Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 8 - Pernikahan


__ADS_3

"Dek, kamu beli CD baru?" tanya Dede pada istrinya.


"CD? Nggak tuh." Ina bingung.


"Ini punya siapa?" Dede menunjuk CD berwarna krem yang tergantung dekat baju kaosnya.


"Astaga, itu pasti punya Kak Luke ketinggalan," ucap Ina. Ia segera menyambar helaian kain itu.


"A-apa?" Dede shock. Ia belum pernah menyentuh CD wanita lain selain istrinya. "Kecil kali ukurannya? Seberapa kurus dia?" pikir Dede.


"Kak... Kak Luke..." panggil Ina dari luar.


"Iya... Sebentar..." Luke yang baru selesai sholat magrib bergegas ke depan membukakan pintu.


"Ini, punya kakak ketinggalan," ucap Ina malu.


"O-oh, iya. Terima kasih," jawab Luke tidak kalah malu.


"Hufffhhh! Untung saja CD-ku tidak molor. Ada-ada aja kejadian hari ini," gumam Luke setelah Ina pergi.


Drrrrrtttt! Ponsel Luke berbunyi. Ia segera menutup pintu dan segera ke dalam.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumussalam. Gimana kabarmu, Nak?"" jawab ibu di seberang sana.


"Baik, Bu. Ibu sendiri gimana di sana?" balas Luke.


"Ibu juga baik. Kemarin adikmu pulang. Dia libur dua hari menjelang ujian skripsi," jawab ibu.


"Oh, syukurlah. Ibu nggak kesepian. Benar Ibu tidak ingin tinggal bersamaku di sini?" tanya Luke.


Ayah Luke meninggal saat ia baru masuk SMA, sementara adiknya saat itu masih duduk di kelas empat SD. Sejak adiknya kuliah di kota, ibunya hanya seorang diri di sana.


"Iya. Ibu gak apa-apa di sini. Para tetangga baik pada Ibu. Paman dan bibimu juga sering mengunjungi Ibu," jawab wanita paruh baya tersebut. "Ibu justru lebih khawatir padamu. Di usia segini kamu masih juga sendiri."


"Bu, kenapa bahas itu lagi? Aku 'kan baru saja diterima jadi dosen. Aku baik-baik saja kok di sini."


"Nak, ayahmu mengajarkan beladiri saat kamu SD dan SMP, itu untuk melindungi diri kamu. Bukan supaya semua laki-laki menjauh darimu," nasehat ibu.


"Iya, Bu. Aku mengerti," ucap Luke. Ia paling tidak bisa membantah ibunya.


"Salah seorang teman Ibu punya anak lelaki yang belum menikah. Usianya lebih tua empat tahun darimu," lanjut ibu.

__ADS_1


"Bu." Luke tahu ke mana arah pembicaraan ini.


"Dia tinggal dan bekerja satu kota denganmu, Nak. Sabtu nanti pergilah bertemu dengannya," kata ibu lagi.


"Aku belum mau dijodohkan, Bu," ucap Luke hati-hati.


"Apa kamu nggak kasihan dengan ibu, semua anak seusia kamu di sini sudah bawa anak, lho," bujuk ibu. Haduh, alasan klasik.


"Kalau kamu mau, Ibu beri kontaknya. Coba mengobrol aja dulu. Mana tahu kalian cocok," bujuk ibu lagi.


"Baiklah, Bu. Aku akan bertemu dengannya. Tetapi aku tidak bisa menjanjikan lebih dari ini." Luke akhirnya mengalah.


...*****...


Hari sabtu datang begitu cepat. Luke masih ada satu kelas lagi sebelum waktu janjian. Tling! sebuah pesan masuk ke ponsel Luke.


"Hai, bertemu di mana nanti? Benar nih kamu nggak mau dijemput?" tanya Satria, nama pria itu.


^^^"Ketemu di tempat yang kita sepakati kemarin saja. Selesai kelas aku langsung ke sana, agar tidak terlambat," jawab Luke.^^^


Luke merasa tidak nyaman jika diantar jemput oleh pria yang belum di kenalnya. Meski mereka sudah saling bertukar pesan sejak kemarin. Kalau taksi online 'kan diawasi oleh radio dan GPS dari kantor pusatnya, begitu pikir Luke.


"Baiklah. Tidak usah buru-buru. Aku juga masih ada satu pasien lagi. Setelah itu aku langsung ke sana," balas Satria.


"Hai, Luke. Maaf aku terlambat." Seorang pria menggunakan kemeja biru dan celana jeans datang menghampiri Luke.


"Satria? Bagaimana kamu tahu kalau ini aku? Kalau salah orang gimana?" tanya Luke.


"Aku kan sudah melihat foto profilmu di aplikasi chatting," jawab Satria.


"Oh, iya. Bodoh sekali aku ini," gumam Luke malu. Satria terbahak mendengarnya. "Ehmmm, kamu dokter, ya?" Luke mengalihkan pembicaraan.


"Dari mana kamu menebak kalau aku ini dokter?" Satria balik bertanya.


"Tadi kamu bilang masih ada pasien," jawab Luke.


"Aku bukan dokter. Sepertinya ibumu belum bicara padamu, ya?" sahut Satria.


"Bicara soal apa?" Luke penasaran.


"Aku seorang psikiater." Luke mendelik tajam mendengar jawaban Satria.


"Tenang saja. Aku tidak bisa membaca isi pikiranmu, kok. Kami ini bukan peramal atau dukun," ujar Satria sambil tertawa.

__ADS_1


"Kamu bilang tidak bisa baca pikiran? Tetapi kamu membaca isi pikiranku dengan sangat tepat," kata Luke.


"Hahahah ... Bukan seperti itu. Banyak orang yang takut dengan psikiater karena stigma buruk yang tercipta sejak lama. Mereka mengira kami bisa menebak semua isi kepala orang. Padahal tidak," jelas Satria.


"Terus, apa kamu tahu mengapa aku mau bertemu denganmu di sini?" tanya Luke. Satria mengerutkan keningnya lalu menggeleng.


"Maaf kalau aku tidak sopan. Tetapi lebih baik jujur di awal. Aku belum mau dijodohkan," jawab Luke tegas.


"Belum? Bukan tidak? Apa kamu punya pacar?" tanya Satria. Sikapnya begitu tenang.


"Tidak ada. Aku... hanya belum siap, karena sesuatu hal," ucap Luke ragu.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tetapi aku ingin kita tetap berteman. Jodoh atau tidak, ku harap hubungan kita tetap baik," jawab Satria.


Luke tertegun dengan sikap dewasa lelaki di hadapannya. Ia pikir tadinya akan berjalan sulit.


"Pesan makan, yuk. Lapar nih," ajak Satria kemudian.


...*****...


Dede sedang duduk di teras, mencari udara segar. Padahal sejak kemarin hujan turun dengan lebat membuat udara sangat sejuk. Tetapi hari ini kering kerontang, seperti berada di tengah gurun.


Sebuah mobil Inova hitam berhenti di halaman kontrakan mereka. Bayangan samar dari dalam mobil memaksa Dede menajamkan indra penglihatannya.


"Hah, tumben Luke pulang jam segini. Ini sudah hampir jam sembilan malam," gumam Dede. Terangnya cahaya lampu dari dalam mobil membuat bayangan yang tadi samar menjadi sangat jelas.


Dede melihat Luke sedang berbincang dengan pria muda yang mengantarnya. Mereka terlibat akrab. Tentu saja ini pemandangan langka. Luke yang ia kenal paling sulit berduaan dengan lelaki hingga malam hari.


Deb! Luke menutup pintu mobil dan melambaikan tangan sebelum kendaraan itu meninggalkan halaman kontrakan yang sempit.


"Baru pulang?" tanya Dede basa-basi ketika Luke melaluinya.


"Iya," jawab Luke singkat.


...*****...


Satu minggu kemudian. "Bang, kita dapat undangan, nih" ucap Ina suatu pagi.


"Undangan? Dari siapa?" tanya Dede.


"Dari tetangga sebelah. Ia menikah minggu depan."


"Apa? Luke menikah?" ucap Dede terkejut.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2