
Adrian dan Weni menunggu Alia dan Aileen di hotel. Mereka sedikit cemas karena, para gadis beda usia itu belum juga kembali.
Apa terjadi sesuatu?
"Aku yakin mereka baik-baik saja, Mas." Weni duduk di tepi ranjang. Sementara Adrian mondar-mandir dengan gelisah.
"Apa tidak sebaiknya kita menyusul mereka?" Adrian duduk di samping istrinya.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi saja. Siapa tahu, akhirnya Aileen berhasil membujuk Aidan." Weni masih berpikir positif.
"Tidak bisa, aku khawatir sesuatu terjadi pada mereka," cemas Adrian. Pria itu kembali berdiri dan menuju telepon.
"Lalu, apakah Mas akan menghubungi Aidan?" tanya Weni karena melihat suaminya telah mengambil telepon.
Belum sempat Adrian menekan nomor untuk meminta resepsionis menyambungkannya dengan nomor telepon rumah Aidan. Bel berbunyi.
"Sepertinya itu mereka!" Weni langsung berjalan menuju pintu dan membukannya.
"Mama!" Alia langsung memeluk Weni.
Weni tidak percaya yang berada di depan mereka tidak hanya Aileen. Namun, Aidan juga berdiri di sana.
"Aidan!" pekik Weni.
Adrian begitu sang istri menyebut Aidan langsung menuju pintu dan benar saja. Putranya telah berdiri di depan pintu bersama Aileen.
"Tante, maaf lupa waktu, tadi kami membuat sarapan dulu di rumah bang Aidan," ucap Aileen.
"Tidak apa-apa, ayo masuk!" Weni mempersilahkan mereka masuk.
Aidan hanya diam, sampai Aileen menarik tangannya untuk masuk.
Weni tersenyum, akhirnya Aileen berhasil membuat Aidan ke sini dan sepertinya anak muda itu telah mau menerima mereka.
"Alia senang main di rumah Abang?" tanya Weni. Gadis cilik itu mengangguk dan melepaskan pelukan dari ibunya dan menghampiri Aidan.
Aidan masih berdiri kaku. Aileen memberi kode kepada Aidan, agar mengatakan sesuatu. Aidan terlihat ragu.
"Aidan telah memaafkan, Papa dan Aidan menerima tante Weni dan Alia sebagai keluarga Aidan," ucap Aidan tegas.
Adrian tidak tahan dia kemudian merangkul putranya. Sangat lama rasanya dia tidak merangkul sang putra. Pria itu bersyukur Weni mengajaknya untuk bertemu Aidan.
"Terima kasih. Percayalah, kasih sayang Papa padamu tetap sama." Adrian melepaskan pelukannya.
"Aidan ingin kalian tinggal di rumah," tawar Aidan.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan mempacking barang. Kalian sebaiknya ngopi di bawah," usul Weni.
"Aileen akan membantu, Tante," tawar Aileen.
"Ayo Aidan kita ke bawah," ajak Adrian.
"Alia ikut Abang." Gadis cilik itu merentangkan tangan agar Aidan menggendongnya. Aidan menggendong Alia dan keluar dari kamar.
Aileen tersenyum melihat keakraban mereka meskipun Aidan terlihat masih kaku.
"Terima kasih, kamu telah membantu kami." Weni mengambil koper dan mulai memasukan pakaian mereka.
"Sama-sama, Tante."
Mereka menuju rumah Aidan, Adrian memperhatikan rumah peninggalan istrinya itu. Ternyata masih sama, sepertinya Aidan merawat rumah itu dengan baik, tanpa merubahnya.
"Kamar ini, bisa Papa dan tante Weni tempati." Aidan sepertinya belum bisa memanggil Weni dengan sebutan 'Mama'.
"Terima kasih, Wen, ini kamar buat kita." Adrian membantu Weni membawa koper ke dalam kamar.
Aileen membuatkan minuman untuk keluarga itu. Setelah berkemas mereka duduk di ruang nonton, sambil minum teh dan cemilan. Sebelum mengantar Alia, Aileen sempat meminta Aidan untuk mampir di mini market.
"Sepertinya sudah waktu makan siang, bagaimana kalau kita ke restoran lamunan ombak?" tawar Adrian. Saat istri pertamanya masih hidup itu adalah rumah makan langganan mereka, setiap berada di kota ini.
"Ide bagus," jawab Weni.
"Iya, nanti Alia boleh makan sepuasnya." Aidan menggendong adiknya.
Mereka keluar rumah menuju mobil. Aidan memberikan Alia kepada ayahnya. Aidan menyetir, di sampingnya Adrian yang memangku Alia. Weni dan Aileen di belakang.
***
Atha kesal karena Aileen telah berpindah hati. Pria itu ingat jika Anthony mengatakan bahwa yang lebih tahu tentang Aileen sekarang adalah Risa karena Aileen bersahabat dengan Risa. Atha sendiri sebenarnya tidak menyukai Risa karena dia tahu Risa pernah menyatakan suka padanya saat SMA.
Atha menimbang untuk menghubungi Risa, dia berencana mencaritahu tentang Aileen dan Aidan. Pria itu akhirnya menekan ego dan menghubungi Risa, mengajak gadis itu untuk bertemu.
Risa setuju untuk menemui Atha di sebuah cafe. Atha telah datang lebih dulu, dia melihat Risa memasuki cafe. Gadis itu langsung melihat Atha dan menghampirinya.
"Apa kabar?" Atha langsung bersikap ramah saat Risa telah duduk di depannya.
"Baik!"
"Loe mau pesan apa?" tawar Atha. Dia memanggil pelayan cafe.
Risa menyebutkan pesanannya, kemudian,
__ADS_1
"Tumben loe menghubungin gue dan mengajak gue ketemu," sindir Risa.
Atha telah menebak pasti itu akan ditanyakan oleh Risa. Atha melihat sekeliling cafe. Pengunjung yang datang tidak terlalu ramai.
"Karena gue ingin tahu tentang Aileen dan Aidan," ucap Atha tanpa berbasa-basi.
"Apa? Darimana loe tahu tentang bang Aidan?" Risa heran kenapa Atha sudah tahu tentang Aidan.
"Beberapa hari yang lalu, dia mengantar Aileen pulang. Mereka dari berkemah." Atha menyeruput minumannya.
"Aileen dan bang Aidan berkemah?" batin Risa. Dia telah melewatkan sesuatu kalau begitu dan dapat membahayakan rencana yang telah dia susun.
"Apa yang ingin loe ketahui tentang mereka?" Risa tidak ingin menunjukan ketidaksukaannya dengan informasi yang baru saja dia dengar.
"Sejak kapan mereka jadian?"
Risa terkejut kembali dengan yang di sampaikan oleh Atha.
"Apa maksud loe? Mereka udah jadian?" Risa tidak dapat menghilangkan penasarannya.
Atha melihat Risa, pria itu menimbang benarkah Risa mengetahui tentang hubungan Aidan dan Aileen.
"Sepertinya, kau juga tidak mengetahuinya, ya?" terka Atha.
"Ya, aku hanya mengetahui bang Aidan dan Aileen hubungan mereka telah renggang 3 bulan yang lalu,"
"Jadi, maksud loe, mereka sudah jadian dari awal kuliah." Darah Atha mendidih karena membayangkan secepat itu Aileen melupakannya. Padahal dia masih menyimpan perasaan gadis itu.
Pelayan datang dan meletakan pesanan Risa, setelahnya dia pergi. Risa meminum air dan menatap Atha yang terlihat cemburu.
"Gue akan ceritain."
Risa menceritakan semuanya kepada Atha, tentang Aidan yang duluan menyukai Aileen. Bahkan Aileen tidak menggubrisinya. Atha yang kesal dan cemburu mendengar informasi dari Risa berdiri,
"Terima kasih atas informasinya, gue akan bayar dan pergi." Atha berjalan ke kasir.
Setelah kepergiaan Atha, Risa menikmati sendiri makanannya. Jika memang Aileen dan Aidan telah jadian, maka cukup Atha yang memisahkan mereka. Informasi yang diberikan Risa cukup membuat Atha memisahkan mereka.
Risa menatap keluar dan tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Aileen dan Aidan yang tengah lewat dengan motor Aidan. Risa menjadi terbakar, dia benar-benar kecolongan, ternyata Aileen telah dekat kembali dengan Aidan. Melihat cara dia memeluk Aidan saat berboncengan, dapat Risa simpulkan bahwa mereka benar telah jadian.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya besties.
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad