
πΉπΉπΉπΉSelamat membacaπΉπΉπΉπΉ
β’
β’
β’
β’
Pagi harinya di kediaman keluaraga Wijaya telah di sibukan dengan Acara pernikahan mereka berdua. Terlebih Sang Ayah yang terlihat sibuk menghubungin rekan bisnisnya. Tak luput dari pandangan mata Ibu Dahlia pun sibuk di dengan urusannya sendiri.
Aldo datang menghapiri Ayah Dan Ibunya.
"Pagi Yah, pagi Bu." Ucap Aldo.
"Pagi sayang." Ucap Ayah dan Ibu bersamaan tanpa menengok ke arah Aldo.
"Yaampun kacang mahal nih." Ujar Aldo menyindir Ayah dan Ibunya.
"Memang kamu beli kacang dimana? kok mahal?" Tanya Ibu Dahlia.
"Ia, memang mahal banget? sampai kamu ngeluh gitu?" Tanya sang Ayah.
Aldo yang mendengar hanya memutar balikan matanya malas untuk menjawab ucapan sang Ayah serta Ibunya.
Aldo memilih meninggalkan sepasang suwami istri itu dan menuju meja makan.
"Anak kurang ajar, ditanya malah pergi!, Begitu lah kelakuan anakmu Yah" Ucap Ibu Dahlia.
"Loh ? Diakan anakmu juga Bu" Ucap sang Ayah.
"Kalau baik dia anakku tapi kalau sifatnya buruk jelas dia mengikut sifatmu, makanya dia anakmu." Ujar Ibu Dahliah melengos meninggalkan sang suwami.
Dito yang melihat hanya dapat menggelengkan kepalanya, Melihat kelakuan sang Istri.
β’
β’
β’
__ADS_1
β’
Kini Ica tengah berada di butik Kepercayaan Keluarga Wijaya.
Ica di temani Aldo dan Ibu Dahlia memilih gaun yang nanti akan Ica kenakan Juga Denga jas yang akan Aldo kenakan.
Nenek Sumi tak iku bersama. Ia lebih memilih di rumah sajah beritirahat. Terlebih melihat kondisi tubuh Nenek Sumi yang sudah mulai mudah lelah, akhirnya hanya Ica, Aldo serta Ibu Dahlia saja yan Ikut. Sedangkan sang Suwami tengah berada di perusahaanyaa.
Disana Ica tabjuk dengan semua gaun yang ada di dalam butik.
Pemilik butik yang kebetulan sahabat Ibu Dahlia, merasa senang melayani Ica yang nantinya akan menjadi menantu keluarga Wijaya.
"Selamat datang Jeng. Aduh udah lama banget enggak main ke butik saya." Ucap Pemilik Butik Ibu Sasa.
"Aduh maaf ya jeng, lagi sibuk banget." Ucap Ibu Dahlia. mengecup pipi kana kiri Ibu Sasa. Yah namanya Ibu sosialita kecup sini kecup situ.
"Ia tau deh yang selalu nempel terus sama suwami, oh iya jeng ini siapa? Saya baru lihat." Ucap Ibu Sasa melihat Ica.
" Oh, ini kenalin menatu saya jeng." Ucap Ibu Dahlia memperkenalkan Ica.
" Ica tante." Ucap Ica memasang senyum di wajahnya.
"Boleh juga pilihannya jeng, tapi kalo enggak salah inget? bukannya Aldo udah punya tunangan? siapa yah namanya? kalau tidak salah emm Amanda yah kan Jeng?" Tanya Ibu Sasa.
Aldo dan Ibu Dahlia yang mendengar Nama Amanda sekekita membuat ekspresi tidak menyenangkan. Aldo dan Ibu Dahlia juga melirik ke arah Ica. Terlebih Aldo yang kawatir jika Ica merasa tidak enak dan canggung. Aldo juga belum sempat menceritakan tentang Amanda kepada Ica. Walaupun Aldo tidak tahu bahwa Ica sudah pernah mendengar tentang Amanda dari Nenek Sumi.
"Tidak masalah jeng, itu masa lalu, keluarga kami memang belum memberitahukan ke halayak umum. Wanita itu tidak pantas untuk anak saya. Ia bagaikan Aib bagi keluarga sayang yang tidak mudah untuk membicarakannya." Ucap Ibu Dahlia terlihat kekecewaan di balik senyum Ibu Dahlia mengingat sosok Amanda yang telah menyakiti perasaan anaknya. Kini Ibu Dahlia berharap bahwa sang anak akan dapat hidup bahagia dengan Ica.
Ibu Sasa yang mendengar Ucapan Ibu Dahlia memasang muka terkejut. Lantar tidak pernah ada pembicaraan atau berita negatif mengenai keaada di dalam keluarag Wijaya.
"Sepertinya perempuan itu membuat ulah yang tak termaafkan" Fikir Ibu Sasa.
"Yasudah jeng, maksud kedatangan saya ingin, Menemani calon menantu saya ini untuk memilih gaun yang akan ia kenakan di acara pernikahannya. Karena saya tau butik ini ialah butik terbaik dan terpecaya" Ucap Ibu Dahlia mencairkan susana.
"Aduh jeng bisa saja. Baiklah, kira kira gaun seperti apa yang kamu mau" Tanya Ibu Sasa kepada Ica.
"Saya mau gaun yang simple saja." Ucap Ica.
"Kamu yakin yang simple? Ini pernikahan Keluar Wijaya, keluarga terkaya no 1?" Tanya Ibu Sasa yang tak menyangka bahwa gaun yang Ica inginkan gaun yang biasa bagianya.
"Tidak masalah tante, apapun selagi itu dapat membuat Ica nyaman dan bahagia." Ucap Aldo merangkul bahu Ica.
"Aduh, enaknya masa muda." Ucap Ibu Sasa.
__ADS_1
"Ia, tak apa jeng, berikan saja yang Ia mau." Ujar Ibu Dahlia.
"Baiklah jika itu mau mu, aku tak ambil pusing. Inikan acara pernikahan mu."Ucap Ibu Sasa pergi mengambil beberapa gaun di bantu oleh Asistennya.
Tak lama Ibu Sasa Datang Membawa gaun.
Dikeluarkannya beberapa gaun, Ica mencoba dan memilih yang mana yang akan Ica kenakan di hari pernikahannya.
Ada empat gaun yang dikeluarkan.
Setelah semuanya di coba oleh Ica.
Akhirnya Ica memilih gaun ke dua.
Ica ingin mengenakan gaun yang simple dan nyaman untuknya dan Ica rasa gaun ini menjadi pilihannya.
"Gaun itu terlihat cantik dan pas untuknya, ia kan Nak." Ucap Ibu Dahlia.
"Ia bu, ia terlihat cantik" Ucap Aldo yang tak sadar berucap. Ucapannya dapat di dengar Oleh Ibu Dahlia dan Ibu Sasa, Juga dapat di dengar Oleh Ica.
Mendengar pujian yang dilontarkan oleh Aldo membuat wajah Ica seketika merah merona. Sedangkan Ibu Dahlia hanya tersenyum melihat tingkah laku keduanya.
"Wah baiklah hentikan menebarkan bunga cinta, aku yang suda tua ini tidak kuat melihatnya. Bersabarlah, kalian akan segerah menikah." Ucap Ibu Sasa.
"Ehem" Suara Aldo mendenagr ucapan Ibu Sasa.
Icapun yang mendengar menjadi malu dan salah tingkah.
"Kamu ini tak berubah jahilnya. Jangan meledek kedua anakku yang manis ini." Ucap Ibu Dahlia.
"Haha, baiklah, apa mau ku sediakan ruangan khusus untuk kalian berdua?" Ucap Ibu Sasa.
"Sasa" Panggil Ibu Dahlia.
"Haha, liahatlah wajah mereka berdua merah seperti tomat, kamu mempunyai anak dan menantu yang lucu."Ujar Ibu Sasa.
"Tentu saja, dia menantu pilihanku" Ucap Ibu Dahlia tersenyum.
Akhirnya mereka melanjutkan obrolan dan menentukan tanggal dan waktu gaun akan di kenakan.
__ADS_1
πππππSamapai jumpaπππππ
πΊπΊπΊπΊπΊBersambungπΊπΊπΊπΊπΊ