
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa direktur belum tiba."tanya Pak Darto pada Tio.
"Saya juga tidak tahu, saya sudah mencoba menghubungi direktur tetapi tidak ada jawaban."jawab Tio.
Pak Darto dan Bu Nanda semakin gelisah, semua tamu mulai membicarakan keluarga mereka.
Satu jam berlalu tapi direktur belum tiba di gedung itu.
Tio terus menghubungi direktur, hingga akhirnya ada ada panggilan dari direktur.
"Baiklah akan saya sampaikan."jawab Tio.
Tio menutup hpnya dan menemui Pak Darto dan Bu Nanda.
"Direktur tidak bisa hadir hari ini, ada hal penting yang harus dilakukan."ucap Tio.
Pak Darto dan Bu Nanda kaget mendengar perkataan Tio.
"Ba..bagaimana mungkin itu terjadi, ini adalah hari pernikahannya kenapa direktur tidak bisa hadir." tanya Bu Nanda.
"Direktur adalah orang yang sangat sibuk, dia lebih mementingkan perusahaan daripada pernikahan ini." jawab Tio.
Bu Nanda syok mendengar jawaban Tio seluruh tubuhnya lemas ia hampir jatuh pingsan.
"Bagaimana ini, orang-orang akan berbicara buruk tentang keluarga kita. Di mana aku harus menyimpan muka ini."ucap Bu Nanda lemas.
Pak Darto hanya diam dia tidak bisa berpikir jernih, jika pernikahan inj batal maka itu akan berdampak buruk bagi keluarga mereka.
"Sebenarnya masih ada satu cara agar pernikahan ini tidak dibatalkan."ucap Tio.
Pak Darto dan Bu Nanda kaget mendengarnya.
"Apa itu?" tanya Pak Darto.
"Anak bapak harus menikah tanpa adanya direktur."jawab Tio.
Pak Darto kaget mendengarnya, ia heran bagaimana bisa itu terjadi.
"Saya sendiri yang akan menjadi suara pengganti direktur."ucap Tio.
Pak Darto dan Bu Nanda saling menatap satu sama lain setelah mendengar pernyataan Tio.
"Jika pernikahan ini sampai batal, maka itu akan berdampak buruk bagi perusahaan dan keluarga. Lagipula tidak penting apa yang dibicarakan orang-orang tentang Nisa, hal yang terpenting adalah mendapat dukungan dari direktur."pikir Pak Darto.
"Baiklah, laksanakan seperti itu saja. Jika pernikahannya batal maka itu akan berdampak buruk untuk kita semua bukan." ujar Pak Darto.
"Kalau begitu acara kita mulai sekarang. Panggil pengantinnya!" perintah Tio.
Pernikahan dilaksanakan tanpa adanya pengantin laki-laki. Semua tamu yang hadir mulai membicarakan Nisa, seperti yang dipikirkan Pak Darto semua orang hanya terfokus pada Nisa yang terlalu terobsesi untuk menikah dengan Angga.
Nina hanya bisa mengikuti alur pernikahan. Dia dipaksa untuk tersenyum selama acara dilaksanakan.
__ADS_1
***
Setelah acara pernikahan Nisa pergi ke rumah yang sudah disiapkan Angga.
"Mulai sekarang anda akan tinggal di rumah ini nona." ucap Tio.
"Baiklah" ucap Nisa.
Nisa dan Tio langsung masuk ke rumah mewah itu. Saat masuk Nisa melihat semua barang-barang masih menumpuk, dan berdebu. Tidak ada seorangpun pelayan yang ada di rumah itu.
"Maafkan saya nona, saya tidak sempat membereskan rumah ini dan saya masih belum bisa menemukan pelayan yang tepat untuk di rumah ini. Jadi saya harap anda bisa membersihkan dan mengurus rumah ini sendiri untuk sementara waktu." ucap Tio.
"Ap...apa, jadi maksudmu saya harus mengurus rumah yang besar ini sendiri?" tanya Nisa sedikit kaget.
"Maafkan saya, tapi anda harus melakukannya sendiri sampai kami menemukan pelayan untuk anda."jawab Tio.
Nisa menghela nafas panjang, ia tak habis fikir dengan apa yang ia alami ini.
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang, aku akan mengurus rumah ini." ucap Nisa.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Permisi."ucap Tio dan langsung meninggalkan Nisa sendiri di rumah mewah itu.
Nisa hanya bisa diam menatap betapa besarnya rumah yang diberikan oleh Angga.
"Baiklah, mari mulai membersihkan rumah ini."ucap Nisa mengumpulkan semangat.
"Akhirnya selesai juga, Ahhh aku benar-benar capek."ucapnya dan langsung duduk di sofa yang empuk.
Karena capek Nisa tidak sadar dia tertidur di sofa sampai larut malam.
"Akhhhh...aku ketiduran. Aku harus cepat mandi dan mencari makan, aku sangat lapar."ucapnya langsung bergegas pergi ke kamarnya.
Setelah mandi Nisa pergi ke supermarket yang tidak jauh dari rumah barunya, ia hanya punya uang untuk membeli beberapa bungkus mie instan dan telur.
"Cukuplah untuk mengisi perut hingga esok siang."ucapnya menghela nafas.
Setelah berbelanja Nisa langsung pulang karena sudah begitu larut ia takut hal buruk terjadi padanya.
Saat di dalam perjalanan pulang ia merasa ada seorang laki-laki mengikutinya dan ia mempercepat langkahnya.
Nisa semakin takut, laki-laki itu terus mengikutinya hingga ia tiba di gang sepi di dekat rumahnya. Laki-laki itu mulai mempercepat langkahnya dan menangkap tangan Nisa.
Nisa kaget ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu, laki-laki itu malah semakin kuat menggenggam tangan Nisa dan menarik Nisa ke pelukannya.
"Gadis yang manis." ucap laki-laki itu memeluk erat Nisa dan memegang dagu Nisa.
Nisa mencoba memberontak tapi pelukan dari laki-laki itu sangat kuat, dia mencoba untuk berteriak dan meminta tolong tetapi laki-laki itu menutup mulutnya.
"Ayolah gadis manis, jangan melawan aku janji akan memperlakukanmu dengan baik asal kau menurut."ucap laki-laki itu.
__ADS_1
Nisa semakin takut ia terus memberontak dan mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan gadis itu." teriak seorang laki-laki dari kejauhan.
Nisa melihat laki-laki itu dengan seksama.
"Tuan Tio."ucapnya dalam hati.
Nisa semakin memberontak ia menggigit tangan laki-laki itu.
"Akhhh...dasar perempuan j*l**g." teriak laki-laki itu melepaskan pelukannya dari Nisa.
Setelah laki-laki itu melepas pelukannya Nisa langsung berlari ke arah Tio.
"Tolong aku, dia ingin mencelakaiku."ucap Nisa.
"Saya tahu, tolong masuklah ke mobil dan jangan keluar sampai saya menemui anda nona." ujar Tio.
Nisa menuruti perkataan Tio dia berlari ke arah mobil yang tidak jauh dari tempat kejadian.
Nisa hanya bisa menunggu, seluruh tubuhnya bergetar, ia sangat ketakutan tapi ia lebih mengkhawatirkan Tio yang melawan penjahat itu sendiri.
Tidak lama setelah itu Tio datang menemui Nisa di mobil dan ia pun langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Apa kau baik-baik saja, bagaimana dengan penjahat itu?"tanya Nisa
"Saya baik-baik saja, sebentar lagi polisi akan datang ke tempat ini untuk menangkap penjahat itu anda tenang saja nona."ucap Tio
Nisa merasa sedikit lega mendengar perkataan Tio.
Tio dan Nisa pergi dari tempat kejadian itu, Tio mengantarkan Nisa tepat di depan rumah Nisa.
"Sudah sampai."ucap Tio membukakan Nisa pintu mobil.
Saat turun Nisa melihat tangan Tio terluka.
"Tanganmu terluka, apa karena perkelahian tadi."tanya Nisa.
"Iya, tapi saya baik-baik saja, saya akan mengobatinya setelah saya tiba di rumah" ucap Tio.
"Tidak, itu harus segera diobati. Ayo masuklah aku akan mengobati lukamu."ucap Nisa
"Saya sungguh baik-baik saja nona."ucap Tio
Nisa tidak mendengarkan perkataan Tio, ia langsung mendorong Tio dari belakang untuk masuk ke rumahnya.
"Nona saya sungguh tidak apa-apa."ucap Tio mengingatkan Nisa.
"Berhentilah mengelak, dan turuti saja ini perintah."ucap Nisa tegas.
Tio hanya bisa pasrah, ia mengikuti keinginan Nisa.
__ADS_1