
"Aku tidak tahu mengenai masalah keluarga kalian, tapi yang jelas aku benar-benar minta maaf atas sikap Akashi yang agak berlebihan sebelumnya." Ushijima membungkuk sopan kepada Nenek Akashi yang dianggapnya sebagai orang tua itu. Tapi sepertinya, sikap sopan Ushijima tidak diterima dengan baik oleh sang Nenek.
Dia menunjuk-nunjuk kearah luar, "Anak itu benar-benar kurang ajar, Bagaimana mungkin putriku membesarkan putra memalukan sepertinya." Nenek Akashi langsung beralih kepada Ushijima, "Kau siapa? Tidak seharusnya kau membela anak itu, ia tidak tahu malu." Suara nenek menggema di Ruang Tamu, amarahnya yang menggebu-gebu seolah tak berhenti menyalahkan Akashi atas kematian putri bungsunya itu.
Berbeda dengan Ushijima yang tampak tidak senang atas perkataan barusan. Kini, perasaan hormat dan simpatiknya pada sang Nenek langsung memudar menjadi perasaan amarah. Ia tidak terima melihat adiknya dianggap se-hina itu oleh sang Nenek.
"Betapa mirisnya Akashi, ia pasti merasa malu telah memiliki Nenek menyedihkan seperti Anda. Orang yang tidak pandai berbicara santun dan tidak memiliki adab untuk menghargai orang lain. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana seorang Akashi Seijuro bisa memiliki sikap yang jauh lebih baik daripada Neneknya ini? Apa mungkin Ibunya Akashi lah yang hebat dalam mendidiknya," ledek tajam Ushijima yang Sudah tidak perduli lagi bagaimana perasaan Neneknya Akashi saat ini.
"Jaga ucapanmu! Kau sama kurang ajarnya dengan anak itu," bentak Neneknya Akashi.
"Anda juga harusnya bisa menjaga ucapan anda! Saya tidak akan segan-segan menghujani anda dengan segala macam umpatan, kalau sampai saya mendengarkan anda menganggap hina adik saya." Ushijima menunjuk kepada Neneknya Akashi.
Dan belum sempat Nenek membalas perkataan Ushijima, malahan Ushijima lebih dulu membuatnya bungkam seolah-olah ia sudah tak tahan lagi memendam gejolak kemarahannya tersebut.
"Saya rasa sudah cukup baginya untuk hidup dalam bayang-bayang kebencian kalian, sebab dia sendiri tidak pernah kok meminta untuk dilahirkan ke Dunia ini dalam rahim Putri anda. Saya benar-benar muak sekarang, rasanya sangat memuakkan melihat kalian yang terus melimpahkan semua kemarahan kalian kepadanya."
Ushijima langsung pergi dari sana, ia sudah muak melihat wajah para orang dewasa yang ada dihadapannya itu. Daripada nantinya ia berbuat nekat yang malah berujung merugikan dirinya, ia memilih meninggalkan Rumah itu dan buru-buru menghampiri Akashi yang menunggunya diluar.
"Ayo pergi!" ajak Ushijima pada Akashi yang tidak mengatakan apapun, ia menarik lengan Akashi menjauhi Rumah tersebut ke sembarang Arah. Mungkin yang dipikirkan Ushijima sekarang ialah segera meninggalkan kawasan tersebut, sebelum nantinya Akashi kembali tersulut api amarah.
__ADS_1
"Lain kali kau harus menjaga sikapmu," bentak Ushijima yang masih terbawa emosi, niatnya sih dia hanya ingin menasehati Akashi agar tidak berbuat nekad seperti sebelumnya.
Akan tetapi, Akashi tidak memahami maksudnya Ushijima. Dia langsung menyingkirkan tangan Ushijima darinya. "Aku sedang tidak ingin mendengarkan keluhanmu, Ushijima-San. Kalau saja kau tidak menghalauku, Aku sudah membuatnya bungkam sejak awal."
"Kau bercanda? Kau pastinya tahu kalau kekerasan gak akan menghasilkan apapun, lagian dia cuman nenek tua yang renta. Jadi, berhenti menyalahkan ku!" bentak Ushijima.
"Maafkan aku, sepertinya aku benar-benar tidak rasional sekarang. Tidak seharusnya aku berpikiran buruk tentangmu," sesal Akashi yang langsung menunduk dengan langkah yang agak lambat.
"Kau tidak salah, justru kau berhak marah seperti tadi. Lagian memang sudah tugasku untuk menghentikanmu, kan aku sudah berjanji padamu agar tidak membiarkanmu lepas kendali." Ushijima berjalan dibelakang Akashi, ia sengaja memperlambat langkahnya dua kali lipat dibandingkan Akashi. Tujuannya ia memang sedang tidak ingin menatap raut wajah sedih Akashi yang malah menyedihkan dimatanya.
"Harusnya aku tidak menemui Yuki-san, pasti aku tidak merasa semarah ini. Andai saja aku mendengarkan ucapanmu dan sekretaris Keita," keluh Akashi sambil menatap awan biru di langit. Tidak biasanya seorang Akashi mengakui kesalahannya seperti ini, biasanya juga Akashi bersikeras bahwa dirinya adalah mutlak dan selalu benar dalam segi perkataan maupun perbuatan.
Sepertinya seiring berjalannya waktu, ia mulai mendapatkan banyak hal yang selama ini tidak diperolehnya dalam kehidupan seorang bangsawan. Dan kini, ia mulai berkembang untuk belajar mengakui kesalahannya sendiri dan memperbaiki kepribadiannya yang keras seperti batu.
"Aku tidak benar-benar menganggapnya saudaraku, Ushijima-San. Dan itulah yang selama ini diharapkan Papa," kata Akashi yang langsung berbalik badan menatap Ushijima. Kali ini, ia berusaha tersenyum dibalik perasaan sedihnya.
"Aku sudah menemukan jawaban untuk semua keraguanku, Ushijima-san."
"Apa itu?" tanya Ushijima.
__ADS_1
"Aku akan belajar memutuskan jalan kehidupanku sendiri, akulah yang seharusnya berhak atas kehidupanku sendiri. Aku akan berhenti berjalan di garis takdir yang telah ditentukan Papa, aku juga akan berhenti menjadi pajangan piala untuknya. Aku rasa bukan itu yang selama ini diinginkan Mama, ia telah memberikanku kesempatan hidup untuk membuatku bebas memilih masa depanku sendiri."
Ushijima tersenyum, "Kalau memang itu yang kau pikirkan, aku akan mendukung keputusanmu."
"Ya, kau harus mendukungku. Sudah sepatutnya kau bertindak seperti itu, kau adalah Kakakku. Hanya kau satu-satunya keluarga yang bisa kupercaya saat ini."
"Baguslah, kalau begitu ayo kita nikmati pemandangan Osaka sekarang. Aku benar-benar lelah melihat drama keluargamu tadi, rasanya memuakkan." Ushijima meletakkan tangannya dibahu Akashi.
"Ayo kita beli beberapa Takoyaki sebelum balik ke Tokyo!" ajak Ushijima.
"Sudah mau kembali? Memangnya kau tidak mau menjelajahi kota ini, Ushijima-san?" tanya Akashi, ia masih ingat betul Ushijima sempat berdecak kagum kepada keindahan kota Osaka.
"Berlama-lama disini hanya akan melukainya, lebih baik kami segera kembali ke Tokyo. Lagian, aku tidak mau melihat Tuan Masoami lebih marah lagi kalau tidak menemukan kami di Rumah. Pasti ia sudah tahu dengan keberadaan kami saat ini," pekik Ushijima dalam batinnya, sebelum akhirnya ia menolak mentah-mentah tawaran Akashi buat menginap di Osaka.
Dia benar-benar tak mau mempersulit Akashi lebih jauh lagi, sudah cukup mental Akashi dibuat hancur oleh kejadian tadi.
"Ya, kalau itu memang keputusanmu. Mari kita cari Takoyaki untuk dimakan saat perjalanan pulang!" ajak Akashi gantian, keduanya langsung melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut.
Sesekali Akashi melirik pada Handphonenya yang berisi notifikasi dari sang Ayah yan memintanya segera pulang, ia berusaha agar Ushijima tidak mengetahui hal ini sama sekali. Dan entah kenapa rasanya ia tidak mau terlalu buru-buru pulang saat ini, ia hanya ingin berlama-lama di luar agar tidak usah berhadapan dengan sang Ayah.
__ADS_1
***
Ushijima kalau ngomong beda tipis ya sama Akashi, omongannya agak savage banget ðŸ¤ðŸ˜Š