
"Apa dia sedang tertidur?" tanya Akashi seraya berbisik pelan pada Salah satu pelayannya.
"Ya, Tuan muda. Tuan Ushijima sedang istirahat dikamarnya," jawab pelayan tersebut sambil membawa nampan berisi gelas kosong dari kamarnya Ushijima.
"Lalu, dimana teman-temannya Ushijima-san?" tanya Akashi lagi.
"Teman-temanmu Tuan Ushijima baru saja pulang beberapa saat usai anda kembali,memangnya Tuan Muda tidak berpapasan dengan mereka?" tanya balik sang pelayan.
"Tidak, mungkin saja mereka telah lebih dulu meninggalkan rumah ini sebelum aku tiba. Ya, Sudah. Kau bisa kembali ke dapur," ucap Akashi yang hanya dituruti oleh sang pelayan.
Lalu, Akashi membuka perlahan-lahan pintu kamarnya Ushijima. Dia bisa melihat Ushijima yang sedang tertidur pulas sebagai efek dari pengaruh obat yang diminumnya beberapa saat lalu. Memang sih dia sudah diperbolehkan pulang, tetapi tetap saja dirinya harus menghabiskan obat yang sudah diresepkan oleh rumah sakit agar bisa sembuh total.
"Padahal aku bela-belain pulang untuk menyambutmu, rupanya kau sudah tidur pulas." Akashi menatap kepada Ushijima, entah sejak kapan dirinya sudah berdiri disana. Sampai matanya tertuju pada sebuah spidol yang ada di rak meja, mendadak saja ide jahilnya mulai bermunculan saat itu.
Dengan tawa yang licik, ia ambil Spidol itu dan mencoret-coret wajah Ushijima dengan hati-hati agar Ushijima tidak terbangun. Senyumannya tidak berhenti terpancar diantara sudut bibir, ia bisa membayangkan betapa kagetnya Ushijima tatkala saat terbangun dan melihat wajahnya. Sepertinya Jiwa Jahil Akashi mulai tumbuh, entah mungkin karena sering melihat tingkah jahil teman-temannya yang membuatnya belajar untuk bersikap seperti anak normal selayaknya.
Lagipula ia sudah tidak lagi memperdulikan masalah yang terjadi di rumah sakit sebelumnya, ia bahkan sudah lupa mengenai ucapan teman perempuannya Ushijima. Masalah bodoh untuk memikirkan hal tidak penting seperti itu dan mulai menikmati garis takdir yang sudah diberikan kepadanya saat ini.
Apalagi pertemuan dengan Nijimura tadi membuatnya mulai merindukan adu argumen dengan Ushijima, maka dari itu ia perlu menjahili Ushijima guna membuatnya kesal. Wajar saja ia melakukan ini, karena akhir-akhir ini Ushijima tampak selalu bersikap Manis padanya dan tak pernah sekalipun memprovokasinya kembali.
"Anggap saja ini adalah hadiah sambutanku, Ushijima-san. Aku benar-benar kekanak-kanakan," gumamnya pada diri sendiri sambil menepuk jidat. Lalu, ia berjalan berjingkat-jingkat meninggalkan Ushijima yang telah dipenuhi coretan spidol disekujur wajahnya.
Akashi tidak bisa tersenyum puas membayangkan wajah Ushijima yang tercoret-coret, ia tak sabar menunggu Ushijima segera bangun. Hingga langkahnya terhenti disebuah ruangan perpustakaan pribadi Masaomi yang tidak tertutup rapat, mungkin saja keteledoran dari pelayan yang lupa menutup kembali usai membersihkan ruangan ersebut atau memang kamar itu tengah dibersihkan dan ditinggalkan sebentar oleh sang pelayan.
Namun, bagi Akashi ini adalah kesempatan emas untuknya sesekali memasuki ruangan itu. Sebuah kamar yang hampir tidak diperbolehkan untuk dimasuki olehnya. Bahkan tidak semua pelayan diperbolehkan membersihkan ruangan itu, palingan hanya beberapa saja.
__ADS_1
Apalagi ia penasaran sama sekali dengan referensi bacaan sang Ayah. Dan ini adalah kesempatan emas bagi Akashi untuk mengenal lebih jauh tentang Ayahnya, sekalian melihat beberapa album foto masa lalu yang mungkin saja tersimpan disana.
Dengan langkah yang antusias, ia langsung memasuki Ruangan itu dan menutup kembali pintu tanpa merubah posisi pintu seperti semula. Disana, ia tampak terkesima melihat susunan Rak buku yang sangat rapi dan elegan. Bahkan tersedia sofa tunggal dan corong asap perapian yang menghadap langsung berlawan dari rak perpustakaan. Pantas saja Ayahnya sangat suka menyendiri disini, rasanya sangat nyaman sekali.
Akashi sampai tidak berhenti tersenyum, ia lirik setiap rak yang diisi oleh buku berbahasa Inggris dan Jepang dengan topik-topik yang sangat berat. Sebuah genre yang sama sekali tidak disukai oleh Akashi, meski ia merasa nyaman saja membaca dan memahami isi buku itu.
Tangannya menyentuh setiap jajaran rak buku yang ada didalam ruangan, matanya tidak berhenti terkesima dan bibirnya selalu memperlihatkan senyuman kagum pada suasana di ruangan itu. Hingga tanpa sengaja, ia menemukan sebuah buku catatan yang agak kusam dengan cover yang telah terkelupas seperti pernah kejatuhan air saja.
Diraihnya buku catatan yang memiliki kembaran cukup tebal itu dan dibukanya setiap halaman yang telah menguning dan berbau lembab. Senyuman diwajahnya langsung hilang seketika saat menyadari buku harian tersebut milik mendiang ibunya, buru-buru ia sembunyikan buku itu dan berjalan kearah sofa untuk segera membacanya.
Dengan harapan bahwa buku itu akan mengajaknya untuk mendalami masa lalu yang indah milik ibunya, tanpa pernah ia sadari bahwa ada masa lalu yang sampai detik ini masih menjadi rahasia didalam keluarga Akashi.
Dimana pada sebuah halaman yang agak berlipat-lipat dan membuat Akashi menjadi tertarik untuk membacanya, matanya langsung tercengang dan tak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya saat itu.
Dear diary
Kehadiran Seijuro di hidup kami membuat musim semi tahun ini benar-benar berkesan, aku sampai merasa bahagia bisa melihat senyuman Masaomi kembali. Rasanya aku jatuh cinta kembali kepada dirinya yang saat ini mengingatkanku pada versi masa mudanya.
Akashi mulai membalikkan halaman buku itu, ia masih berusaha menyembunyikan perasaannya dalam sebuah kebingungan.
Dear Diary
Hari ini aku bertengkar dengan Masaomi, ia tampak kecewa pada keputusanku. Dan bagiku ini adalah kali pertama aku membantah keinginannya dan menolak untuk melanjutkan semua rencana yang telah kami rancang bersama. Bukan tanpa alasan aku melakukan hal itu, aku hanya merasa tidak pantas menjadi seorang ibu bila membiarkan rencana itu berjalan dengan semestinya. Lagipula, Seijuro berhak mendapatkan kehidupan yang layak di dunia ini dan kelahirannya adalah sebuah kesalahan terindah yang pernah kuperbuat.
Aku benar-benar ibu yang menyedihkan, bagaimana mungkin aku bisa kalah dari sosok bayi kecil berambut merah itu? Padahal ia hanyalah satu-satunya harapan bagiku dan Masaomi untuk membangunkan Yuki kembali, walau bagaimanapun aku menyadari kenyataan bahwa Seijuro takkan pernah bisa menjadi Sakura yang mengembalikan senyuman keluarga kami seperti semula. Bahkan, aku bisa merasakan kebencian dari mata keluarga suamiku dan keluargaku yang tidak senang pada keputusanku. Seijuro benar-benar bayi yang malang!
__ADS_1
Tangan Akashi mulai bergetar, ia mulai mendapatkan sedikit celah yang menjadi penunjuk atas rahasia yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. Hatinya benar-benar remuk dan merasa enggan untuk membaca kembali buku itu, tetapi sekuat tenaga ia mencoba untuk membalikkan halaman berikutnya dengan telinga yang mulai memerah padam karena api amarah.
Dear diary
Kesehatanku seiring waktu semakin memburuk, tapi tidak dengan kesehatan Yuki yang mulai membaik usai mendapatkan cangkok beberapa organ. Entah kenapa rasanya kami seperti sepasang ibu dan anak yang saling berjuang untuk tetap hidup. Beruntungnya permasalahan tentang rencana itu sedikit membaik usai mendapatkan donor lain yang membantu penyembuhan Yuki, tapi tetap saja Yuki masih memerlukan beberapa organnya yang telah rusak dari tubuh milik Seijuro.
Tapi bukan itu permasalahannya, aku merasa kesal kepada Keluargaku dan keluarga suamiku yang masih saja bersikap dingin pada Seijuro. Bayi mungilku yang telah menginjak usia 6 tahun itu seringkali menangis karena merasa terkucilkan, aku tidak sanggup melihatnya bersedih seperti ini.
Belum lagi suamiku yang selalu saja menghabiskan waktu diluar rumah dengan alasan pekerjaan, padahal nyatanya ia sedang bersama Yuki. Aku tahu rasanya ini tidak adil buat Seijuro, ia juga butuh seorang Ayah di hidupnya. Masaomi yang pilih kasih membuatku jadi kesal padanya. Tapi, aku juga tidak mungkin memisahkan Yuki dari Ayahnya. Apalagi Yuki jauh lebih menyayangi ayahnya dibandingkan diriku, sejak beberapa tahun ini aku menjaga jarak dari Yuki yang bisa membuatku jadi berubah pikiran.
Aku hanyalah ibu yang lemah, harusnya aku bisa melindungi kedua putraku. Tapi nyatanya, takdir memintaku untuk memilih diantara keduanya. Entah berapa lama lagi Yuki bisa hidup, tapi yang jelas tak mungkin aku sanggup mengorbankan Seijuro untuk membuatnya tetap hadir di Dunia ini.
Akashi telah menyelesaikan keseluruhan halaman yang terlipat sebelumnya. Sejenak ia terdiam untuk memahami semua yang terjadi di masa lalu ibunya, matanya sampai meneteskan air mata saat menyadari betapa menyedihkan hidupnya selama ini.
"Tuan muda, apa yang anda lakukan disini?" tanya seorang pelayan bernama Kuruya yang malah tampak kaget melihat keberadaan Akashi.
Jelas saja seruannya itu membuyarkan lamunan Akashi, ia langsung berdiri dengan tatapan marah dan memberikan buku itu kepada Pak Kuruya.
"Ayahku tidak pernah menyayangiku?" tanya Akashi yang mulai dibanjiri air mata di pipinya, tangannya sampai gemetaran saat menyerahkan buku catatan itu.
Pak Kuruya yang tidak pernah tahu apapun soal Diary itu merasa bingung, ia raih pemberian Akashi tanpa mengatakan apapun.
"Kuruya-san, apa anda juga ikut menyembunyikan sesuatu dari saya?" tanya Akashi yang suaranya mulai bergetar, baru kali ini Akashi sekacau ini. Dan ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah diharapkan semua orang yang bekerja di rumah itu.
"Tuan muda tidak seharusnya memasuki ruangan tuan Masaomi." Pak Kuruya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak mungkin membiarkan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan bocor begitu saja. Tanpa sadar bahwa Akashi sebenarnya sudah lebih tahu tentang rahasia itu.
__ADS_1