Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 10 - Prasangka


__ADS_3

Srak... Sruk... Luke mengubah posisi tidurnya. Ia menutup telinganya dengan bantal. Matanya melirik jam dinding. Sudah hampir pukul dua belas malam.


Sssh.... Shhhh... Suara wanita yang mirip desis ular berbisa itu kian tersengar jelas. Luke merasa, headphonenya tak mampu meredam suara horor di tengah malam itu.


"Uh, kok masih kedengaran juga, sih? Perasaan tetangga-tetangga dulu gak seheboh mereka 'mainnya'? Ini sih horornya tiap malam, bukan hanya malam jumat," ucap Luke kesal. Suara Ina terdengar sangat jelas mengganggu telinganya.


"Apa karena aku menuduh Dede cemburu tadi pagi? Lalu mereka membalasku dengan seperti ini? Aku kan cuma bercanda. Duh, mulut ini kok nggak bisa diajak kompromi sih," sesal Luke lagi.


Srrrr! Terdengar bunyi air di kamar mandi sebelah. Sepertinya mereka telah selesai.


"Syukur, deh. Aku jadi bisa tidur," gumam Luke.


Sementara itu di rumah sebelah, Ina mengguyur badannya dengan air dingin dari bak.


"Sebenarnya ada hubungan apa suamiku dengan tetangga sebelah? Tadi pagi mereka juga sedikit bertengkar kan, gara-gara undangan. Ini mencurigakan. Besok aku harus cari tahu," ujar Ina sambil menggosok sabun ke seluruh tubuhnya.


"Hei, apa kamu mau pesan ayam goreng? Atau pizza? Aku traktir, nih," ujar suara lelaki yang agak berat dan ngebass dari dalam kamar.


"Kamu bilang apa?" tanya Ina dari dalam kamar mandi. Dia nggak bisa mendengar dengan jelas, karena teredam suara air.


"Gak ada apa-apa. Lupakan saja," jawab pria itu.


...*****...


Sssshhh! Luke merapatkan jaketnya ke tubuh, ketika udara subuh yang sangat sejuk menyeruak masuk melalui pintu yang baru saja di bukanya. Matanya berkedip-kedip, melawan rasa kantuk yang masih menyerang dirinya.


"Kenapa air keran tidak mengalir, sih? Mana aku harus pergi pagi-pagi sekali hari ini," gerutu Luke sambil menembus kegelapan.


Gadis itu hendak mengecek mesin air di belakang rumah induk semangnya. Untung saja ia tidak bangun kesiangan, akibat adegan 'horor' tadi malam.


"Semoga tidak ada Nyai Kunti," batinnya bergidik ngeri.


Matanya memandang sekeliling yang masih gelap gulita. Hanya ada lampu jalan dan teras yang sangat redup. Maklum saja, saat itu masih pukul empat pagi.


"Ah!" Luke menahan suara dengan tangannya.


Dia tak mau membangunkan seluruh tetangga pagi buta begini. Tetapi pemandangan di depannya nyaris membuat jantungnya copot. Wanita itu menangkap sesosok makhluk berbaju putih tergeletak di teras rumahnya.


"Kenapa pria itu ada di sini?" pikir Luke.


"De, bangun. Kenapa kamu tidur di sini?" ujar luke setengah berbisik.

__ADS_1


"Luke, aku..." Pria yang masih setengah sadar itu meraih lengan Luke. Kemejanya yang putih tampak sangat kusut. Beberapa kancing bajunya terbuka.


"Sstt! Kecilkan suaramu," bisik luke. Ia takut tetangga mendengarnya, termasuk istri Dede.


"Oh, Luke. Pekerjaanku berantakan. Aku ditipu rekanku. Bagaimana ini?" racau pria itu.


"De, selagi masih gelap, kamu harus segera pulang. Kamu tidak boleh berada di sini." Luke mulai panik. Pria itu tidak mau beranjak dari teras rumahnya.


"Biarkan aku di sini sebentar aja. Curhat denganmu membuat hatiku sedikit tenang," pinta Dede. Matanya menatap Luke penuh harap.


Luke tidak tau. Pria ini benar-benar telah sadar, atau masih mengigau. Tetapi yang jelas, perkataannya membuat hati Luke nyeri.


"Kenapa ia datang mencariku hingga tertidur di sini? Kenapa ia tidak pulang menemui istrinya.? Aku ini apa bagimu?" gumam Luke dalam hati.


"Bukankah kamu tidak suka denganku? Karena alasan itu juga kamu menyuruhku untuk menjauh darimu? Lalu kenapa kamu malaj datang kemari?" ucap Luke sambil menahan rasa sakit.


"Hmm apa? Aku membencimu?" Dede balik bertanya.


"Bangunlah. Bahaya kalau kamu terus di sini? Kamu ini dari mana, sih? Bukannya tadi malam kamu di rumah bersama istrimu?" ucap Luke berbisik.


"Aku? Di rumah? Apa maksudmu? Hei, aku baru pulang jam tiga tadi. Setelah menggerebek rumah rekanku yang penipu itu. Tapi kamu tahu apa yang terjadi? Ia lebih dulu kabur bersama istrinya," gumam Dede.


"Sudahlah, kamu pulang saja sebelum tetangga menggerebek kita," bisik Luke. Sekuat tenaga gadis bertubuh kurus itu memapah Dede menuju ke teras rumahnya.


"Cowok menyebalkan ini harus pulang, bagaimana pun caranya," ujar Luke. Ia pun meninggalkan Dede yang kembali tidur di teras depan rumahnya.


Ceklek! Salah seorang tetangga membuka pintu lalu menutupnya kembali. Ia terkejut melihat pemandangan yang baru saja di lihatnya.


"Aku tak salah lihat, kan? Itu Dede baru saja kembali dari rumah Luke? Subuh-subuh begini?" ucap tetangga itu. Ia juga melihat pakaian Dede yang sudah tidak rapi lagi. "Habis ngapain mereka?" imbuhnya penasaran.


Sementara itu Luke melangkah gontai menuju rumahnya. Ia lupa tujuan awalnya yang hendak mengecek mesin air.


"Apa maksud Dede baru pulang? Lalu tadi malam Ina bermain dengan siapa? Ah, tidak mungkin kan kalau Ina selingkuh? Mungkin saja Dede pergi menggerebek rekan kerjanya setelah menyelesaikan tugasnya sebagai suami. Ya, benar. Pasti begitu." Luke hanyut dalam pikirannya sendiri.


...*****...


Pagi hari, tetangga sebelah dikejutkan dengan suaminya yang tertidur di teras. Luke pura-pura tidak tahu. Ia bersiap pergi ke kampus seperti biasa.


Pukul 7.30, Dede telah berangkat kerja seperti biasa. Insiden tadi malam tidak membuat semangatnya putus. Ia harus menghadapi semuanya agar tetap bertahan di tengah persaingan.


Ina membuka aplikasi chatting.

__ADS_1


^^^"Halo, kak. Apa kabar. Lagi sibuk kah? Ini Ina, istri Dede Purwanto. Teman kakak."^^^


Ina mengirim sebuah pesan kepada salah seorang teman akrab Dede semasa SMA. Ia menemukan nomornya di ponsel Dede secara diam-diam tadi pagi.


"Halo, Ina. Apa kabar? Nggak sibuk, kok," balas Shilla.


^^^"Kakak kenal Lukella?" balas Ina. Langsung ke intinya.^^^


"Lukella? Anak olimpiade itu?" Shilla balik bertanya.


"Anak olimpiade? Segitu pintarkah dia?" pikir Ina.


^^^"Ah, iya. Anak olimpiade itu. Bagaimana ia di sekolah dahulu," tanya Ina.^^^


"Oh.. Dia itu...gimana, ya?" balas Shilla


"Dia anaknya pendiam dan gak dekat dengan teman-teman lain. Bisa dibilang dia itu cupu. Teman-teman akrabnya pun cupu semua," tulis Shilla.


^^^"Ah, benarkah? Lalu bagaimana hubungan dia dengan teman-teman cowok?" selidik Ina.^^^


"Cowok? Oh, tidak. Jangan ingatkan itu lagi. Dia hampir saja merebut Restu, pacarku saat kelas dua SMA dulu T_T," balas Shilla.


^^^"Masa sih?" Ina pura-pura tidak percaya.^^^


"Serius...!!! Dia itu mengerikan. Diam-diam menghanyutkan," balas Shilla.


"Emang kenapa, sih? Dia mengganggu suamimu?" tulis Shilla lagi.


^^^"Ah, aku gak tahu itu benar atau tidak. Tetapi aku sempat membaca chattingan mereka. Dan... Kayaknya mereka akrab. Apa di sekolah dulu mereka memang akrab?" tanya Ina penasaran.^^^


"Duh, mana mungkin. Dia tuh nggak pernah dipeduliin sama teman-teman cowok. Yang ada dia yang menggoda mereka," tulis Shilla.


"Hati-hati aja deh. Sekarang pelakor itu tidak pandang bulu lagi memilih mangsanya," tulis Shilla menutup pembicaraan.


"Hufffh! Benar 'kan apa yang aku khawatirkan? Awas saja, aku tidak ingin usahaku menguasai Dede selama bertahun-tahun sia-sia begitu saja," gumam Ina.


(Bersambung)


Halo para pembaca, mampir juga di novel aku lainnya, yuk. Ditunggu, ya.


__ADS_1


__ADS_2