
๐น๐น๐น๐นSelamat membac****a๐น๐น๐น๐น
โข
โข
โข
โข
Disana Ica di manjakan oleh Aldo. Apapun yang Ica inginkan akan di penuhi oleh Aldo. Mulai dari menonton, berenang, kuliner samapi berfoto dengan berbagai fitur lucu, seperti kelinci, kucing, kumis dan lainnya.
Ica sangat bahagian dan begitupun dengan Aldo. Sesaan letih serta segala fikiran yang membebani Aldopun lenyap saat bersama sang istri. Hanya ada kebahagiaan yang terjadi. Ketika malam hari tentu saja saatnya membuat dedek junior Aldo. Agar sepulangnya mereka segera mendapatkan hasil dari kerja keras Ica dan Aldo. Jika sudah malam watunya pertempuran ranjang di mulai.
Tadinya Aldo memutuskan untuk berlama selama 2 minggu saja. Namun, Ica merasa betah dan ingin di tambahkan waktunya untuk lebih lama lagi berada disana. Aldopun mengikuti keinginan Ica.
Hari ini jadwa untuk Ica dan Aldo bersantai di pantai sambil menikmati mati hari terbenam. Aldo terus memotret Ica tak henti.
"Mas, udah dong. Kamu foto aku mulu, aku malu." ucap Ica.
"Biarin ajah aku mau di hp aku semua penuh foto kamu." ujar Aldo yang melanjutkan kembali memfoto Ica.
"Tapi aku laper, Mas. Peru aku udah demo nih, mau di isi. Cacing-Cacing di perut udah pada pingsan kelaperan, Mas." ucap Ica.
"Hehe, ada-ada aja kamu. Yasudah kamu tunggu di sini aku ke sebrang jalan sana buat pesen makan." ucap Aldo.
"Oke, Mas." ucap ica tersenyum.
Saat Ica tengah duduk menikmati pemandangan tiba-tiba ada botol kaleng melayang mengenai dahi Ica.
"Aw! Aduh siapa sih, lempar sampah sembarangan. Memang Ica tempat pembuangan sampah apah!" kesal Ica mengusap dahinya.
Dan pelakunya tak lama datang.
"Maaf, Mba. Saya tidak sengaja. Saya lagi banyak masalah. Saya meluapkan emosi saya ke kaleng terus kena kepala Emba deh. Hehe, maaf ya Mba." ucap pria itu bicara tanpa mengerem.
"Aduh, Ma-abang aduh manggilnya apa lagi." gumamnya.
"Dio, Emba dapat memanggil saya Dio." ujar Dio.
"Ini semua gara-gara, Mas. Kenapa sih ada larangan enggak boleh maggil orang lain dengan sebutan Mas." gerutu Ica.
"Mba? Hello?" ucap Dito melampaikan tangan di depan Ica.
"Oh, Iya. Dito kan?" ucap Ica.
"Dio, Mba. Enggak ada tambahan hufuf t'nya." ujar Dio.
"Oh, Iya Dio. Udah enggak apa-apa. Saya maafin kali ini." ujar Ica.
"Kok kali ini? berarti besok-besok atau lain kali enggak di maafin?" tanya Dio.
__ADS_1
"Yah, tergantung. Kalau kita bertemu lagi kalau tidak bagaimana?" ucap Ica.
"Yah, pasti kita bakalan ketemu lagi. Saya punya firasat mengatakan kita akan ketemu lagi lain kali." ujar Dio.
"Sok tau, udah sana! Kamu tuh ganggu orang lagi liat pemandangan." ujar Ica.
"sombong amat, enakan juga liatin saya. Dilandan lama enggak bakalan bosen." pede Dio.
"Ih, pede banget." ketus Ica.
"Hehe, abis Emba manis. Boleh dong minta no teleponnya." tanya Dio.
"Enggak!" ketus Ica.
"Buset, galak bener." ujar Dio menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bodo."ucap Ica acuh.
"Yasudah, kutinggalkan saja nomerku. Nih kalau sewaktu-wajtu Emba kangen. Hubungin saya." ucap Dio meninggalkan kartu namanya.
"Ih, enggak butuh." kesal Ica.
"Pasti butuh, udah yah ku tinggal sampai jumpa cantik." ujar Dio berlari meninggalkan Ica.
"Tuh, orang kaya kurang sehat. Di bilang enggak butuh masih aja di kasih." ucap Ica ingin membuang kartu itu. Namun niatnya di urungkan karena tidak boleh membuang sampah sembarang. Icapun memasukannya kedalam tas dan akan membuangnya saat di tempat penginapan.
15 kemudian Aldo datang dengan 2 piring di sisi kana dan kirinya.
"Tarat, makanan sudah datang." ucap Aldo.
"Ini, sayang. Aku beli sate lilit dan sate ayam biasa. Ada udang bakar juga." ucap Aldo.
"Wah, kayanya air liur aku udah keluar deh, Mas. Aromanya itu loh, Mas. Enggak bisa nolak." ujar Ica mengendus aroma sate lilit di depannya.
"Yasudah abisin semuanya. Nanti, kalau kurang kita tinggal pesan lagi." ujar Aldo.
"Kamu pengen aku jadi gemuk? Kalau begini mulu aku bukan hamil bayi kita tapi hamil karena terlalu banyak makan." ucap Ica.
"Sayang, mau kamu gemuk kek atau kaya gimanapun yang aku sayang itu yah diri kamu." ucap Aldo mengelus pucuk kepala Ica.
"Bohong, lelaki tuh pandai berbohong. Bilang sayang cinta. Nanti, pas ketemu cewek lain yang seksi, langsing plus bohay kamu pasti matanya langsung melotot." ujar Ica.
"Haha, memanga aku cowok murahan apa? kalau aku niat begitu mah untuk apa aku jalan sama kamu. Banyak cewek yang mau ku ajah jalan." ujar Aldo.
"Kok cemberut? Dimakan dong sayang. Aku ngantri tau belinya." ucap Aldo.
"Buat cewek-cewek kamu aja." ucap Ica cemberut.
"Sayang, ituka hanya perumpamaan. Tentu ajah aku maunya kamu, cuman kamu. Enggak butuh cewek lain. Masukin ajah ke kresek." ujar Aldo.
"Serius, Mas?" tanya Ica.
"Iya serius, aku harus apa biar kamu percaya." tanya Aldo.
__ADS_1
"Kamu nanya gitu, aku jadi kepingin makan kedondong, Mas." pinta Ica.
"Kedondong?" tanya Aldo.
"Iya. Tapi aku maunya langsung dari pohon. Tapi kamu ambilnya enggak boleh minta izin sama orangnya." jelas Ica.
"Yang bener ajah sayang. Kamu pengen aku di gebukin warga ya? Kalau ketahuan bahaya sayang. Izin ajah ya." pinya Aldo.
"Enggak boleh! Kalau, Mas enggak mau. Berarti cinta kamu bohongan. Dan kamu enggak aku maafin dan juga kamu enggak dapet jatah malam ini!"ucap Ica pergi meninggalkan Aldo.
"Yang, sayang. Ini makanannya gimana? Aku bungkus ya." ucap Aldo menghentikan Ica dengan membawa sate di sisi kanan dan kirinya.
"Sayang jangan ngambek dong, jangan ilangin jatah malem aku juga." ucap Aldo menyusul Ica yang berjalan semakin cepat.
"Iya, iya aku lakuin. Aku ambil enggak izin. Demi kamu aku rela di gebukin orang." teriak Aldo saat Ica mulai jauh.
Mendengar apa yang Aldo sampaikan Ica berhenti dan berbalik dengan senyum di wajahnya.
"Gitu dong. Sini satenya aku makan." ucap Ica mengabil sate di tangan Aldo.
"Aku juga laper, ake enggak di bagi sayang?" ucap Aldo memelas.
"Enggak! cepet cari kendondongnya, inget dari pohon langsung dan enggak boleh izin!" ujarnya kembali.
"Iya, iya."ucap Aldo pasra dan segera mencari pohon kedondong.
"Aduh pohon kedondong kaya gimana? Kedondong juga apa sih? Aku belum pernah makan." gerutu Aldo mencari pohon kedondong.
"Huf, kita cari di google dulu. Tanya mba dukun eh maksudnya mba google." ucap Aldo.
Ditika Aldo mengetik di tulisnya nama kedondong dan muculah gambar serta bagaimana bentuk pohonnya.
"Oh ini toh kedondong" ujar Aldo.
"Ini sih kaya banyak nih di rumah atau di jalan." ucap Aldo kembali.
Saat mencari-cari Aldo melihat pohon kedondong percis dengan apa yang ada di googel.
"Wah, itu pohon kedondong tuh, tapi rame banget. Enggak boleh izin lagi. Gimana nih." ucap Aldo.
Akhirnya Aldo meutuskan menunggu hingga sepi.
Aldopun sampai terkantuk kantuk dan perutnya terus berbunyi.
3 jam kemudia susana pun mulai sepi.
"Keliatanya udah sepi. Waktunya beraksi." ujar Aldo keluar dari mobil.
Dilihatnya ke kanandan kekiri memastikan bahwa keadaan aman.
"Aduh, tegang banget. Gini yah yang namanya mencuri. Kok maling kuat amat jantungnya nyuri barang orang. Ini ambil kedondong ajah udah kaya golong di depan leher. Ngeri, demi kamu nih sayang aku rela nyuri juga biar kamu seneng." batin Aldo dengan keringan sebesar biji jagung membanjiri wajahnya.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บSampai jumpa๐บ๐บ๐บ๐บ