
๐น๐น๐น๐นSelamat membaca๐น๐น๐น๐น
โข
โข
โข
โข
Aldo menjadi delema apa jalan yang harus di pilihnya. Memberitahukan semuanya kepada Ica atau kutangani semunya sendiri.
Malam datang Ica tersadar.
"Mas." ucapnya lemah.
"Sayang, gimana keadaanmu? Apakah ada yang kamu butuhkan?" tanya Aldo.
Ica menggelengkan kepalanya pelan."Tidak, aku baik-baik saja, hanya kepala ku sedikit pusing, Mas."jelas Ica.
"Kalau bigitu makan dulu baru minum obatnya ya sayang." ucap Aldo.
"Ia, Mas." ucap Ica tersenyum.
"Apakah aku lebih baik sakit saja, dengan begitu, Mas bisa merawat dan memperhatikanku seperti ini." batin Ica.
Aldo membantu mendudukan Ica yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
Setelahnya Aldo mengambil semangkuk bubur.
__ADS_1
"Ini sayang, aa.." ucap Aldo menyuapin Ica.
Ica membuka mulut dan menerima suapan Aldo. Suapan ke empat Ica merasa perunya sudah terisi penuh.
"Sudah, Mas. Aku sudah kenyang." ucap Ica menolak suapan berikutnya.
"Satu suapan lagi saja." pinta Aldo.
"Em, aku sudah kenyang, Mas." ujar Ica.
"Yasudah baiklah. Kusiapkan obatnya." ucap Aldo.
Diberikannya beberaoa obat dan vitamin.
"Terimakasih, Mas." ucap Ica, diminumnya obat yang Aldo berikan.
"Jika sudah, kamu istirahat saja terlebih dahulu." ucap Aldo.
"Ada beberapa berkas yang mesti Mas tangani." ucap Aldo.
"Tapi aku tidak mau tidur jika mas tidak ads, aku mau tidurnya temani kamu." pinta Ica.
Dilihatnya Ica memasang muka memelas dan sedih siapa yang tega meninggalkan istrinya seperti ini dan mana mungkin juga mulu ini berkata tidak.
"Baiklah, Ratuku." ucap Aldo membukukan badan.
"Haha, kamu bisa saja, Mas." ucap Ica tersenyum.
"Begitu dong, tertawa dan tersenyum itu baru istriku yang ceria. Kalau kamu sedih muka kamu jadi jelek nanti langsung tua loh" ledek Aldo.
"Ih, jadi kamu bilang kalau aku itu jelek? Mas, ngatai aku tua! Umurku dengan Mas saja berbeda 3 tahun. Mas, lebih tua dari pada aku." protes Ica.
__ADS_1
"Hehe, ia kan itukan hanya perumpaan sayang, aku enggak bilang kamu tua. Memang tadi ada ucapanku yang berkata bahwakamu tua?" ucap Aldo.
"Mas, udah ngatain aku jelek, tua sekarang, Mas mau bilang aku budek gitu? Apa bolot gitu? Jawaba, Mas!" kesal Ica.
"Loh-loh kok jadi marah?" bingung Aldo.
"Jadi sekarang kamu bilang aku pemarah!" ketus Ica.
"Tadi dokter Revan kasih obat apa sih, kok Istri aku jadi galak gini nih." gumamnya bingung.
"Mas!" panggilnya dengan nada tak bersahabat.
"Mas, ka..." ucapan Ica terputus karena Aldo langsung menyumpal mulut Ica dengan bibi Aldo.
"Denger ya, kamu istri tercantik di seluruh dunia, enggak ada istri secantik dan sebaik kamu. Aku sebagai lelaki sangat beruntuk mempunyai istri seprerti kamu. Jadi kamu jangan pernah ada fikiran buruk apun tentang ku. Karena aku mencintau mu, hanya kamu, cukup dengan mu samapai akhir nafasku, sampai mau datang mencabut nyawaku." ucap Aldo.
"Yakin? Enggak ada yang tutupin dari aku?" tanya Ica.
Aldo menggaruk kepalanya yang tak gatal dan sesaat membuang muka dari pandangan Ica.
"Bener,enggak ada yang aku tutupin. Lagian apa yang harus aku sembunyiin dari kamu." ujar Aldo kembali menatap wajah sang istri.
Ica memandang wajah ica dilihatnya mata Aldo dalam.
"Baiklah kalu kamu jujur, tapi inget ya mas kalau kamu bohong kamu harus terima konsekuensinya, aku paling enggak suka di bohongin dan sekali aku tau kamu berbohong enggak mudah bagiku untuk kembali percaya akan ucapanmu." ujar Ica.
Aldo menelan tak sanggup menelan ludahnya mendengar ucapan Ica.
"Ia, aku ti-tidak menyembunyikan apaun darimu. Lebih baik tidak usah di bahas lebih jauh. Kita istirhat saja ya sayang, karena kondisimu juga masih belum sehat." ucap Aldo tak memandan mata Ica. Aldo menarik selimun dan mendekap tubuh Ica.
...๐บBersambung๐บ...
__ADS_1