
"Jadi kamu melihatku pingsan saat mau visit pasien? Dan posisi jatuhku terngkurap? Ya ampun... memalukan banget..." ucap Luke.
"Gak ada yang memalukan Luke. Fisik yang sedang kurang sehat kan bukan keinginanmu," ujar Satria.
"Iya, sih... Terus kamu gak jadi visit pasien?" tanya Luke.
"Udah, kok. Kamu kan tidur lama banget tadi. Mendengkur pula. Lihat, udah jam berapa ini?" jawab Satria.
"Hah? Dasar... aku mana mendengkur kalau tidur," protes Luke sambil melirik layar ponselnya.
Sudah pukul 14.10. Berapa lama ia tertidur ya. Ah, ada pesan masuk rupanya.
"Luke. Maaf aku harus pulang duluan. Jam Tiga sore aku harus masuk kerja. Cepat sembuh sayang... Aku titip kamu pada pangeranmu... 😘" tulis Flora.
"Hah, pangeran? Maksudnya Satria? Dia sih pangeran kodok... kerjaannya tukang jahil," gumam Luke dalam hati.
Bibirnya menyunggingkan senyuman. Jemarinya mengetik di keyboard layar ponsel. Membalas pesan dari sahabatnya. Sesekali ia memandang wajah dokter tampan itu. Tetapi hatinya gak kuat. Bisa-bisa ia jatuh cinta lagi padanya.
"Syukurlah, kamu sudah cerewet dan bisa senyum seperti biasanya," komentar Satria.
"Maksudmu aku cerewet?" Luke pura-pura ngambek.
"Hm.... itu... Eh, iya. Aku lupa. Ada dua temanmu yang ingin bertemu," ucap Satria mengalihkan pembicaraan.
"Siapa?" pikir Luke.
__ADS_1
Seingatnya ia tak punya teman selain Flora dan Sri Rahayu. Sri juga langsung pulang setelah melayat tadi, ia tak bisa meninggalkan putrinya yang baru enam bulan terlalu lama.
"Surprise...!!!"
"Hah? Kalian?" ucap Luke datar.
"Yah... Ekspresinya kok lempeng gitu sih? Pura-pura senang, kek..." ucap Lukman tertawa.
"Iya, nih. Aku malah udah susah-susah beli pentol kuah kacang kesukaanmu," timpal Hendra.
Luke tertawa melihat ulah manusia ajaib di depannya itu. Ya, yang datang mengunjungi Luke adalah Lukman tetangga kontrakannya, dan Hendra Yohanes rekan mengajarnya.
"Terima kasih, ya," ucap Luke. Ia benar-benar bahagia.
*****
"Hai, De. Baru pulang, ya," sapa Nurul. Janda kembang yang ditinggal suaminya nikah lagi.
"Iya, Nurul," balas Dede datar.
Tubuhnya lelah sekali. Tetapi hatinya sudah agak lega. Barusan Lukman mengirim pesan bahwa keadaan Luke baik-baik saja.
"De, ini tadi aku ada masak lauk lebih," ucap Nurul seraya menyodorkan dua buah kotak taperwer.
"Hmm... Apa ini?" tanya Dede.
__ADS_1
"Ini ayam gulai. Dibawahnya ada tumis buncis dan wortel," jawab Nurul.
"Maaf. Tetapi aku gak biasa makan ayam. Aku alergi daging ayam," tolak Dede. "Aku juga tidak suka wortel dan buncis," lanjut pria itu.
"Ah, lalu? Kamu sukanya apa? Biar aku masakin?" tanya Nurul tak tahu malu.
"Emm... Aku sukanya pekasam... rusip... dimakan sama lalapan jengkol petai. Oh iya. Aku juga suka pepes laron," jawab Dede.
"Hah... Ka-kalau itu aku tidak sanggup memasaknya," ucap Nurul dengan wajah tak suka.
Pekasam adalah fermentasi ikan air tawar yang dibuat dengan garam dan beras, terkadang juga parutan ubi kayu. Baunya sedikit menyengat dan rasanya agak asam.
Rusip atau mencaluk adalah sambal ikan yang ikannya telah dibusukkan atau difermentasi. Teksturnya sedikit kental, mirip kuah kacang.
"Kalau begitu tak perlu susah-susah memasak untukku. Aku bisa memasak sendiri sesuai seleraku," jawab Dede tegas.
"Hahaha... Sadarlah Nurul... Ia bicara begitu karena ingin menolakmu. Bagaimana pun jugs, istrinya jauh lebih baik dibandingkan dirimu," ucap Kak Tyas.
"Benar. Sikapmu yang seperti itu juga yang membuat suamimu pergi. Kamu terlalu sering menggoda pria lain, tetapi kamu tak pernah mengurus suamimu dengan baik. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan istri barunya," timpal Kak Nia.
"Sudahlah, aku tak pernah menyesal bercerai dengan supir truk miskin seperti dirinya. Lebih baik orang kantoran seperti Dede," ucap Nurul sambil masuk ke dalam rumah. Ia juga membanting pintu rumah menunjukkan kekesalannya.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1