
"Kau kalah lagi denganku," ucap Akashi pada Midorima yang sudah dipenuhi keringat.
"Akashi, mari cetak angka sekali lagi. Tunjukkan semua kemampuanmu," pinta Midorima seraya meletakkan kedua tangannya di samping badan.
"Tidak masalah, lagipula sebentar lagi aku akan mengundang kalian untuk bermain melawan diriku yang lain. Setidaknya kalian bisa merasakan kemampuanku versi original," tukas Akashi yang langsung tersenyum dan mendribble bola.
Dia langsung memejamkan kedua matanya dan mulai menghitung angka satu sampai tiga berkali-kali. Kuroko mulai mencermati Akashi dengan fokus, bisa saja ini adalah informasi yang penting untuk nantinya melawan Rakuzan.
"Satu.. dua.. tiga..," gumam Akashi yang langsung mendribble bola kearah ring. Anehnya, ia tampak tenang berlari dengan kedua maat tertutup seolah ia hanya mengandalkan insting dan pendengarannya saja dalam mode ini.
Bahkan saat Midorima berusaha memblokir permainan Akashi, ia mampu menghindari Midorima dan mempertahankan bola didalam genggamannya.
Akashi bisa merasakan hembusan nafas Midorima yang berhasil dilewatinya dengan mudah, ia bahkan bisa mendengarkan langkah kaki Midorima saat mendekatinya yang mana memudahkan Akashi untuk menciptakan peluang strategi satu langkah diatas Midorima.
Meski saat ini ia sedang tidak dalam mode Emperor Eyes, ia mampu mencegah segala kemungkinan yang terjadi dengan mengandalkan indera pendengarannya yang sudah sensitif sejak menjalan latihan. Sebab sejatinya kemampuan ini bukanlah kemampuan yang mirip dengan Emperor Eyes ataupun Absolute Eyes. Bila keduanya tercipta atas ketidaksengajaan dari Akashi sendiri, maka Kemampuan pendengarannya itu tercipta oleh latihan rutin yang selalu dilakukannya.
Namun sayangnya Midorima tidak kehabisan akal, ia mempercepat langkahnya dan berdiri tepat di bawah Ring untuk menunggu kedatangan Akashi.
__ADS_1
Akashi yang merasa agak terganggu pada posisi Midorima saat ini, apalagi Midorima memiliki tubuh tinggi melebihi Akashi yang membuat Midorima lebih mudah untuk merampas bola itu kembali ataupun menyentuh bola yang sedang melayang diatas menuju ring.
Dan hal ini tak membuat Akashi mengambil keputusan gegabah, ia berhenti sejenak dengan jarak yang cukup jauh dari Midorima.
Dia membuka matanya kembali, usai menciptakan tiga angka yang tercetak tanpa mengandalkan kedua matanya. Mata kirinya kini berubah total, ada lingkaran cincin di bola mata yang menunjukkan kalau Emperor Eyes Akashi mulai aktif. Senyumannya setipis kertas, aura semangatnya mulai menyebar disekitar lapangan.
Namun sepertinya bukan hanya Akashi yang telah berkembang. Demikian juga halnya dengan Midorima. Namun entah kenapa sampai saat ini ia belum menunjukkan apapun mengenai kemampuannya tersebut, bisa saja karena ia masih memegang teguh aturan yang dibilang pelatih untuk tidak memainkannya situasi pertandingan tidak resmi.
Sementara itu, Akashi langsung memberikan Ankle Breaknya kepada Midorima yang sampai detik ini belum ada yang berhasil mengatasi kemampuan Akashi tersebut. Dan Benar saja, Midorima terjatuh saat berhadapan langsung pada Ankle Break Akashi. Tapi kali ini ia tidak lagi terpuruk seperti sebelumnya, ia hanya menerima tekanan pengaruh dari ankle break dengan cepat dan mula mengejar Akashi yang sudah lebih dulu melewati nya.
"Hebat sekali kau bisa bangkit kembali secepat ini, kau tampak banyak berkembang menghadapi ankle breakku. Tapi tetap saja, kau masih belum bisa menang menghadapi permainanku kali ini. Akulah pemimpin dalam pertandingan ini," ucap Akashi yang langsung membuat tipuan seolah-olah ia akan melompat.
Tatapan keduanya saling berhadapan satu sama lain, Midorima bisa melihat senyuman Akashi yang ditujukan padanya dan lingkaran cincin putih di mata kanan Akashi yang membuatnya seperti terhipnotis tanpa sadar.
Dan tiba-tiba saja dirinya terlempar kebelakang dengan posisi bagian tubuh bawahnya mendarat duluan ke aspal lapangan. Rasanya hampir sama seperti terkena ankle break, tapi ini memiliki versi yang berbeda seolah tubuhnya bisa bergerak sendiri seperti habis diperintah.
Dengan kesempatan inilah, Akashi berhasil mencetak angka kembali dan membuat jarak tiga angka dari Midorima.
__ADS_1
"Aku gagal lagi, kau benar-benar sulit untuk kukejar." Gerutu Midorima yang merasa agak kesal, rasanya ia masih belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk menandingi Akashi. Meskipun ia telah merelakan untuk mengurangi waktu bersantainya yang bersisa untuk terus latihan.
"Kau sudah banyak berkembang, Midorima-kun. Kau bisa mengatasi efek dari Ankle Break Akashi, itu artinya kau sudah berhasil berkembang cukup jauh." Kuroko mencoba menyemangati Midorima.
"Diamlah, Kuroko! Aku tidak perlu dibantu dengan kalimat manismu, sebab yang kubutuhkan sekarang adalah bukti dan fakta. Lebih baik kau juga berkembang lebih banyak lagi atau gelar Winter Cup mu direbut oleh kami." Midorima berdiri sambil mengepas-ngepas kedua telapak tangannya yang kotor.
"Andai saja aku bisa menggunakan kemampuan Baru ku itu, pasti aku punya peluang untuk menghentikan pertahanan Akashi." Midorima berteriak dalam batin, sesaat kemudian ia langsung berjalan untuk mengambil kembali benda keberuntungannya.
"Permainan sudah selesai. Ayo kita temui Aomine dan Kagami, mereka pastinya juga sudah lelah untuk berkelahi disana." Midorima langsung mengeluarkan earphone dari sakunya dan berjalan pergi duluan sambil mendengarkan ramalan zodiak untuk menenangkan kekecewaan hatinya.
"Apa yang dikatakan Shintaro itu benar, Kuroko. Kalian juga harus banyak berkembang untuk mempertahankan Winter Cup tahun depan, sebab mempertahankan gelar juara itu jauh lebih banyak tekanannya dibandingkan meraih." Akashi menepuk bahu Kuroko seraya memungut kembali bola basketnya.
Kuroko Sendiri hanya bisa mengangguk, ia sangat setuju pada perkataan kedua temannya itu. Apalagi setelah dia melihat perkembangan Midorima dan Akashi yang jauh lebih membaik dibandingkan permainan sebelumnya. Ia merasa ada perbedaan jarak diantara mereka dan tim-nya saat ini. Mungkin saja berharap sepenuhnya kepada Kagami bukanlah hal yang tepat, ia tak boleh membuat Kagami menggendong mereka seperti permainan sebelumnya yang terlalu didominasi oleh Kagami dan dirinya.
"Hei, Akashi-kun. Apa tadi kekuatan barumu yang pernah kami lihat saat pertandingan Teiko dan Shiratorizawa?"tanya Kuroko.
"Ya, tapi kali ini sudah cukup sempurna untuk digunakan. Aku juga tidak mendapatkan efek samping apapun lagi saat mengeluarkan kekuatan mataku, bahkan Emperor Eyes ku sudah sangat membaik."
__ADS_1
"Dan kemampuanmu dalam bermain dengan memejamkan mata juga kekuatanmu, apa itu masih perlu berkembang lagi atau sudah mencapai batasnya seperti itu?" tanya Kuroko.
"Aku rasa sudah ya, soalnya itu bukan murni kekuatanku tapi sesuatu hal yang kulatih akhir-akhir ini. Dan kuharap apa yang kau lihat hari ini, bisa membuat kalian punya rencana untuk menghentikan kekuatanku. Meskipun aku sangat yakin kalau kalian tidak akan pernah bisa mengalahkannya." Akashi tersenyum bangga, ia menatap sisi bolanya yang mulai tidak terlihat baru kembali.