
Suasana lapangan Indoor Basket tim Rakuzan begitu sibuk, beberapa diantaranya tengah melakukan pemanasan sebelum memulai latihan yang dipimpin oleh Nebuya dan Hayama. Dan sebagian sisanya yang belum mendapatkan kesempatan untuk memasuki lapangan hanya bisa berdiri disudut lapangan sambil menyediakan bola-bola yang ada didalam keranjang. Biasanya mereka adalah anak kelas satu yang belum mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki di atas lapangan ataupun diberikan hak buat mengenakan seragam basket selain baju olahraga resmi dari sekolah.
Sementara itu disebuah ruang ganti baju yang ada di sudut lapangan, Akashi masih sibuk melipat seragam sekolahnya. Kali ini, ia sudah siap mengenakan seragam Rakuzan secara resmi sebagai pemain reguler dan Kapten Rakuzan. Sepertinya latihan individu yang dilakukannya bersama Mayuzumi dan Rei selama beberapa hari yang lalu mengembalikan kepercayaan diri Akashi, lagian dia juga tahu kalau keberadaan Eijun didalam dirinya bisa menjadi senjata paling ampuh untuk menyembunyikan ketakutannya sewaktu-waktu.
"Sei-Chan, apa kau sudah siap untuk menilai kemampuan mereka?" tanya Mibuchi seraya menutup loker pribadinya.
Akashi tersenyum dan berdiri, "Mibuchi-san, tolong handle mereka terlebih dahulu. Ada yang harus kulakukan sekarang!" ucapnya yang langsung pergi tanpa menjelaskan apapun sama sekali.
Mibuchi yang tak tahu menahu apa yang sedang dimaksudkan oleh Akashi cuman bisa menurut saja, lagipula memang sejak dahulu ia sulit membaca jalan pikiran sang kapten.
Sementara itu, Akashi meninggalkan lapangan basket secara acuh tak acuh. Ia bahkan tak menggubris senyuman dari para adik kelas satu dan teman seangkatannya yang menatap ramah.
Dan langkah kakinya itu membawa seorang kapten Rakuzan kedalam gedung latihan Bola Voli yang saat itu juga sedang sibuk latihan untuk Persiapan kompetensi musim panas voli SMA yang nantinya akan lebih dahulu dilaksanakan sebelum Kompetisi musim panas basket SMA.
"Hei, Akashi! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sora yang memiliki jabatan sebagai Kapten Voli Rakuzan.
Akashi hanya tersenyum ramah, ia tak mempunyai keinginan untuk berbincang dengan Sora. Malahan ia langsung berjalan menghampiri salah seorang senior kelas tiga yang saat itu sedang fokus menjadi Spiker melawan beberapa anak kelas dua seangkatannya Akashi.
"Selamat Sore, Henry Liu-san." Akashi benar-benar menyapa sang senior, ia sama sekali tidak perduli kehadirannya malah mengganggu konsentrasi para pemain Voli.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disitu, Akashi? Kau sedang mengganggu anggotaku latihan," keluh Sora yang merasa tidak senang diacuhkan begitu saja oleh Akashi.
"Aku tidak punya urusan denganmu, Sora-san. Dan aku juga tidak berniat mengganggu latihan Voli kalian, aku hanya ingin berbincang dengan Henry-san."
Henry yang mendengarkan namanya disebut dua kali hanya bisa melirik tajam pada Akashi, ia tak pernah sekalipun menemukan orang yang sangat sombong seperti juniornya itu.
"Sayangnya aku tidak punya urusan apapun untuk mengobrol dengan Junior angkuh sepertinya, Sora." Henry menolak tegas permintaan Akashi, Selain itu ia masih sibuk bermain Voli.
"Kau sudah dengarkan, Akashi? Jadi, lebih baik pergi saja dari sini." Sora tersenyum penuh kemenangan, tapi Akashi bukanlah orang yang pantang menyerah bila sudah mendapatkan target yang diinginkannya.
Ia malah memasukkan area Voli yang ada dihadapan Sora sebagai tim lawan, lalu ia tersenyum dengan penuh percaya diri.
Henry yang merasa muak dengan senyuman dan tatapan mata Akashi, apalagi saat melihat seragam basket Rakuzan yang dikenakan Akashi semakin membuatnya bertambah kesal.
"Aku benar-benar muak melihat anggota basket sepertimu, kalian itu hanyalah para tikus sekolah yang harus bekerja ekstra untuk memenangkan piala. Benar-benar memuakkan!" celutuk Henry yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya, entah apa yang terjadi dimasa lalu tetapi biodatanya sudah ada didalam daftar nama para mantan anggota basket Rakuzan yang waktu itu diberikan oleh pelatih.
Akashi sendiri tidak merasa keberatan dengan perkataan Henry, siapa yang perduli dengan ucapan para penakut yang memutuskan meninggalkan Basket. Mungkin itulah yang saat ini dipikirkan oleh Akashi Seijuro.
Dan disaat yang bersamaan, Henry melompat dan bersiap menerima pukulan dari setter yang segera di pukulnya bola voli itu menuju wilayah area lawan dengan lompatan yang sangat tinggi melebihi lompatan Kagami. Bola itu langsung terpukul dengan kecepatan yang sangat tinggi, sepertinya ini adalah pukulan terbaik yang diberikan oleh Henry untuk menghabisi Akashi.
__ADS_1
Akan tetapi, Akashi sama sekali tidak kewalahan. Dengan mata emperor eyesnya, ia bisa menebak arah pukulan Henry dan sekuat tenaga ia melompat untuk memblokir bola tersebut yang langsung memantul kembali kedalam area Henry sampai membuat semua anggota Voli yang ada disana ikut tercengang.
Dengan sedikit merasa kebas ditangan, Akashi tersenyum puas. Ia bisa merasakan pukulan bertenaga dari Henry yang bisa menjadi keuntungan untuk tim basket nya, tetapi Henry yang masih gelap mata merasa tak senang saat mendapatkan bolanya berhasil diblokir oleh Akashi ditambah lagi reaksi teman-temannya terasa memuakkan.
"Kau memang pantas mendapatkan julukan Kapten Kiseki no sedai, Akashi. Bukan hanya soal akademik ataupun basket saja, kau ternyata juga bisa bermain Voli dan memblokir senjata terhebat dari Henry." Sora secara terang-terangan memuji Akashi, meski ia menambahkan raut wajah tidak senang didalam perkataannya.
"Kau harus menepati janjimu, Henry-san." Akashi langsung meninggalkan lapangan Voli, tetapi ia tak lupa mengisya tangannya seolah-olah meminta Henry untuk mengikutinya sekarang.
"Aku pinjam dulu anggotamu, Sora-san." Akashi tersenyum puas menyaksikan seluruh ekspresi tegang didalam ruangan tersebut. Dan Henry yang merasa api didalam dirinya semakin mendidih terpaksa mau tak mau harus menepati janjinya dan menyusul Akashi, tak lupa juga ia meminta izin pada Sora selaku kapten voli yang berkuasa disana.
Tepat didepan pintu masuk gedung, Akashi menunggu Henry. Tak biasanya ia senang menunggu orang lain meski hanya beberapa detik, tapi kali ini ia bersedia menunggu Henry.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" tanya Henry.
"Aku dengar kalau kau dulu ada pemain basket hebat di negaramu, tapi semua kehebatan dan ketenaranmu ikut sirna saat kau memilih pindah ke Jepang karena kehadiran kiseki no sedai. Dan sialnya, kau juga harus menyerah menjadi anggota reguler saat bersekolah di Rakuzan dan memutuskan untuk beralih sebagai pemain Voli. Kenapa Henry-san... Kenapa kau selemah itu?" tanya Akashi tanpa sedikitpun menyaring perkataannya.
"Dasar sialan kau, Akashi! Seenaknya kau menganggapku selemah itu," tukas tajam Henry yang langsung mendaratkan pukulan tangannya pada Akashi, tetapi pukulan itu hanya mengenai pintu gedung saat Akashi menghindarinya dengan cepat.
"Jangan lukai tanganmu, Henry-san. Kau pasti akan membutuhkan kedua tanganmu untuk menggiring bola basket nantinya," ucap Akashi.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Henry bingung dengan sedikit kemarahan dalam dirinya.