
Akashi kembali berjalan menyusuri area Universitas, ia mengamati sekelilingnya dengan mengandalkan days ingatnya saja karena berhubung handphonenya ketinggalan pagi tadi.
Untungnya ia tak kesulitan menemukan keberadaan gedung Olahraga tua di Universitas. Gedungnya memang masih bagus, tapi tidak sebagus gedung olahraga yang sebelumnya ditunjukkan oleh Mayuzumi.
Dan didepan pintu gedung itu, ia bisa melihat jelas ada Mayuzumi dan Rei yang sedang menunggu Akashi. Lebih tepatnya mereka berhasil mengkonfirmasi pertemuan tersebut dengan Akashi karena Inisiatif Akashi yang terlebih dahulu menghubungi Mayuzumi melalui telepon yang dipinjam Akashi sebelumnya.
"Kau selalu saja kebiasaan terlambat," keluh Mayuzumi.
"Jangan mengeluh, Senpai. Aku juga tidak pernah berjanji akan datang tepat waktu sebelumnya." Akashi sama sekali tidak perduli dengan apa yang dikeluhkan Mayuzumi, ia lalu menatap kearah Rei yang sepertinya baru usai latihan Judo dengan seraga Judo yang telah dibangkitkan keringat.
"Apa anda baru saja selesai latihan, Rei-San?" tanya Akashi.
"Ya, tapi ia meminta izin untuk bisa melatih mu hari ini. Berterimakasihlah padanya, Akashi."
"Terimakasih, saya akan menghargai latihan apapun yang anda berikan kepada saya.Lagipula, Saya adalah pemain basket terbaik di Jepang dan anda tidak perlu merasa rugi untuk membuang waktu demi saya." Akashi tersenyum, ia adalah orang yang sangat dipenuhi kepercayaan diri.
"Saya akan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman denganmu, kalau begitu bisa kita masuk kedalam? Kebetulan gedung ini sedang tidak dipakai hari ini, jadi kita bisa menggunakannya sepuas mungkin."
"Kalian duluan saja masuk, biar aku belikan minuman untuk kalian." Mayuzumi langsung berjalan dan berbisik pelan ditelinga Akashi, "Ikuti saja perkataannya, Rei. Tolong turunkan sedikit sikap aroganmu, Akashi."
"Aku tahu, Mayuzumi-Senpai. Tenang saja, aku bukan Akashi yang dulu." Akashi berbisik pelan dan mulai mengikuti langkah Rei yang tampak tidak kesulitan berjalan sama sekali.
Didalam gedung olahraga tersebut, ia bisa melihat beberapa alat olahraga dari beberapa klub tersusun sangat rapi, bahkan ada juga keranjang bola basket yang diletak di sudut lapangan dan keranjang pemukul Baseball yang juga berada disebelah keranjangnya Bola Basket.
"Semenjak ada gedung baru, gedung ini hanyalah tempat penyimpanan barang-barang bekas para anggota klub saja. Walaupun tak jarang sering digunakan sebagai tempat latihan beberapa klub yang memiliki anggota berlebih juga sih, " beritahu Rei.
"Rei-San, sebenarnya apa yang ingin kau ajarkan padaku? Bisa langsung kita mulai saja, soalnya aku tak ingin kita membuang waktu terlalu banyak. Bukannya aku tak senang mengenalmu, tapi kau juga pastinya punya kesibukan lain yang harus kau kerjakan dan sama halnya denganku yang harus bersiap-siap untuk belajar selepas ini."
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang itu yang kau mau. " Rei tesenyum, lalu menggunakan tongkatnya untuk membantu berjalan menuju area bola basket. Tentunya ia tak lupa juga meraba-raba dengan sebelah tangannya yang lain.
Akashi hanya mengikuti langkah Rei saja, ia tak membantu ataupun mengkritik apa yang saat ini dilakukan Rei. Hingga akhirnya Rei berhasil mencapai keranjang Basket dan melemparkan bolanya kepada Akashi yang langsung ditangkap dengan mudah oleh Akashi.
"Kau tahu indera pendengaran yang dimiliki oleh kaum tunanetra sepertiku jauh lebih peka dibandingkan orang normal pada umumnya. Kami sudah terbiasa untuk beradaptasi dalam memproses suara secara berbeda untuk menggantikan kemampuan pengelihatan kami yang hilang. "
"Lalu?" tanya Akashi. "Apa yang sebenarnya ingin kau ajarkan? Aku bukanlah penyandang tunanetra sepertimu, aku masih bisa melihat Rei-San."
"Benarkah? Bukankah sekarang mata kananku adalah kelemahanmu, kau pasti sangat kesulitan bila seorang lawan bermain basket di sebelah kananmu karena posisi tersebut menjadi titik buta bagimu. Apa aku benar, Akashi?" tanya Rei yang masih tetap tersenyum ramah.
"Kau benar, aku memang sedikit kesulitan dalam mengatasi hal tersebut. Tapi selama aku bisa menguasai kemampuan mata baruku selain Emperor Eyes, kecerdasanku dalam membuat srategis dan taktik, serta kemampuanku dalam menjadi playmaker dan dribble serta kepemimpinanku yang sangat baik. Aku yakin masalah sepele seperti itu akan mudah diatasi. Aku mempunya rekan yang bisa membantuku untuk menang sebagai sebuah Tim, tak ada alasanku buat menjadi penakut!" bantah Akashi.
"Kau pikir semua ini cukup untuk mempertahankan pandangan orang lain terhadapmu? Bukannya kau harus bisa lebih kuat lagi untuk menjadi emas dalam timmu sendiri?" tanya Rei yang membuat Akashi terdiam kali ini, bukan karena ragu melainkan ia sedang menunggu Rei untuk memberikannya jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Dengarlah, Akashi! Aku tahu kau adalah salah satu dari anggota berbakat Kiseki no Sedai lainnya, kau bahkan adalah seorang kapten yang diunggulin di Rakuzan. Jadi, kau pasti menyadari kalau semua orang mengharapkan kemampuanmu yang semakin meningkat bukan malah merosot."
Rei mengangguk berkali-kali seakan membenarkan apa yang dikatakan Akashi sebelumnya, "Aku ingin mengajarkanmu hal tersebut, aku ingin kau mengandalkan kedua telingaku untuk bisa lebih sensitif terhadap suara, gerakan dan dentuman bola basket."
"Bisa kau buktikan kemampuanmu?" tanya Akashi yang ingin menguji kehebatan dari seorang Rei, tak ada alasan baginya untuk mempercayai kehebatan seseorang bila belum ditunjukkan didepan matanya.
Rei sendiri tidak keberatan, ia tersenyum dan menaruh tongkat bantunya ke atas keranjang bola basket. Lalu ia berdiri tegak seolah sedang bersiap-siap, "Aku akan mencoba mengambil Bola dari tanganmu, walaupun aku bukan seorang pemain basket tapi aku akan coba mengambilnya darimu."
"Kalau begitu aku akan mendribble secara pelan," ucap Akashi.
"Kau bisa mulai mendribble sekarang dan berjalan pergi dari hadapanku.Aku akan mulai mengejarmu saat kau sudah berhenti di posisimu."
Akashi hanya menganggap dan berjalan pergi sembari mendribble bola menjauhi Rei, tak beberapa lama saat dirinya sudah tak lagi melangkah dari posisinya. Rei mulai berjalan tenang selayaknya orang normal, bahkan ia sedikit berlari pelan seolah-olah bukan sebagai penyandang tunanetra yang sebelumnya meraba dengan bantuan tongkat. Namun bedanya kali ini ia benar-benar memejamkan kedua matanya dan tampak terlihat fokus.
__ADS_1
Entah sebuah kebetulan atau memang fakta, ia berhasil menghampirinya keberadaan Akashi yang sudah ada dihadapannya. Cukup lama ia terdiam seraya menggerakkan kepalanya sedikit kekanan dan kiri mengikuti dentuman bola yang memantul dari lantai yang terus bergerak ke posisi kanan dan kiri secara bergantian, hingga secepat kilat ia mendaratkan tangannya kearah bola yang saat itu berada diposisi kanan dan berusaha merampas bola tersebut dari tangan Akashi.
Sayangnya Bola tersebut gagal dirampas olehnya, karena Akashi secara cekatan langsung menahan bola basket tersebut dan melemparkannya kearah ring yang berada dibelakangnya. Dan dengan sengaja ia sengaja membuat bola basket yang masuk kedalam ring itu sedikit mengenai ujung ring yang membuatnya menghasilkan bunyi seolah-olah bola tak berhasil masuk karena mengenai tiang saja.
"Bagaimana menurutmu, Rei-san? Apa aku berhasil memasuki bola atau gagal memasukkan bola kedalam ring?" tanya Akashi.
Rei kembali tersenyum setelah memasang wajah serius sedari tadi, "Kau berhasil memasukkan bola kedalam ring, suara tadi hanyalah bunyi yang dihasilkan karena terkena sudut ring saja."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanya Akashi lagi.
"Aku tidak begitu tahu tentang basket, tapi bunyi yang dihasilkan oleh bola itu pada saat memantul berkali-kali hanya tertuju pada daerah yang sempit usai memasuki ring, sedangkan bola yang gagal masuk ring akan memantul kearah yang lebih luas daerahnya dan bergerak secara acak menjauhi ring. Mungkin begitulah kesimpulan yang bisa dijelaskan oleh orang awam yang tak mengerti basket sepertiku," jelas Rei yang mulai membuka matanya.
"Kau bersikap seolah bisa melihat, Rei-San. Kalau memang itu adalah sebuah kemampuan yang harus dipelajari, lalu bagaimana aku bisa mempelajarinya?" tanya Akashi yang mulai tertarik.
"Aku memang bisa melihat menggunakan kedua telingaku, bahkan aku juga bisa mendengar bunyi langkah kakimu sejak permainan basket dimulai tadi. Kau sudah melangkahkan kakimu sebab 30 langkah untuk berada di posisimu sekarang dan kau melakukan gerakan langkah tambahan ditempat saat melakukan dribel bola sebanyak 14 kali. Dan satu loncatan untuk memasukkan bola kedalam ring," ucap Rei.
Akashi tersenyum bangga, ia merasa kemampuan yang dimiliki oleh Rei benar-benar pantas untuk dihargai olehnya.
"Aku tidak perduli apa yang kau katakan itu benar atau salah, bisa kita mulai sekarang latihannya?" tanya Akashi sambil tersenyum.
"Tentu, kau bisa belajar menutupi kedua matamu sekarang." Rei memegang kedua telinga Akashi sambil berbicara dengan tenang.
"Kau akan belajar menggunakan telingamu sekarang, biarkan mata kirimu istirahat sejenak."
***
Maaf ya guys bila ada yang gak nyambung.😊 Jadi, begitulah akhirnya Akashi mendapatkan kekuatan baru.
__ADS_1