STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
25


__ADS_3

Ditengah jeda permainan diantara kuarter dua dan kuarter 3 selama 15 menit, Akashi sibuk berkelana dalam pikirannya sampai mengacuhkan keberadaan timnya sendiri dan sorakan siswa Shiratorizawa yang menjelek-jelekkan sekolah mereka.


Sorot matanya yang haus akan Kemenangan mulai terpancar jelas, meskipun saat itu ia tak sekalipun mengalihkan pandangannya yang terus menatap ke bawah dengan tubuh yang duduk sedikit membungkuk dan handuk kecil yang melingkari lehernya.


"Aku tak boleh membiarkan Teiko kalah, menghina kiseki no sedai dan meremehkanku." Batin Akashi sambil mencengkram kedua tangannya.


Siapapun pasti bisa menyadari kalau Remaja bangsawan yang menjadi pemimpin Kiseki no sedai itu sedang diselimuti oleh perasaan amarah.


Sampai Akira saja tak berani menghampiri Akashi, padahal saat ini mereka masih perlu arahan dan bimbingan Akashi selaku kapten mereka.


"Akira!" panggil Akashi yang langsung berdiri tegak, "Selama aku memikirkan strategis untuk kita, tolong pastikan suasana hati kalian juga ikut membaik saat aku kembali."


Akira tak banyak bertanya dan hanya mengangguk saja, ia bahkan tak berani menatap matanya Akashi dan membiarkan seniornya itu berjalan meninggalkan gedung lapangan dengan langkah yang berusaha tetap tenang.


Setelah beberapa langkah menjauhi gedung, ia menatap layar handphonenya sejenak dan sempat terlintas dibenaknya untuk menghubungi anggota kiseki no sedai saja saat itu. Akan tetapi, sebelum sempat ia membuat panggilan grup dengan mereka, tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya dan beralih menghubungi Nijimura.


Dengan nada yang tetap tenang, Akashi membuka pembicaraan terlebih dahulu saat nada dering panggilan tersebut terhubung. Saat itu, Nijimura terlihat sedang bekerja paruh waktu sebagai seorang kasir disalah satu supermarket seraya mengerjakan tugas kampusnya.


"Ada apa, Akashi?" tanya Nijimura yang sama sekali tak keberatan menerima telepon Akashi ditengah kesibukannya itu.

__ADS_1


"Aku sedang bingung, Nijimura Senpai. Aku ingin meminta pendapatmu, apakah kau sedang sibuk sekarang?" tanya Akashi.


Nijimura menggelengkan kepalanya, " Tidak, kok. Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan padaku, aku akan memberikanmu saran yang bermutu seperti biasanya yang selama ini kita lakukan setiapkali kau merasa bingung ataupun bimbang."


"Senpai, apakah ada saat-saat dimana kita berhenti mempercayai Anggara tim kita dan bermain sendiri? Maaf, maksudku... Bolehkah aku bersikap egois selama satu kuarter saja? Aku takut menjadi Akashi yang dulu, tapi aku juga tak ingin kami kalah dan dipermalukan oleh tim lawan. Bagaimana menurutmu, Senpai?" tanya Akashi yang membuat Nijimura tersenyum saja.


"Kau sepertinya sudah mulai mencintai kemenangan, Akashi. Aku tak menyangka kekalahanmu di Winter Cup itu membuatmu mulai menghargai kemenangan dan merasa takut terhadap kekalahan. Akhirnya kau benar-benar terlihat seperti Remaja pada umumnya," celetuk Nijimura yang merasa bangga pada juniornya itu, walaupun sebenernya perkataannya sedikit kasar bagi pendengaran Akashi.


"Oh iya, pertanyaanmu tadi benar-benar cukup mengejutkan sekali Akashi. Tapi menurutku, lakukanlah kalau memang hanya itu satu-satunya cara yang bisa kau lakukan sekarang. Dan jawaban untuk rasa takutmu itu, bukannya kau sudah berkomitmen terhadap diri sendiri bahwa kau takkan pernah bersikap kejam seperti Akashi yang dulu? Lalu, apa yang sekarang sangat kau takutkan? Aku percaya kok, kalau kau adalah pemimpin yang sempurna dan anggota yang hebat. Jadi berhenti meragukan dirimu sendiri, cobalah untuk mempercayai dirimu sendiri. "


"Jadi, kesimpulannya apa senpai? Kau terlalu banyak berbicara sampai aku tidak bisa merangkum inti pembicaraanmu," keluh Akashi yang membuat Nijimura tertawa geli atas kepolosan Juniornya itu.


Akashi tersenyum puas atas jawaban Nijimura, "Terimakasih, Senpai. Jawabanmu sangat memuaskanku dan memberikanku alasan untuk tetap mempercayai timku sendiri. Aku benar-benar gelap mata selama sesaat terhadap mereka," ucap Akashi.


"Baguslah kalau memang membuatmu mengerti. Kalau begitu semangat bertanding," tukas Nijimura santai.


"Terimakasih sekali lagi, Senpai. Kalau begitu aku tutup teleponnya dan maaf sekali lagi telah menyita waktumu, Senpai." Akashi langsung menutup panggilan telepon usai mendapatkan respon setuju oleh Nijimura.


Nijimura sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja seraya menatap layar handphonenya, "Aku yang harus berterimakasih kepadamu, kau selalu saja mempercayaiku setiapkali berada di tengah kebimbanganmu. Rasanya akan sangat menyenangkan kalau punya adik sepertimu," gumam Nijimura seraya kembali melanjutkan pekerjaan tugasnya.

__ADS_1


Sedangkan Akashi kembali lagi kedalam gedung usai mengatasi kebimbangannya, tanpa banyak basa-basi langsung saja Akashi membuat lingkaran dengan anggotanya.


"Bisakah kalian mempercayaiku untuk bermain sendirian selama kuarter 3?" tanya Akashi.


"Maksudnya kami tidak perlu menyentuh bola selama kuarter 3 berlangsung dan membiarkan senpai yang memegang kendali disana?" tanya Akira.


"Ya, aku tahu ini terdengar egois. Tapi kita harus tetap menang sekarang dan aku ingin menguasai seluruh kuarter 3 sepenuhnya, setelah itu aku akan menyerahkan seluruh kuarter terakhir kepada kalian. Jadi, kuharap selama kuarter 3 itu kalian bisa belajar mengamati dan menganalisa kekompakan dan kerjasama tim Shiratorizawa. Aku ingin kalian menjadi seorang pengamat sekarang, kalian bisakan?" tanya Akashi.


Dan tampaknya perkataan Akashi barusan sangat meyakinkan, sampai membuat seluruh anggota mengangguk serempak. Mungkin awalnya mereka terkejut terhadap pemberitahuan Akashi, tetapi setelah mendengarkan perkataan Akashi barusan telah membuat mereka menjadi yakin kalau terkadang menganalisa lawan juga tak ada salahnya dan mempercayai seluruh Kuarter merupakan suatu hal terbaik yang harus mereka lakukan.


"Baiklah, kami setuju dengan strategismu barusan. Dan kami akan memberikan seluruh kepercayaan kami pada Akashi Senpai," ucap Akira. Akashi hanya mengangguk saja dibarengi oleh suara peluit yang menandakan Kuarter ketiga bisa dimulai sekarang.


Dengan langkah yang bersemangat dan pikiran yang telah tenang. Akashi melangkahkan kakinya memasuki area pertandingan dan tak lupa juga ia melepaskan Eyes patchnya sampai membuat kaget semua penonton termasuk juga Anggota Tim Shiratorizawa yang tak mengetahui berita tersebut. Bahkan beberapa dari anggotanya saja ikut kaget selama sesaat saat menyadari bahwa dugaan sakit mata yang mereka yakini tidaklah tepat karena memang mereka juga tak mengetahui kejadian yang menimpa Akashi beberapa Minggu yang lalu.


"Dasar orang cacat!" teriak Akio yang langsung mendribel bolanya dengan langkah yang cepat. Akashi hanya tersenyum saja dengan raut wajah yang tenang sambil menanti kedatangan Akio dihadapannya.


****


Wah kira-kira siapa nih yang bakal menang?

__ADS_1


__ADS_2