
Prakk..
Tamparan ayah Nisa yang kuat membuat wajah mungilnya memerah.
"Sekarang kau sudah berani menentang ayah ya." ucap pak Darto kesal
"Aku hanya tidak ingin menikahinya ayah, aku berhak menentang pernikahan ini." ucap Nisa tegas
Pak Darto semakin marah mendengar perkataan Nisa, ia mengambil vas bunga yang ada di meja dan melempar tepat di depan Nisa.
Pranggg..
Nisa kaget, dia tidak bisa berkata-kata, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Berhentilah membangkang Nisa dan turuti perkataan ayahmu." ucap seorang wanita berjalan menuruni anak tangga.
Nisa hanya menatap wanita yang biasa ia panggil Ibu.
"Aku tidak mencintainya, aku tidak mengenalnya, bahkan kalian pun tidak tahu seperti apa rupanya. Apa kalian ingin memberikan putri kalian kepada orang asing?" tanya Nisa
"Putri..?" tanya ibu Nisa
Nisa kaget mendengar pertanyaan ibunya.
"Kau bukan putri kami, kau bukan anak dari keluarga ini, kau hanya anak angkat di keluarga ini." ucap ibu Nisa.
Nisa tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya menatap kedua orang tuanya seakan tak percaya dengan perkataan ibunya.
"Ti..tidak mungkin, kalian pasti bercanda." ucap Nisa mencoba tersenyum.
"Ayolah kak, terima saja kenyataan ini." ucap Lili meledek.
Nisa masih tidak percaya, ia mencoba memikirkan masa lalunya, ia tidak pernah dicampakkan keluarganya, ia selalu mendapat perhatian dan kasih sayang keluarganya.
"Tidak mungkin, kalian begitu menyayangiku, aku pasti bukan anak angkat kalian, aku pasti anak kandung kalian?" tanya Nisa.
Ayah Nisa semakin marah mendengar ucapan Nisa.
"Cukup." tariak Ayah Nisa
Ketiga wanita itu kaget mendengar teriakan laki-laki paruh baya itu.
"Besok wakil direktur perusahaan MAN akan ke sini, kau persiapkanlah dirimu dan ingiat, semua kasih sayang yang kami berikan hanya sandiwara."ucap pak Darto dan langsung meninggalkan ruang keluarga.
Nisa hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, ia berfikir "kenapa semua harus terjadi padaku?"
Lili berjalan mendekati Nisa dan memeluk Nisa.
"Aku dengar direktur utama perusahan MAN sudah punya 3 istri, mungkin kau yang ke 4 kak." bisik Lili dengan senyum merendahkan.
Lili melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Nisa bersama ibunya.
__ADS_1
Lagi-lagi Nisa hanya bisa diam, dia mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar.
Nisa menghela nafas panjang dan mencoba untuk berfikir positif, tapi itu semua tidak berhasil semakin ia mencoba untuk memikirkan hal yang baik semakin ia memikirkan hal yang baru saja terjadi.
Nisa melangkah perlahan menuju kamar, kakinya yang gemetar seakan tak sanggup lagi untuk melangkah.
Cuaca buruk di malam hari seakan mengerti dengan apa yang dirasakan Nisa, air mata mengalir di pipi Nisa. Nisa hanya bisa menangis di kamarnya, kejadian yang terjadi membuat Nisa merasa sangat terpukul.
***
Semua orang berkumpul di ruang makan kecuali Nisa. Mereka bersikap seperti tidak terjadi apa-apa kemarin malam.
"Tuan, wakil direktur MAN di sini." bisik pelayan pada pak Darto.
Pak Darto tersenyum dan langsung beranjak menuju ruang tamu.
"Selamat pagi wakil direktur Tio." sapa pak Darto dengan senyum manis pada laki-laki tampan itu.
"Pagi pak Darto." jawab Tio dengan senyum manis.
"Silahkan duduk." ucap pak Darto.
Tio hanya tersenyum dan langsung duduk di kursi. Ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.
"Saya tidak perlu basa-basi, ini adalah surat perjanjian dari pihak kami, selama kalian tidak melanggar perjanjian itu maka bisnis keluarga ini akan tetap aman." ucap Tio memberikan map itu.
"Saya tidak akan mengecewakan perusahan MAN, saya berjanji." ucap Pak Darto sembari menyerahkan surat perjanjian itu.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda pak. Untuk resepsi pernikahan semua akan kami persiapkan." ucap Tio.
Tio mengambil surat perjanjian itu dan beranjak dari tempat duduknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu."ucap Tio berjalan meninggalkan ruangan itu
"Tunggu." ucap pak Darto
Tio menghentikan langkahnya dan memutar badannya.
"Apa direktur Angga tidak ke sini."tanya pak Darto ragu-ragu.
Tio hanya tersenyum mendengar pertanyaan pak Darto.
"Direktur sedang melakukan perjalanan bisnis, jadi dia tidak bisa datang hari ini."jawab Tio.
"Ooh begitu, baiklah sampaikan salam saya kepada Direktur Angga."ucap pak Darto tersenyum.
"Baiklah." jawab Tio dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
***
__ADS_1
"Semuanya sudah beres, tinggal lakukan rencana selanjutnya."ucap Tio pada laki-laki di dalam mobil mewah.
Laki-laki itu hanya tersenyum sinis dan langsung pergi meninggalkan Tio.
***
Setelah kepergian Tio pak Darto pergi menemui Nisa di kamarnya.
Nisa hanya duduk terdiam memandang ke luar jendela.
"Pernikahanmu sudah ditentukan, jadi jangan membuat masalah dan mempermalukan keluarga ini." ucap pak Darto dan langsung pergi meninggalkan Nisa di kamarnya.
Nisa hanya diam, tidak ada yang bisa ia lakukan. Nisa tidak bisa menolak bahkan tidak bisa mengucapkan kata tidak lagi, karena ia tahu itu semua tidak akan berguna.
Ia hanya bisa menerima nasibnya yang begitu buruk.
Hari pernikahan
Gedung yang megah dan dekorasi pelaminan yang mewah membuat acara pernikahan ini banyak dibicarakan orang, bahkan banyak wartawan yang datang karena penasaran dengan wajah direktur Angga.
Gaun putih yang indah dan riasan yang cantik tidak bisa menutupi kesedihan Nisa. Sudah berapa hari Nisa tidak bicara, dia terus mengurung dirinya di kamar.
Di saat hari pernikahannya pun ia tak merasa bahagia.
"Pernikahan, ini bahkan seperti jual beli barang di pasar."ucap Nisa kesal.
Nisa duduk di ruang pengantin sambil menunggu pengantin laki-laki tiba, ia terus berfikir apa yang akan terjadi padanya setelah dia menikah.
Seperti apa rupanya, berapa umur suaminya? Nisa bahkan tidak tahu hal itu. Hanya ada beberapa rumor mengatakan bahwa direktur Angga adalah laki-laki hidung belang yang punya banyak wanita simpanan, dan bahkan sudah punya 3 istri di umur 50 tahun.
"Hhhhhh…" Nisa menghela nafas.
Sudah 30 menit berlalu tetapi direktur Angga belum juga tiba di tempat resepsi. Semua orang mulai gelisah, bahkan kedua orangtua angkat Nisa mulai merasa tidak tenang karena semua orang mulai membicarakan mereka.
"Apa yang terjadi, ini sudah setengah jam kenapa direktur belum datang?" Tanya bu. Nanda pada pak Darto dengan nada kecil.
"Bagaimana aku tahu, lebih baik sekarang kita bertanya pada tuan Tio." Jawab pak Darto berbisik.
"Lili pergi temui Nisa pastikan dia masih berada di sana." perintah bu. Nanda.
Lili langsung mengikuti perintah ibunya, ia bergegas menemui Nisa di ruang pengantin.
Sedangkan pak Darto dan bu Nanda menemui Tio.
__ADS_1