
πΉπΉπΉπΉSelamat membacaπΉπΉπΉπΉ
β’
β’
β’
β’
Sedangkan di Dalam rumah keluarga Wijaya juga terasa suasana yang mencekam.
Hubungan Aldo dan Ica telah di ketahui oleh Ibu Dahlia.
Ibu Dahlia merasa kesal dengan anaknya tega sekali merahasiakan hubungannya dengan Ica.
"Jadi ada yang ingin kamu jelaskan kepada Ibu dan Ayah" Tanya Ibu Dahlia.
"Maaf Bu, maaf yah. Bukannya Aldo ingin menyembunyikan hungan Aldo dan Ica. Kami cuman ingin lebih saling mengenal lebih baik lagi tanpa adanya tekanan untuk hubungan kami." Ujar Aldo menjelaskan.
"Tapi kenapa harus di rahasiakan? kalau kalian sudah menjalin hubungan, kenapa tidak menikah malah menutupi hubungan kalian. Apa Ayah dan Ibu sudah tidak di anggap lagi sebagai orang tuamu." Kesal Ibu Dahlia.
"Tentu sajah bukan seperti itu Bu, hanya hubungan kami baru, dan Aldo tau Ibu pasti akan menuntut Aldo untuk segera menikahi Ica." Jelas Aldo.
"Kenapa memangnya? Apakah kamu hanya ingin mempermainkan anak perempuan orang lain saja? Apa kamu hanya ingin bersenang senang saja?" Ketus Ibu Dahlia.
__ADS_1
"Bukan Ibu, Aldo hanya tidak mau memaksa Ica untuk menikah dengan Aldo." Ujara Aldo.
"Lalu bagaimana dengan mu Ica? Apa kamu tidak ingin menikah dengan Aldo? Nak Ibu beritahu kepada mu, Di agama melarang kita untuk berpacaran, jika memang kalian berdua saling tertarik dan menyukai berpacaranlah sesusah kalian sah menjadi Suwami dan Istri sama seperti Ayah dan Ibu ini, kami berpacaran setelah kami menikah" Jelas Ibu Dahlia.
"Apakah Ica pantas menjadi menantu di kediaman Keluarga Wijaya? Ujar Ica sendu.
"Nak, Keluaraga kami tidak pernah memandang setatus sosial seseorang mau itu dia di atas atau di bawah kami, semua kami perlakukan sama." Ucap Ayah Dito.
"Betul sayang kami tidak pernah memandang seseorang dari setatus sosialnya, hanya baik buruknya seseorang yang menjadi perbedaannya dan Ibu merasa kamu wanita yang baik terlebih tidak mungkin Nenek Sumi memperkenalkan kamu kepada kami jika kamu bukan orang yang baik." Ujar Ibu Dahlia.
"Jadi, Apakah kamu mau menikah dengan ku? kita memang belum saling mengenal jauh tetapi aku berjanji menjaga melindungi dirimu, dan seiring berjalannya waktu kita akan saling belajar mengenal lebih jauh." Ucap Aldo.
Ica menganggukan kepalanya tanda bahwa iya setuju.
"Saya Bersedia Tuan." Jawab Ica tersipu malu.
"Eh, tidak boleh, mau asal peluk saja. Nunggu nanti kalau kalian sudah sah menikah, bebas seterah kamu, mau peluk Ica atau mau lebih enggak masalah biar nanti Ayah sama Ibu cepet punya cucu." Ucap Ibu Dahlia. Aldo yang mendengar hanya tersenyum kecut.
"Dan mulai sekarang Ica kamu panggil kami Ibu dan Ayah, karena sekarang kami adalah keluargamudan juga kamu tidak perlu memanggil calon suwamimu ini lagi dengan sebutan Tuan." Ujar Ibu Dahliah.
"Baik Nyo.. maksunya Ib." Ucap Ica kaku.
"Biasakan dirimu mulai sekarang untuk memanggil kami seperti itu" Ucap Ibu Dahlia tersenyum.
Tanpa membuang waktu Ibu Dahlia dan sang Suwami bergegas Untuk mempersiapan acara pernikahan sang anak. Mereka melakukan panggilan untuk mengurus apa sajakah yang akan di persiapkan. Dengan raut wajah yang bahagia, mereka meninggalkan Ica dan Aldo serta Nenek Sumi.
"Selamat yah nak, Nenek turut senang mendengarnya, apalagi kamu mendapatkan keluarga baru seperti keluarga Wijaya. Dan mendapatkan suwami seperti Nak Aldo. Ia pemuda yang baik." Ucap Nenek Sumi
__ADS_1
"Terimakasih Nek, terimakasih untuk semuanya. Tanpa hadirnya Nenek Sumi di dalam hidup Ica, mungkin Ica tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Ica tak menyangka bahwa suatu saat Ica akan diberikan hadiah begitu besar samapi Ica taksunggup menahan kebahgiaan ini. Nenek juga Adalah keluaraga Ica, Nenek segala bagi Ica dari mulai Ica mengenal sosok Nenek, Ica mendapatkan kasih sayang yang selama ini Ica butuhkan. Terimakasih banyak Nek, hanya Itu yang bisa Ica berikan dan Ucapkan untuk saat ini. Ica berharap dapat selalu terus berada dekat dengan Nenek" Ucap Ica dan memeluka Nenek Sumi, Air matanya tumpah membasahi kedua pipinya. Dirinya tak dapat memebendung air matanya. Nenek sumi membalas pelukan Ica diusapnya punggung tubuh Ica.
"Nenek Akan selasalu berdoa yang terbaik untuk mu Nak, semoga kau selalu diberkahi kebahagian, selalu ada senyum yang mengiasi wajah Indah mu ini." Ucap Nenek Sumi melepas pelukannya, menyekat air mata Ica dengan lembut. Lalu pergi meninggalkan Ica dan Aldo. Memberi mereka berdua waktu untuk berbicara.
Selepas kepergian sang Nenek kini hanya tinggal meraka berdua.
Sunyi tak ada satupun yang membuka suara, mereka berdua tampak sangat canggung.
Sesekali Aldo dan Ica mencuri pandang.
"Malam hari ini indah ya?" Ucap Aldo memecahkan keheningan.
"Bagaimana Tuan bisa tau? Terlebih sekarang kita sedang berada di dalam rumah?" Tanya Ica bingung memiringkan kepalanya.
"Ah, Karena menurutku malam ini akan cerah dan indah tanpa perlu aku melihat keluar rumah." Ucap Aldo yakin.
Tak berselang setelah Ucapan yang Aldo lontarkan terdengar suara gemuruh disertai kilatan petir menyambar.
"Emm, Kurasa Tuan benar hari ini memang sangat cerah sampai suara gemuruh dan petir menyambar bagai kilat." Ledek Ica mengangguk anggukan kepala.
"Sepertinya sudah larut malam, mari kita lekas beritirahat, besok pasti akan banyak kegiatan yang kita lakukan" Ujar Aldo mengalikan pembicaraan.
"Baiklah, Selamat malam" Aldo menganggu tanda menjawab, lalu Ica berdiri dari posisi duduknya berjalan menuju kamarnya.
"Bodoh, kau membuatku malu saja, dasar kau Aldo bodoh." Gerutu Aldo mencaci maki dirinya.
πππNantikan kelanjutannyaπππ
__ADS_1
πππππBersambungπππππ