
Bel pulang sekolah telah berbunyi, para siswa berbondong-bondong keluar kelas, tak terkecuali Aiko. Gadis itu melangkah dengan berat, takut Andri masih menjemputnya pulang sekolah.
Aiko berjalan terburu-buru untuk mengintip Andri. Dia tidak memperhatikan jalan sehingga tidak sengaja menabrak Bian. Aiko hampir terjatuh. Akan tetapi, Bian memegang pinggangnya dengan cepat. Aiko menutup mata karena takut jatuh, belum malu yang akan didapatnya.
Aiko heran mengapa tubuhnya tidak merasakan kesakitan? Gadis itu perlahan membuka mata dan pemandangan di depan wajahnya adalah wajah tampan Bian yang menatap padanya. Beberapa detik pandangan mereka saling mengunci sebelum akhirnya, Aiko berdiri dengan tegap.
"Te--terima kasih," gugup Aiko. Mereka berada pada situasi canggung. Aiko kemudian melangkah karena Bian tidak mengatakan apa-apa.
"Pria yang menjemput loe, apakah dia pacar loe?" Bian bertanya masih dengan posisi yang sama.
Aiko menghentikan langkahnya. Namun, gadis itu tidak menoleh. Dia menimbang apa maksud dari Bian. Mengapa pria itu tiba-tiba bertanya tentang hal itu?
"Maaf, aku harus pergi." Aiko memilih untuk tidak menjawab, gadis itu meninggalkan Bian dengan cepat agar tidak bertanya lagi.
Bian hanya berdiri sambil menatap punggung Aiko. Pria itu menarik nafas, bersiap untuk pergi.
"Kok loe duluan, sih?" Rian teman Bian, datang bersama yang lain. Mereka merangkul bahu Bian dan berjalan menuju gerbang.
Aiko telah sampai di pagar gerbang, gadis itu kembali mengintip ke arah biasa Andri menunggunya. Gadis manis itu lega karena pria yang sedang dihindarinya tidak ada di sana. Sepertinya hari ini Andri tidak menjemputnya.
Aiko berlari, agar cepat sampai ke pemberhentian angkot. Siapa tahu ternyata Andri telat. Saat berlari Aiko justru bertabrakan dengan Rebecca, bersyukur mereka tidak terjatuh.
"Maaf!" ucap Aiko, dia melihat siapa yang ditabraknya, ternyata wanita yang menyebalkan versi Aiko.
"Loe nggak punya mata, ya!" hardik Rebecca. Dia menatap Aiko dengan kesal.
"Gue hanya buru-buru, lagian--loe juga punya mata, 'kan? Kenapa loe nggak mengelak," balas Aiko.
"Loe?" Rebecca seperti akan memukul Aiko.
"Udah Bec, nggak usah diladeni. Bian di belakang," bisik Jia.
Rebecca melihat ke belakang dan benar saja Bian sedang menuju ke arah mereka.
"Loe beruntung kali ini." Rebecca dan teman-temannya meninggalkan Aiko.
Aiko tidak berlari lagi, gadis itu berjalan seperti biasa. Aiko terus berjalan menutupi wajah karena takut, jika Andri bisa saja baru datang. Langkah Aiko terhenti karena sebuah motor tepat berhenti di depannya. Gadis itu mengangkat wajah dan benar saja motor Andri yang berada di depannya.
"Naik!" perintah Andri, pria itu membuka helm dan menoleh ke arah Aiko.
__ADS_1
Aiko masih berdiri, mematung, gadis itu ragu. Dia sudah berusaha menghindari Andri.
"Apa perlu, gue gendong?" ancam Andri. Aiko tersadar dari diamnya. Gadis itu cepat naik ke motor Andri.
Bian yang berada di belakang Aiko menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dia memandang Aiko sampai gadis itu menghilang.
Andri terus melajukan motor, dia tidak berbicara, begitupun dengan Aiko. Gadis itu hanya diam saja. Andri menghentikan motor memasuki cafe terdekat dari sekolah. Aiko heran karena motor berhenti. Gadis itu turun, diikuti Andri.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Aiko.
"Lapar," jawab Andri cuek. Pria itu menaruh helm dan masuk ke dapam cafe.
Aiko membalikan tubuh dan berjalan menuju tempat pemberhentian angkot. Andri merasa Aiko tidak mengikutinya, pria itu menoleh dan melihat Aiko pergi. Andri berlari dan menarik tangan Aiko, membuat gadis itu refleks berputar dan menghadap pria itu.
"Mau kemana?"
"Pulang," jawab Aiko.
Andri menarik nafas, dia kesal karena Aiko menghindarinya.
"Gue yang akan antar loe pulang, jadi temanin gue makan dulu." Andri menarik tangan Aiko untuk masuk ke dalam cafe.
"Aiko nggak lapar, Bang," tolak gadis itu.
"Ya, udah Abang makan sana, Aiko pulang," kesal Aiko.
"Please! Jangan buat keributan di sini. Setelah makan ada yang mau gue omongin," mohon Andri.
Aiko akhirnya mengalah, gadis itu pasrah mengikuti Andri. Dia juga akan mengatakan sesuatu dengan tegas kepada Andri, bahwa dia tidak mau di jemput Andri lagi.
Andri memilih tempat duduk di pojok, pelayan langsung datang dan memberikan daftar menu. Andri dengan cepat memesan makanan, begitu juga dengan Aiko. Begitu pelayan pergi untuk mrnyiapkan pesanan mereka, Aiko langsung bertanya,
"Apa yang ingin Abang bicarakan?" Aiko melirik ke arah Andri.
"Nanti, aja setelah makan." Andri mengambil ponselnya dan melihat sms yang masuk. Aiko terpaksa hanya bengong karena gadis itu tidak memiliki ponsel.
Tidak lama pelayan datang membawakan makanan mereka. Andri mulai makan, begitupun dengan Aiko, gadis itu makan dengan cepat agar segera berbicara. Andri melihat ke arah Aiko, gadis itu berada di depannya. Andri mengambil tissu dan melap mulut Aiko yang berlepotan, saking buru-burunya gadis itu makan. Aiko menoleh ke arah Andri, kemudian menunduk.
"Kenapa loe menghindari gue?" Andri meminum jus jeruknya. Mereka telah selesai makan. Aiko yang sedang meminum jusnya langsung terbatuk, untung airnya tidak menyembur dan mengenai wajah Andri.
__ADS_1
Pria itu memberikan air putih kepada Aiko, yang diterima oleh gadis itu dan langsung meminumnya.
"Loe nggak pa-pa?" tanya Andri.
"Aiko baik-baik saja." Aiko meletakan gelas dan menatap pria di depannya.
"Jadi kenapa loe menghindari gue?"
"Aiko tidak menghindar," bohong gadis itu.
"Loe pikir gue nggak tahu kalau loe sembunyi di balik pagar dan menyuruh teman loe berbohong."
Aiko terkejut, bagaimana Andri tahu dia bersembunyi di balik pagar?
"Gue lihat loe, dan gue menghormati apa yang lukakuin, tapi gue nggak tahu kenapa? Katakan dengan jujur." Andri menunggu reaksi Aiko. Gadis itu kelihatan salah tingkah. Dia menggosok-gosok pahanya, berpikir jawaban apa yang akan diberikannya kepada Andri.
Kemudian Aiko teringat, bahwa dia harus tegas. Dia tidak ingin dekat dengan geng motor.
"Baiklah, Aiko akan jujur. Apa niat Abang mendekati Aiko? Apa Abang suka sama Aiko? Atau Abang sedang mencari mangsa anak sekolah yang masih lugu?" tanya Aiko dengan berani.
Andri melotot, tidak percaya jika Aiko menembaknya dengan hal itu.
"Apa kau gadis dengan kepercayaan diri tinggi?" ejek Andri, dia tidak ingin kehilangan muka, meskipun dia memang berniat mendekati Aiko karena memang suka dengan gadis itu.
Giliran Aiko yang melotot, wajah gadis itu memerah karena malu. Dia merasa ingin menghilang dari sana?
"Kalau gitu, maafkan Aiko." Gadis itu beranjak dari kursi dan melangkah. Andri memegang tangan Aiko membuat gadis itu berhenti.
"Duduklah, kita belum selesai."
Aiko kembali duduk, meskipum kesal.
"Jika gue memang suka, apakah loe akan menolak?" Andri mengatakan itu tanpa ekspressi.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya besties.
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad