
๐น๐น๐น๐นSelamat membaca๐น๐น๐น๐น
7 Hari tlah berlalu.
Aldo tak terasa sudah 1 minggu berlalu. Karena Dirinya disibukan dengan persiapan aca pernikahannya dengan Ica. Aldo tak ingin menunda lama, sebisa mungkin Aldo ingin mempersunting Ica segera karena Aldo merasakan perasaan yang tidak enak di hatinya. Aldo berfikir sepertinya akan terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan jika dirinya memperlambat hubungannya dengan Ica. Semua persiapan Acara Pernikahan sudah siap, 3 hari lagi Akan dilangsungkannya pernikahan. Memang terkesan terburu buru, namun semua ini permintaan Aldo yang ingin segera melangsungkan pernikahannya. Ica dan kedua orang tua Aldo tidak mempermasalhkan keinginan Aldo. Terutama sang Ibu yang memang sudah dekat serta menyayangi Ica layaknya seorang Ibu yang mencintai anaknya.
Saat Ini Aldo tengah berada di dalam ruangan kantornya. Sibuk dengan semua berkas yang ada di atas mejanya, Karena dirinya Ingin saat dirinya melangsungkan pernikahan tidak terlalu terfikirkan dan bisa fokus dengan urusan perusahaan. Yah sebenarnya bisa saja Aldo menyerahkan semuanya pada Jojo sekretarisnya itu. Tetapi Aldo akan lebih tenang jika sudah melihat dan ngeceknya langsung karena dia tidak pernah suka jika ada kesalahan sedikit pun. Walau hal remeh sekalipun lama kelamaan akan bisa berdampak bagi perusahaannya.
Saat Aldo sedang melihat lagi berkas yang sudah Aldo tanda tangani Terdengar Suara ketukan Pintu.
Tok, tok, tok.
"Masuk."Ucap Aldo tanpa mengalihkan pandangannya.
"Krek." Suara Pintu terbuka.
"Pagi Pak, saya ingin memberi kabar nih bos." Ucap Jojo.
"Kamu ini enggak ada sopanya sama Atasan." Ucap Aldo melihat Jojo.
"Tuh kan, suka ngilangin fakta. Kan tadi udah ketuk pintu, terus ngucapin salam udah udah sopan dong. Lagian sekarang kita cuman berdua, jangan kaku gitu kaya baru kenal ajah dan lu mau tau enggak kabar apa yang gue bawa." Ucap Jojo mendekat mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Aldo.
"Enggak."ketus Aldo kembali di sibukan membaca lembara kertas di tangannya.
"Tetang Amanda? Bagaimana? Tertarik?" Ucap Jojo memasang senyum devil.
"Cih!! Kau merusak moodku saja, untuk apa lu nyebut nama tuh cewek bikin bad mood." Ucap Aldo kesal.
"Yaampun bos sedikit dikit marah mulu, tua tuh muka lama kelamaan." Ucap Jojo.
__ADS_1
"Apa kamu bilang Saya Tua?" Kesal Aldo melepar pulpen kearah wajah Aldo.
"Aw! Aduh muka ganteng gue ternodai, yang bener ajah dong bos asal lempar aja." Ucap Jojo.
"Rasakan itu! Cepat sekarang beri tahu ada apa? Kalau menyangkut wanita itu pasti tidak pernah benar!" Ketus Aldo.
"Amanda mantan lu itu.." Ucap Jojo terputus melihat Aldo menatapnya tajam bola matanya membulan meperlihatkan ketidaksuaanya mendengar Jojo menyebut Amanda mantannya walau itu kenyataan dirinya merasa jijik mendengarnya.
"Ah maaf, masudnya cewek ulet bulu itu katanya memasukan mata mata ke dalam perusahan untuk memantau lu bos." Ucap Jojo.
"Brengsek! Mau apa lagi dia?" Kesal Aldo mengebrak meja.
"Temukan dia! Bawa ketempat bisa." Tegas Aldo.
"Baik Pak" Ucap Jojo lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Huf(menghela nafa) untuk saja langsung keluar kalauu sedikit lebih lama, bisa kekuranga oksigen gue." Ucap Jojo di balik pintu.
Sedangkan di tempat yang berbeda Ica tenga memberikan kabar bahagia mengenai pernikahannya kepada 2 sahabatnya itu.
"What!?." Ucap Salsa dan Dimas bersamaan.
"Gila lu, seriusan mau nikah? mendadak banget."Ucap Salsa tak menyangka jika sahabanya ini akan segera menikah secepat ini.
"Apa jangan jangan lu..?" Ucap Dimas menggantung sambil melirik perut Ica.
"Pletak."Suara pukulan tangan Salsa memukul pala Dimas.
"Gila lu Sa! Ini pala buka adona donat alasa pukul ajah!" Kesal Dimas.
"Elu yang gila, sembaranga lu! Maksud lu apa tadi!" Kesal Salsa.
__ADS_1
"Yaelah kan gue cuman nanya, kok elu yang sewot? Ica Aja bisa aja." Ucap Dimas.
"Elu yah." Ucap Salsa yang ingin menapol Dimas kembali tapi perkelahian mereka di lerai oleh Ica.
"Sudah sudah stop." Ucap Ica.
Dimas dan Salsa yang mendengar ucapan Ica menurut dan menghentikan perkelahian. Dimas dan Salsa memang sering berkelahi tetapi jika Ica melerai tak pernah sekalipun dua sahabanya perotes dan langsung mendengarkan ucapan Ica.
"Nah gitu dong kalau diem akur kan enak diliatnya. Sekarang Ica Ingin kasih tau nih ya, Ica enggak hamil duluan itu salah, Ica mau menikah karena kalian juga tau kan selama ini Ica juga enggak pernah berpacaran karena Ica juga tidak ingin berpacaran makanya Ica mengiakan dan memilih menikah. Ica harap kalian sebagai sahabat Ica dapat mendukung keputusan yang Ica buat." Ucap Ica.
"Maaf ya Ica. Gue bukan bermaksdu untuk ngelarang elu buat menikah. Gue juga enggak ada hak buat ngelarang elu, cuman gue sebagai temen lu berharap yang terbaik untuk kebahagian lu. Karena Selama Ini kita berdua udah tau gimana perlakuan buruk bibi, paman serta ankanya itu memperlakukan lu. Kita cuman pengen lu bahagia. Kalau memang lu yakin yah kita sebagai teman hanya bisa mendukung." Ucap Salsa yang di angguki oleh Dimas.
"Ia makasih yah kalian berdua memang sahabat terbaik yang gue punya." Ucap Ica memeluk Salsa dan Dimas.
"Uhh tayang, jadi sedih deh" Ucap Salsa dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Aduh udah gede nangis cengen banget sih." Ucap Dimas mengacak acar rambut Salsa.
"Aduh! Apaan sih! jadi ruasak nih rambut gue. Gimana mau ada yang naksir kalo rambut gue berantakan gini." Ucap Salsa merapihkan rambutnya kembali.
"Ada kok tenag ajah, gue mau kok sama lu." Ucap Dimas membatu Salsa merapihkan rambutnya.
"Yaampun jantung gue kaya abis lari maraton, kok deg degkan gini ya." Pikir Salsa.
Ica yang melihat memang sudah tidak heran karena selama ini Ica memang tau bahwa Dimas menyukai Salsa sejak lama. Tetapi Ica tidak mengerti mengapa Dimas belum menyatakan persaannya kepada Salsa sampai saat ini.
"Ehemm! Bersa obat nyamuk nih." Sidir Ica tersenyum.
"Ih apaan sih, udah yuk masuk kelas." Ucap Salsa merangkul lengan Ica meninggalkan Dimas.
"Buset.. gue di tinggalin, Selalu jadi orang yang di tinggalakan persaan." Ucap Dimas menyusul Salsa dan Ica.
__ADS_1
๐๐๐๐Samapai jumpa๐๐๐๐
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บBersambung๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ