
"Huhuhu....."
Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari rumah Nurul setelah ia menerima telepon. Semua penghuni kontrakan keluar dan menuju ke rumah Nurul, kecuali Luke.
"Ada apa?" tanya Kak Tyas.
"Suami...suamiku..." ucap Nurul ditengah tangisannya.
"Suamimu kenapa? Sehat-sehat aja, kan?" tanya Kak Nia gak kalah panik. Karena suami Nurul berprofesi sebagai supir antar kota.
"Nggak... Bukan itu.."
"Lalu?" tanya mereka tidak mengerti.
"Suamiku menikah lagi, kak. Ia barusan meneleponku untuk meminta cerai."
"Apa?" tanya Kak Tyas.
"Serius kamu?" tanya Fitri dan Merry yang baru saja bergabung.
"Huhuhu..." Tangisan Nurul semakin kencang. "Pantas saja ia jarang pulang. Rupanya... "
"Sabar..sabar... Tenang dulu. Bisa saja kan ia hanya menggertak. Atau diancam. Nanti tanya lagi baik-baik," ucap Kak Nia.
"Tapi tadi jelas-jelas suaranya. Ia mengatakan, tak akan pulang sebelum mau menyetujui gugat cerainya."
"Kurang ajar sekali dia. Mau meninggalkan istri yang setia demi wanita lain," ucap Merry.
Luke yang telah bersiap berangkat ke kampus melewati rumah Nurul dengan santainya. Ia tidak peduli dengan kehebohan di kontrakan nomor dua. Toh, ia datang pun belum tentu bisa membantu.
"Kalau pelakor itu emang beda, ya. Gak ada empatinya. Tetangga lagi kesulitan dia tidak peduli," ucap Merry sinis.
__ADS_1
"Ya dia mana paham gimana rasanya suami direbut orang, kan dia yang biasa merebut," balas Fitri.
"Hah.. Terserah deh apa kata mereka. Baru kali ini aku puas kali berbuat jahat sama orang. Toh, yang mereka tuduhkan padaku juga tidak benar," gumam Luke. Kakinya benar-benar ringan melangkah ke halte.
*****
Adzan ashar baru saja berkumandang. Namun suasana di luar lebih mirip jam tujuh malam karena cumulonimbus bergelayut di angkasa. Seperti akan memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Tumben sepi," gumam Luke ketika melangkah di halaman kontrakan.
Biasanya ketika Luke pulang dari kampus pukul lima atau enam sore saja, para tetangga rempong masih pada berkumpul. Saling berbagi berita terhangat hari itu.
Srrr.... Luke membasuh wajahnya dengan air wudhu.
Gedubrak!!!
"Hah, suara apa itu?" Luke terkejut. Luke mengamati sekeliling. Sepertinya dari rumah sebelah.
Hening. Tidak terdengar apapun lagi. Luke pun melanjutkan aktivitasnya. Tlep. Listrik padam.
"Suara apa lagi itu? Bukan hantu kan?" Luke bergidik ngeri mendengar suara tangisan samar-samar. Serrrrr.... Angin bertiup kencang, membuat suasana semakin mencekam.
"Hik... Hik... "
Luke tidak dapat mendengar jelas karena deru angin yang semakin kencang. Listrik masih belum menyala. Ia hanya menghidupkan senter dari ponselnya.
"Hik...hik... Sakit... Darah... Hiksss..." Suara itu terdengar lagi.
"Darah?" Pikiran Luke langsung melayang ke film-film horor yang pernah ia tonton.
"Bukan, itu bukan suara hantu. Ina menangis." Luke menajamkan indra pendengarnya. Ina masih menangis. Sesekali terdengar suara gesekan di lantai dan memanggil seseorang. Ia seperti tidak sanggup untuk berdiri.
__ADS_1
"Jangan-jangan, Ina terjatuh dan keguguran?" Luke menyadari sesuatu. Beberapa hari yang lalu Ina baru saja periksa kehamilan.
Luke melepas mukenahnya dan hendak berlari ke rumah sebelah.
"Ah, untuk apa aku membantunya? Kan ia sendiri yang bilang, jika ia sakit tidak perlu membantunya. Masih banyak orang lain yang bisa membantunya, kan?" Luke menghentikan langkahnya tepat sebelum membuka pintu.
"Tapi ke mana ya penghuni lainnya?" ucap Luke. Suara di rumah sebelah masih merintih kesakitan. Sementara rintik hujan mulai terdengar di atap, bersatu dengan deru angin.
Menit demi menit berlalu. Luke masih mendengar tangisan dari sebelah.
"Ina... Ina... Kamu gak apa-apa, sayang?" Dede berlari masuk ke dalam rumah.
"Sakit, Bang," Ina terisak
"Ya, Allah. Kamu keguguran? Abang pesankan taksi, ya. Kita ke rumah sakit.
Tiiittt... Suara klakson di depan rumah kontrakan.
Dede dan istrinya ke luar rumah. Bersamaan dengan Luke yang mengambil pesanan ojek food.
" Kak Luke? Ternyata kakak di rumah dari tadi?" tanya Ina saat mereka bertemu pandang.
"Iya," jawab Luke singkat.
"Kakak tidak mendengar suaraku sejak tadi?"
"Dengar. Lalu kenapa?" tanya Luke dengan cuek.
Ina hanya memasang wajah sebal.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.
Sampai jumpa di episode berikutnya. ^_^