
Saat tiba di depan rumah, Nisa dan Tio melihat banyak mobil-mobil mewah berada di depan rumah Nisa, entah itu mebil siapa tidak ada yang tahu.
Nisa memandang heran semua mobil yang terparkir rapi di depan rumahnya. Dia tidak punya teman atau kerabat yang memiliki mobil-mobil mewah seperti ini.
Saat tiba di pintu utama ada dua orang laki-laki bertubuh kekar, berpakaian rapi dengan warna hitam.
Nisa menatap kedua laki-laki asing itu dengan tatapan heran, seingatnya di rumahnya tidak ada laki-laki seperti itu.
Nisa kemudian berjalan ke arah dua laki-laki itu berdiri.
Melihat kedatangan Nisa di ikuti Tio dari belakang kedua laki-laki itu serentak membungkukkan badan 35 derajat, seperti memberi hormat.
Nisa kaget, ia tak biasa dengan suasana seperti ini.
Salah satu dari laki-laki tersebut membukakan pintu untuk Nisa dan yang satu lagi menunjukan jalan, agar Nisa mengikuti arah langkahnya.
Tio tidak diperbolehkan masuk, ia dihentikan laki-laki yang membukakan Nisa pintu, ia meminta Tio untuk kembali ke rumahnya.
"Maafkan saya, tapi ini perintah." laki-laki itu menghalangi jalan Tio.
Tio menatap laki-laki itu, dan kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah Nisa.
Nisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya, ia takut dan ingin keluar dari rumah itu, tapi ia tak bisa.
Nisa berjalan tepat di belakang laki-laki berbaju hitam itu, ia memperhatikan tubuh laki-laki itu. Sangat jelas, di balik pakaian berwarna hitam itu terdapat bahu yang lebar dan kekar sangat menggoda bagi para wanita.
"Nona, tuan ada di dalam, silahkan masuk." laki-laki itu menunjukan pintu yang tak jauh dari posisi Nisa berdiri, setelah memberi tahu laki-laki itu kembali menundukan badan 35 derajat dan beranjak pergi meninggalkan Nisa sendiri.
Nisa menatap pintu itu, sebuah pintu yang besar berwarna coklat tua dengan ukiran yang sangat unik di setiap sisi pintu.
"Kenapa aku tidak pernah melihat ruangan ini sebelumnya?" Nisa menatap heran.
Ia memberanikan diri membuka langkah perlahan dan membuka pintu itu dengan cepat.
Gelap, tidak ada cahaya lampu sama sekali di ruangan itu, Nisa tidak bisa melihat keberadaan Angga ia mencoba mencari tombol lampu di dekat pintu, ia meraba dinding dengan perlahan mencari di mana letak tombol tersebut.
Nisa terus meraba dinding tersebut hingga akhirnya ia menemukan sebuah tombol dan langsung menekannya.
"Srrakkkkk"
__ADS_1
Tirai terbuka lebar, cahaya lampu dan rembulan menembus jendela hingga menerangi seisi ruangan tersebut.
Nisa melihat ke arah jendela itu, ia melihat ukuran jendela yang sangat besar dan kaca yang sangat jernih, di tengahnya berdiri seorang laki-laki, ia menghadap keluar jendela dengan tangan saku celana.
Cahaya yang menerobos memasuki ruangan melewati jendela seakan memang sudah dipersiapkan agar cahaya itu dapat menyinari dirinya dengan begitu indah.
"Direktur Angga." Nisa memanggil untuk memastikan apakah itu Angga atau orang lain.
Tiba-tiba semua lampu yang ada di ruangan itu menyala, terlihat dengan jelas tubuh laki-laki yang ada di depan Nisa itu.
Angga membalikan badannya dan melihat ke arah Nisa berdiri, ia menatap Nisa tanpa ekspresi dan langsung duduk tanpa bicara pada Nisa.
Nisa berjalan mendekati Angga dengan langkah yang cepat, tangannya mengepal seakan ingin memukul Angga dengan tangan mungilnya itu.
"Kenapa kau lakukan itu?" Nisa mencoba menahan amarahnya.
Angga hanya menatap Nisa seakan tak tahu apa yang telah terjadi.
"Apa sekarang kau jadi tuli, aku bertanya padamu kenapa kau lakukan itu pada ayahku." Nisa terus mencoba menahan amarahnya.
Lagi-lagi Angga hanya menatap Nisa dan tersenyum.
"Bermain, bermain kau bilang, bisa-bisanya kau bermain dengan nyawa seseorang." Nisa semakin marah mendengar perkataan Angga.
Angga menatap Nisa.
"Kenapa kau begitu peduli?" tanya Angga.
"Karena mereka keluarga ku, aku menyayangi mereka." Jawab Nisa tanpa pikir panjang.
"Hahahahahahahahahahahaha." Angga tertawa begitu keras sehingga membuat Nisa kaget.
"Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini, rasanya menyenangkan." ucap Angga sambil tertawa.
Nisa menatap Angga, ia merasa aneh dengan sikap Angga.
"Ada apa dengannya." ucap Nisa dalam hati.
"Kau benar-benar menarik." Angga menatap Nisa dengan tatapan bangga.
__ADS_1
"Hah?" Nisa sedikit kaget.
"Kau bahkan bukan anak kandung mereka, kenapa kau sampai melakukan hal ini?" Angga melontarkan pertanyaan yang membuat Nisa kaget.
"Dari mana kau tahu aku bukan anak kandung mereka?" Nisa terbata-bata.
Bibir Angga membentuk sedikit senyuman, senyuman itu terlihat seperti Angga sedang meremehkan Nisa.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui tentang dirimu." ucap Angga.
"Sejak kapan?" Nisa terdengar kaget.
"Saat kau memutuskan untuk menjadi istriku." ucap Angga dengan seringai di bibirnya.
"Jika kau tahu aku bukan anak kandung mereka kenapa kau tetap mau menikahiku? Apa untungnya untukmu?" Nisa meninggikan nada bicaranya.
Angga menatap Nisa, ia tersenyum dingin dan membuat bulu kuduk Nisa merinding.
"Kau pikir aku mau menikah denganmu?" ujar Angga.
Nisa tertegun mendengar perkataan Angga.
"Apa maksudnya?" Nisa bertanya dalam hatinya.
"Ahhh, semua sudah terjadi. Gara-gara ego keluargamu aku harus menyusun ulang rencana ini." ucap Angga beranjak dari tempatnya berdiri, membuka langkah perlahan mendekati Nisa.
"Apa maksudnya? Rencana apa yang dia maksud?" Nisa kembali bertanya pada dirinya sendiri.
"Dan kau." Angga sudah berdiri tepat di depan Nisa.
Nisa hanya bisa menatap Angga tanpa bicara sepatah katapun.
"Jika kau masih sayang dengan nyawamu, jangan pernah ikut campur urusan keluarga itu lagi, kau mengerti." Angga berkata dengan nada peringatan, di matanya terlihat tekanan dan ancaman jika Nisa melanggar apa yang dikatakan oleh Angga.
Angga berjalan ke arah pintu, dan tiba-tiba berhenti saat memegang gagang pintu.
"Satu lagi, aku tidak suka kau gunakan baju dari laki-laki lain di hadapanku." ucap Angga kemudian membuka pintu dan berjalan keluar.
Nisa terdiam, ia tidak mengerti situasi apa sebenarnya yang sedang ia hadapi.
__ADS_1