Suami Tampanku

Suami Tampanku
eps.3


__ADS_3

"Duduklah aku akan mengambil obat dan perban." ucap Nisa.


   Tio hanya bisa mengikuti perintah Nisa. Tio sedikit kaget melihat seluruh rumah ini sudah bersih dan semua barang-barang yang ada sudah tersusun dengan rapi.


"luar biasa."ucap Tio kagum dengan pekerjaan Nisa.


"Lepaskan bajumu, aku akan menyiram alkohol untuk membersihkan luka itu."ucap Nisa berjalan ke arah Tio.


   Tio kaget mendengar ucapan Nisa. Tio tidak pernah membuka bajunya di hadapan wanita selama hidupnya.


"Haruskah saya lepaskan."ucap Tio.


  Nisa hanya mengangguk dan menyiapkan obat dan perban untuk luka Tio.


  Wajah Nisa memerah melihat tubuh Tio yang begitu bagus, otot yang ada di perut Tio membuat Nisa tidak berhenti untuk melihatnya.


"Nona."ucap Tio mengagetkan Nisa yang sedang tepukau dengan tubuh Tio.


  Sebearnya ini adalah pertama kalinya Nisa melihat secara langsung tubuh laki-laki. Nisa lagsung membersihkan luka Tio dengan alkohol.


"Oh ya bagaiman kau bisa ada di sana?"tanya Nisa mencoba menghilangakn suasana cangung.


"Sebenarnya saya ingin mengatarkan bahan makanan ke sini, dalam perjalanan saya tidak sengaja melihat anda di tangkap penjahat itu, jadi saya langsung mengikuti anda."jawab Tio.


"Saya pikir kamu sengaja mengikutiku."ucapnya pelan.


  Tio hanya tesenyum mendegar perkataan Nisa.


"Selesai, kau bisa kenakan bajumu lagi."ucap Nisa dan langsung mengemasi obat-obat itu.


"Terima kasih nona." ucap Tio sambil mengenakan bajunya.


"Mengapa kau terus berbicara formal padaku, sepertinya kita semuruan."tanya Nisa.


"Saya harus berbicara formal kepada anda, karena anda adalah istri bos saya."jawab Tio


"Aaa… lupakan soal statusku, aku lebih nyaman jika kau berbicara informal."ucap Nisa.


"Tapi saya…."


"Sudahlah santai saja, panggil aku dengan namaku." ucap Nisa memotong perkataan Tio.


"Baiklah Nisa." ucap Tio sedikit ragu.


  Nisa tersenyum mendengar ucapan itu dari Tio.


"Ini sudah larut, aku harus pulang. Terima kasih sudah mengobati." ucao Tio


"Baiklah." 


"Oh ya, bahan makanan susah ku simpan di dalam kulkas tadi, kau jagalah dirinmu." ucap Tio dan langsung pergi meninggalkan Nisa sendiri.


"Hahhhh... hari yang melelahkan, rasa laparku hilang karena takut, lebih baik aku tidur saja."  ucapnya dan langsung pergi ke kamar untuk tidur.


***


  Hari sudah siang, matahari mulai menyinari kamar Nisa. Nisa yang kelelahan enggan untuk bangun ia mencoba mencari hpnya yang ada di atas kasur dengan mata terpejam.


"Apa ini?"tanya Nisa pada dirinya sendiri dengan mata terpejam.

__ADS_1


  Nisa kaget ia menyentuh tubuh seseorang dan ia langsung bergegas bangun.


  Benar saja, ada seorang laki-laki asing di temat tidurnya. Nisa memeriksa pakainnya.


"huuuff.. untunglah masih utuh."ucapnya dalam hati.


"Siapa laki-laki tampan ini." ucap Nisa


   Nisa memperhatikan laki-laki itu dengan seksama, ia mendekatkan wajahnya pada wajah laki-laki itu.


"Wow tampan sekali, bahkan lebih tampan dari Tio."pikirnya.


"Sudah puas melihatnya?"tanya laki-laki itu mengagetkan Nisa.


   Nisa yang kaget langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil bantal untuk memukul laki-laki itu.


"Sii..siapa kau? bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Nisa sedikit ketakutan.


   Laki-laki itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati Nisa.


  Nisa ketakutan, ia mundur sedikit demi sedikit sambil menggengam erat bantal yang ada di tangnnya.


"Ini rumahku, jadi aku berhak ada di sini."ucap laki-laki itu tersenyum kecil pada Nisa.


  Mendengar perkataan laki-laki itu nisa kaget.


"Ti..tidak mungkin, ini adalah rumahku hanya aku dan direktur Angga yang punya kunci rumah ini. Kau pasti penjahat." ucap Nisa memberanikan diri.


"Ternyata aku menikahi gadis yang bodoh."ucap Angga mengejek.


"Ka..ka..kau direktur Angga?" tanya Nisa kaget.


  Nisa benar-benar kaget, direktur Angga yang ada di fikirannya adalah laki-laki yang gendut, pendek dan sangat tua. 


 Nisa berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil memikirkan direktur Angga, ia tak menyangka direktur Angga adalah laki-laki yang sangat tampan yang pernah ia temui dan laki-laki itu adalah suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Angga keluar dari kamar mandi.


"Aaaa..aku hanya melakukan senam ringan." ucap Nisa terbata-bata.


   Angga menatap Nisa dengan tatapan dingin, kemudian ia pergi meninggalkan Nisa sendiri di kamar.


"Huhhhhhh….benar-benar menegangkan. Mengapa dia ke sini, saat hari pernikahan dia bahkan tidak peduli denganku."ucap Nisa kesal.


  Nisa bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus.


***


  Setelah kelas selesai Nisa pergi ke taman kampus sendiri. Nisa seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Tidak ada ekspresi sedikitpun di wajahnya.


"Hahhhhhhhhhhh…."Nisa kesal.


    Nisa menundukan kepalanya ia berpikir tidak ingin pulang dan ingin pergi jauh dari kota ini, tapi ia merasa tidak rela untuk meninggalkan laki-laki tampan itu (Angga). 


"Aaaaahhhhhh…..benar-benar membuat orang frustasi." teriak Nisa.


"Nisa." panggil seorang laki-laki dari belakang.


"Kak Bram." toleh Nisa ke belakang.

__ADS_1


   Bram menghampiri Nisa dan duduk di samping Nisa.


"Kamu kenapa teriak." tanya Bram.


"Aa..aa bu..bu..bukan apa-apa kak." jawab Nisa terbata-bata.


   Bram menatap Nisa dengan serius, dia tak yakin dengan jawaban yang diberikan Nisa.


"Kamu yakin?" tanya Bram.


   Nisa mengangguk dan menunjukkan senyum manisnya kepada Bram untuk meyakinkan Bram.


"Ok, oh ya Nisa beberapa hari ini kamu kemana, aku tidak melihatmu di kampus." tanya Bram


"Aa..i..itu saya merasa tidak enak badan kak, jadi saya izin." jawab Nisa.


"Kamu sakit? Kenapa Lili tidak memberi tahu?" tanya Bram khawatir.


"Aa..itu.."jawab Nisa di potong oleh kedua wanita yang berlari ke arah mereka berdua.


"Nisaaaaa…"teriak dua wanita itu.


    Nisa tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.


"Kamu ke mana aja sih, di kampus kamu gak ada, di telfon kamu gak angkat?" tanya Mely.


"Iya tuh kita khawatir banget sama kamu." sahut Tara.


"Maaf buat kalian khawatir aku gak papa kok, cuman gak enak badan dikit aja." jawab Nisa tersenyum.


    Mely dan Tara memeluk Nisa dengan erat di hadapan Bram.


"Ehemmm…" Bram pura-pura batuk.


    Mely dan Tara melepas pelukan mereka dan melihat ke arah Bram.


"Ehh ada kak Bram." ucap Tara sambil duduk di samping depan Bram.


"Udah lama di sini kak?" tanya Mely.


"Gak kok." jawab Bram.


"Oh ya Nisa pak Budi tadi nyariin kamu lo." ujar Mely ngeluarin minuman dingin dari tasnya.


"iya tahu kok, tadi aku udah ketemu sama pak Budi." jawab Nisa mengambil minuman itu.


"Ehh Nis, kamu sakit apa sih kok lama banget?" tanya Tara.


"Iya tu, kamu juga kayak kurusan deh." ujar Mely.


"Emm itu...aku…" jawab Nisa ragu-ragu.


"Cuma kecapekan aja." jawab Nisa.


    Mely, Tara dan Bram ragu dengan jawaban Nisa mereka menatap Nisa seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Nisa.


"Aku lupa kalau aku harus ke perpus hari ini, aku permisi dulu." Nisa pergi meninggalkan Tara dan Mely.


"Nisa tunggu, kita ikut." ujar Tara dan menarik tangan Mely.

__ADS_1


"Kak kita pergi dulu ya, dah." ucap tara pergi meninggalkan Bram di taman sendirian.


__ADS_2