Strawberry On The ShortCake ( SOS )

Strawberry On The ShortCake ( SOS )
Pernyataan Cinta yang Absurb


__ADS_3

"Oh, punya kamu udah dibayarin tadi pagi," jawab si Ibu.


"Siapa, Bu?" tanya Aileen.


"Ada, deh. Rahasia," bisik si Ibu.


Aileen hanya memandang dengan bingung. Risa semakin iri dengan Aileen.


"Saya, Bu?" tanya Risa, berharap dia juga ada yang bayarin.


"Kamu sepuluh ribu," jawab si Ibu.


Risa kesal, dengan terpaksa dia mengeluarkan uang dan menyerahkannya kepada si Ibu kantin.


Mereka keluar dari kantin. Aileen menuju taman kampus.


"Loe duluan aja, gue masih ada urusan yang lain." Risa pergi meninggalkan Aileen. Sebelum Aileen bertanya, apakah perlu ditemani.


Aileen menuju taman, dia akan duduk di kursi taman, di bawah pohon. Cuaca sangat panas dengan matahari tepat berada di atas kepala. Saat Aileen sampai di taman, dia melihat Aidan yang tengah duduk sambil merokok. Aileen seketika membalikan tubuhnya. Berharap Aidan belum melihat kedatangannya.


"Aileen!" Terlambat, panggilan dari Aidan membuat Aileen terpaksa berhenti.


Langkah kaki Aidan mendekat, Aileen dapat merasakan gerakan Aidan. Aidan berdiri dihadapan Aileen.


"Ba--ng Aidan!"  sapa Aileen dengan gugup.


"Kenapa loe nggak jadi duduk?" tanya Aidan. Dia masih memegang rokok dan mengisapnya.


"Aileen baru ingat, bahwa ada hal lain yang harus dilakukan," jawab Aileen.


Aidan menatap wajah Aileen, membuat Aileen menjadi salah tingkah.


"Loe menghindari gue?" tuduh Aidan karena perasaannya memgatakan bahwa Aileen menghindar darinya.


"Eh, nggak kok, Bang. Aileen emang baru ingat aja ada urusan lain," bohong Aileen.


"Gue minta nomor handphone loe." Aidan membentangkan telapak tangannya. Agar Aileen mengeluarkan ponselnya.


Aileen melihat telapak tangan Aidan.


"Aileen nggak punya handphone, Bang," jawab Aileen.


"Apa?" dahi Aidan mengeryit, dia merasa Aileen tidak mau memberikan nomor ponselnya saja.


"Benar, Bang. Aileen tidak punya ponsel," jujur Aileen karena ponsel adalah barang mahal. Mana mungkin keluarga Aileen sanggup membelikannya.


"Gue nggak percaya, mana tas loe?" pinta Aidan, dengan terpaksa Aileen memberikan tasnya kepada Aidan.


Aidan dengan lancang membawa tas Aileen menuju kursi semen dan mengeluarkan isi tas Aileen. Ternyata isi tas Aileen hanya buku, botol minum dan pembalut. Aidan memperhatikan benda berbungkus tersebut. Dia pikir itu adalah sebuah ponsel. Aidan mengambil pembalut. Namun, kenapa benda ini sangat lembut.


"Ini apa?" tanya Aidan.

__ADS_1


Wajah Aileen langsung memerah karena malu. Pembalut itu adalah benda wajib yang dibawa wanita karena pasti akan dibutuhkan saat mereka mengalami menstruasi dadakan.


"Bukan apa-apa." Aileen mengambil pembalut tersebut dari tangan Aidan. Namun, Aidan dengan cekatan menyingkirkan tangannya sebelum Aileen merebut benda itu.


"Jika bukan apa-apa, kenapa wajah loe memerah?" tanya Aidan, dia memindahkan pembalut ke tanga satunya lagi.


"Tentu saja Aileen malu," kesal Aileen. Itu adalah barang pribadi seorang wanita dan Aidan seenaknya memegang benda tersebut.


"Kenapa harus malu?" heran Aidan, dia bersiap untuk membuka plastik yang membungkus benda itu.


"Jangan!" cegah Aileen. Akan sangat memalukan jika Aidan membuka pembalut itu.


"Kenapa?" Aidan menghentikan gerakkannya. Dia kemudian memandang wajah Aileen dengan heran.


Apa istimewanya benda ini sampai Aileen melarangnya untuk melihat isi di dalamnya.


"Itu adalah benda khusus wanita," jelas Aileen, berharap Aidan mau mengembalikannya.


"Khusus wanita?"


Aidan lengah hal itu digunakan oleh  Aileen untuk merebut pembalutnya.


"Aileen tidak punya ponsel, dilihat dari manapun, benda itu bukanlah handphone." Aileen memasukan kembali barang-barangnya ke dalam tas.


Aidan merasa bersalah.


"Maaf!" ucap Aidan dengan tulus. Dia kemudian meninggalkan Aileen.


Aileen mengemasi barang-barangnya yang telah diberantakan oleh Aidan. Wajah Aileen bak kaset kusut, dengan muka ditekuk, mulut cemberut. Bahkan Aileen menggerutu tidak jelas.


"Mana lagi botol minum ini," kesal Aileen. Dia melihat ke bawah untuk mencari botol minumnya. Jangan sampai hilang, cuma punya satu dia.


Aileen jongkok dan mencari di bawah kursi semen, diantara bunga-bunga yang tumbuh di sekitar bangku. Botol minuman tepat berada di depan wajah Aileen. Aileen menengadahkan wajah ke atas, melihat siapa yang telah memberikan botol minumnya.


"Ah, ini dia, terima ka--, Bang Aidan!" pekik Aileen.


"Bagaimana Aidan masih di sini? Bukankah tadi dia telah pergi?" batin Aileen. Gadis itu berdiri dari jongkok. Dia mengambil botol minum di tangan Aidan. Namun, Aidan mengelakannya.


"Nggak ada Akhlak? Siapa?" Senyum Aidan terbit, dia jadi ingin mengerjai Aileen yang wakahnya telah merah karena malu ketahuan oleh Aidan.


"Bu--bukan siapa-siapa," jawab Aileen gugup.


"Mati lah gue, pasti bang Aidan marah," batin Aileen.


Aidan memeperhatikan sekeliling, ada beberapa mahasiswa yang juga duduk di bangku taman tersebut. Bahkan beberapa sepertinya berpasangan.


"Maksud loe, mereka yang nggak punya akhlak karena berpacaran di taman?" Aidan sengaja menggiring persepsi ke sana. Padahal dia tahu maksud Aileen adalah dirinya.


"Eh, ha, i-ya," jawab Aileen asal.


"Emang loe cemburu mereka pacaran?"

__ADS_1


"Eh, Bukan! Mana ada Aileen cemburu sama mereka," sanggah Aileen cepat. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya, membuat tanda bukan.


"Kalau kamu cemburu, ayo, kita pacaran!" ajak Aidan secara gamblang. Tidak ada romantis-romantisnya.


"Hah?" Aileen memandang Aidan dengan tidak percaya. Dia ingat perkataan Risa yang mengatakan bahwa Aidan adalah playboy yang sering keluar masuk diskotik. Pokoknya pergaulan Aidan sangat bebas. Aileen bergidik ngeri membayangkan jika harus berpacaran dengan Aidan pasti dia akan jadi rusak.


Terlepas dari itu semua, Aileen memang tidak menyukai Aidan, perasaannya masih tertinggal untuk Atha dan hanya Atha yang akan menjadi kekasih maupun suaminya kelak. Bukan pria lain, apalagi pria seperti Aidan.


"Kenapa?" Aidan dapat merasakan ketidaksukaan dari Aileen.


"Aileen tidak boleh pacaran dan juga Aileen sudah punya pacar," jawab Aileen asal.


"Hah?" gantian Aidan yang bingung dengan jawaban Aileen.


"Tidak boleh pacaran tapi sudah punya pacar? Mana yang benar?" bentak Aidan. Dia terluka karena Aileen menolaknya.


"Ma--maksudnya Aileen sudah punya pacar tapi pacaran diam-diam karena nggak dibolehin pacaran sama papa," bohong Aileen. Bagian tidak boleh pacaran benar karena papanya telah melarang Aileen maupun Aiko untuk tidak berpacaran. Cukup kemarin Aileen berpacaran dengan Atha.


"Anak mana? Teman sekolah kamu?" selidik Aidan, dia hanya memastikan bahwa informasi yang dia dapat dari Anthony adalah benar.


"I--iya, teman sekolah." Aileen membayangkan jika hubungannya dengan Atha masih baik-baik saja.


"Dia yang kuliah di Bandung?" todong Aidan.


"Hah?"


"Bagaimana bang Aidan tau? Apakah dia juga tahu bahwa gue udah putus sama Atha?" batin Aileen. Bisa berantakan rencana Aileen jika Aidan tahu bahwa dia sudah putus dan sekarang Aileen jomlo.


"Jadi benar, cowok pemain band itu? Putus dengan dia," perintah Aidan seenaknya. Aileen tidak percaya, tapi juga lega, berarti Aidan tidak tahu bahwa dia telah putus dengan Atha.


"Kami baik-baik saja, kenapa harus putus?" sanggah Aileen.


"Karena gue mau loe jadi pacar gue," bentak Aidan. Dia mendekat ke arah Aileen membuat jarak mereka hanya sekitar 3 cm. Aileen justru mundur.


"Tapi, Aileen tidak suka sama Abang," cicit Aileen ketakutan.


"Gue akan buat loe melupakan dia dan menyukai gue." Aidan mengambil tangan Aileen dan menyerahkan botol minum Aileen. Kemudian Aidan membalikan tubuhnya untuk pergi dari taman.


Aileen memandang tubuh atletis Aidan menjauh. Aileen berdebar.


"Apa yang terjadi dengan hati gue?" batin Aileen.


Gadis itu jongkok di tanah menenangkan debaran jantungnya. Entah karena perasaan lain atau karena dia ketakutan?


"Tidak ini tidak boleh terjadi, hatinya hanya untuk Atha," Aileen meyakinkan diri.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties.


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!

__ADS_1


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2