STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
46


__ADS_3

Keringat semakin bercucuran membanjiri lantai gedung, tapi sampai detik ini Akashi enggan menyerah sama sekali. Ia masih berjuang untuk merampas bola basket dari tangan Mayuzumi dengan kedua mata tertutup.


Dan setiapkali ia terjatuh karena tertabrak dinding ataupun benda disekitar, ia tetap bangkit kembali dan berusaha mengejar Mayuzumi yang tengah mendribble bola untuk menjauhi Akashi.


Hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul 5 sore, lantas Mayuzumi langsung menghentikan latihan tersebut dan mendekati Akashi yang tadi berusaha dihindarinya.


"Sudah waktunya kita pulang," ucap Mayuzumi.


Akashi langsung membuka matanya, ada perasaan kesal didalam hatinya karena tidak dapat menguasai kekuatan ini dalam waktu sehari. Padahal biasanya ia sangat mudah menguasai hal tersebut, tetapi karena memang Rei meminta agar Akashi tidak boleh menggunakan Zone untuk Fokus ataupun menggunakan matanya untuk Emperor Eyes, maka ia terpaksa harus berlatih sendiri dengan kedua mata yang tertutup.


"Kau masih belum berusaha memainkan peranmu, Akashi. Kau malah terlihat tidak nyaman selama matamu tertutup," keluh Mayuzumi.


"Aku hanya perlu beradaptasi, kalau begitu aku pulang dulu. Nanti kalau aku sudah bisa, aku akan mengabari kalian lagi. Tenang saja, bagiku ini hanyalah latihan yang gampang dan tidak butuh waktu seminggu untuk menguasainya." Akashi masih tetap mempertahankan kepercayaan dirinya, ia tahu kalau dirinya adalah orang yang mampu dan mempunyai bakat alami untuk mempelajari berbagai hal dengan mudah.


"Terimakasih sudah meluangkan waktu untukku, Mayuzumi-senpai dan Rei-San." Akashi membungkuk karena merasa sangat menghargai kedua Seniornya itu, lalu ia mengambil ranselnya yang tadi tergeletak dilantai dan pergi dari sana dengan Bermandi keringat.


Untungnya lokasi Universitas berada ditengah kota, jadi ia menjadi mudah menemukan Taksi untuk mengantarkannya pulang. Dan selama didalam taksi, ia kembali memejamkan matanya dan berusaha fokus untuk mengenali jalan yang dilewati taksi yang ia tumpangi dengan keadaan kaca terbuka.


Ia berusaha membiarkan kedua telinganya bekerja lebih aktif, mencoba semakin fokus dan membiarkan dirinya berenang dalam kehampaan.


Dan semakin dalam ia berenang memasuki kegelapan yang hampa dalam alam bawah sadarnya, ia mulai bisa menemukan tiga sosok Akashi yang tengah menatap kearahnya. Ketiganya terlihat tiga akur, bahkan saling memberikan tatapan kebencian satu sama lain.


"Kemarilah, Seijuro! Kau pasti lebih membutuhkanku dibandingkan mereka," panggil Akashi yang hanya memiliki mata kiri dengan mata kanan yang terjahit rapat.

__ADS_1


"Tidak usah mendengarkan dia, Akashi! Lebih baik kau kemari, karena aku adalah kekuatanmu yang jauh lebih hebat." Akashi yang hanya memiliki mata kanan dengan mata kiri yang terjahit rapat enggan kalah, ia juga berusaha membujuk Akashi untuk memilihnya.


Dan saat Akashi menengok kearah Akashi yang ketiga, ia hanya tersenyum saja kepada Akashi dengan kedua mata yang terjahit. Lalu ia mengulurkan tangannya kearah Akashi, "Kau harus menerimaku, Akashi Seijuro. Kalau kau ingin menguasaiku!"


"Jangan dengarkan dia, Seijuro! Kau hanya butuh Emperor Eyes saja, kau tidak butuh mereka." Akashi dengan mata kiri melangkah maju satu langkah.


"Emperor Eyes tak memiliki efek yang hebat kalau hanya mengandalkan satu mata saja, lebih baik kau menggunakan Absolute Eyes milikku saja Akashi!" bujuk Akashi mata kanan seraya melipat kedua tangannya. Disusul juga oleh teriakan kemarahan kedua Akashi yang lain.


Dan semakin lama bujukan itu berubah menjadi pertengkaran hebat diantara ketiganya, Akashi yang melihatnya merasa pusing dan muak bila memikirkan segalanya. Lalu ia secara refleks berteriak keras kepada ketiganya, "Bagaimana kalau aku membutuhkan kekuatan dari kalian bertiga?"


Akashi dengan kedua mata tertutup bertanya, "Kau yakin? Kau saja belum menguasai kemampuanku."


"Tidak perlu khawatir, aku akan segera menguasai kemampuanmu. Aku ini Akashi Seijuro!" ucap Akashi dengan tegas.


"Aku akan menguasai kalian berdua, tak lupa juga aku akan belajar mengandalkan emperor eyes dengan mata kiri saja. Kalian tidak perlu berkelahi ataupun berdebat dan saling tidak menghargai," tukas Akashi.


"Aku percaya kau akan menguasai ketiga kekuatan ini, Seijuro. Tapi, aku ragu tubuhmu akan mampu menopangnya karena kau masih remaja. Kau terlalu mudah untuk memiliki kemampuan yang melebihi fisikmu sendiri, itulah satu-satunya kelemahan dari anggota Kiseki no sedai. Kau harus ingat kembali batasanmu itu," ketus Akashi bermata kiri, sang emperor eyes sejati.


"Aku tahu batasanku. Aku akan menggunakan kalian secara bergiliran pada setiap pertandingan nantinya, intinya aku harus menguasai kalian terlebih dahulu." Akashi semakin kuat pada pendiriannya, ia tersenyum puas bersamaan dengan suara sang supir taksi yang mengembalikannya kedalam realita nyata dalam sekejap.


"Kita sudah sampai, dek."


"Terimakasih," ucap Akashi yang langsung membayar usai melihat dirinya sudah ada di depan pagar rumah.

__ADS_1


Ia langsung turun dan berjalan memasuki rumah, sesekali ia memperhatikan kedua tangannya. Matanya langsung menyipit diikuti oleh gerakan menggelengkan kepalanya.


"Batasan para pemain Kiseki no Sedai," gumamnya yang langsung membuka pintu rumah.


Keadaan rumah masih sepi seperti biasanya, tak ada yang spesial didalm selain suara beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya.


"Apa anda melihat Ushijima-San sudah kembali?" tanya Akashi pada salah seorang pelayan wanita paruh baya yang sedang membersihkan aksesoris ruang tamu.


"Sudah, tuan muda. Tuan Ushijima sedang berada didalam kamarnya," jawab sang pelayan.


"Baiklah, silahkan kembali bertugas." Akashi tersenyum dan berjalan menuju kamar Ushijima.


Dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia tak sengaja mendapati Ushijima yang sedang tak mengenakan baju karena baru selesai mengganti balutan pada kepalanya yang kemarin terluka dan balutan baru pada luka dibahunya.


"Apa kau benar-benar terjatuh saat bermain Voli? Lalu, kenapa banyak sekali luka ditubuhmu, Oniichan?" tanya Akashi yang sedang berdiri diambang pintu.


"Hari ini aku tak sengaja terjatuh dari tangga karena membantu penjaga Sekolah memperbaiki lampu yang ada disekolah." Ushijima kembali mencari-cari alasan untuk berbohong.


Akashi menatapnya curiga, ia bukanlah orang bodoh yang bisa dibodohi secara gampang. Memang sih bukan urusannya sama sekali bila terjadi sesuatu pada Ushijima, tapi walau bagaimanapun ia sudah berjanji menjadi adik yang baik bagi Ushijima. Selain itu, ia juga tak senang dengan orang yang berbohong padanya. Rasanya terasa memuakkan dan serasa terkhianati.


"Satu hal yang harus kau ketahui tentangku, Oniichan. Aku benci dibohongi oleh siapapun, jadi katakan saja padaku tentang hal yang membuatmu terluka seperti ini."


Ushijima enggan menjawab, ia memakai kembali kaosnya, usai diobati. Lalu melotot kepada Akashi, "Kau sudah janji buat bersikap menggemaskan kepadaku, tolong laksanakan tugasmu dan jangan lupa bentar lagi buat kopi untukku."

__ADS_1


__ADS_2