Strawberry On The ShortCake ( SOS )

Strawberry On The ShortCake ( SOS )
Penolakan


__ADS_3

Ayah dan ibu sambung Aidan dengan terpaksa menginap di hotel karena Aidan tidak mengizinkan mereka tinggal di rumah ibunya.


"Anak itu benar-benar kurang ajar, berani-beraninya dia mengusir orang tuanya sendiri," kesal Adrian saat mereka telah berada di kamar hotel.


"Tenanglah, aku yakin suatu saat Aidan akan bisa menerimaku dan Alia." Weni, masih berpikir positif. Dia berharap suatu saat putra tirinya itu akan segera menerima pernikahan sang ayah.


"Dia tidak mengerti kehidupan orang dewasa." Adrian membuka gorden kamar hotel yang menampilkan pemandangan pantai.


"Dia sangat mencintai ibunya, jadi wajar, dia mengganggap Mas melupakan ibunya." Weni mengeluarkan isi koper dan menyusunnya di dalam lemari.


"Aku akan memandikan Alia, dia harus istirahat." Weni membawa Alia ke dalam kamar mandi.


Setelah memandikan Alia dan menidurkan putrinya itu. Weni menyiapkan pakaiaan untuk suaminya.


"Aku akan ke rumah membawa Alia, siapa tahu Aidan akan luluh." Weni memberikan handuk bersih kepada suaminya.


"Apa kamu akan baik-baik saja, jika anak itu mengabaikan kalian?" Adrian cemas jika Weni dan putrinya kecewa.


"Tidak apa-apa, kita tidak mungkin ke sini jika tidak berusaha."


Keesokan paginya Adrian telah membawa Weni dan putri mereka ke rumah mendiang istrinya.


Aidan membuka pintu, dan melihat siapa yang datang.


"Abang!" Alia langsung memeluk Aidan dengan erat.


Aidan melepaskan Alia, pria itu kemudian menutup pintu dengan tidak sopan bahkan tanpa berkata-kata.


Kejadian seperti itu terus terjadi selama 3 hari. Di hari ke-3, Aileen juga datang.


"Tante, Om, hi adek kecil manis!" sapa Aileen dia baru saja masuk ke dalam pagar dan melihat keluarga Aidan di depan pintu.


"Kamu gadis yang waktu itu?" terka Adrian.


"Benar, Om. Kenalkan saya Aileen, junior bang Aidan." Aileen menyalami Adrian dan Weni. Saat itu mereka belum berkenalan.


"Dan gadis manis, siapa namanya?" Aileen jongkok untuk menyamakan tinggi.


"Alia, Kak," jawab gadis itu malu-malu. Dia kemudian bersembunyi dibalik tubuh ibunya.


"Hi Alia, jangan takut, ayo kita bertemu Abang kamu," bujuk Aileen. Gadis itu tersenyum dan mengambil tangan Alia.


"Kami telah menunggu dari tadi, tapi Aidan tidak juga membuka pintu," jelas Weni.


"Tante, boleh Aileen membantu?" Aileen ragu, takut dikatakan terlalu ikut campur.


"Tentu saja." Adrian yang menjawab.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kalian pulang saja. Biar Aileen dan Alia di sini membujuk bang Aidan," usul Aileen. Adrian dan Weni saling berpandangan mereka ragu.


"Kami akan menunggu di sini saja," putus Weni.


"Baiklah!" Aileen tahu tentu tidak segampang itu Weni membiarkan putrinya dengan orang yang baru mereka kenal.


Aileen menekan bel pintu, tidak lama, pintu dibuka. Aidan senang karena Aileen yang datang.


"Masuklah," suruh Aidan.


"Ayo!" ajak Aileen menarik Alia. Aidan kaget karena ternyata ada Alia.


"Dia tidak boleh masuk, cuma loe." Aidan keluar dari pintu dan melihat ayah dan ibu sambungnya.


"Aku tidak akan masuk kalau Alia tidak diizinkan," rajuk Aileen. Padahal kemarin dia menghubungi Aidan dan ternyata Aidan tidak enak badan. Jadi Aileen telah membelikan obat untuknya.


"Kalau begitu tidak usah masuk." Aidan kembali ke pintu. Bersiap-siap untuk menutup pintu. Namun, gadis itu menahan pintu.


"Setidaknya ambil obat ini." Aileen menyerahkan kantong plastik berisi obat kepada Aidan. Aidan mengambil obat dan menutup pintu.


"Dasar kepala batu," maki Aileen. Dia membalikan badan dan melihat ayah Aidan. Aileen menjadi malu karena memaki Aidan di depan Adrian.


"Maaf, Om--,"


"Tidak apa-apa, ayo Alia kita kembali." Adrian berjalan menuju mobil yang mereka sewa.


"Baiklah, kami menginap di hotel P." Adrian menggendong putrinya dan masuk ke mobil.


Keesokan harinya sesuai janji Aileen telah menunggu Alia di lobby. Mereka akan bertemu Aidan kembali. Adrian mengantarkan mereka ke rumah Aidan kemudian meninggalkan mereka.


Aileen menunggu sampai pintu dibuka oleh Aidan. Pria itu melihat Aileen dan melihat kesekeliling, siapa tahu ayah dan keluarga barunya juga ada. Namun, Aidan tidak melihat Alia yang bersembunyi di belakang Aileen.


"Masuk!" Aidan membuka pintu lebar-lebar.


"Ayo Alia," ajak Aileen.


Aidan melotot kepada Aileen. Alia semakin merapatkan tubuh di belakang Aileen.


"Tidak, apa-apa. Bang Aidan baik, kok," bujuk Aileen.


"Kenapa loe bawa dia?" kesal Aidan.


"Nanti kita bicara di dalam." Aileen memutar tubuh dan menggendong Alia. Mereka masuk ke dalam, tanpa menghiraukan Aidan yang kesal.


Alia duduk di sofa, gadis itu mengeluarkan buku gambar dan pensil warna dari dalam tas yang di bawanya.


"Dapat dari mana dia?" Aidan masih berdiri dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Aileen jemput di hotel, dia ingin sekali bertemu Abangnya." Gadis itu duduk di sofa.


"Dia bukan adik gue." Pria muda itu juga duduk di kursi samping Aileen.


"Jelas-jelas dia, adik Abang, atau jangan-jangan Abang bukan anak Om Adrian?" tuduh Aileen.


"Enak aja," kesal Aidan.


"Gini deh, Bang. Papa, Abang tidak berselingkuh. Dia menikah lagi setelah menduda 3 tahun. Dan itu hal wajar bagi seorang laki-laki. Kayak nggak tahu kebutuhan laki-laki, aja," gerutu Aileen diterakhir kalimatnya.


Aidan tersentak, Aileen benar, selama menikah dengan ibu. Ayah tidak pernah berselingkuh dan mereka sangat bahagia saat itu. Aidan hanya merasa tersingkirkan saja, saat ayahnya menikah lagi. Alia dan Weni, mereka tidak bersalah.


"Abang tahu, 'kan bahwa rezeki, jodoh dan maut telah Tuhan gariskan. Kita tidak bisa berbuat banyak, jika itu sudah takdir dariNya. Seharusnya Abang bisa bersikap lebih dewasa." Ucapan dari Aileen bagai tamparan bagi Aidan. Pria itu membenarkan perkataan gadis yang dipujanya.


Aidan menatap Alia yang tengah asik mewarnai gambarnya. Gadis itu tidak perduli dengan perdebatan Aidan dan Aileen. Dia tekun mengerjakan hal yang disukainya.


"Jadi menurut loe, apa yang harus gue lakuin?"


"Abang harus menerima, tidak mungkin selamanya Abang hidup sendiri seperti tidak memiliki keluarga. Jangan sampai Abang kehilangan mereka hanya karena keegoisan." Aileen menarik tangan Aidan dan menggenggamnya.


Tanpa sadar Aidan melepaskan tangan Aileen, kemudian memeluk Alia. Alia yang sedang mewarnai menatap Aidan.


"Maafkan, Abang."


"Abang!" sapa gadis cilik itu.


"Abang udah makan?" tanya Aileen mencairkan suasana kesedihan yang sempat muncul.


"Belum," jawab Aidan.


"Alia juga belum," celetuk gadis mungil itu dengan malu-malu.


"Abang, punya bahan makanan?" Aileen berdiri dari kursi.


"Ada, mie sama telur."


Aileen menuju dapur, dan memasak untuk mereka makan. Aidan mulai mengakrabkan diri dengan adiknya itu. Alia gadis yang pintar, dalam sekejap saja mereka sudah menjadi akrab. Aileen tersenyum melihat mereka akur.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties.


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2