
"Hah... Pada akhirnya Satria mendengarnya juga... Dan ia pergi meninggalkanku," gumam Luke di dalam kamar, sambil mengurus bayi yang terus menangis.
Karena sering membalas pesan dari Satria dari Austria, sepertinya Luke mulai ada rasa pada pria itu.
"Luke, izinkan aku masuk dan melihat bayi itu," seru Dede dari luar.
"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu masuk ke dalam rumahku meski hanya satu langkah," balas Luke.
"Ada apa ini? Kenapa kamu mau melihat bayiku?" seorang perempuan berdiri di belakang Dede.
"Oh, maaf," Dede terkejut dan spontan bergeser dari tempatnya berdiri.
"Jadi ini ibu dari bayi itu? Dan Luke benar-benar tidak hamil... Ngomong-ngomong dia siapa, ya?" batin Dede sambil memandang wanita di depannya dengan seksama.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya wanita itu.
"Oh, tidak. Maaf," kata Dede gugup.
"Kakak, kenapa berdiri di luar? Bayimu terus menangis?" kata Luke.
"Iya... Iya..."
Wanita itu seges berlari dan masuk ke kamar Luke. Benar saja, tak lama kemudian, tangisan bayi itu mereda. Dede yang terlanjur malu, akhirnya kembali ke rumah.
"Hah... Dede.. Bikin malu aja... Lagian kenapa kamu gak ingat kejadian malam itu sih? Bisa gila aku kalau ketemu Luke lagi," gumamnya.
Di rumah sebelah...
"Makasih ya, Kak. Untung kakak cepat datang. Aku gak tahu harus gimana?" bisik Luke.
"Iya... Tapi kenapa pria itu berdiri di depan rumahmu? Jangan-jangan dia Dede yang kamu ceritakan itu?" ujar Salma, kakak sepupu Luke.
"Iya," jawab Luke.
"Astaga. Ternyata kalian bertetangga dekat, ya? Tadi kakak melihatnya masuk ke rumah sebelah," kata Kak Salma lagi.
"Iya. Sejak bulan Maret dia mengontrak di sini bersama istrinya," jawab Luke.
"Ya ampun, Luke... Harusnya kamu pindah saja dari sini. Nanti kakak carikan kamu rumah kontrakan yang lebih nyaman dan murah dari pada di sini," ujar Kak Salma.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Aku bisa mengurusnya sendiri. Nanti kalau memang gak nyaman lagi, aku pasti bakal cari rumah baru," jawab Luke.
"Haaaah.... Baiklah... Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama Kakak, ya," ujar Kak Salma.
__ADS_1
Tringgg... Tiba-tiba ponsel Luke berbunyi.
"Halo. Ada apa, Flo?" tanya Luke.
"Ada kabar duka. Shilla meninggal dunia," ujar Flora to the point.
"Apa? Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," sahut Luke.
"Kabar dari keluarganya, akan dikebumikan sore ini. Menunggu adiknya yang datang dari Semarang," kata Flora. "Apa kamu mau ikut melayat sebelum ia dibawa ke kampung halaman?" lanjutnya.
"Jika aku datang melayat, pasti akan bertemu dengan semua teman, kan? Apa aku siap bertemu dengan mereka semua?" pikir Luke dalam hati.
"Ah, maaf Luke. Jika kamu keberatan dan tak siap bertemu para alumni, tak perlu datang. Aku san Sri akan mewakilimu," kata Flora, seakan ia memahami kekhawatiran sahabatnya.
"Tidak apa, Flo. Jam berapa kita pergi melayat?"
"Bagaimana kalau jam sepuluh? Aku akan menjemputmu," ujar Flora.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap," balas Luke.
*****
Dua bulan yang lalu, di rumah sakit Medika Nusantara...
"Waktu itu Ina bertanya padaku, apa aku mengenalmu. Lalu aku mengatakan, jika kamu..."
"Yang merebut Restu darimu?" potong Luke.
"Iya. Maafkan aku Luke. Baik ketika SMA maupun beberapa waktu lalu, aku selalu iri padamu. Dahulu kamu adalah pentolan sekolah dalam olimpiade Biologi. Lalu dengan bantuan beberapa guru, aku berhasil merebutnya dan kamu diikutkan olimpiade fisika," cerita Shilla. Ia masih menutup sebagian wajahnya dengan selimut.
"Tapi tak disangka, ternyata kamu malah lolos sampai tingkat nasional. Dan orang yang telah aku sukai sejak SMP, selalu memujimu. Padahal jika dibandingkan, semua orang mengakui kalau aku lebih cantik darimu," lanjut Shilla.
"Jadi maksudmu, semua yang kamu lakukan itu sepadan karena aku telah mengalahkanmu dalam hal akademis?" sindir Luke.
"Tentu saja tidak. Tetapi aku baru menyadarinya belakangan ini. Tak ada satu pun hal bagus yang akan kita terima, jika kita berusaha mendapatkannya dengan cara yang curang," kata Shilla.
"Ah, tetapi Ina tak pernah berbuat jahat padamu, kan? Ia tidak terpengaruh oleh ucapanku, kan?" tanya Shilla penasaran.
"Menurutmu?" Luke balik bertanya. "Aku menerima hal yang berat karena ulah kalian semua. Bertahun-tahun aku dikucilkan, tanpa tahu apa kesalahanku. Dan setelah kita berpisah, ternyata kalian masih saja menyakitiku. Aku sangat menderita sampai harus meminum berbagai macam obat agar tetap bisa menjalani hari-hariku. Apa kalian tahu itu?!" Emosi Luke meledak. Ia lupa jika sedang berada di rumah sakit.
"Maafkan aku..." tangis Shilla. Kali ini ia membuka selimutnya dan berlutut di depan Luke.
"Jika aku tidak memaafkanmu, apa aku akan sama jahatnya dengan kalian semua?" tanya Luke. Air matanya mengalir. Ia tak tega melihat wanita yang tinggal kulit membalut tulang itu bersujud di hadapannya.
__ADS_1
"Berdirilah. Ku harap ini terakhir kalinya kita bertemu dan saling berbicara," ucap Luke kemudian.
Saat ini, di rumah sakit tempat jenazah Shilla di semayamkan untuk sementara waktu.
"Jika aku tak bicara seperti itu padamu, apa kau masih hidup saat ini?" tangis Luke sambil menggenggam erat lengan teman sekolahnya yang telah kaku.
"Luke, sudahlah. Ini sudah takdir Yang Maha Kuasa," ujar Flora dan Sri Rahayu.
"Shilla, meski sedikit terlambat, tetapi aku benar-benar memaafkanmu. Pergilah beristirahat dengan tenang," bisik Luke di telinga temannya yang terbujur kaku itu.
******
Rumah sakit Medika Nusantara, di ruang dan lantai yang berbeda...
"Jadi selama ini Luke hamil anak dari Dede? Jadi itu sebabnya dia agak menjaga jarak denganku?" pikir Satria.
Siapa yang tidak terkejut, setelah menjaga hati dan pandangannya selama di negeri orang, ia malah mendengar hal yang tidak enak ketika baru saja pulang.
"Tapi aku masih tidak yakin. Luke bukanlah orang yang seperti itu. Aku tidak boleh langsung percaya begitu saja. Pasti ada yang aneh. Apa dia dijebak oleh Dede? Atau... Kekerasan *****ual?" Satria bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Uggghhh... Semakin dipikirkan, semakin sakit kepala," keluh dokter spesialis muda itu. "Sudahlah. Aku mau cari minum untuk mendinginkan pikiran dulu," lanjutnya.
Bruakkk!!
"Maaf, dokter," ujar perawat muda sambil memunguti berkas-berkas yang berjatuhan.
"Saya juga minta maaf," kata Satria sambil membantu perawat itu mengumpulkan berkas.
"Eh, ini bukannya Luke?" Ia melihat sebuah berkas atas nama Lukella, usia dua puluh delapan tahun.
"Jadi selama tiga bulan saat aku di Austria, dia dirawat di sini? Di bawah departemen kandungan dan kejiwaan?" pikir Satria.
"Mona, ini berkas milik siapa?" tanya Satria.
"Dokter Yunita dan Dokter Lambert, dok..." jawab perawat muda itu. "Permisi, dokter," lanjutnya.
"Iya... Iya.. Silakan..." kata Satria sambil berpikir.
"Aku harus mencari tahu yang sebenarnya tentang Luke. Meskipun itu sedikit melanggar kode etik paramedis," tekad Satria.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1