
"Ya,ya,ya..ngerjain tugas sambil pacaran, kan Mel" ledek Tara.
Mely tersenyum mendengar ledekan Tara dan mentap Bram yang tersipu.
"Aku baru ingat kalau aku ada kelas tambahan hari ini, aku pergi dulu." ucap Bram beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Hati-hati kak." ucap Tara.
"Terima kasih atas bantuannya kak." ucap Nisa.
Bram melihat ke arah mereka bertiga dan tersenyum dengan manis.
"Tidakkah kau lihat itu, senyumnya sungguh menawan." ujar Tara masih menatap Bram.
Nisa dan Mely tersenyum mendengar perkataan Tara, mereka tahu kalau Tara sudah menyukai Bram saat baru pertama masuk kampus ini.
Tara selalu mencari perhatian Bram, dan selalu mengangu Bram jika ia melihat Bram. Meskipun Tara tahu Bram hanya menykai Nisa tapi Tara tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Bram.
"Bilang aja kalo kamu suka, nanti keburu di embat yang lain lo." goda Mely
"Paan sih, gak kok. Lagipula kayaknya kak Bram suka sama kamj deh Nis." ucap Tara kecewa.
"Aku tahu." ucap Nisa menghela nafas panjang.
"Kak Bram pernah bilang kalo dia suka sama kamu." tanya Tara penasaran.
"Iya dia pernah bilang." jawab Nisa.
8"Trus kenapa kalian gak pacaran?" Tara semakin penasaran.
__ADS_1
"Emm, aku selalu menganggapnya sebagai kakakku, aku tidak bisa mencintai dia lebih dari itu." jawab Nisa.
"Kau tidak mengabaikannya hanya karena kau tahu aku mencintainya bukan." tegas Tara.
"Tentu saja tidak, aku benar-benar tidak memiliki perasaan untuknya." jawab Nisa.
"Ahhh, aku lega mendengarnya." ujar Tara menghela nafas.
Mely tersenyum mendengar pembicaraan kedua sahabatnya itu.
"Aku baru ingat, sepertinya kamu punya hutang yang harus di bayar Nis." ucap Mely menatap Nisa.
Nisa tertegun mendengar perkataan Mely, ia menatap Mely dengan tatapan sayu.
Tara yang tidak ingat sama sekali dengan janji Nisa kemarin, heran dan penasaran dengan maksud Mely.
"Emang kamu punya hutang ya sama Mely?" tanya Tara dengan polosnya pada Nisa.
"Ohhh iya, aku inget, laki-laki itu." ucap Tara.
"Emm ii,itu..se,sebenarnya." Nisa terbata-bata
Mely dan Tara terus mentap Nisa dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Huhhhh..baiklah aku akan cerita semuanya." ucap Nisa.
Akhirnya Nisa menceritakan semua yang terjadi padanya, mulai dari pengakuan keluarganya, sikap kedua orang tuanya bahkan adiknya yang berubah, hingga ia di paksa menikah dengan Angga.
Tara dan Mely terdiam sejenak setelah mendengar semua penjelasan dari Nisa.
__ADS_1
"Kayaknya ada yang janggal deh, kamu bilang di acara pernikahan itu banyak wartawan yang datang, tapi kenapa tidak ada berita yang tersebar?" tanya Mely.
"Iya juga ya." sahut Tara.
Nisa terdiam sejenak dan memikirkan hal tesebut.
"Aku tidak tahu." ucap Nisa.
Nisa kebali terdiam, firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Semoga tidak terjadi masalah apapun." ucap Nisa dalam hati.
Di rumah,
Setelah pulang dari kampus Nisa hanya duduk diam di ruang tamu, ia selalu merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Huhhhh, mungkin aku terlalu lelah." ucap Nisa menghela nafas.
Nisa beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamarnya. Saat berjalan menuju kamar Nisa memperhatian sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang tamu, saat pertama Nisa pindah ia sudah memperhatikan ruangan itu. Sebenarnya Nisa penasaran dengan ruangan itu dan ingin melihat ke dalam ruangan, tapi Nisa tidak bisa membuka pintu karena pintunya terkunci dan ia tidak memiliki kunci tersebut.
"Mungkin itu ruangan pribadi Direktur." gumam Nisa.
Hati dan pikiran Nisa sedang tidak stabil, ia terus merasa bahwa hal buruk akan terjadi. Nisa mencoba untuk tidur dan berhenti memikirkan hal yang mengerikan tapi itu tidak berhasil, Nisa terus saja merasa gundah.
Nisa mencoba menenangkan diri, ia menatap keluar jendela menyaksikan daun yang menari di terpa angin, melihat burung yang terbang bebas dan melihat langit yang cerah.
Nisa seakan hanyut dalam pandangannya, ia bahkan tak sadar hpnya terus berbunyi.
__ADS_1