STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
37


__ADS_3

"Kupikir kau hanya kasar dengan orang lain saja, tapi nyatanya kau juga  bisa berbuat kasar dengan teman-temanmu." Ushijima yang saat itu berjalan disebelah Akashi hanya bisa melirik saja, ia sendiri masih kepikiran dengan perbuatan Akashi terhadap Aomine dan Kagami saat di kafe tadi.


Akashi hanya membuka gerbang rumah yang sudah sepi dan berjalan masuk tanpa menanggapi perkataan Ushijima untuk sesaat, lalu ia menendang batu kerikil yang ada dihadapannya.


"Berhenti ikut campur, lagian aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menghukum mereka untuk Push Up sebanyak 100 kali saja kali ini," ucap Akashi.


"Itu karena aku yang memprovokasimu, coba kalau aku tidak langsung datang ke belakang Kafe buat memprovokasimu. Kau sudah memukul mereka dan membuat memar diwajah mereka," ungkap Ushijima mengenai kejadian selama di Kafe tadi.


"Dan karena Provokasimu juga, makanya aku menghukum mereka." Akashi berhenti seraya mendongakkan kearah Ushijima yang ada disampingnya, "Atau lebih tepatnya karena kehadiran Ushijima-San, makanya mereka berkelahi seperti tadi."


Ushijima tertawa geli, "Jadi, kau menyalahkanku sekarang? Teman-temanmu yang justru tampak aneh, ngapain juga menatapku setengah jam-an dan mencuri Burger milikku. Bahkan, si tubuh besar malah sibuk makan dan seenaknya mengadu padamu, belum lagi si kacamata yang malah lebih ahli memprovokasimu dan si rambut kuning dan si pendek yang bukannya menengahi pertengkaran malah diam saja tanpa bergerak sedikitpun dari kursinya. Apa kau tidak sadar kalau semua teman-temanmu itu sangat aneh?" tanya Ushijima seraya menggerakkan kedua tangannya kesana-kemari.


"Tidak, mereka sama sekali tidak aneh. Justru kaulah yang aneh, Ushijima-San. Mengapa kau harus mengkritik keanehan teman-teman ku disaat kau sendiri punya teman seperti Satori Tendou yang jauh lebih aneh, tapi kau sama sekali tidak mempermasalahkannya ataupun merasa risih berada didekatnya? Dan lebih aneh lagi, kau tidak keberatan berada didekat orang kejam sepertiku?" tanya balik Akashi seraya berjalan pergi membiarkan Ushijima tak bisa membalas perkataannya.


"Oke, Kau menang Akashi. Bisa kita berbaikan sekarang?" tanyanya.


"Sejak awal aku tidak berniat bermusuhan denganmu, Ushijima-San.Kau saja yang mengeluh tentang teman-temanku."


"Kau lebih menyebalkan daripada memikirkan strategis untuk mengalahkan lawan dalam Voli," keluh Ushijima yang langsung mengejar langkah Akashi. Sejenak Akashi hanya tersenyum sekilas saja, sebelum akhirnya ia kembali memperlihatkan wajah tenangnya yang suram saat mendapati keberadaan sang Ayah tengah duduk di Sofa tamu.


Ushijima dan Akashi langsung membungkuk kepada Masaomi, lalu memberikan sapaan selamat malam secara serempak. Masaomi sendiri ikut berdiri dan mendekati kedua putranya itu.


"Kalian melewatkan makan malam keluarga dan pulang terlalu malam, lain kali jangan diulangi lagi." Masaomi menepuk pelan bahu kedua putranya dengan kedua tangannya.


"Baik, Masaomi-San. Maafkan kami," ucap Ushijima yang berusaha sopan kepada Masaomi.


Masaomi tersenyum, "Ya sudah, kau bisa kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Besok juga kau harus sekolah dan latihan Voli."

__ADS_1


Ushijima hanya mengiyakan saja, tetapi kakinya belum juga bergerak seperti sedang menunggu Akashi. Masaomi yang menyadarkan itu langsung memberitahu Ushijima, "Kau duluan saja, nak. Ada yang perlu Papa bicarakan dengan adikmu," beritahu Masaomi.


"Baik," respon Ushijima yang langsung pergi, meski merasa khawatir bila Akashi mendapatkan hukuman dari sang Ayah. Makanya, Ushijima memilih menunggu didepan kamar Akashi sampai adiknya itu kembali. Dan saking khawatirnya, ia sampai bela-belain berdiri didepan pintu dengan posisi menyandar hingga hampir tertidur disana.


Sementara itu, Masaomi mengisyaratkan agar Akashi mengikutinya berjalan menuju ruang kerja. Dan disanalah, Masaomi berhenti tersenyum dan mulai memberikan sesuatu formulir kepada Akashi.


"Belakangan ini kau sudah sering melewatkan makan malam keluarga, Akashi."


"Maafkan aku, Pa. Aku harus mengurusi beberapa hal penting," ucap Akashi.


"Hal penting apa yang membuatmu harus berlarut-larut meninggalkan latihan Basket dan les belajar, les bahasa dan les musik, serta waktu belajarmu?" tanya Masaomi.


"Maafkan aku, aku janji takkan mengulanginya lagi.Aku takkan menyia-nyiakan waktuku untuk hal yang tidak berguna dan mengacaukan waktu berhargaku untuk belajar dan latihan." Akashi terlihat tenang, ia seperti sudah terbiasa berada di suasana seperti ini dan terlihat sudah biasa untuk selalu meminta maaf pada sang Ayah dibandingkan memberi penjelasan untuk membela dirinya sendiri.


"Baguslah kalau kau mengerti posisimu," ucap Masaomi yang mulai merendahkan amarahnya, ia seperti memang tak berniat mendengarkan alasan putranya sama sekali. Bahkan tak memaksa putranya untuk membela diri sesekali, padahal sudah hampir beberapa Minggu ini Akashi harus melawan dirinya sendiri untuk bisa bangkit kembali dari perasaan hancur dan ketidakpercayaan diri.


Dan dengan tenangnya, ia mengganti topik pembicaraan seraya menunjuk Formulir yang sudah ada ditangan Akashi.


Jelas saja Akashi tampak tercengang mendengarkannya, "Kalau Papa ingin aku ikut kompetisi matematika, sains ataupun yang berhubungan dengan mata pelajaran sih aku bisa aja dan gak keberatan, tapi kenapa Papa malah nyuruh aku buat ikut kompetisi kayak gini?" tanya Akashi.


"Papa baru saja diundang dalam acara rekan kerja Papa, mereka asyik membicarakan anaknya rekan kerja Papa ini yang berhasil menjadi juara kompetisi tersebut secara berturut-turut. Dan Papa ingin kau mengalahkannya tahun ini,"beritahu Masaomi tentang niatnya.


"Lagipula kau adalah Akashi Seijuro, anakku yang paling sempurna dan tidak pernah takut untuk menguasai berbagai bidang. Jadi, Papa rasa kau bisa memenangkan kompetisi ini demi nama baik keluarga kita." Masaomi berjalan menatapi foto-foto Akashi dari bayi yang terpampang di seluruh dinding ruang kerjanya.


"Bagaimana kalau aku menang? Apa ada keuntungannya untukku, Pa?" tanya Akashi.


"Ya, kalau kau memenangi kedua kompetisi itu. Kau akan kuizinkan untuk menjadi seorang atlet Basket, kau juga akan kuperbolehkan untuk memasuki pelatihan seleksi Nasional sebagai tim nasional Basket Jepang. Lagian, menurutku tidak ada salahnya seorang pewaris kekayaan sekaligus penerus seluruh perusahaanku memiliki karier sampingan sebagai seorang atlet."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana kalau aku kalah? Apa kau akan menghukumku?" tanya Akashi yang tidak langsung merayakan hadiah yang sudah lama dinantinya itu.


"Aku akan mengasingkanmu ke luar negeri dan belajar disana, sampai kau menebus kesalahanmu yang sudah mempermalukanku." Masaomi melirik tajam kepada anaknya itu.


"Pa, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Akashi yang dibalas anggukan oleh Masaomi.


"Tidak jadi, aku rasa sudah cukup pembicaraan kita hari ini. Aku akan belajar lebih keras untuk memenuhi permintaanmu, Pa. Selamat Malam," ucapnya yang langsung pergi dari ruang kerja Masaomi saat itu juga. Walau sebenarnya ia masih memiliki keraguan yang sudah lama dipendamnya sejak kecil.


Dengan kedua formulir yang masih digenggamnya, ia berjalan linglung menuju kamar. Akashi sama sekali tidak kepikiran kalau ada Ushijima yang sedang menunggunya didepan kamar, sampai suara langkah kaki Akashi membangunkan Ushijima dan Akashi mulai tersadar dari lamunannya tatkala saat Ushijima menarik kertas formulir ditangan Akashi.


"Apa ini?" tanya Ushijima yang enggan membaca isi formulir tersebut dan hanya membolak-balikkannya saja.


"Apa yang kau lakukan didepan kamarku, Ushijima-san?" tanya balik Akashi.


"Aku hanya ingin meminjam bukumu, kau tahukan kalau aku sekarang sudah kelas tiga dan harus mempelajari kembali buku kelas satu untuk persiapan ujian nanti." Ushijima berusaha membuat alasan untuk menutupi kekhawatirannya.


"Kau sendiri darimana saja? Apa Ayahmu menghukummu tadi? Maksudku sih aku gak perduli sama sekali kalau kau dihukum, tapi rasanya gak adil kalau kau sendiri yang dihukum padahal aku juga melewatkan makan malam keluarga."


"Kau benar-benar tidak pandai berbohong, Ushijima-San." Akashi geleng-geleng kepala, lalu ia menarik kembali Kertas Formulir dari tangan Ushijima tanpa menjelaskan apapun terkait pembicaraannya dengan sang Ayah.


Hingga terbesit didalam pikirannya untuk menanyakan sesuatu yang selama ini dipendamnya kepada Ushijima, apalagi ia pernah dengar tentang latar belakang Ushijima sebelumnya.


"Ushijima-san, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Aku harap kau mengetahui jawabannya," ucap Akashi yang sedikit memaksa.


"Apa itu?" tanya Ushijima yang sepertinya teralihkan dari kertas Formulir yang tengah digenggam Akashi.


***

__ADS_1


Kira-kira ada yang tahu gak, Akashi mau nanyak apa?


Pernah gak sih kalian membuat kesalahan, tapi tidak ada satupun orang dewasa yang meminta kalian untuk menjelaskan tentang alasan kalian melakukan hal tersebut dan malah memaksa kalian meminta maaf?


__ADS_2