
"Wakatoshi! Kau sudah tahu kabar terbaru tentang Ryo?" tanya Tendou yang setengah tersengal-sengal karena berlari menghampiri Ushijima.
Kebetulan Ushijima tidak terlalu sibuk saat ini karena tidak diperbolehkan untuk latihan oleh pelatih karena luka yang dialami Ushijima, dimana sebagai gantinya pelatih meminta Ushijima untuk duduk tenang saja sambil membersihkan bola Voli agar ia mempunyai kesibukan dan bisa kembali prima saat menghadapi Karasuno di pertandingan persahabatan Minggu depan serta kompetisi musim panas atau Interhigh lima bulan lagi.
"Aku tidak tertarik untuk mengikuti kabar tentangnya, tendou." Ushijima masih sibuk membersihkan bola Voli didalam keranjang, kali ini pelatih benar-benar keras padanya.
"Ayolah, Wakatoshi-kun. Kau harus mendengarkannya kali ini, karena kau pasti akan tercengang sepertiku." Tendou tampak bersemangat, ia sampai mengacuhkan panggilan pelatih yang terus memintanya untuk segera mengganti pakaian latihan.
"Pelatih terus memanggilmu, kau bisa dimarahi nanti." Ushijima mencoba mengingatkan Tendou, ia memang tidak tertarik pada gosip yang akan disampaikan Tendou.
"Lupakan soal pelatih," ucapnya, lalu berbalik arah kepada sang pelatih." Tunggu sebentar, Sensei! Kami sedang membahas tugas." Ia berteriak keras dengan kebohongan yang membuat Ushijima cuman geleng-geleng kepala saja.
Lalu ia mendekat dan sedikit berbisik kepada Ushijima, "Kemarin orang tua Ryo mendatangi kepala sekolah, ia sangat marah dan memutuskan untuk memindahkan anaknya. Tapi bukan itu bagian menariknya," ucap Tendou.
"Lalu apa? Dia tak mau lagi berurusan denganku atau dia berpikir kalau aku sudah sekarat makanya ingin melarikan diri?" tanya Ushijima yang tidak terlalu perduli dan sibuk membersihkan bola.
__ADS_1
"Bukan itu, Wakatoshi-kun. Masalahnya dia pindah karena kecelakaan yang dialaminya beberapa hari yang lalu, kata anak basket sih Ryo diserang oleh seseorang dibagian lutut dan membuat dirinya tidak bisa lagi berjalan normal seperti dulu. Ia juga harus mengenakan tongkat ataupun kursi roda mulai sekarang, tapi pas dipaksa mengaku sama kedua orang tua dan pihak sekolah malah ia memilih tutup mulut saja dan berteriak histeris. Kayaknya dia benar-benar trauma berat deh," jelas Tendou yang sontak membuat Ushijima mengingat sesuatu pada malam kejadian itu.
"Itu bukan kau, kan? Bukan kau yang melukai Ryo semengerikan itu," ucap Tendou yang masih sangat mempercayainya Ushijima.
"Bukan, kau sama sekali baru tahu fakta ini setelah kau memberitahuku barusan. Tapi, kayaknya aku tahu siapa pelaku sebenarnya." Ushijima tidak menatap siapapun, pikirannya mengajaknya berlari terombang-ambing dalam ingatan malam itu.
"Hei, Tendou! Pelatih akan mencadangkanmu kalau kau tidak ganti baju sekarang," peringat Sami yang bela-belain menghampiri Ushijima dan Tendou.
"Kau serius? Ya sudah, aku akan ganti baju sekarang. Kau juga masih punya hutang cerita padaku, Wakatoshi-kun. Kita lanjutkan lagi sehabis latihan!" teriaknya yang terburu-buru berlari keruang ganti pakaian.
"Kau benar-benar memanjakannya, Ushijima. Ya sudah, segeralah sembuh untuk bisa bermain lagi dalam tim." Sami menepuk bahu Ushijima dan kembali kedalam lapangan.
Saat itu, Ushijima merasa sangat haus dan memutuskan untuk pergi ke Dapur. Suasana rumah yang besar terasa mencekam dan sepi, tapi bukan alasan baginya untuk merasa takut sama sekali. Tepat setelah dirinya selesai membanjiri kerongkongan dengan air dingin dari kulkas, tak sengaja ia mendengarkan perbincangan satpam dan Chef Tsubasa yang berada di bagian ruang penyimpanan makanan. Keduanya terdengar berbicara sangat serius dan keadaan senyap saat itu membuat obrolan mereka didengar jelas oleh Ushijima yang bersembunyi dibalik kulkas.
"Aku tak menyangka, Pak. Aku tak habis pikir kalau tuan muda kembali melahirkan iblis dalam dirinya. Dan kali ini sangat berbeda daripada yang dulu, makanya pas aku membukakan pintu gerbang beberapa hari yang lalu, Aku sampai pangling tak bisa mengenali tuan muda Akashi," beritahu Pak satpam.
__ADS_1
"Sudah berapa kali kukatakan padamu, itu bukan iblis. Itu hanya kepribadian lain yang diciptakan oleh tuan muda, kau tidak perlu takut." Chef Tsubasa mencoba menenangkan rekan yang usianya jauh lebih muda dibandingkan dirinya.
"Tapi, aku tak ingin tuan muda Akashi kembali jahat seperti dulu. Aku dan beberapa pelayan lain lebih senang dengan tuan muda Akashi yang sekarang, ia malah terlihat jauh lebih manusiawi dan ramah seperti mendiang nyonya."
"Memangnya apa yang kau lihat sampai membuatmu pangling dan beranggapan kalau tuan muda akan jahat kembali?" tanya Chef Tsubasa yang membuat Ushijima semakin tertarik dan penasaran.
"Matanya, Chef. Kemarin, kedua mata tuan muda Akashi kembali berfungsi secara normal tapi warnanya itu hitam legam pada bagian bola mata. Oh iya, beberapa helai rambutnya berwarna putih seperti terkena cat dan senyumannya terasa menyeramkan."
"Kalau memang yang kau katakan itu benar, lebih baik rahasiakan saja hal ini seperti yang kita lakukan seperti dahulu. Jangan sampai nyonya dan tuan Akashi tahu, apalagi Tuan Ushijima juga tidak boleh tahu. Mengerti?"
"Baik, Chef. Saya mengerti," ucap Pak Satpam sambil mengangguk.
" Oke, kalau begitu lebih baik kita kembali tidur saja. Ini juga sudah larut malam, kembalilah ke kamar masing-masing." Chef Tsubasa tersenyum memperingati rekannya itu, tepat saat keduanya telah meninggalkan dapur barulah Ushijima kembali ke lorong menuju kamarnya dengan perasaan penasaran akan fakta yang baru saja didengarnya.
Tepat sebelum rasa penasaran itu semakin menggebu, ia kembali dikejutkan oleh suara Akashi yang sedang berbincang didalam kamar. Ushijima yang bisa mendengarkan senyap-senyap suara tersebut memilih menguping dari depan pintu yang telah tertutup rapat.
__ADS_1
Berkali-kali ia bisa mendengarkan teriakan dan tawa dari Akashi, tetapi obrolan itu seolah-olah tengah mengolok-olok Akashi. Hingga tak berlangsung lama obrolan itu berubah menjadi obrolan yang berbeda dengan terus memaki nama Eijun, sebuah nama yang terdengar asing ditelinga Ushijima.
Hingga matanya tercengang saat mendengarkan Akashi mengungkit betapa hebatnya Eijun yang ada dalam dirinya bisa melukai sesekali dengan mudah, ia merasa kehadiran Eijun bisa menjadi senjata ampuh dalam pandangannya. Belum lagi, Ushijima bisa mendengarkan kalau Akashi merasa bersalah terhadap Ushijima yang terus-menerus mendiaminya selama beberapa hari ini, tetapi dirinya masih ragu untuk meminta maaf pada Ushijima. Dan tak beberapa lama kemudian, suara Akashi yang memaksa agar mempersilahkan dirinya yang berperan sebagai Eijun untuk meminta maaf pada Ushijima dan menjadi adik yang baik untuk Ushijima. Akan tetapi, Akashi terus menolak dan bersikeras kalau dirinya pemimpin atas tubuh itu dan takkan membiarkan Eijun mengambil alih bila memang tidak dibutuhkan. Dimana pada akhirnya obrolan itu dihentikan oleh keheningan yang membuat Ushijima buru-buru kembali ke kamar karena tak ingin ketahuan.