Suami Tampanku

Suami Tampanku
eps. 7


__ADS_3

"Halo." Nisa mengangkat telepon.


   Setelah mengangkat telepon itu Nisa langsung berlari keluar, ia berlari secepat yang ia bisa menuju halte bus.


  Saat di dalam bus, kakinya bergetar, matanya penuh rasa khawatir, bibirnya terus berdo'a agar semua baik-baik saja. 


  Nisa mencoba menenangkan diri, ia menghela nafas panjang dan mencoba menatap keluar jendela bus. Hatinya terus gundah, bibirnya terus bergumam, tanganya mengepal sangat kuat, ia terus mencoba menenangkan pikiran namun semua itu tidak berhasil hingga ia tiba di sebuah rumah sakit.


  Nisa turun dengan terburu-buru ia berlari menyusuri lorong rumah sakit hingga akhirnya ia berhenti di depan ruang VIP.


"Hahh, hahhh, hahhhh." Nisa mencoba bernafas dengan normal.


  Nisa menatap dari balik pintu VIP, ia melihat sosok laki-laki paruh baya sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, lengkap dengan beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya.


  Disampingnya terdapat dua wanita yang sedang menangis di samping laki-laki itu.


"Ayah." 


  Nisa membuka pintu secara perlahan, membuka langkah dengan berat, ia seperti tidak punya tenaga hanya untuk membuka langkah kakinya.


  Kedua wanita itu, ibu dan adiknya menatap kedatangan Nisa dengan penuh kebencian di mata mereka yang sudah di banjiri air mata.


"Kenapa kau kesini." suara Ibunya itu terdengar sangat marah.


  Nisa tidak menghiraukan perkataan ibunya, ia terus melangkah mendekati mereka.


"Pegi kau anak tidak berguna." ucap ibu Nisa sambil menangis.


  Nisa masih tidak menghiraukan perkataan ibunya, ia terus maju tanpa berhenti selangkahpun.


"Ayah, apa yang terjadi padamu?" Nisa mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.


  Ibunya marah melihat Nisa menggenggam tangan suaminya itu, ia menepis tangan Nisa dengan kuat.


"Kau tidak pantas memanggilnya ayah, pergi kau dasar anak tidak tahu diuntung, pergi." teriak ibunya.


  Nisa tersentak, ia menatap ibunya dengan rasa penuh penasaran.


"Apa lagi, apa lagi yang ku lakukan kali ini. Kenapa dia sangat marah padaku, apa aku sudah melakukan kesalahan. Aku sudah mengorbankan hidup dan masa depanku untuk kalian, kenapa kau begitu marah padaku sekarang." ucap Nisa dalam hati.

__ADS_1


   Lili yang sudah tak tahan melihat Nisa di hadapannya, menarik tangan Nisa keluar dari ruangan itu.


"Apa kau sudah gila, apa yang kau lakukan hingga membuat ayah seperti itu ha?" tanya Lili dengan emosi yang meledak.


"Aku tidak melakukan apapun." jawab Nisa membela diri.


"Prakkk." tangan kanan ibunya mendarat tepat di pipi Nisa.


  Pipinya memerah, Nisa menyentuh pipinya yang terkena tamparan ibunya. 


  Ibunya menatap Nisa dengan sorot mata seakan ingin membunuh Nisa sekarang juga.


"Kau benar-benar anak yang tidak berguna, kami hanya menyuruhmu untuk menikah dan melayani direktur Angga dengan baik, kenapa kau harus menyinggungnya." teriak ibu Nisa.


  Nisa menatap wajah ibunya yang sudah dipenuhi rasa kebencian.


"Apa maksudmu ibu, aku tidak pernah menyinggung direktur sekalipun." Nisa terus mencoba membela dirinya.


"Jika kau tidak menyinggung dirinya maka dia tidak akan melakukan hal ini pada ayah." Lili membentak Nisa.


  Nisa mantap Lili, ia tidak bisa berbicara sepatah katapun sekarang, ia heran kenapa mereka bisa menyimpulkan hal itu semua adalah salah Nisa.


"Oh sekarang kau pura-pura tidak tahu." jawab ibunya.


"Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian?" tanya Nisa lagi.


"Direktur Angga akan menghancurkan perusahaan ayah, aku tidak tahu apa alasannya. Yang kutahu hanya, jika ayah tidak menuruti keinginannya maka ia akan segera menghancurkan perusahaan dalam waktu satu malam." Lili menjelaskan semua kepada Nisa.


"Apa yang diinginkannya?" tanya Nisa.


"Bagaimana kami tahu." jawab Lili.


"Itu semua karenamu, kau benar-benar tidak tahu diuntung, anak kurang ajar, aku sudah membesarkanmu dengan susah payah apa ini balasan yang harus ku terima, dasar kau anak pembawa sial." Ibunya mencaci Nisa dengan suara yang lantang hingga terdengar oleh dokter dan perawat yang ada di ruangan lain.


"Ibu."Nisa kaget mendengar cacian dari ibunya, air matanya yang sudah ia bendung sedari tadi akhirnya tumpah karena tidak dapat menahan lagi.


"Jangan panggil aku ibu, kau tidak pantas mengucapkannya." tegas ibunya.


  Nisa menundukan kepalanya ia terus menerima cacian dari ibu angkatnya itu. Ia mencoba untuk bersabar dan mencoba tidak mendengar semua cacian ibunya.

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kau jadilah anak yang berguna untuk kami, bujuklah suamimu itu untuk mengurungkan niatnya." ucap ibu Nisa dan langsung masuk ke dalam ruangan.


"Jika tidak bisa, carilah laki-laki tua yang lebih kaya darinya dan jual dirimu itu untuk menyelamatkan perusahaan." Lili merendahkan harga diri Nisa dan langsung pergi menyusul ibunya.


  Mendengar perkataan ibu dan adiknya hati Nisa seakan di sayat dengan pisau yang tumpul, perlahan lahan menyakiti hatinya tapi tidak menghancurkannya secara langsung.


  Nisa terduduk di depan ruangan itu, air matanya mengalir bagai hujan, ia tak tahu kenapa mereka menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Yang lebih menyakitkan lagi baginya, dia harus menerima semua cacian ibu dan adiknya. 


"Apakah segitu buruknya aku di mata kalian."gumam Nisa.


  Nisa beranjak dari depan ruangan itu, ia melangkahkan kakinya dengan berat, perlahan-lahan menuju keluar rumah sakit.


  Nisa berjalan selangkah-demi selangkah, ia menatap langit yang mulai gelap pertanda akan turunnya hujan.


  Hatinya merintih, langkahnya berat, tubuhnya bergetar, air matanya terus mengalir mengikuti aliran air hujan di pipinya. 


"Kenapa, kenapa, kenapa harus aku. Kenapa harus aku yang menerima semua ini, apa yang telah kulakukan di masa lalu hingga aku harus mendapat hukuman seperti ini, kenapa. Kenapa kau begitu tidak adil tuhan, kenapa harus aku." Nisa berteriak di tengah hujan.


  Ia tak sadar seorang laki-laki tengah memperhatikan dirinya yang meninges dari dalam mobil.


"Kau bisa sakit jika terus di sini." seorang laki-laki datang dari depan Nisa dan menyodorkan payung pada Nisa yang sedang berjongkok sambil menangis.


  Nisa kaget mendengar suara laki-laki itu dan ia mengangkat kepalanya secara perlahan untuk melihat wajah laki-laki itu.


"Kak Bram." Suara Nisa terdengar sangat menyedihkan saat memanggil Bram.


  Bram kaget saat melihat mata Nisa memerah karena menangis, ia melemparkan payung yang ada di tangannya kemudian memeluk Nisa yang sedang menangis.


   Angga menyaksikan momen itu dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat laki-laki asing memeluk istrinya, wajahnya terlihat tidak senang.


"Apa perlu saya turun?" Tio berinisiatif menawarkan diri untuk menghentikan pelukan mereka.


"Tidak perlu." wajah Angga terlihat ingin menerkam mereka berdua tetapi ia menahan diri.


  Tio menatap Angga dari kaca spion mobil, ia melihat Tio mengepal tangannya begitu kuat hingga urat tangannya terlihat, ia bahkan melihat sorot mata Angga seakan ingin membunuh dua Nisa dan Bram.


"Jalan." Angga memalingkan pandangannya.


  Tio tersentak mendengar perintah Angga, ia langsung menghidupkan mobil dan menancap gas pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


  


__ADS_2