
πΉπΉπΉπΉSelamat membacaπΉπΉπΉπΉ
β’
β’
β’
β’
Malam harinya, Ica tidak dapat memejamkan kedua matanya, berulangkali ia mencoba terpejam tetapi membuatnya kembali terjaga.
"Bagaimana Aku bisa tidur jika dia terus sajah menatapku?" Keluh Ica.
Semua berawal pada saat Ica ingin menuju ke arah kamarnya untuk beristirahat. Tetapi Ibu Dahlia melarang Ica dan menyuruh dirinya untuk tidur di dalam kamar Tuannya itu, agar Aldo dapat menjaga Ica.
Berulang kali Ica menolak tetapi Nenek Sumi malah ikut mendukung Ibu Dahlia. Akhirnya Ica menurut, dirinya sudah kalah telak.
Dua melawan satu mana mungkin dia menang. Dan sekarang Kini Ica tengah gelisa kareana tatapan Aldo yang tak lepas memandang Ica. Karena hal itu membuat Ica tak dapat tidur dengan tenang.
"Tuan." Panggil Ica.
"Ia ada apa? ada yang kamu butuhkan? Biar aku saja yang mengambilnya jangan berani menurunkan kakimu itu, samapi berani kaki mu menyentuh lantai, liat apa yang akan kulakukan kepada mu!" Tegas Aldo menghampiri Ica.
"Sedikit dikit mengancam saja hobinya, saya cuman mau bilangn, bisa tidak Tuan jangan melihat ke arah ku terus, aku jadi tidak bisa tidur." Keluh Ica kepada Aldo.
"Mengapa? Apa salah jika aku menatap kekasihku sendiri?" Tanya Aldo mendekatkan tubuhnya di atas tubuh Ica.
Ica hanya menggigit bawah bibirnya.
"Mengapa diam?" Tanya aldo semakit merapatkan dirinya.
"Tuan pertanyaan apa itu? Bagaimana aku bisa menjawab jika posisinya seperti ini".
Dirinya terjebak, Aldo menggunci pergerannya. Ica hanya bis menghadap lurus ke ara Aldo.
Deburan hembusan nafas Aldo kini semakin dekat dirasakan oleh Ica, membuat detak jantung Ica bergemuruh kencang. Ditambah dengan tatapan mata Aldo yang memabukan untuk Ica. Dirinya tak dapat mengontrol diri jika ini terus berlanjut. Bibirnya kini mulai semakin dekat dengan Bibir Aldo.
Tetapi Aldo menghentikan Tidakannya. Aldo takut setelahnya tidak dapat mengontrol dirinya. Ica yang sudah memejamkan kedua matanya merasa hembusan nafas yang dekat semakin menjauh. Dibukanya kedua mata Ica. Dirinya melihat Aldo yang duduk di samping Ica.
"Mengapa, apa kau kecewa?" Ledek Aldo.
"Tidak siapa yang kecewa." Kesal Ica memonyongkan bibirnya.
Aldo tesenyum melihat tingkah Ica. Mengusap pucuk kepala Ica. Lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik ketelinga Ica.
"Aku menahan diri tapi jika kau sudah menjadi milikku, jangan harap aku akan menahan diri untuk menerkam dirimu." Bisik Aldo.
Seketika wajah Ica merah merona, Ica menenggelamkan wajahnya di dalam selimut. Terukir Senyum di bibir manis Ica.
Malampun berlalu mereka tertidur dengan senyum terukir dikeduanya.
Sebelum suara kicau burung membangunkan Ica. Dirinya lebih dahulu terbangun. Ica merapihkan tempat tidur. Dilihatnya Aldo masih terlelap tidur di Sofa. Didekatkannya wajah Ica memandangi Wajah Tuan Mudanya Itu.
"Tertidur sajah tampan." Gumam Ica pelan.
__ADS_1
"Aku memang tampan." Suara Aldo menjawab Ica dengan posisi mata yang masih terpejam.
Ica yang terkejut memundurkan tubuhnya.
"Tuan sejak kapan anda terbangun?" Tanya Ica.
"Sejak kau memandangi wajahku dan bilang bahwa diriku ini tampan." Ucap Aldo tersenyum melirik kearah Ica.
Ica malu dengan apa yang ia lakukan. Dirinya berlari meninggalkan kamar Aldo. Tak tahu sikap seperti apa yang harus Dirinya tunjukan nanti kepada Aldo.
Ica Kini tengah menuju kamarnya membersihkan diri dan membuat sarapan untuk keluarga wijaya.
Kini semua tengah menikmati waktu sapan mereka. Ica dan juga Nenek Sumi juga Ikut makan bersama. Setelah Itu Ica merapihkan meja makan. dan semua kini tengah bersantai di ruang Keluarga.
"Sayang Aku berangkat kerja dulu" Ujar Aldo yang datang mengejutkan Ica yang tengah fokus membersihkan meja makan.
"Sayang?" Tanya Ica.
"Iya kau kan kekasih ku? Apa salah jika Ku panggil sayang?"Ujar Aldo.
"Bagaiman jika Nyonya dan Tuan besar Tau?" Tanya Ica.
"Yah jika mereka tau mau bagaimana lagi, biarkan saja." Ucap Aldo cuek lalu mengecup kening Ica.
"Yasudah aku jalan ya, apa mau ku antar sekalian?" Tanya Aldo.
"Tidak usah, aku nanti berangkat sendiri saja" Tolak Ica.
"Yasudah." Ucap Aldo mengangukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Ica.
"Bagaimana dia bisa secuek itu" Keluh Ica menggelekan kepanya, lalu melanjutkan kembali membersihkan meja dan bersiap untuk berangkat ke kampus.
Ica mengetuk kaca mobil Salsa. Kaca mobil pun terbuka.
"Hey, kenapa tidak bilang jika ingin menjemputku" Tanya Ica di luar mobil.
"Kejutan dong, kalau di kasih tau enggak asik," Ujar Salsa tersenyum.
Ica hanya tersenyum menggelengkan kepala, ada sajah lah kelakuan sahabatnya ini.
Saat mereka berdua sudah tiba di kampus. Tiba tiba ada seorang pria yang menghampiri Ica dan Salsa.
"Hay." Ucap pria itu.
Ica dan Salsa hanya saling melempar pandangan heran.
"Situ siapa ? Sksd banget sama kita berdua?" Tanya Salsa sinis.
" Sksd apa itu?" Tanya pria itu.
"Sok kenal sok deket." Jawab Salsa jutek.
Lalu priapun itu tetawa.
"Gila kali nih cowok Ica" Bisik Salsa.
"Shut, kamu ini jangan ngomong gitu" Ucap Ica.
"Abis enggak ada yang lucu dia ketawa." Ucap Salsa.
__ADS_1
"Hey hey, aku dengar semuanya. Aku tidak gila, ini aku? apa kalian lupa dengan sahabat kalian ini?" Tanya pria itu menujuk dirinya.
"Sudahlah tidak usah main tebak tebakan! Kalau tidak mau bilang yasudah, jangan buang waktu gue." Ucap Salsa mendorong tubuh pria itu agar tidak mengahalangi jalannya dan menarik tangan Ica untuk ikut pergi.
"Ini gue Dimas" Teriak pria Itu melihat Ica dan Salsa yang mulai jauh pergi.
Ica dan Salsa yang mendengar pria itu menyebutkan namanya berhenti dan berbalik.
"Dimas" Ucap Ica dan Salsa bersamaan.
Dimas mendekat ke arah Ica dan Salsa.
"Parah banget lu berdua, bisa bisanya lupa sama gue." Gerutu Dimas.
"Maafin kita ya Dim." Ucap Ica. Dimas yang mendengar tersenyum dan menganggukan kepala.
"Lagian enggak ada untungnya juga inget sama lo." Ketus Salsa.
"Yaelah, geng ini tampa adanya diri gue enggak bakalan berkah." Ucap Dimas.
"Cih, berkah apanya yang ada dapet sial nanti gue sama Ica nerima cowok terbar pesona kaya lo." Ketus Salsa.
"Eh, gue enggak usah tebar pesona, dari lahir pesona gue emang udah menyebar." Ucal Dimas bangga.
"Udah jangan berantem mulu, kalian kalo ketemu enggak pernah akur dari dulu." Ujar Ica melerai.
"Abis dia ngesilin." Sebel Salsa.
"Sori ya Cowok kaya gue ngangenin, catet tuh!" Jawab Dimas.
"Yasudah kalian berantem ajah aku mau masuk." Ucal Ica meninggalkan mereka berdua.
"Ica tunggu." Ucap Dimas dan Salsa bersamaan.
"Semua salah lu." Ucap Salsa melirik tajam Dimas.
"Loh? kok gue sih?" Ucap Dimas tak mau kalah.
Sesampainya di depan kelas Salsa yang melihat Dimas juga ikut masuk kedalam.
"Ngapain sih ngikutin aja." Keluh Salsa.
"Dihh, kepedean. Gue juga masuk di kelas yang sama, gue ini mahasiswa baru di kampus ini." Ucap Dimas.
" Yah, kok elu sih mahasiswa barunya? Kecewa Salsa.
"Gue denger anak barunya ganteng gitu, makanya gue jemput Ica biar cepet sampai kamus bareng gue, yah taunya kutu beras" Kesal Salsa.
"Enak ajah, Tampan kaya gini disamain sama kutu beras." Protes Dimas.
"Shutt, udah diem tuh dosen nya udah dateng." Ucap Ica.
Dimas dan Salsa Akhirnya tak saling balas membalas ejekan, Ica akhirnya merasakan susana kembali tenang.
Mereka bertiga mengikuti pelajaran dengan baik, sebelum pelajaran di mulain Dimas juga di pinta oleh dosen Untuk memperkenalkan dirinya karena ia mahasisawa baru.
πππππSampai jumpaπππππ
πΊπΊπΊπΊπΊBersambungπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1