Suami Tampanku

Suami Tampanku
34.


__ADS_3


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนSelamat membaca๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


โ™ข


โ™ข


โ™ข


โ™ข


Pagi hari terasa canggung, entah apa yang mereka berdua lakukan akan berakhir saling mendiami satu sama lain.


Ica sangat tidak suka hal ini, jika tidak segera di selesaikan dan berlarut larut di situasi seperti ini, akan sangat tidak baik untuk hubungan rumah tanggannya.


Setiap Ica ingin membahas dengan Aldo, ia akan menghindarinya atau jika Ica sudah menanyakan kepadanya, Aldo akan mengalihkan topik pembicaraan.


"Sebenarnya ada apa dengan suamiku ya Allah, mengapa semakin lama kata kata yang ia ucapkan sangan mencurigakan untukku." Guamnya menangis. Aldo tak mengetahu Ica menangis karena saat ini ia tengah berada di dalam kamar mandi. Meredam dirinya di dalam bathtub dan menyalakan shower agar suara tangisan Ica tersamarkan.


"Sudah 1 jam sejak Ica masuk, tapi mengapa ia belum juga keluar dari dalam kamar mandi." ucap Aldo cemas.


Tok, tok, tok.


"Sayang."


Tok, tok tok.


"Sayang, kamu baik baik ajah kan di dalam? Sayang!" ucap Aldo.


Namu tak ada jawaban Alspun semakin panik dan memutuskan mendobrak pintu.


Bruk!

__ADS_1


Bruk !


Brukk!


Pada dobrakan yang ketiga pintu berhasil di buka.


Aldo perlahan berjalan mendekat je arah bathtub.


"Sayang!" ucap Aldo.


Melihat Ica tak sadarkan diri di bathtub. Aldo pun membawa Ica menuju kamar mereka. Ditaruhnya Ica di tempat tidur dengan tubuh yang dingin dan bibir memucat Aldo segera menelpon dokter Revan.


Sambil menunggu dokter Revan tiba, Aldo memakaikan pakaian untuk sang istri kenakan dan memberikan minyak angin di beberapa bagian tubuh Ica, di dada, telapak tangan dan juga telapak kaki.


Aldo menghubungi Simbok atau Bibi lewat telepon kamar yang terhubung ke dapar.


Dan beberapa saat Bibi Tini yang mengangkat panggilan.


"Bibi nanti dokter Revan akan datang yang memang saya panggil untuk datang kemari, nanti tolong langsung di antar ke kamar.


20 menit kemudian Revan datang.


Baru ingin memencet bel Bi Tini sudah membukakan pintunya.


"Silahkan dokter, sudah di tunggu oleh, Tuan di kamarnya."


"Ah, ia baik." ucap Revan.


"Yaampun ngagetin ajah enggak lucu dong kalau nanti ada berita seorang dokter masuk rumah sakit karena kaget yang di alaminya."


Didelan pintu kamar Aldo.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


Dibukanya pintu kamar oleh Aldo.


"Silahkan masuk." ucap Aldo.


"Oh ia, Bibi tolong butkan air hangat untuk istri saya." ucap Aldo kembali.


"Baik, Tuan." ucap Bibi Tini pergi dengan menutup pintu kembali.


"Jadi, sebelum saya priksa bisa jelaskan kenapa dengan istri anda?" tanya dokter Revan.


Aldo pun menjelaskan dan menceritakan semua kepada dokter Revan.


"Emm, kalau begitu saya priksa dulu."


"Jadi gimana dok? Istri saya bagaimana?"


"Tenang, Pak Aldo. Istri bapak tidak ada penyakit serius semua baik. Cuman hanya istri anda terlalu lama berendam di dalam air yang menyebabkan suhu tubuh menurun dan di tambah pasien mengalami beban fikiran berlebih. Tolong kalau bisa hindari yang menyebabkan orang yang sudah pernah mengalami trauma mendalam akan suatu kejadian. Karena itu akan sangat tidak baik jika terus menerus mengalami hal yang serupa." jelas dokter Revan.


"Trauma? Saya tidak tau istri saya pernah mengalami trauma berat." ucap Aldo.


"Yah, ini bukan jenis penyakit yang bisa di lihat atau di rasakan dari luar. Karena trauma sendiri ialah tekanan emosional dan psikologis. Terkada ada bebepa orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sendiri memasuki zona ini. Jadi untuk membuat si penderita trauma ini membaik, anda bisa, mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti melakukan hobi, menonton film, atau aktivitas lain yang menyenangkan. Sebisa mungkin jangan memberikan tekanan kepada pasien." jelas dokter Revan.


"Baik dok, saya akan mengikuti saran yang dokter katakan." ucap Aldo.


"Baiklah kalau begitu ini ada beberpa resep yang bisa anda tebus. Dan kalau anda bisa coba juga untuk dapat membuat pasien menceritakan apa yang menjadi bebannya atau apa trauma masa lalu yang pernah di alaminya. Tetapi ingat jangan memaksa dan jika ingin bertanya dalam keadaan susana hati pasien yang baik." ucap dokter Revan.


"Baik dok." ucap Aldo.


"Kalau begitu saya permisi kembali. Karena saya juga ada janji di sekitaran sini." ujar dokter Revan.


"Ah, baiklah dokter terimakasih." ucap Aldo.


"Sama-sama pak." ucap dokter Revan yang keluar dari dalam kamar

__ADS_1


๐ŸŒบSampai jumpa๐ŸŒบ


๐ŸNantikan kelanjutannya.๐Ÿ


__ADS_2