
Hari sudah mulai gelap dan bunyi pengumuman dari ruang OSIS yang meminta seluruh anggota ekstrakulikuler segera menyudahi kegiatannya.
Dan kebetulan saat ini organisasi Basket juga hampir menyelesaikan seleksi penilaian. Akan tetapi, sosok Henry belum juga datang sampai detik ini.
Jelas saja membuat Akashi mulai ragu untuk menentukan anggota yang akan dimasukkannya sebagai Tim Utama, padahal rencananya ia akan meletakkan Henry sebagai tim Utama dan Carloz sebagai tim Utama cadangan yang akan bermain dibergantian di tengah pertandingan nantinya.
Namun bukan Akashi namanya, kalau tidak bekerja dengan profesional. Dengan tenang, ia berniat menyudahi pengharapan itu karena memaksa orang lain juga tidak benar rasanya. Dan sebelum kertas formulir penilaian Henry benar-benar dibuangnya, mendadak ia menemukan sosok Henry berada didepan pintu dan berjalan tenang menghampiri Akashi.
"Kau datang juga, Henry-San." Akashi tersenyum puas, ia kembali bersemangat dan penuh percaya diri karena telah berhasil mempengaruhi Henry. Berbeda dengan anggota timnya yang merasa kaget saat mengetahui kehadiran Henry disana, seingat mereka juga Henry adalah anggota Voli saat ini dan tak pernah kepikiran bagi mereka untuk mengajak Henry kembali kedalam Dunia Basket.
"Tidak usah berlebihan, Akashi." Henry menatap tidak senang pada sang kapten, lalu ia bergantian menatap penuh kebencian kepada anggota basket yang lain.
"Berhenti menatapku sebagai musuh, tatapan kalian sangat menyebalkan." Henry langsung mengalihkan pandangannya kearah Keranjang Basket dan mengambil bola baru yang masih bersih, lalu ia lemparkan kepada Akashi.
"Kau sudah mempermalukanku tadi, sekarang aku ingin membalas hutang kekalahanku padamu. Kalau kau berhasil menjebol ringku, aku akan menerima tawaranmu."
"Berani sekali kau menguji Sei-Chan," keluh Mibuchi.
"Memangnya kenapa? Lagian dia juga kapten, pastinya harus lebih hebat dari anggotanya. Apa kalian takut kalau kapten kalian ini berhasil kupermalukan?" tanya Henry dengan nada menyebalkannya.
"Tenang saja, Mibuchi-senpai. Aku pasti bakal bisa mengalahkannya, ini adalah sesuatu hal yang mudah." Akashi tak kehilangan kepercayaan dirinya, ia menyerahkan formulir kepada Mibuchi dan memperbaiki tali sepatunya.
Disudut lapangan, Akashi bisa mendengarkan suara Carloz yang berteriak menyemangatinya.
"Kalahkan dia, Kapten! Kalau kau sampai kalah, aku takkan mengakuimu lagi sebagai Kaptenku."
"Woy, kau menyemangati atau mengancam sih?" tanya Hayama yang merasa kesal kembali dengan omong kosong Carloz.
"Kau bisa lihatkan? Aku sedang menyemangati kapten kita, kau benar-benar bodoh sekali sampai tidak menyadari hal tersebut."
"Kalian bisa diam! Tolong fokus saja pada pertandingan Sei-Chan, jangan banyak komentar." Mibuchi merasa muak dengan perdebatan Hayama dan kebisingan Carloz.
__ADS_1
Sementara itu pula Akashi sudah bersiap-siap untuk beradu tanding dengan Henry, kali ini ia tidak berniat melepaskan Eyes Patchnya dan hanya akan mengandalkan emperor Eyes dan kekuatan telinga yang baru saja dilatihnya beberapa hari belakangan ini.
"Bagus sekali cara dribble bolanya dibandingkan dirimu, Hayama. Apa mungkin dia lebih hebat daripada Raja tak bermahkota?" tanya Carloz yang sebenarnya berniat mengolok-olok Hayama saat melihat pertunjukan dribble Henry.
Lalu secara bijaknya, Henry mengambil area kanan yang menjadi titik buta bagi Akashi untuk merampas bola tersebut. Sepertinya kemampuan telinga Akashi belum tajam saat diawal permainan, ia masih butuh banyak pemanasan dan waktu yang sedikit lama buat beradaptasi pada pertandingan dan membiarkan pendengarannya menajam seiiring dengan lamanya pertandingan.
"Apa kau kesulitan merampasnya dariku?" tanya Henry seraya tertawa puas, ia langsung berlari sambil menggiring bola menuju ring kekuasaan Akashi.
Sejauh ini, Akashi tidak terpengaruh oleh apapun dan emosinya masih stabil. Ia mencoba mengamati permainan dengan baik dan membiarkan Henry mencetak angka sebanyak dua kali berturut-turut.
Hingga akhirnya Akashi mulai tersenyum licik sambil berlari menghampiri Henry yang tengah menggiring bola untuk mencetak angka ketiganya.
Namun posisi Akashi yang berlari sambil memejamkan mata tersebut jelas saja membuat Henry dan para anggota lain yang sedang menonton jadi bingung, mereka sampai bertanya-tanya alasan Akashi memejamkan matanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Henry.
"Menurutmu apa yang kulakukan?" tanya balik Akashi, lalu diikuti oleh tangan Akashi yang begitu mudahnya merampas bola dari tangan Henry.
Dimana Akashi bisa merasakan pantulan dari bola yang mendarat di lapangan, ia bahkan bisa mendengarkan hembusan nafas Henry yang mulai merasa sedikit lelah karena menghabiskan banyak energi untuk bermain Voli sebelum kesini.
Henry yang mulai meras kesal seakan dipermainkan oleh Akashi, ia menggunakan kecepatannya untuk menghampiri Akashi dan melompat tinggi untuk mencegah Akashi memasukkan bola kedalam ring. Dan sepertinya telapak tangannya yang berhasil mengenai bola membuat Bola itu gagal untuk dimasukkan dan terlempar ke pinggir lapangan.
Henry tersenyum lega dan menatap bangga kepada dirinya, ia bisa melihat wajah kesal Akashi yang nyaris saja membuat angka.
"Apa cuman segini saja kemampuan seorang Akashi yang digadang-gadang sebagai pemain hebat? Ah, pastinya memalukan sekali untuk pelatih yang telah mengagungkan namamu dua tahun lalu." Henry mulai mengolok-olok Akashi.
Akashi yang mulai mendribble kembali berusaha tetap acuh pada semua provokasi Henry. Namun sayangnya, sekali lagi ia gagal menjebol ring Henry yang mampu meloncat tinggi melebihi Kagami.
Akashi yang sudah dua kali mengalami kegagalan itu mulai merasa lelah. Tembok pertahanan seluruh emosinya juga sudah diambang batas, belum lagi tatapan penuh harapan dari anggotanya dan teriakan yang tak pernah berhenti meminta Akashi untuk menang juga menjadi faktor yang membuatnya tertekan.
Tentunya hal itu membuat Akashi mulai merasa diselimuti perasaan kalut dan takut akan kegagalan, ia merasa marah dengan tatapan mata anggotanya yang terus menatapnya penuh harap.
__ADS_1
"Huffttt...." Akashi mengatur kembali pernafasannya, lalu ia berlari cepat dengan mengandalkan emperor Eyes-nya untuk merampas kembali bola tersebut dari tangan Henry.
Cukup lama Akashi membiarkan Henry mendribble bola ke sisi kanan dan kiri dihadapannya, ia sendiri juga tengah berusaha untuk fokus dalam mengandalkan kekuatan Emperor Eyes di mata kirinya. Hingga akhirnya ia mulai bisa membaca seluruh gerakan Henry, kini sisi tumpul dari kekuatan Emperor Eyes Akashi mulai terasah tajam dengan baik.
Dengan mengandalkan sebelah mata tidaklah membuat Akashi merasa kesulitan untuk menggunakan Emperor Eyes, ia kini mulai paham bahwa latihannya beberapa hari yang lalu secara rutin telah memberikan efek yang baik untuk membuatnya terbiasa dalam menggunakan kekuatan mata kembali.
"Kau tidak seharusnya meremehkanku," bisiknya yang langsung bisa membaca gerakan Henry selanjutnya, tak menunggu waktu lama Akashi mampu memblokir Bola yang tengah berada dalam genggaman tangan Henry.
Jelas saja tindakan yang dilakukan Akashi saat ini berhasil menghentikan momentum yang sedari tadi dimiliki oleh Henry, ia benar-benar berhasil membuat Henry tercengang dengan kekuatan yang dimilikinya.
"Kau memang memiliki loncatan yang tinggi, aku sangat mengakui bakatmu. Tapi kau masih perlu beribu-ribu tahun lagi untuk mengalahkanku, Henry-San." Akashi tersenyum dan berlari menuju ring, Henry berusaha mengejar dimana keduanya saling mengejar dan menghindar satu sama lain.
Sayangnya keberuntungan Henry sudah mulai memudar, ia gagal merebut bola dari tangan Akashi. Dan Akashi juga tidak lagi membuat kesalahan yang sama, ia berusaha menggiringnya bola dengan tetap menghindari posisi yang menjadi titik buta baginya.
Dengan tenang, ia telah mencapai daerah lawan dan mulai melompat untuk melakukan Jump Shoot menuju ring punya Henry.
"Aku tidak akan membiarkanmu untuk mencetak satupun angka!" teriak Henry yang juga ikut melompat di sebelah kanan Akashi untuk menyentuh bola agar tidak masuk kedalam ring.
Dan tepat saat itu pula, Akashi melepaskan Eyes Patchnya dan menoleh kearah Henry. Ia berusaha menggunakan setiap hitungan detik untuk mencegah tindakan Henry yang sudah diketahuinya sebelum ini dengan prediksi Emperor Eyes.
Kebetulan saat itu pula, Henry termakan oleh trik Akashi dimana ia secara spontan membalas tatapan mata kanan Akashi dengan tangan kanan yang berusaha menyentuh Bola yang saat ini tengah bersiap melambung kedalam ring.
"Kau akan selalu kalah dariku," ucap Akashi yang entah bagaimana langsung membuat Henry mematung dan bergidik ngeri, energi dalam dirinya seperti terkuras habis dalam sekejap sampai membuatnya terjatuh sebelum sempat menyentuh bola.
Kepalanya terasa pusing dan raut wajahnya seakan menunjukkan bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan, pikirannya menjadi kacau dan merasa ketakutan dengan ucapan Akashi barusan.
Hingga kengerian yang dirasakannya itu terhenti saat ia mendengar suara sorakan dari para anggota yang menikmati keberhasilan Akashi dalam mencetak angka pertama, Akashi hanya tersenyum bangga dan mengulurkan tangannya untuk membantu Henry berdiri.
"Masih ada dua angka lagi yang harus kucetak untuk menyamaimu, kau juga harus mencetak dua angka lagi untuk menang dariku. Berdirilah!" perintah Akashi yang membuat Henry mulai menyadari betapa mengerikannya Akashi, ia mulai paham bahwa kabar yang pernah terdengar ditelinganya bukanlah sebuah rumor belaka. Dan ia bisa merasakan jiwa kemenangan dan kepempimpinan dalam diri Akashi, pantas saja selama ini pelatih selalu mengagungkan Akashi yang saat itu masih berstatus sebagai Tim Teiko dan belum memasuki bangku SMA di Rakuzan.
"Sial, padahal ia baru saja mencetak satu angka. Tapi ia sudah berhasil membungkam kesombonganku, apa memang ini rasanya berhadapan dengan kapten Kiseki no sedai itu?" celutuk Henry yang langsung menampar uluran tangan Akashi dan memilih berdiri sendiri. Baginya, Akashi hanyalah sebatas Junior saja dan ia takkan pernah sekalipun tunduk pada Akashi sampai kapanpun.
__ADS_1
****
Jangan lupa vote ya guys, Jangan silent reader aja ya😊🤗 Terimakasih sudah mampir