tiktok ku isinya begitu semua. Aku sampai hafal nama-nama pemain hebat seperti Messi, Ronaldo, Mbappe dan Modric, terus.... Banyak deh pokoknya. By the way, aku fans beratnya Stephen Curry sih." Hayama malah mengajak Shin bergosip dan melupakan kemarahannya saat itu, ia bahkan sampai bela-belain mengajak Shin untuk menjauhi lapangan supaya mereka bisa bergosip ria.
Mibuchi hanya bisa geleng-geleng kepala saja, ia tak habis pikir pada Hayama. Padahal sebelumnya ia tampak kesal pada Carloz dan masih belum bisa melupakan perilaku menyebalkan Shin, tapi semudah itu ia bisa akrab dengan Shin.
"Tenanglah, Senpai. Kau tidak perlu khawatir. Dan kurasa kita bisa menghentikan permainan ini, aku tidak ingin Carloz-san besar kepala dan sepertinya Nebuya-senpai sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mungkin kita bisa memberikan jeda istirahat selama setengah jam untuk menyeleksi anggota lain dan memperbaiki kondisi mental Nebuya-senpai."
"Baiklah, Sei-Chan. Aku setuju denganmu," turut Mibuchi yang langsung bergerak menuruti perintah sang Kapten.
__ADS_1
***
Bagaimana pendapat kalian tentang Carloz dan Henry? siapa yang jauh lebih pantas menjadi tim utama Rakuzan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Mayuzumi?