Strawberry On The ShortCake ( SOS )

Strawberry On The ShortCake ( SOS )
Hujan


__ADS_3

"Ahh!" teriak Aileen. Dia memicingkan mata tidak sanggup jika harus terjatuh.


Gadis itu menunggu tubuhnya yang akan basah oleh air kolam, tapi tidak terjadi apa-apa. Sebuah tangan meraih pinggang Aileen dengan erat. Aileen merasakan tangan itu bergerak dan tubuhnya melayang ke atas, menabrak dada sesorang. Aileen membuka mata dan melihat Aidan di depannya. Pria itu hanya melihat Aileen dengan tatapan yang tidak bisa Aileen baca. Jantung Aileen berdetak semakin kencang, terkejut karena akan jatuh bercampur dengan perasaan kagum. Lagi-lagi Aidan menyelamatkannya.


"Ngapain kalian? Nggak ada mesra-mesraan di sini, ya," sindir Andri yang berada di belakang mereka.


Aidan melepaskan rangkulannya dari Aileen. Gadis itu berdiri kembali di antara debaran jantung. Aroma farfum Aidan masih tercium dipikirannya. Aidan mengambil ranselnya dan berjalan ke arah Andri.


"Gue mau tidur sejenak." Beritahu Aidan saat dia berhenti di samping Andri. Kemudian melanjutkan memasuki kemah.


"Loe nggak pa-pa. 'kan Aileen? Aidan tidak berbuat kurang ajar, bukan?" selidik Andri.


Aileen menyadarkan diri dari keterpakuan,


"Eh, tidak, Bang," gugup Aileen, gadis itu kemudian mengambil air dan kembali menuju kemah. Ternyata anggota yang lain telah menyalakan api untuk memasak air.


Andri dan beberapa orang lainnya membentangkan tikar dan mereka duduk di sana sambil menikmati cemilan. Para gadis mulai menyiapkan makan siang untuk mereka. Mereka akan berkemah selama 3 hari.


Tidak terasa mereka telah tiga hari berkemah. Hari ini adalah hari terakhir, mereka telah bersiap-siap untuk kembali.


"Apakah semua telah siap?" tanya Andri, seperti biasa mereka berkumpul dulu.


"Sudah," jawab semua serempak.


"Tidak ada yang ketinggalan" lanjut Andri. Pria itu mengedarkan pandnagan ke sekeliling melihat lokasi kemah mereka trlah bersih kembali. Ya, mereka memang telah membersihkannya lagi sebelum kembali. Mereka harus menjaga hutan agar tidak rusak.


"Tidak!" jawab peserta.


"Baiklah, ayo kita kembali." Andri mukai berjalan.


Mereka menyusuri jalan yang sama untuk kembali ke tempat parkir mobil. Mereka terus berjalan, baru saja sepuluh menit perjalanan atau bari separuh jalan, hujan turun.


"Sebaiknya kita mencari tempat berteduh," usul Hanan.


"Ya, sebaiknya kita berteduh." Mereka berlari mencari tempat yang bisa melindungi mereka dari hujan.


"Di situ ada pondok." Tunjuk Aidan pada sebuak pondok yang sudah rusak. Namun, masih bisa digunakan untuk berteduh.


Mereka berlari ke sana dan mulai berteduh. Pondok tersebut berukuran 2x2 m², hanya berupa kayu berbentuk persegi dengan atap jerami. Mereka menunggu sambil melakukan permainan. Satu jam berlalu hujan belum juga reda. Para gadis mulai cemas. Hari semakin gelap. Mereka memang pulang sore hari dan sekarang sudah pukul 6 sore. Mendung disertai hujan dan sekitaran di kelilingi hutan membuat keadaan lebih gelap dari seharusnya.

__ADS_1


"Andri bagaimana ini? Mau menunggu sampai kapan? Sepertinya hujannya awet." Syira melihat ke atas langit dan benar saja awan semakin gelap, ditambah hujan yang turun dengan deras.


"Bagaimana kalau kita dirikan tenda dan kita tidur di sini semalam lagi?" usul Andri.


"Tidak bisa. Gue cuma izin 3 hari," kesal Syira.


"Iya, Bang," sahut Aileen.


"Kalian bisa telepon rumah," saran Andri.


"Aileen nggak punya ponsel, Bang." Aileen menundukan wajah dengan malu.


"Aidan pinjamin Aileen ponsel Loe," ucap Andri seenaknya.


"Kenapa harus ponsel gue, 'kan loe juga punya." Aidan membalas dengan kesal.


"Gue nggak punya pulsa." Andri nyengir.


"Nih!" Aidan menyerahkan ponselnya kepada Andri bukan kepada Aileen.


"Ambil ini." Andri memberikan ponsel kepada Aileen.


Aidan mengambil ponsel dan membukanya, kemudian menyerahkan kembali kepada Aileen. Aileen mencoba menghubungi telepon rumahnya.


"Yah, ponsel gue habis baterai." Syira memasukan kembali ponsel ke dalam sakunya.


"Pakai punya gue aja." Hanan menyerahkan ponselnya kepada Syira. Syira melihat dan ternyata tidak ada sinyal.


"Nggak ada sinyal." Syira mengembalikan ponsel Hanan.


"Kita memang tidak bisa berkemah di sekitar sini. Lihat saja air mulai tergenang," ujar Aidan.


Dibawah kaki mereka air memang sudah tergenang dan juga disekitarannya.


"Sebaiknya kita mulai bergerak menerjang hujan," celetuk yang lain.


Mereka kemudian mengeluarkan senter agar bisa menerangi jalan. Aidan dan Andri kembali berjalan di depan, mereka menyinari jalan dengan senter. Karena cuaca dan keadaan gelap mereka kesulitan untuk melihat. Para gadis berjalan di tengah, dua gadis lain berpegangan sementara Aileen dan Syira tidak mungkin melakukan itu. Mereka tidak sedekat itu.


"Hati-hati, jalan sangat licin!" Andri memberi peringatan kepada yang lainnya.

__ADS_1


Jika di dalam hutan saja udara terasa dingin, apa lagi ditambah hujan deras. Mereka menggigil meskipun memakai jaket parasut. Andri melihat semak, dia berhenti dan memotong semak tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Kegelapan dan air hujan mengacaukan pandangan mereka.


"Apakah ini jalan yang benar?" Aidan ragu karena menurutnya jalan ini sedikit berbeda dari jalan saat mereka datang.


Hanan menuju ke depan dan memperhatikan. Memang sedikit berbeda jalan yang sekarang mereka lalui.


"Apa yang terjadi? Apakah kita tersesat?" Syira cemas, dia memang merasa jalan ini sangat lama, seharusnya mereka sudah sampai. Entah karena memnag tersesat atau karena jalan licin yang membuat mereka jalan pelan sehingga terasa lebih lama dari semestinya.


"Bagaimana ini?" cemas Aileen dan tiga gadis lainnya.


Hari semakin gelap, hujan belum juga reda. Mereka memperhatikan sekeliling. Perasaan takut menyelimuti mereka. Keadaan seperti ini, pikiran horor akan merayu, membuat yang mereka lihat menjadi sesuatu yang bergerak. Padahal itu hanya perasaan mereka saja. Pohon yang bergetak mungkin akan terlihat seperti orang.


"Tenanglah, jangan panik. Kita pasti akan menemukan jalan yang benar."


"Kalian tunggu di sini, gue dan Andri akan memeriksa jalan." Aidan dan Andri memeriksa jalan sekitarnya, memastikan bahwa mereka tidak salah jalan dan tersesat. Mereka ingat memberitanda tadi.


"Seprtinya belok sini?" tunjuk Andri ke arah kanan.


Aidan memperhatikan,


"Benar, gue ingat menebang ranting itu saat kita ke sini," jawab Aidan.


Mereka kembali lagi ke rombongan. Yang lain menunggu dengan cemas, ketakutan dan kedinginan. Andri dan Aidan paham, pasti mereka akan cemas, apalagi para wanita.


"Ayo ikuti kami!" perintah Andri.


Mereka kembali berjalan ke arah kanan, mengikuti Andri dan Aidan. Cuaca masih belum memperlihatkan akan menghentikan curah hujannya. Mereka terus berjalan di dalam kegelapan dan hujan yang semakin deras. Ransel mereka pun berat karena basah oleh hujan, membuat beban mereka bertambah, belum jalan yang licin, mereka harus benar-benar berhati-hati. Aileen tidak memperhatikan jalan, dia terpeleset.


"Aw!" teriak Aileen. Tubuhnya berguling-guling ke bawah jurang kecil.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties.


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2