
Selama beberapa Jam di perjalanan Osaka-Tokyo, Pastilah membuat kedua remaja itu merasa kelelahan. Dan begitu sampai ke Rumah, wajar saja keduanya ingin segera berbaring di atas kasur untuk mengistirahatkan tubuh.
Namun sayangnya, keinginan itu harus segera dihapus jauh-jauh. Sebab, tak diduga-duga malahan mereka disambut oleh tatapan penuh kemarahan dari Masaomi yang sedang menunggu kepulangan kedua anaknya dari dalam Rumah.
Tampaknya apa yang dilakukan Akashi dan Ushijima hari ini membuat panik Masaomi, ia terlihat tidak senang pada tindakan semena-mena Akashi. Bahkan, ia sampai bela-belain meninggalkan urusan pekerjaannya untuk menemui Akashi hari ini juga atas informasi yang diberikan mertuanya.
Nyonya Ushijima yang tahu bahwa suaminya sedikit berbeda dari biasanya memilih untuk bungkam saja, ia juga tidak berani menegur ataupun merendahkan kemarahan suaminya itu. Apalagi, ia sendiri tidak tahu akar permasalahan yang telah memancing kemarahan Masaomi.
Dan begitu ia melihat kedua anaknya menampakkan wujud di ambang pintu rumah, ia langsung berlari menyelamatkan Ushijima terlebih dahulu. Ia tak mau Ushijima sampai ikut-ikutan terkena api amarah Masaomi.
"Ikut aku ke gedung seberang, aku perlu bicara pribadi padamu!" tukas Masaomi tanpa basa-basi lagi. Bersamaan pula dengan Nyonya Ushijima yang langsung menarik Ushijima untuk menjauh dari sisi Akashi, tapi Ushijima menolak dan menyingkirkan tangan ibunya dari lengannya.
"Maaf, Pak Masaomi. Tapi ini semua murni bukan kesalahan Akashi, aku ikut terlibat didalamnya. Jadi, aku berhak ikut dalam pembicaraan pribadi kalian."
"Kamu apa-apaan sih, Wakatoshi? Ini urusan Ayah dan adik tirimu, biarkan mereka menyelesaikan urusannya secara pribadi, kau gak boleh ikut campur." Nyonya Ushijima tidak merasa senang pada sikap Ushijima yang sok terlibat dalam suasana menegangkan itu.
"Kita ini keluarga, sudah pasti aku dan Mama ikut terlibat didalamnya. Jadi, berhenti untuk terus-menerus menyelamatkan diri sendiri. Bukannya Mama ingin menjadi Ibu pengganti buat Akashi? Tunjukkanlah sekarang," ketus tajam Ushijima, ia sampai memarahi mamanya seperti ini demi adiknya tersebut.
Akashi tersenyum, "Benar sekali, kita ini keluarga. Kenapa tidak dibicarakan terbuka saja disini? Kan, tidak ada salahnya Ushijima-san dan Mama ikut mengetahui apa yang sebenarnya ingin Papa bicarakan."
Akan tetapi, tubuhnya langsung berkeringat dingin saat itu juga. Baginya ini adalah kali pertama seorang Akashi membantah keinginan Ayahnya itu secara terang-terangan. Dan membuat Masoami murka dalam sekejap.
__ADS_1
"Ikut aku sekarang, Seijuro! Aku tidak pernah mengajarimu untuk melawanku selama ini, sikapmu barusan sama sekali tidak mencerminkan seorang Akashi." Nada suara Masaomi yang langsung meninggi dan membuat suasana menjadi dingin.
Ushijima yang ikut merasakan kemarahan Ayah tirinya itu langsung memasang badan untuk melindungi Akashi, ia berdiri dihadapan Akashi dengan melotot tajam pada Masaomi.
"Pak Masaomi tidak berhak menyebutnya seperti itu hanya karena dia mengemukakan pendapatnya, bukan berarti juga dia melawan Pak Masaomi saat dia menolak keinginan Bapak."
Perkataan Ushijima barusan membuat Ibunya semakin gusar, ia jelas tak mau melihat anaknya bersikap keterlaluan seperti ini. Namun dilain sisi, ia setuju pada perkataan Akashi dan Ushijima. Memang seharusnya keluarga itu harus saling terbuka satu sama lain dan entah mengapa kecurigaannya selama ini pada sikap aneh Masaomi yang seringkali memilih keluar kota mulai timbul kembali.
"Menyingkirlah, Wakatoshi! Aku harus memberi pelajaran untuk anak kandungku sekarang. Kau tidak boleh ikut campur," ketus Masaomi dengan nada yang mula menurun. Lalu, ia tatap mata istrinya dengan tegas.
"Bawa anakmu pergi, aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku juga padanya." Dia tampak memerintah kepada Nyonya Ushijima. Bagi wanita itu, ini adalah kali pertama Masaomi tidak bersikap lembut padanya. Dan sikap inilah yang membuatnya semakin bertambah curiga, apalagi saat suaminya buru-buru ingin segera pulang hanya karena mendapatkan kabar dari seseorang mengenai Akashi dan Ushijima yang pergi ke Osaka.
"Mas, apa yang sebenarnya membuatmu semarah ini? Apa kau memang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Nyonya Ushijima yang sudah tidak tahan untuk menahan diri lagi.
Untuk beberapa saat, Nyonya Ushijima langsung goyah dan hanya mengangguk setuju saja. Saat itu pula lah, Masaomi berjalan menghampiri kedua putranya dengan tujuan ingin menarik Akashi menuju gedung yang ada di seberang Rumah untuk menghukumnya seperti biasa.
"Ayo ikut Papa, kau sudah sangat keterlaluan. Tolong jangan mempermalukan mendiang Mama mu dengan sikapmu yang memalukan seperti ini," celutuk asal Masoami seraya menarik-narik Akashi. Dimana Ushijima berusaha menyingkirkan tangan Masaomi dari adiknya.
Dan terjadilah perkelahian ringan diantara ketiganya saat ini, bahkan tanpa sadar Ushijima tak sengaja menjatuhkan Vas bunga milik mendiang Mamanya Akashi yang ada disebelah kanannya sampai pecah ke lantai.
Nyonya Ushijima yang merasa tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, pastilah tidak tinggal diam. Baginya, bukan seperti inilah keluarga yang selama ini didambakannya. Dia langsung menampar Ushijima sampai terdengar bunyi yang cukup keras dari telapak tangannya. Lalu, ia tarik suaminya menjauh dari kedua putranya itu.
__ADS_1
"Hentikan! Apa-apaan kalian bertiga ini, kalian sudah menghancurkan image Keluarga yang kuimpikan selama ini." Dia berteriak kesal, kemudian ia menatap suaminya.
"Apa yang selama ini kau sembunyikan, Mas? Kenapa kau sampai marah pada anakmu sendiri, hanya karena ia berpergian ke Osaka? Apa yang sebenarnya ada di Osaka itu? Kau tidak sepantasnya menyembunyikan sesuatu dariku, aku ini istrimu sekarang!" tegasnya seraya memukul dada sang suami.
Lalu ia menatap balik anaknya, "Kau juga, Ushijima. Aku membawamu kesini untuk memberikanmu kesempatan buat merasakan keluarga yang bahagia juga. Jangan kau rusak impian ibumu ini, kau juga harusnya belajar untuk hormat pada Ayahmu. Dia sudah menyayangimu dan berusaha jadi Ayah pengganti yang baik untukmu!" bentaknya lagi.
Dia sudah seperti orang yang telah kehilangan impian saja, tapi tetap saja ucapannya barusan tak membuat suaminya berbicara jujur sama sekali.
"Memang dari awal impian Mama takkan pernah bisa terwujud di keluarga ini," ucap Ushijima yang juga tidak tahan dengan sikap Ibunya yang tidak berhenti menyalahkannya secara terus-menerus.
Ushijima menunjuk kearah Masoami, "Asal mama tahu aja, Pak Masaomi itu sebenarnya bukanlah orang yang baik seperti yang selama ini Mama bayangkan. Dia adalah orang tua yang kejam dan tidak punya empati. Dan bagaimana mungkin ia bisa menganggapku sebagai anaknya, kalau Akashi saja tidak pernah dianggap oleh anak olehnya selama ini. Jadi, hentikan semua impian palsu Mama itu!"
"Jaga ucapanmu, Wakatoshi!" bentak Nyonya Ushijima.
"Memang itu kenyataannya, Ma. Mungkin saja kita sama sekali tidak berharga dimatanya, satu-satunya orang yang paling berharga di hidupnya itu cuman Yuki-san yang tinggal di Osaka. Dan bisa saja Pak Masaomi sengaja menikahi Mama buat menyembunyikan perasaan kesepiannya, ia benar-benar seorang yang buruk."
Perkataan Ushijima langsung mengejutkan Ibunya, ia sampai goyah kepada kesetiaan sang suami.
"Apa benar yang dikatakan oleh Wakatoshi, Mas?" tanya Nyonya Ushijima yang mulai was-was bercampur ragu. Apalagi Masaomi sama sekali tidak menunjukkan sikap penolakan pada argumen yang disampaikan Ushijima, ia bisa-bisanya bersikap tenang saat Ushijima berusaha menjelek-jelekannya.
"Benar, aku tidak akan mengelak lagi kali ini. Aku memang punya putra di Osaka, satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan oleh mendiang istriku." Masaomi tidak menoleh pada Nyonya Ushijima, ia malah sibuk menatap Akashi yang sedang melamun.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana denganku? Apa aku juga berharga dimatamu?" tanya Nyonya Ushijima yang penuh harap, ia sampai tersenyum dengan penuh percaya diri bahwa suaminya itu sangatlah mencintainya. Bukan tanpa alasan, sebab selama ini suaminya selalu membelanya dan menjadikannya seperti seorang Ratu yang beruntung di Dunia ini.