Suami Tampanku

Suami Tampanku
eps.8


__ADS_3

Rumah Bram,


  Bram membawa Nisa ke rumahnya, karena ia tak tahu harus kemana membawa Nisa yang tak mau bicara sedikitpun saat ia bertanya di mana rumah Nisa.


  Nisa duduk terdiam, ia menatap kakinya yang bergetar karena kedinginan. Ia bahkan tidak menolak Bram memeluk dan membawanya ke rumah Bram. Ia tak mampu untuk membuka mulut hanya untuk berkata tidak, mulutnya seakan terkena lem yang sangat kuat hingga tak bisa di buka dengan cara apapun.


"Aku sudah siapkan air panas, kau mandilah dulu." Bram memberikan handuk dan pakaiannya yang bisa digunakan Nisa.


  Nisa hanya menatap Bram tanpa bicara sepatah katapun. Ia beranjak dari tempatnya duduk dan pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaian dan handuk yang diberikan Bram.


  Bram menatap Nisa dari belakang, ia ingin bertanya pada Nisa apa yang terjadi padanya tapi ia tak punya keberanian untuk itu.


  Bram menyiapkan makan malam, ia memasak sup hangat untuk dirinya dan Nisa.


  Nisa keluar dengan wajah sedikut lebih segar dari yang dilihat Bram tadi, hatinya sedikit tenang melihat Nisa tidak lagi kedinginan. Menggunakan pakaiannya membuat Bram berdebar saat melihat Nisa yang sangat pas dengan pakaiannya itu, ia menatap Nisa tanpa henti seakan kagum dengan keindahan alam.


  Nisa perlahan berjalan mendekati Bram hal itu membuat hati Bram semakin berdebar, ia tak henti menatap Nisa.


"Terimakasih." Nisa mengagetkan Bram.


"Ahh itu, iya sama-sama." Bram mencoba menenangkan dirinya dan tersenyum manis pada Nisa.


"Duduklah, aku sudah memasak sup untukmu." Bram menyajikan sup ke dalam mangkuk yang sudah disiapkan sedari tadi.


  Nisa menuruti perkataan Bram, ia duduk tepat di depan Bram.


  Bram tersenyum, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat Nisa berada di rumahnya, makan berdua dengannya, duduk di depannya bahkan menggunakan pakaiannya. Bram merasa seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah, Bram sangat bahagia.


  Nisa tidak menunjukkan ekspresi apapun pada Bram ia hanya terus menunduk ke bawah tanpa melihat sekitar, Nisa bahkan tak bicara sepatah katapun, ia hanya mengikuti apa yang diminta Bram.


"Makanlah selagi masih panas." Bram menyodorkan sup panas itu pada Nisa.


"Terimakasih." hanya itu kata-kata yang diucapkan Nisa dari tadi, ia tak terlihat bahagia ataupun sedih, wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.

__ADS_1


  Bram terus tersenyum setiap Nisa mengucapkan. Kata terima kasih padanya, ia tak tahu harus berbicara apa untuk memecah suasana canggung di antara mereka berdua.


  Nisa tak mempedulikan Bram yang terus menatap dan memikirkan topik pembicaraan, ia menyuap sesendok demi sesendok sup yang sudah ada di hadapannya.


"Nis." Bram mencoba memecahkan suasana canggung itu.


  Nisa berhenti makan dan mantap Bram.


8"Boleh aku bertanya." Bram mencoba memberanikan diri.


Nisa hanya menganggukan kepala kemudian ia makan supaya lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa kau ada di luar saat hujan tadi?" Bram bertanya dan mantap Nisa dengan tatapan penuh rasa penasaran.


  Nisa menghentikan tangannya menyuap sup ke dalam mulutnya dan lagi-lagi ia menatap Bram. Ia tak tahu harus cerita atau tidak masalahnya pada Bram, ia takut nanti suaminya akan tambah marah padanya dan menyakiti keluarganya.


"Sup nya enak, terimakasih kak. Saya harus pulang sekarang." Nisa mengalihkan pembicaraan dan beranjak dari tempat duduknya.


"Jika kau tidak mau bicara baiklah aku tidak akan memaksamu, tapi  biarkan aku mengantarmu pulang." Bram berdiri dan menawarkan bantuan lagi pada Nisa.


"Ini sudah malam, biarkan aku mengantarmu." Bram terus mencoba menawarkan bantuan.


"Sekali lagi terimakasih atas kebaikan kakak, tapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya, saya mohon jangan mempersulit saya." Nisa berbicara tanpa menatap Bram sedikitpun, ia langsung keluar dari rumah Bram dan Bram hanya bisa menatap Nisa hingga ia menghilang di balik pintu rumahnya.


  Di keramaian malam Nisa berjalan menyusuri jalan dengan langkah goyah, ia menundukan pandangannya ke bawah ia ingin berhenti melangkah tapi ia takut akan satu hal, suaminya.


  Mengingat dalam perjanjian pernikahan ia tidak boleh pergi keluar tanpa izin dari Angga kecuali saat pergi kuliah, Nisa membayangkan wajah Angga yang dingin dengan tatapan mematikan, ia terus berfikir apa yang akan terjadi saat ia tiba di rumah. Ingin rasanya tidak pulang ke tempat itu, tapi ada satu hal yang ingin dia pastikan dari Angga, kenapa Angga melakukan hal itu pada keluarganya.


    Walau keluarganya sekarang membenci Nisa, tapi Nisa tetap menyayangi mereka seperti sebelumnya, tidak peduli fakta bahwa Nisa bukan anak dari mereka, mereka adalah keluarga yang telah membesarkan Nisa penuh kasih sayang. Walau sekarang kasih sayang itu telah hilang.


  Nisa terus berjalan tanpa henti, walau langkahnya goyah ia terus berusaha untuk kuat membuka langkah demi langkah.


"Nisa" teriak seorang laki-laki dari kejauhan.

__ADS_1


   Nisa menghentikan langkahnya, ia mengangkat kepala dan melihat ke arah suara itu berasal.


  Ia melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi, perawakan seperti orang yang memiliki gaya yang tinggi, berjalan perlahan menuju ke arah Nisa.


"Tio." Nisa kaget saat melihat Tio.


   Tio tersenyum, wajahnya menunjukan rasa khawatir yang telah hilang secara perlahan. 


"Akhirnya aku menemukanmu, kau baik-baik saja?" nada suara Tio masih terdengar sedikit khawatir.


"Aku baik-baik saja." Nisa menjawab dengan senyuman.


"Untunglah, lebih baik sekarang kau pulang sepertinya direktur sangat marah sekarang." Tio menyarankan Nisa untuk segera pulang agar tidak mendapat masalah lebih besar.


"Marah?" wajah Nisa mencoba mengerti situasi sekarang.


"Baiklah." suara Nisa terdengar ketakutan, tapi ia berusaha untuk menyembunyikan rasa takutnya.


"Ayo." Tio berjalan di depan Nisa menuju mobil yang terparkir sedikit lebih jauh dari mereka.


  Saat dalam perjalanan pulang Nisa tidak berbicara sepatah katapun, ia hanya menatap keluar jendela sambil memikirkan sesuatu.


  Tio menatap Nisa dari kaca spion mobil ia sangat tak nyaman dengan suasana mereka di dalam mobil, tapi Tio pun tak berani untuk memulai pembicaraan ia hanya bisa menyetir tanpa bicara sepatah katapun.


"Kau sepertinya ingin bertanya sesuatu?" Tanya Nisa mulai membuka pembicaraan namun tatapannya masih melihat ke luar jendela.


"Aa..itu" Tio terdengar ragu untuk bertanya.


  Nisa mengalihkan pandangannya dan menatap Tio dengan tatapan serius.


"Tanyakan saja, aku akan menjawab jika aku bisa menjawab." 


"Hufffhhh…" Tio menghela nafas.

__ADS_1


"Akh ini bukanlah hal penting, jadi jangan dipikirkan." Tio mencoba mencari alasan agar tidak menanyakan hal itu pada Nisa.


   Mendengar pernyataan Tio, Nisa kembali memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.


__ADS_2