STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
83


__ADS_3

"Lebih baik kita pergi dari sini sekarang, Kau sudah lihatkan keadaannya." Ushijima menarik paksa Akashi, tapi Kapten Rakuzan itu langsung menyingkirkan tangan Ushijima darinya.


Ia benar-benar terlalu fokus menatap Yuki, begitu juga dengan langkah kakinya yang terus berjalan mendekati Yuki. Tubuh Yuki memiliki ukuran yang Jauh lebih tinggi dari Akashi dan hampir setara dengan Ushijima, tapi sedikit lebih kurus yang membuat Berat badannya tidak Ideal sama sekali.


"Kau adalah Yuki-san?" tanya Akashi, seraya mengambil buku catatan Ibunya dari Ransel.


"Ya, kalian siapa?" tanyanya yang langsung membuat Ushijima terkejut, sebab awalnya ia menyangka bahwa Yuki sama sekali tidak memiliki kemampuan berbicara sedikitpun, makanya ia langsung mengajak Akashi pergi dikarenakan percuma juga berada disana berlama-lama dengan keadaan Yuki yang tidak bisa merespon sama sekali.


Akashi meletakkan buku itu di pangkuan Yuki, ia melihat sekeliling ruangan dan buku yang sedang dibaca oleh Yuki mengenai Biografi dari seorang Atlet Nasional. Entah siapapun itu, tapi sepertinya daya tarik sang Ibu terhadap olahraga juga diwariskan pada Yuki.


"Aku adalah Seijuro. Kau bisa tanyakan saja pada Papa kita atau baca saja buku itu, kalau kau ingin tahu tentangku." Akashi mulai melirik kepada Taksonomi yang masih tersambung dibagian perut Yuki, ia langsung menyadari bahwa Taksonomi itu sudah berisi cairan kuning yang pastinya bau Pesing.


"Kau benar-benar menyedihkan, aku sudah menyia-nyiakan waktuku buat membencimu." Akashi tersenyum seolah mentertawakan dirinya, ia menyesal sudah membiarkan hatinya di hiasi oleh kebencian yang mulai terasa melelahkan.


"Kau benar, Ushijima-san. Tidak ada gunanya menatap masa lalu yang menyedihkan, Mari kita pulang saja!" ajak Akashi yang mulai membalikkan badan, tapi sepertinya Yuki tidak senang atas sindiran tajam Akashi tersebut.


Dia berbicara pelan, tapi kalimat yang diucapkannya mampu menghentikan langkah Akashi. "Kau bisa ngomong seperti itu, karena kau tidak tumbuh menyedihkan sepertiku.Kalau saja aku bisa mengakhiri hidupku tanpa beban dari Papa dan nenek, sudah kulakukan sejak awal."


"Yuki-san!" panggil Akashi yang enggan berbalik badan, ia tundukkan kepalanya cukup lama sembari menahan semua emosinya dalam kepalan tangan.


"Aku jadi penasaran dengan apa yang kau pikirkan selama ini, boleh aku tanyakan  sesuatu?" tanya Akashi yang berusaha tetap sopan.


"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan pada orang cacat sepertiku? Bahkan hidup saja rasanya aku sudah tidak punya harapan lagi," gumam Yuki yang terdengar seperti orang yang telah pasrah.


Akashi mengambil nafas dalam-dalam, ia coba acuhkan omongan Yuki sebelumnya.


"Seberapa besar kau menghargai hidupmu sendiri?" tanya Akashi yang membuat Yuki tertawa geli sampai batuk berdarah.

__ADS_1


Ushijima langsung sigap membantu Yuki, ia ambil tisu dari meja untuk membersihkan darah di baju Yuki. Tampaknya ia masih membiarkan keduanya saling berbincang satu sama lain selama Akashi masih sanggup membatasi diri untuk tidak berlebihan.


"Terimakasih, tapi aku rasa kau tidak perlu membantuku. Kau tidak boleh mengkhianati kawanmu sendiri," ucap Yuki pada Ushijima.


"Dia bukan Temanku, dia adalah Adikku. Anggap saja aku adalah orang yang netral diantara kalian," bantah Ushijima pada pendapat Yuki tentangnya. Sebelum akhirnya, ia kembali berdiri di depan ambang pintu yang masih tetap terbuka dan menunggu disana.


"Kalian terlihat kompak, aku iri rasanya." Yuki mendorong kursi rodanya agak lebih maju untuk mendekati Akashi.


"Dan untuk pertanyaanmu, Aku sudah lama tidak menghargai hidupku. Lebih tepatnya setelah Mamaku tidak pernah lagi menjengukku, ia seperti orang asing yang sudah menganggapku mati. Nenek bilang Mama berubah karena kehadiran si Pengkhianat, aku tidak tahu siapa yang dimaksud nenek. Tapi, kurasa bisa saja Mama bermain api di belakang Papa." Yuki kembali batuk-batuk, tapi tidak sampai mengeluarkan darah. Tampaknya ia tidak terlalu sanggup berbicara panjang lebar, tapi entah kenapa rasanya ini adalah kali pertama ia sengaja berbicara panjang dengan orang asing seperti Akashi.


"Aku benar-benar benci Hidupku, tapi orang yang paling kubenci di dunia ini adalah si Pengkhianat yang telah merampas Mama dariku. Pasti sekarang Ia memiliki hidup yang menyenangkan diatas penderitaan dari anak cacat sepertiku. Aku sudah benar-benar menyerah tentang hidup ini, rasanya tidak lagi berharga sama sekali."


"Kau salah besar!"bentak Akashi yang langsung berbalik badan, Ia jauh lebih marah dari sebelumnya.


"Pengkhianat yang kau sebut-sebut itu sama sekali tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan, ia justru harus menjalani kehidupan yang menyedihkan karena orang lemah sepertimu." Akashi menunjuk kepada Yuki, rasanya ingin sekali ia memukul wajah Yuki saat ini.


"Kau menghakimiku seenaknya, apa jangan-jangan kau adalah anaknya si Pengkhianat itu?" tanya balik Yuki yang juga kelihatan marah sampai membuat kursi rodanya sedikit bergerak kesana-kemari.


"Kau salah besar, justru akulah si Pengkhianat yang kau juluki itu. Akulah anak yang sengaja dilahirkan buat menjadi pendonor organ untukmu. Kau memang seharusnya bisa sembuh hari itu dengan menerima semua organ dariku, jika saja Mama tidak membatalkan rencana tersebut dengan alasan ingin memberikanku kesempatan untuk hidup di Dunia ini."


"Maksudmu, kau adalah penyebab semua kekacauan yang terjadi dalam hidupku?" Yuki tertawa sambil memukul-mukul gagang kursi rodanya, ia bertambah marah saat menyadari kebenaran itu.


Ushijima yang merasa ini sudah berlebihan, ia berinisiatif menarik Akashi untuk pergi. Namun, Akashi yang masih tersulut amarah langsung menolak Ushijima.


"Aku belum selesai berbicara padanya, kau tidak perlu ikut campur!" bentak Akashi yang sudah tidak bisa berpikiran rasional lagi.


"Aku tidak akan mengasihani hidupku lagi, tapi yang harus kau tahu adalah kenyataan bahwa hidupku juga sama berantakannya sepertimu. Dan untuk kebenaran tentang Mama, kau baca saja buku itu buat mengetahui seberapa besar Mama mencintaimu melebihiku. Kau harusnya bangga bisa mendapatkan cinta dari Mama dan Papa," ungkap Akashi yang langsung melepas topinya dan memperlihatkan sebelah matanya yang menggunakan Eyes Patch.

__ADS_1


"Aku kehilangan mata kananku, tapi tak sedikitpun Papa khawatir padaku. Dia tidak sekalipun menganggapku anaknya, aku hanyalah Pajangan Penghargaan saja dimatanya. Dan untuk membalas rasa sakit hatiku itu, aku harus membuat alasan kuat untuk membuatku tetap hidup. Aku akan menganggapmu sebagai benalu mulai sekarang, dimana hanya aku satu-satunya harapan yang dimiliki keluarga Akashi untuk meneruskan keturunan dan memegang kekuasaan paling tinggi." Akashi langsung pergi dari sana, ia tak memperdulikan perasaan Yuki yang terluka oleh perkataannya.


Begitu juga dengan Ushijima yang berlari mengejar Akashi, tak seharusnya Akashi menampar Yuki oleh omongannya tersebut. Namun sebelum sampai pintu keluar, Akashi sudah dihalau oleh kedatangan Nenek yang terlihat marah dan langsung mendaratkan tamparan keras di pipi Akashi.


"Apa yang kau lakukan disini? Tidak seharusnya Pengkhianat sepertimu ada disini," bentak Nenek.


Tapi sepertinya Akashi tidak terkma oleh tamparan sang Nenek, ia benar-benar sudah tidak mampu lagi berpikir rasional saat ini. Bukannya mengalah, ia malah ingin mendaratkan pukulan dari tangannya kepada sang Nenek yang telah renta itu.


Beruntungnya Ushijima secara sigap menahan Pukulan Akashi dan menarik tubuhnya menjauhi sang Nenek, "Hentikan, Akashi! Kau sudah keterlaluan," bentak Ushijima.


Akashi menatap penuh kebencian pada Ushijima, "Aku tidak akan memaafkan orang yang telah melukai harga diriku, sudah sepantasnya Wanita tua itu mendapatkan hukuman dariku. Berhenti menghalangiku!" celutuk Akashi yang berusaha lepas dari Ushijima.


Ushijima berusaha tetap menahannya dengan mengunci tubuhnya agar tidak bisa bergerak, "Kau sudah melewati batas, aku takkan bisa membiarkanmu berbuat lebih jauh lagi."


"Diamlah, Ushijima-san! Berhenti mengurusi masalahku, seolah-olah kau perduli denganku. Aku tidak butuh dianggap manusia olehmu, bukan itu yang kuinginkan selama ini." Akashi memukul wajah Akashi dengan siku tangannya sampai memar. Mereka hampir saja bergelut satu sama lain, bila Ushijima tidak berinisiatif untuk memukul balik wajah Akashi dengan keras.


Dan saat Akashi terjatuh ke lantai, Ushijima mengambil kesempatan untuk berterus-terang sekali lagi pada apa yang dipikirkannya kepada Akashi untuk meluluhkan hati sang adik.


"Kau sama sekali tidak punya harga diri, kalau sudah kehilangan jati dirimu dan melupakan janjimu padaku. Tolong jangan rusak kepercayaanku, pergilah dari sini! Biar aku yang menyelesaikan masalah ini sebagai gantinya, kupastikan Nenek tua ini akan mendapatkan balasannya."


Akashi langsung tersentak saat itu juga, ia mulai kembali sadar setelah kehilangan jati dirinya sendiri karena amarah. Tapi tetap saja, emosinya masih belum stabil saat ini. Makanya Ushijima langsung menyuruh Akashi buat pergi dari rumah ini sekarang juga.


"Tunggu aku di luar, Akashi!" perintah Ushijima yang langsung diturutin oleh Akashi. Begitu Ushijima melihat Akashi sudah meninggalkan rumah itu, barulah Ushijima mendekati neneknya Akashi dengan penuh kemarahan.


****


Kira-kira Ushijima mau ngapain ya ngadapin neneknya Akashi? Btw kalian terasa kasihan gak sih sama Yuki dan Akashi? 

__ADS_1


__ADS_2