
Aidan membuka pintu rumahnya dengan malas. Dia masih lemas meskipun tidak demam lagi. Luka di tubuhnya pun semakin lama semakin sembuh.
"Elo, ngapain lagi, sih," kesal Aidan yang tidurnya terganggu karena kedatangan Andri.
"Harusnya loe bersyukur gue datang, bawa makanan lagi." Andri menunjukan kantong belaanjaan. Andri menerobos masuk rumah.
"Kalau cuma pergi beli makanan, gue masih sanggup, kok. Loe pulang aja, gue mau tidur lagi." Aidan berjalan menuju kursi ruang tamu dan kembali berbaring. Aidan tidak pernah membawa siapa pun ke kamarnya, kecuali bibi yang membantu dia membersihkan rumah dan mencuci pakaiannya.
"Siapa tau loe koit, terus jasad loe membusuk, berabe, 'kan?" Andri meletakan plastik yang berisi makanan di atas meja.
"Sadis amat, sih loe, sampai do'a-in gue koit." Aidan melempar bantal kursi kearah Andri dan tepat mengenai wajah Andri yang tak seberapa tampan jika dibandingkan dengan Aidan.
"Ya ampun Aidan, loe suka main kasar, ya? Padahal loe lagi sakit, loh, masih aja tenaga loe ada." Andri kembali melempar bantal ke arah Aidan yang dengan cekatan tangan Aidan menerima bantal tersebut.
"Serah loe, deh. Gue mau lanjut tidur lagi, masih lemas gue." Aidan mencoba memejamkan matanya.
"Makan dulu, deh," ujar Andri.
"Masih nggak mood makan gue," elak Aidan dia membalikan tubuh menghadap sandaran sofa.
"Apa perlu, gue ambilin piring dan siapain makanan ini buat loe?" saran Andri.
"Udah kayak bini loe, aja gue," gerutu Andri.
"Nggak usah, najis gue dengarnya," sewot Aidan.
"Haha. Ya udah kalau loe, belum mau. Senin udah mulai ambil mata kuliah, jangan sampai loe lupa lagi kayak semester sebelumnya," sindir Andri. Pria itu tahu bahwa Aidan sering menyepelekan kuliahnya. Padahal kalau Aidan lebih rajin dikit aja, Andri yakin tahun ini Aidan bisa lulus.
"Iya, Senin gue ke kampus." Aidan kembali mengganti posisi telentang dan memejamkan matanya, sambil menutup wajah dengan lengannya.
"Tadi gue makan siang bareng Risa," curhat Andri. Andri memang jadi memperhatikan Risa sejak anak itu menyatakan cinta kepadanya saat Risa dihukum. Soalnya jarang-jarang Andri diperhatikan gadis-gadis. Padahal wajah Andri lumayan, tidak jelek. Hanya saja berada di samping Aidan, auranya kalah dari Aidan yang memang secara wajah ganteng banget dan juga kalau mereka tahu bahwa Aidan kaya raya. Bisa dipastikan seisi kampus naksir Aidan. Apalagi geng idola yang matrealistis tahu.
__ADS_1
Aidan hanya diam tanpa merespon karena menurutnya itu tidak menarik. Apa pedulinya dengan kisah cinta sahabatnya itu, tidak penting.
"Sebenarnya gue mau tanya sama dia, udah punya pacar apa belum, tapi kenapa gue jadi bicarakan eloe sama dia, ya? Kalau Risa suka sama loe, jangan diterima ya?" pinta Andri. Andri khawatir jika Risa juga suka sama Aidan.
"Bodo, ah," Aidan masih menutup matanya.
"Tapi nggak pa-pa lah cerita tentang loe, daripada nggak ada bahan gue. Lagi asik-asik cerita eh teman dia yang Aileen datang." Nada kesal dari bibir Andri.
Andri berpikir jika Risa suka sama Aidan karena Risa banyak bertanya tentang Aidan.
"Aileen!" Aidan langsung duduk dari posisi tidurnya.
"Iya itu cewek yang sempat menghebohkan kampus. Gara-gara loe boncengin pulang?" sindir Andri. Andri sendiri tidak mengerti, tumben Aidan menawarkan cewek untuk naik motornya? Andri yang temannya saja jarang dibonceng kalau tidak terpaksa dan itu bisa dihitung dengan satu tangan yang ada 5 jari.
"Dia aman, bukan? Loe nggak kasih hukuman yang aneh-aneh, 'kan buat dia?" selidik Aidan.
"Gue mah nggak, nggak tau yang lain?" jawab Andri cuek. Dia berjalan ke dapur Aidan.
"Gue mau minum, loe emang, ya. Tuan rumah nggak ada akhlak. Tamu datang nggak disuguhi minum, padahal gue, 'kan bawain loe buah tangan." Andri melanjutkan menuju dapur. Dia mengambil air dingin di kulkas dan membawa 2 gelas ke ruang tamu.
"Loe tamu yang nggak gue harapin!" teriak Aidan.
"Terus?" tanya Aidan penasaran dengan keadaan Aileen. Dia langsung bertanya begitu Andri kembali ke ruang tamu.
"Terus apa?" heran Andri. Dia duduk dan meletakan air dan gelas di atas meja.
"Itu Aileen, siapa yang ngerjain dia? Padahal gue udah pesan sama Hanan buat jagain dia," kesal Aidan. Dia juga kesal kenapa mesti sakit. Jadi tidak bisa melihat dan menjaga Aileen.
"Yah, Hanan, 'kan nggak mungkin pantau dia terus. Lagian wajar lah, mahasiswa baru dikerjain, kayak loe nggak tau aja," ejek Andri.
"Eh, tapi dia nanyai keadaan loe loh?" Andri menuang air ke dalam gelas dan meminumnya sekali teguk.
__ADS_1
"Benar? Terus?" antusias Aidan.
"Cuma tanya keadaan loe aja dan gue jawab panas loe sering naik turun. Gue justru penasaran, loe kenapa tumben boncengin tu bocah? Heboh satu kampus, tu anak kayaknya dijahilin mahasiswa baru lainnya, deh." Andri meletakan gelas yang masih dipegangnya.
"Pulang aja, deh loe." Aidan menarik tangan Andri dan menyeretnya keluar. Kemudian menutup pintu. Aidan tidak suka orang mengusik masalah pribadinya, apalagi tentang perasaannya.
"Dasar teman gila!" teriak Andri dari balik pintu. Andri pergi meninggalkan rumah mewah Aidan.
Kadang Andri kasihan dengan Aidan yang tinggal sendiri. Mana orang tuanya nggak pernah lagi nengokin anaknya. Meskipun papa Aidan selalu mengiriminya uang lebih dari cukup untuk keperluan Aidan.
Andri ingat saat mereka sama-sama di SMA, Aidan yang bosan dan tidak tahu untuk melepaskan kesepiannya mulai membentuk genk motor. Genk motor mereka akhirnya mulai besar. Bahkan wilayah kekuasaan mereka sudah mulai bertambah. Awalnya mereka hanya melakukan balapan liar dengan taruhan. Kemudian beralih menuju bisnis pengantaran paket penting.
Bahkan Aidan yang hobby keluar masuk diskotik dan tempat karaoke, tertarik dengan membuka diskotik dan karaoke. Tidak banyak yang tahu bahwa Aidan telah memiliki beberapa saham diskotik dan karaoke. Namun, Aidan juga memiliki satu Diskotik dan karaoke full dia yang punya. Tentu saja dari hasil pendapatan genk mereka balapan liar dan pengantaran paket, juga ditambah dari uang papanya. Namun, papa Aidan tidak tahu jika anaknya membuka usaha seperti itu.
Tawaran bisnis narkotika pun berdatangan kepada Aidan. Hanya saja untuk hal itu Aidan menolaknya. Hanya Andri yang tahu bisnis Aidan itu karena Andri adalah kaki tangannya. Andri sendiri berasal dari keluarga sederhana. Saat di sekolah Andri sering dibully oleh teman-teman dan kakak kelas mereka. Sampai Aidan menolongnya dan sejak saat itu Andri menjadi sahabat Aidan. Dan sejak Andri ikut sama Aidan perekonomian keluarga Andri pun menjadi terbantu. Bahkan Andri bisa membeli motor sendiri dengan gajinya itu.
Bahkan orang tua Andri telah menganggap Aidan seperti anak mereka sendiri.
🍒🍒🍒
Sambil nunggu author up, silahkan mampir ke karya temanku ya besties!
Jangan lupa nyawer ya besties.
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1