Suami Tampanku

Suami Tampanku
eps.5


__ADS_3

  Setelah setengah jam Tio kembali dan memberi kabar kepada Angga bahwa semua urusan telah diselesaikan.


  Hanya dengan menandatangani selembar kertas saja perusahan Su sudah berada di bawah kuasa Angga.


"Direktur anda sungguh hebat, dalam sekejap anda sudah bisa mendapatkan perusahan Su itu." ucap salah satu gadis di sisinya dengan nada manja.


   Angga hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.


   Nisa merasa tidak nyaman dengan suasana di dalam kamar itu, ia membuka langkahnya dan pergi meninggalkan kamar itu.


"Aku tidak ingat kalau aku menyuruhmu untuk pulang." ucap Angga.


  Mendengar perkataan Angga Nisa menghentikan langkahnya.


"Di sini menjijikan, aku ingin pulang dan membersihkan diri." tegas Nisa.


"Menarik, tapi kamu tidak berhak untuk pergi dari kamar ini tanpa persetujuanku." tegas Angga.


  Nisa membalikkan badannya dan melangkah perlahan mendekati Angga.


"Apa hakmu melarangku untuk pergi, ini tubuhku jadi aku berhak bergerak semauku tanpa perintah darimu." ucap Nisa mendekatkan mukanya ke hadapan Angga.


"Aku suamimu jadi aku berhak atas dirimu, apa kau lupa itu?" ujar Angga.


  Nisa tertawa tipis mendengar perkataan Angga.


"Hahahh..kau bukan suamiku, kau tidak pernah melakukan kewajibanmu sebagai suami." ucap Nisa dan mulai membuka langkahnya.


   Angga mernarik tangan Nisa dengan kuat hingga Nisa terjatuh di pangkuan Angga.


"Jadi kamu ingin aku memenuhi kewajibanku, baiklah akan aku lakukan." ucap Angga dengan tatapan seolah ingin melahap Nisa sekarang juga.


"Apa yang dipikirkan laki-laki ini." gumam Nisa dalam hati.


"Kalian semua keluar." perintah Angga.


    Tio langsung mengikuti perkataan Angga dan langsung membawa semua wanita yang ada di kamar itu keluar meninggalkan Nisa dan Angga berdua di dalam kamar.


"Di sini atau tempat tidur?" tanya Angga menggoda Nisa.


"Aa...aapa..?" Nisa kaget.


   Tanpa pikir panjang Angga langsung menggendong Nisa ke atas tempat tidur.


"Brukkk." 


   Nisa terbaring di kasur, bahuya sakit karena hempasan kuat yang dilakukan Angga.


   Tanpa pikir panjang Angga langsung naik ke atas tubuh Nisa dan menggenggam kedua tangan Nisa.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku." Nisa memberontak.


"Bukankah ini yang kau inginkan." ucap Angga.


"Hentikan omong kosongmu, lepaskan aku." mencoba melepaskan genggaman Angga.


    Angga semakin menggenggam erat kedua tangan Nisa dan menindih kaki Nisa dengan kedua kakinya.


"Lepaskan aku, kalau tidak aku akan teriak." ancam Nisa.

__ADS_1


"Itu tidak akan berguna, ruangan ini kedap suara jadi tidak ada yang akan mendengarmu." ujar Angga.


   Nisa marah dan semakin memberontak.


"Aku bilang lepaskan aku ********." Nisa terus memberontak dan akhirnya bisa melepaskan tangannya dari genggaman Angga.


"Prakk." Nisa menampar pipi Angga dengan keras.


   Angga menyentuh pipi kirinya dan tersenyum sinis pada Nisa.


"Kau adalah wanita pertama yang berani menamparku." ucap Angga dan beranjak dari tempat tidur.


  Angga mengambil bir yang ada di meja dan meminum semuanya sendiri.


"Apalagi yang akan dilakukannya." gumam Nisa sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Kau sungguh menarik." ucap Angga berjalan mendekati Nisa.


"Apa maksudmu?" tanya Nisa.


   Angga berbaring di atas kasur dan menarik Nisa ke pelukannya.


"Lepaskan!" bentak Nisa.


"Aku mengantuk." ucap Angga membalikan tubuh Nisa sehingga mereka berdua berhadapan.


   Nisa kaget, saat melihat wajah Angga dari dekat. Jantungnya berdetak kencang.


"Tampan sekali." ucap Nisa dalam hati.


   Angga langsung memejamkan matanya dan tidur sambil memeluk Nisa.


  Melihat Angga tertidur, Nisa merasa tidak tega untuk membangunkannya, jadi Nisa memilih untuk tetap diam dan terus berada di pelukan Angga hingga Nisa pun ikut tertidur.


  Nisa beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Tok,tok,tok


Nisa menghentikan langkahnya.


"Siapa?"tanya Nisa.


"Tio." jawab Tio.


"Masuklah!" perintah Nisa.


    Tio masuk ke dalam kamar bersama beberapa pelayan yang membawa pakaian dan barang mewah lainnya.


"Bukankah kau ada kelas hari ini." ujar Tio.


"Aaa itu, iya." jawab Nisa.


"Ini semua pakaian yang disiapkan direktur." ucap Tio.


"Ap,apa?." Nisa kaget.


"Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Tio dan langsung meninggalkan kamar itu.


  Nisa tertegun, dia tak percaya dengan semuanya.

__ADS_1


"Kenapa laki-laki itu, apa otaknya bermasalah?" pikir Nisa.


   Nisa menghela napas, Nisa membuka langkah dan mengambil handuk untuk mandi.


Kampus,


  Karena kejadian kemarin Nisa tidak fokus dalam pelajaran hingga akhirnya dia di suruh oleh dosennya untuk mengerjakan tugas yang di berikan khusus untuk Nisa seorang.


  Mendapat tugas dari dosen membuat Nisa semakin stres memikirkannya, untuk menenangkan diri Nisa berpikir untuk mengerjakan tugas di taman kampus sendirian.


"Aakkhhhhhh." gumam Nisa sambil menggaruk kepalanya.


"Ini membuatku gila." ucap Nisa meletakan kepalanya di atas meja.


  Nisa mencoba untuk fokus pada tugasnya, tapi semua usahanya tidak berhasil. Ia hanya bisa diam sambil mencoba menenangkan pikirannya.


"Kamu kenapa Nis?" tanya Bram dari belakang.


  Nisa mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bram.


"Kak Bram, bikin kaget aja." ucap Nisa.


"Kayaknya kamu banyak pikiran deh, ada masalah apa?" tanya Bram sambil memberikan minuman dingin pada Nisa.


"Akhh ini, aku dapet tugas dari dosen." jawab Nisa.


"Mau aku bantu?" tanya Bram mencoba menawarkan bantuan.


"Emang gk ngerepotin ni?" tanya Nisa.


"Gak tenang aja." ucap Bram meyakinkan Nisa.


  Bram membantu Nisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen Nisa.


  Sebenarnya Bram sudah lama menyimpan perasaan pada Nisa hanya saja dia tidak berani untuk mengatakannya pada Nisa. Bram selalu membantu Nisa di saat kesusahan dan selalu ada saat Nisa sedih.


"Apa dia juga punya perasaan sama aku?" tanya Bram dalam hati sambil menatap Nisa.


"Kenapa kak?" tanya Nisa yang tidak sengaja melihat Bram menatap dirinya.


"Emm gak papa." ucap Bram tersenyum.


   Setelah 2 jam mengerjakan tugas, akhirnya Nisa dan Bram selesai mengerjakan tugas itu.


"Akhirnya selesai juga, makasih ya kak udah bantuin." ucap Nisa tersenyum manis.


"Iya sama-sama." Bram membalas dengan senyum manis.


"Senyum-senyum aja terus, sampe keriput tu muka." ucap Tara dari kejauhan, mengagetkan Nisa dan Bram.


"Lo kemana aja Nis? kita cariin dari tadi." tanya Mely.


"Ehh itu.." jawab Nisa di potong Tara.


"Lo gak liat Mel, orang lagi paran lo cariin. Gak peka lu." ucap Tara dan langsung duduk di depan Nisa dan Bram.


   Mendengar ucapan Tara, Bram tersipu ia menatap Nisa untuk melihat reaksi dari Nisa.


  Nisa hanya menundukan kepala mendengar candaan Tara. 

__ADS_1


"Gak kok, kitak gk pacran. Kak Bram cuman bantuin aku ngerjin tugas, yakan kak." ucap Nisa menjelaskan.


"Iya." sahut Bram sedikit kecewa.


__ADS_2