
Akashi membersihkan darah yang menetes dihidungnya dengan air kran dari wastafel. Entah kenapa rasanya reaksi yang diberikan tubuhnya terasa menyakitkan usai menggunakan Kekuatan tersebut.
Namun disisi lain, ia tak bisa membohongi diri bahwa kekuatan itu telah membantunya untuk bisa mencetak angka di detik terakhir tadi. Ia merasa puas telah berhasil mempertahankan kehormatan Teiko, meskipun kemenangan itu bukanlah hasil dari kerjasama tim yang baik.
"Aku harus memberitahu Kuroko dan yang lainnya tentang hasil pertandingan ini," gumam Akashi yang berniat mengambil ponsel dari ransel. Akan tetapi, belum sempat ia menghubungi Kuroko mendadak saja suara pintu yang dibuka paksa dengan hentakan kaki yang memasuki toilet membuatnya mau tak mau harus berbalik badan melirik kesumber suara.
Ia bisa melihat beberapa siswa seragam SMA mendekat kepadanya, mereka berwajah datar dan perilaku tidak suka terhadap Akashi. Dan salah satu diantara mereka berjalan maju beberapa langkah, seolah ingin memberitahu Akashi bahwa dialah ketuanya.
"Akashi Seijuro, seorang siswa Rakuzan yang berasal dari keluarga kaya raya dan bakat yang sempurna." Siswa tersebut mengulurkan tangannya untuk menerima salam dari Akashi, tetapi tak sekalipun digubris oleh Akashi yang sudah menyadari ketidaksukaan kelompok tersebut kepadanya.
Siswa itu menarik tangannya kembali, "Namaku Ryo, siswa kelas 3 SMA. Dan sepertinya, kebaikanku teracuhkan oleh sikap sombongmu itu."
"Tidak usah basa-basi, katakan saja apa maumu Ryo-San ?" tanya Akashi.
Siswa yang diketahui bernama Ryo itu tersenyum, ia melirik kebelakang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menatap Akashi kembali.
"Kau benar-benar tidak mengingatku, Akashi? Tak seharusnya kau melupakan orang yang sudah kau hina dulu," geram Ryo yang langsung menusukkan pisau kearah Akashi, tapi dengan cepat Akashi menghindar dan mendaratkan pukulan kewajah Ryo.
"Sial, Hajar dia!" teriak Ryo yang memerintahkan teman-temannya dan menimbulkan perkelahian kecil didalam toilet.
Akashi sendiri tak keberatan menanggapi kemarahan Ryo dan teman-temannya, ia langsung cepat menangkis pukulan demi pukulan yang mendarat kepadanya.
Hingga tak sengaja sebuah hantaman gayung mengenai bagian belakang kepalanya dan membuat Akashi kehilangan ritme perkelahian. Dengan mudahnya Ryo merobohkan Akashi dengan pukulan balasan diwajahnya berkali-kali, lalu meninju perut Akashi.
__ADS_1
Namun bukan Akashi namanya kalau hanya diam saja dan pasrah menerima pukulan dan tawa hinaan dari Ryo dan teman-temannya, untuk sejenak ia memejamkan mata ditengah tawa menggelar Ryo dan teman-temannya.
"Kau masih tidak ingat aku? Apa kau lupa pertandingan waktu itu, kau sudah mempermalukanku dan menjatuhkan mentalku dengan perkataanmu sendiri!" bentak Ryo yang diselingi tawa.
Akashi membuka matanya, ia tersenyum seolah-olah mulai mengingat apa yang tengah terjadi waktu itu.
"Apa mentalmu selemah itu sampai menyimpan dendam padaku, Ryo-San?" tanya Akashi yang langsung membalas tinju Ryo dan mulai merampas alur perkelahian. Ia bahkan tampak penuh nafsu menghabisi sekelompok siswa Shiratorizawa itu, kali ini ia hanya mengikuti amarah dan nafsunya saja tanpa memikirkan logika yang bisa saja akan menimbulkan masalah untuknya. Intinya dalam sekejap ia berhasil menumbangkan Ryo saat itu juga, sampai membuat teman-temannya Ryo terkejut dan ragu untuk menghabisi kembali Akashi.
Bersamaan pula dengan beberapa guru yang memasuki Toilet setelah mendengarkan pengaduan beberapa siswa lain yang menyaksikan ada perkelahian didalam toilet laki-laki.
Akashi dan sekelompok temannya Ryo pun diamankan oleh para guru dan dibawa kedalam Ruang BP/BK saat itu juga. Tentunya dengan keadaan Ryo yang mendapatkan luka yang jauh lebih banyak dibandingkan Akashi, wajahnya sudah lebam keseluruhan dan terdapat goresan dari cengkeraman kuat di leher dan darah segar dihidungnya.
Sementara itu, Akashi mengalami luka memar dibagian belakang kepalanya dan lebam diwajah serta nyeri diperutnya. Dan beberapa tetes sisa darah dihidung akibat efek kekuatan barunya itu.
"Jadi, bagaimana Wakatoshi-kun?" tanya Tendou lagi.
Ushijima menghela nafas, "Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat saja tadi dan gak sengaja melihat anak SMP itu dalam bahaya karena telah berurusan dengan si Kapten Rakuzan. Jadi, berhenti memberikanku sorotan kata curiga seperti itu. Lagian, siapa yang perduli dengan pertandingan bodoh ini?" tukas Ushijima yang langsung pergi begi saja, walaupun ia bisa mendengarkan Tendou berteriak kepadanya.
"Dasar manusia Tsundere! Harusnya jujur saja kalau kau memang ingin menonton pertandingan Basket, lagian aku tahu kok kalau kau ingin melihat adikmu bertanding!" teriak Tendou yang membuat kesal Ushijima, tetapi ia tak mau ambil pusing dan terus menjauh dari sana sebelum rasa malunya semakin membesar.
Hingga ia mendengar beberapa orang yang sedang berbincang keras disekitar koridor sekolah, mereka sibuk membicarakan perkelahian di toilet yang awalnya diacuhkan saja oleh Ushijima. Dan langkahnya langsung terhenti tatkala nama Akashi disebutkan dalam perbincangan kedua siswi muda yang baru saja dilewatinya.
"Ada apa? Apa yang sedang kalian gosipin sekarang?" tanya Ushijima pada kedua gadis muda itu.
__ADS_1
"Senpai tidak tahu?" tanya salah seorang gadis berambut pendek.
"Tidak, memangnya ada apa?" tanya Ushijima lagi.
"Tadi ada perkelahian hebat didalam toilet, kalau gak salah Ryo Senpai dan teman-temannya berkelahi dengan Akashi didalam toilet. Dan sekarang mereka dibawa ke BK sih," jelas Gadis berambut panjang terurai sebahu.
"Oh, aku tidak perduli. Kupikir ada sesuatu yang penting," tukasnya yang langsung pergi saat itu juga, ia tampak acuh saja dan merasa bukan hal yang perlu diikutcampurkan sama sekali.
Ushijima sendiri tak terlalu perduli dengan urusan adiknya itu, ia tak mau terlibat sejauh mungkin untuk membela Akashi yang bukanlah tanggung jawabnya sama sekali. Baginya hidup ini hanya tentang Voli dan menjadi pemain terbaik di Dunia, tak ada yang harus diperhatikannya sama sekali selain permainan Voli saja.
Bahkan saat ia berpapasan dengan Ayah tirinya yang terpaksa datang karena panggilan pihak sekolah Shiratorizawa yang mengenal Tuan Akashi sebagai ayah dari Ushijima dan Akashi sendiri, ia tampak biasa saja dan tersenyum sopan kepada pria itu.
"Apa yang sudah diperbuat anak itu, Wakatoshi?" tanya Masaomi.
"Aku tidak tahu, Pa. Kau bisa tanyakan saja kepada guru BP dan Akashi sendiri, aku juga terlalu sibuk untuk belajar sampai tidak bisa terlibat lebih jauh dengan urusannya disini." Ushijima berbicara dengan nada sopan.
Masaomi menepuk bahunya, "Baiklah, kau bisa kembali belajar ke kelasmu, biar aku yang urus anak itu."
Ushijima sedikit menunduk dan menyalami Masaomi, lalu ia berjalan pergi tanpa mengetahui betapa kejamnya Masaomi bila berurusan dalam mendidik anaknya sendiri.
Namun dimata Ushijima sendiri, semuanya akan segera beres karena kekuatan power yang dimiliki keluarga Akashi sangatlah besar, jadi tak mungkin masalah sekecil ini tidak mudah terselesaikan dengan mudah oleh mereka dan baginya tak ada satupun waktu yang bisa ia gunakan untuk mengkhawatirkan masalah adiknya itu.
****
__ADS_1
Wah, kira-kira seberapa besar ya kemarahan Masaomi? Dan kira-kira apa yang bakal terjadi pada Akashi nantinya? Apakah Ushijima bakal tetap diam saja dan bersikap acuh? Apakah Ryo tidak mendapatkan hukuman apapun atau malah di hukum seberat mungkin? Yuk ikuti kelanjutannya 😊