
"Bang! Bisa kembalikan uang Aileen?" Meskipun takut, Aileen harus melakukannya karena tidak mungkin dia pulang jalan kaki di malam hari. Yang benar saja?
"Nggak," tolak Aidan, dia masih kesal karena Aileen sepertinya memiliki pacar dan juga karena Aileen bersikap dingin padanya.
Aidan berpikir bagaimana cara agar Aileen putus dengan pacarnya.
Aileen memandang Aidan yang telah menaiki motornya dan keluar dari parkiran toko kue. Mau tidak mau Aileen juga keluar dari parkiran dan menuju jalan arah ke rumahnya.
Aileen menghela nafas dan mulai berjalan, dia memperhatikan sekitarnya.
"Syukurlah masih ramai," batin Aileen.
Dia terus berjalan, sampai kakinya penat dan sakit. Aileen berhenti di sebuah kursi trotoar, mengelus kakinya yang sudah capek berjalan. Aileen merasa sangat sial dihari pertama dia masuk kuliah.
Gadis itu memandang kendaraan yang lewat. Aileen berpikir untuk menghubungi rumah, siapa tahu ayahnya bisa menjemput. Aileen mencari uang receh di tas plastik dan saku celana. Namun, dia tidak menemukannya. Aileen seperti ingin menangis. Gadis itu berprasangka bahwa sejak dia putus dengan Atha segala keberuntungannya telah ditarik.
Aileen berdiri dari kursi dan kembali berjalan, baru saja kakinya melangkah satu langkah. Hujan turun membasahi bumi, Aileen berlari mencari tempat berteduh di sebuah ruko kosong. Lengkap sudah kesialan yang dialami Aileen dalam satu hari ini.
Gadis manis itu jongkok memandang air hujan yang turun. Aileen mengulurkan tangannya menyentuh air hujan yang turun dari genteng toko kosong tersebut. Sebuah motor berhenti di sampingnya. Aileen tidak memperhatikan siapa si pengendara motor.
Aileen hanya berpikir bahwa itu adalah orang yang sama denganya, yaitu orang yang juga ingin berteduh. Dua motor lagi datang dan berhenti didekat Aileen. Gadis itu masih tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia sibuk menatap air hujan yang jatuh dan diterangi lampu jalanan. Aileen berpikir hujan yang disinari lampu sangat indah, seperti melihat pelangi.
"Hi cewek, sendirian aja!" sapa seorang pria. Aileen hanya diam, mengabaikan pria yang menyapanya. Gadis itu tetap fokus memperhatikan air yang jatuh dan terkena cahaya lampu jalan.
"Mau ikut kami?" ulang pria itu.
"Kita bisa bersenang-senang," tawar yang lain.
Aileen masih mengabaikan para pria yang mengajaknya berbicara. Aileen tak ubahnya seperti anak autis yang tidak peduli dengan sekitarnya.
"Eh, loe tuli, ya?" salah satu pria jongkok dan memandang wajah Aileen. Pria itu kesal karena Aileen mengabaikan mereka.
Mau tidak mau Aileen melihat ke arah orang itu. Aileen berdiri dan memperhatikan tiga orang pria yang berada di tempat yang sama dengannya. Aileen mulai takut karena hanya dia perempuan yang ada di sini.
"Maaf." Aileen langsung berjalan tanpa mengindahkan hujan yang masih turun dengan deras. Dia sebaiknya pergi sebelum para pria itu mengganggunya. Insting Aileen mulai bekerja dan takut kepada mereka.
"Hei! pria itu menghadang jalan Aileen, membuat Aileen berhenti.
"Ja--jangan macam-macam atau saya akan berteriak!" ancam Aileen. Meskipun, dia merasa itu akan sia-sia. Namun, setidaknya Aileen harus berusaha menggertak para pria tersebut.
"Ha ha, loe nggak tahu kalo daerah ini kekuasaan kami?" pria lain menertawakan Aileen.
"Lagian tidak akan ada yang menolongmu, lihat saja sekeliling?"
Aileen membenarkan perkataan pria tersebut, disekitar mereka sepi. Jika cuaca bagus saja daerah itu sepi, apalagi cuaca hujan begini.
Mereka mengelilingi Aileen, seperti mengepung gadis itu agar tidak bisa lari.
Hanya beberapa kendaraan yang lewat. Wajah Aileen menjadi pucat. Dia mencoba mendorong salah satu pria yang mengepungnya. Aileen berlari menjauhi si pria. Namun, para pria tersebut mengejar Aileen. Aileen berlari sekuat tenaga, dia mencari tempat keramaian, berharap ada orang yang bisa menolongnya.
"Tolong!" teriak Aileen masih sambil berlari. Apa daya suaranya seperti tertelan hujan yang deras. Aileen terus berusaha berlari, sampai dia terjatuh.
__ADS_1
"Ha ha ha, percuma lari, daerah ini kami yang punya, jadi kami tahu pasti jam-jam ramai jalan ini!" teriak salah satunya.
"Ditambah hujan begini, tidak akan ada orang yang lewat,"
"Menyerah saja, ikut kami dengan suka rela, di jamin loe tidak akan menyesal. Kita akan bersenang-senang,"
Aileen menatap para pria tersebut, dia semakin ketakutan. Aileen tidak tahu lagi mana air matanya dan mana air hujan.
Sebuah motor berhenti di samping Aileen. Pengendaranya turun dari motor.
"Loe, baik-baik saja?" si pria jongkok ke arah Aileen.
*
*
*
Aidan melajukan motor dengan kesal, begitu jauh dari toko kue. Akhirnya Aidan merasa sudah tenang dan memutar motor untuk mencari Aileen. Tidak dapat dia mengabaikan begitu saja wanita yang membuat dia tertarik dalam pandangan pertama. Entah apa yang membuat Aidan tertarik, padahal jika karena kecantikan Aileen, banyak gadis-gadis yang lebih cantik dari Aileen, apalagi Syira, bisa dikatakan Syira adalah idola kampus. Namun, yang pasti adalah Aidan merasa ingin melindungi Aileen.
Pria itu mengendarai motor dengan sangat pelan, sambil menyapukan pandangan ke jalanan mencari sosok Aileen. Sepertinya Aileen cukup cepat berjalan sehingga Aidan sudah kehilangan jejaknya. Namun, nasib baik masih menyertai Aidan. Dia melihat Aileen berhenti dan duduk di kursi yang berada di trotoar.
"Apa dia benar-benar tidak punya uang lagi?" batin Aidan saat melihat Aileen mengusap kakinya yang kelelahan.
Aidan yang tidak tega akhirnya melajukan motor menuju minimarket untuk mencari koyo pereda pegal.
"Maaf Mas, koyo dimana, ya?" tanya Aidan kepada petugas toko, begitu masuk ke dalam minimarket. Aidan tidak mau Aileen menunggunya lama, jika harus mencari sendiri.
"Lorong kedua, rak sebelah kanan, ya Mas," ujar si pelayan toko sambil menunjukan arahnya.
Setelah membayar Aidan keluar dari minimarket. Sayang begitu keluar dari minimarket, hujan turun dengan deras. Aidan berpikir apakah dia harus menunggu hujan reda atau menempuh jalan meskipun hujan?
"Aileen pasti kehujanan," batin Aidan. Dia akhirnya menempuh hujan dan melajukan motor secepatnya ke tempat Aileen. Aidan tidak mau kehilangan Aileen.
Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak dan merasa bahwa Aileen berada dalam masalah.
Aidan berhenti di depan kursi yang diduduki Aileen. Kursi tersebut telah kosong. Ingin bertanya kepada orang, tidak ada orang di sana.
"Kemana dia?" pikir Aidan.
Dia kemudian mencari jejak Aileen, beruntung Aidan datang tepat waktu dia melihat Aileen yang sedang diganggu preman. Hal itu membuat Aidan kesal. Aidan menghentikan motor dan langsung menuju arah Aileen.
"Loe, baik-baik saja?" Aidan jongkok di depan Aileen.
Aileen melihat ke arah orang yang bertanya, dia semakin menangis. Antara bersyukur dan kesal karena Aidan.
"Eh, siapa Loe?" tanya salah satu preman.
"Sebaiknya loe nggak usah ikut campur," ujar yang lain.
"Kalian sebaiknya meninggalkan gadis ini," jawab Aidan dengan tegas.
__ADS_1
"Eh, loe nggak tau siapa kami?"
"Apa itu penting?" jawab Aidan tidak peduli. Dia mencoba membuat Aileen berdiri.
"Sebaiknya loe segera pergi sebelum wajah tampan loe itu kami buat babak belur," ancam preman. Dia memberikan lirikan kepada dua orang temannya untuk mulai memberi pelajaran kepada pria penolong.
"Nggak usah banyak bacot, kita hajar aja." Yang lain mulai mendekati Aidan dan bersiap melayangkan tinjunya ke wajah pria penolong.
"Bang Aidan!" teriak Aileen saat melihat preman akan memukul Aidan, dengan cekatan Aidan menangkis tinju pria itu dan memelintir tangannya.
"Aw lepas!" teriak preman tersebut. Dia berusaha melepaskan diri dari Aidan. Temannya yang lain ikut menghajar Aidan. Aidan melemparkan pria yang sedang dipegangnya ke tanah, membuat lutut pria tersebut memar.
Dengan cekatan Aidan menghindar dari preman yang ingin menghajarnya dan menendang pria satunya lagi yang juga ikut menyerang Aidan. Si preman yang tersungkur menjadi kesal, dia berdiri kembali bersamaan dengan preman pertama yang dilempar Aidan. Mereka berdua mencoba menyerang Aidan kembali. Namun, mereka salah mencari lawan, Aidan jago taekwondo dan sudah sabuk hitam.
Para preman masih tidak mau kalah, mereka masih berusaha menghajar Aidan. Padahal mereka sendiri yang akan babak belur dibuat Aidan. Pakaian para preman tersebut telah basah dan kotor kena tanah.
Aidan menghajar preman tersebut sampai salah satunya meminta ampun saat tangannya hampir saja dipatahkan Aidan.
"A--ampun, lepaskan gue, gue nggak akan ganggu cewek itu lagi," mohon preman itu.
"Dia pacar gue, jangan pernah kalian mencoba mengganggunya." Aidan mengaku-ngaku sendiri. Beruntung hujan masih deras dan Aileen yang jongkok di tanah sambil menutup mata agar tidak melihat perkelahian, tidak mendengar apa yang diucapkan Aidan.
Dua pria lain, hanya bengong ragu untuk menyerang kembali karena kasihan dengan temannya yang tengah dipelintir oleh Aidan.
"Iya, Bang, kami nggak akan ganggu lagi," pinta preman itu.
Aidan menghempaskan pria tersebut ke tanah, membuat si preman tersungkur.
"Pergi kalian!" hardik Aidan.
Mereka semua berlari dan mengambil motor masing-masing. Salah satunya memperhatikan jaket yang dipakai Aidan. Di jaketnya itu terdapat tulisan SOS di belakangnya.
Aidan membuka jaketnya dan menyampirkannya ke tubuh Aileen. Aidan menyadari bahwa tubuh Aileen bergetar karena takut. Aileen akhirnya menyadari bahwa ada orang yang memberikan jaket kepadanya.
"Loe baik-baik,aja, 'kan?" Aidan tahu Aileen pasti sangat shock. Dapat Aidan rasakan dari tubuh Aileen yang gemetaran.
Karena Aileen hanya menatapnya, Aidan mengangkat tubuh Aileen dan membawahya ke atas motor. Aidan mengambil air mineral yang tadi di belinya. Aidan membuka air tersebut dan memberikannya kepada Aileen. Gadis itu meneguk air dengan cepat.
"Tunjukan dimana rumah, loe?" tanya Aidan. Setelah Aileen selesai minum.
"Ampang, tapi tidak usah sampai depan rumah," tolak Aileen, dia takut papanya akan marah kerena dia pulang terlambat tanpa pemberitahuan.
🍒🍒🍒
Untung Aidan datang tepat waktu ya besties. Key sambil nunggu author up, boleh donk mampir di karya temanku?
Jangan lupa nyawer ya besties.
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad