Suami Tampanku

Suami Tampanku
30.


__ADS_3


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนSelamat membaca๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tak berselang lama, orang yang tengah membuat Jojo panik dan kelimpungan mencari kesan kemari datang menghampirinya.


"Yampun Al kemana aja? Lu tau enggak gue nyariin lu udah kaya ibu nyariin anaknya yang ilang di pasar." kesal Jojo.


"Itu kita bahas nanti saja, aku sudah telat 15 menit untuk pertemuan dengan perusahaan Angga Darma. Dia terlihat orang yang murah senyum tapi dia sangat diaiplin akan waktu. Ini sudah sangat fatal mudah mudahan saja terjadi keajaiban yang meredam emosinya." ucap Aldo.


Butuh wantu 10 menit bagi Aldo untuk bersiap. Setelah selesai dirinya bergegas menuju tempat pertemuan. Untungnya tempat yang dijanjikan masih di dalam hotel tempat Aldo menginap sehinggak dia dapat menguber waktu.


Tok tok tok


Aldo memngetuk pintu ruangan.


Saat Aldo masuk dilihatnya raut wajah Angga Darma yang sudah tak bersahabat.


"Maaf atas keterlambatan saya Pak." uca Aldo.


"Hais. Kau tau bukan sedetik saja waktu yang ke lewatkan itu sangat berharga dan kau sudah membuang waktuku 30 menit. Kau tau berapa dekit waktu yang telah ku buang untuk mu. Sekarang langsung mulai tak perlu banyak basa basi. Ku sudah bosan menggu mu dari tadi." Kesal Angga Darma.


"Baiklah jadi sayang ingin mengajuka kerja sama dengan perusahaan anda. Dan saya akan menerangkan apa saja keuntungan bekerja di sama dengan kami dan. " Aldo pun menerangkan secara terperinci dan tidak menyia nyiakan waktu yang telah di berikan untuknya.


"Setelah saya mendengar, tadi saya sangat emosi tapi melihat dan mendengar secara langsung bagaimana keuntungan dan cara kerja perusahaan anda membuat amarah saya mereka. Saya kira semua persyaratan yang di ajukan sesuai dengan harapan saya. Jadi mari kita melakukan kerja sama ini." jelas Angga Darma menandatangani berkas kerja sama.


"Terimakasih banyak pak atas waktunya." ucap Aldo berjabat tangan denga Angga.


Aldopun lantas meninggalkan ruangann.


Ditempat lain


"Prang" suara gelas pecah

__ADS_1


"Ada apa sayang?" tanya Ibu Dahlia.


"Ah enggak mah, dari kemarin hati Ica ranya tak tenang." ucap Ica.


"Apa kamu sakit? Mau ibu panggilkan dokter." ucap Ibu Dahlia.


"Enggak bu, tak perlu. Ica tak apa kok bu. Ini Ica ceroboh saja jadi membuat gelasnya jatuh." jelas Ica.


"Apakah kau yakin?" tanya Ibu Dahlia kembali.


"Ia bu Ica enggak papah kok bu." ucap Ica meyakinkan Ibu Dahlia.


"Baikalah kalau gitu. Suruh saja bi Tini yang bersihkan." ucap Ibu Dahlia.


"Ica saja bu, kasihan bi Tini. Biarkn dia mengurus yang lainnya." ucap Ica.


Baikalah kalau itu mau mu nak, hati hati saat mengambil belingnya agar tidak melukai tangan mu." ucap Ibu Dahlia.


"Baik bu, Ica akan berhati hati." ucap Ica.


"Ia bu." jawab Ica.


Icapun merapihkan serpihan pecahan gelas.


"Ya Allah ada apa ini, mengapa hatiku tak tenang dari semalam. Belum lagi mas Aldo tidak mberi kabar dari semalam. Mebuatku makin tak tenang." batin Ica.


Saat itu Aldo menelepon beberapa kali, berusaha menghubungi Ica. Namu Ica tak kunjung mengangkat teleponnya.


Dihunginya sekali lagi telepon Ica.


"Halo mas." ucap Ica menjawab panggilan Aldo.


"Dari mana saja kamu sayang? Ku telepon kamu beberapa kali mengapa tak di angkat.

__ADS_1


"Maaf mas, tadi Ica tengah di dapur telepon Ica tinggalakan di kamar, jadi Ica tak tahu jika mas dari tadi menghubungi Ica." jelas Ica.


"Oh, jika seperti itu aku lega mendengarnya. Kufikir terjadi sesuatu dengan mu." ucap Aldo.


"Mas." ucap Ica.


"Mengapa dari semalm mas tidak menghubungi Ica dan baru siang ini memberi kabar." tanya Ica.


"Apa yang harus ku katakan." batin Aldo.


"Itu sayang anu, aku ketiduran semalam ada acara peata sampai larut malam dan pagi sekali aku ada pertemuan dan ini aku baru selesai rapat sayang. Aku tahu belum memberimu kabar seharian ini. Maaf ya Istriku." jelas Aldo.


"Ah baiklah jika memang benar, bukannya aku curiga mas tapi entah kenapa perasaan ku tidak enak dari semalam. Aku selalu kefikiran sama kamu yang lagi berada di sana mas. Jauh dari aku, aku kangen mas cepatlah pulang." ucap Ica yang tak kuat menahan air matanya.


"Jangan sedih sayang, hatiku jadi terluka mendengar kau yengah bersedi. Dua hari lagi aku akan pulang. Doakan aku agar bisa pulang dengan selamat dan lebih cepat dari perkiraan. Amupun juga merindukan mu. Jika hatiku bisa berbicara pasti kini dia tengah menjerit memanggil namamu." ucap Aldo.


Membuat Ica yang mendengar menjadi tersenyum dan tertawa.


"Mas gombal." ucap Ica riang.


"Ih aku serius malah di ketawain. Dosa kamu ketawain suwami yang lagi merindukan istrinya." ucap Aldo.


"Hehe, maaf mas. Abis omongan mas gombal banget kaya lelaki buaya." ucap Ica.


"Enak aja, mas belum pernah jadi buaya rawa apa lagi jadi buaya darat. Tapi kalau jadi uler kasur pernah" jelas Aldo.


"Ih mas jorok, mas mesum." ucap Ica.


"Kok mesum sih emang bener kan? Gimana menurut kamu uler kasur aku." goda Aldo.


"Ih, Ica enggak tau." ucap Ica malu.


Dan mereka pun terus melanjutkan pembivaraan sampai sore Ica dan Aldo menyudahi panggilan.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐ŸSampai jumpa๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบBersambung๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2