
"Bang, Ina butuh penjelasan atas semua ini," ucap Ina.
"Penjelasan apa lagi?" tanya Dede kesal.
"Ceritakan semua yang terjadi antara abang dan Kak Luke. Terutama dua malam ini," tuntut Ina.
"Kalau gitu abang juga butuh penjelasan tentang suara 'gulat' tiap malam itu. Kita kan nggak setiap malam 'bermain'?" tuntut Dede pula.
"Kan sudah Ina bilang, itu suara TV. Lagian emangnya dia tahu, itu suara dari rumah sebelah kanan atau kiri?" Ina membela diri.
"Tetapi dia kan bisa saja mengenali suara orang? Apalagi dinding kita berbatasan langsung dengan kamarnya," balas Dede.
"Oh, jadi abang lebih percaya wanita ular itu, dari pada istri abang sendiri?" suara Ina mulai tinggi.
"Hmmm ... Bro, kami pulang dulu ya. Masih ada kerjaan di bengkel," ucap Tyo dan Teguh. Mereka tak enak hati melihat pertengkaran suami istri. Tetangga lain pun mulai membubarkan diri.
Dede tak memperhatikan kedua temannya lagi. Pikirannya sedang kalut dan penuh emosi.
"Jadi, apa penjelasan dari abang?" Ina masih penasaran.
"Tak ada yang perlu dijelaskan. Abang tidak tahu bagaimana malam itu bisa berada di rumah Luke. Apa pun yang abang lakukan di luar bukan urusanmu. Yang penting kan abang selalu menafkahimu lahir batin," jawab Dede.
Dede tidak sepenuhnya bohong. Ia memang tidak ingat bagaimana ia bisa berada di rumah teman lamanya. Padahal sepeda motornya di parkir di teras rumahnya sendiri. Yang ia pikirkan saat itu adalah mencari tempat curhat untuk menenangkan pikirannya.
"Tapi kenapa isi pesan abang dan dia tampak mesra?" tanya Ina.
"Pesan? Kamu membuka HP abang? Kok sudah melewati batas gitu kamu? Kamu gak ada hak untuk membuka HP milikku. Mengerti kamu?" Dede semakin emosi.
"Mengapa tidak? Aku kan istrimu," jawab Ina tegas.
__ADS_1
"Kamu memata-matai aku?" ucap Dede.
"Bagaimana aku tak curiga? Setiap bertemu dengannya abang selalu salah tingkah. Dia juga mengatakan, abang yang mendatanginya lebih dulu. Abang juga kan yang menggendongnya semalam?" ucap Ina dengan nada tinggi.
"Abang tak ada hubungan apa pun dengannya. Baik dulu maupun sekarang. Lagian, kalau ada tetanggamu sakit, apa mau kamu biarkan saja?" jawab Dede.
"Ya biarkan saja. Kita tak perlu bersikap baik pada semua orang," kata Ina.
"Kalau kamu yang sakit, dan tetanggamu cuek saja bagaimana?" tanya Dede.
"Pasti ada orang lain yang akan membantu. Bukan hanya tetangga," ucap Ina ketus.
"Okelah kalau begitu. Terserah kamu saja. Kalau kamu berani membuka HP abang, maka abang pun punya alasan untuk membuka dan mengecek HPmu," ucap Dede kesal.
"A-apa?" Raut wajah Ina tiba-tiba berubah.
"Kenapa? Takut? Abang ini suamimu. Punya hak untuk mengecek HP istrinya. Iya, kan?" balas Dede.
Beberapa hari kemudian, setelah badai di kontrakan mereka. Keadaan suami istri di rumah nomor tiga masih sangat dingin seperti kutub utara dan selatan. Sementara itu Lukella...
"Duh, masih berani ngontrak di sini kamu, ya?" sindir Nurul ketika mereka berpapasan di teras.
"Iya, nih. Gerah banget. Kayak musim kemarau aja." Kak Nia dan Kak Tyas yang selama ini baik pada Luke pun, berubah haluan menjadi hattersnya.
"Oh, iya dong. Aku kan membayar di sini. Sama seperti kalian. Kalian mana punya hak untuk mengusirku. Bayar kontrakan aja kadang masih nunggak." Luke balik menyindir.
"Apa kamu bilang?" marah Kak Tyas.
"Memang pelakor zaman sekarang gak ada malunya ya? Eh, emang dari dulu pelakor gak tau malu, sih," ucap Nurul lagi.
__ADS_1
"Ya udah, Mbak. Kalau takut suaminya dibawa lari sama pelakor, dirantai aja suaminya. Kalau malam dilihat, ada nggak tidur di samping," ucap Luke.
"Sshhh," Nurul kesal mendengarnya.
"Upss ... Lupa. Suaminya Nurul kan jarang pulang, ya. Nggak tau tuh, gimana kelakuannya di luar sana," sindir Luke.
"Harus hati-hati, nih. Ada jablay yang kesepian. Lebih bahaya dari pada wanita ular," sambung Luke. Nurul hanya bisa menggeram kesal.
~sambala bala samba lado... Terasa pedas, terasa panas~
Terdengar suara dering telepon dari salah satu rumah. Nurul segera berlari menuju rumahnya. Mengangkat telepon dari seseorang.
"Hah ... Aku ini kenapa, sih? Kenapa aku jadi antagonis gini?" pikir Luke dalam hati.
"Tetapi korban bully gak harus lemah dan penakut kan ya? Kalau selalu lemah dan mengalah malah semakin di bully. Toh mereka pantas menerimanya," ucap Luke dalam hati.
"Huhuhu..."
Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari rumah Nurul. Semua penghuni kontrakan keluar dan menuju ke rumah Nurul, kecuali Luke.
"Ada apa?" tanya Kak Tyas.
"Suami... suamiku ..." ucap Nurul di tengah tangisannya.
"Suamimu kenapa? Sehat-sehat aja, kan?" tanya Kak Nia gak kalah panik.
"Suamiku menikah lagi, kak. Ia barusan meneleponku untuk meminta cerai."
"Apa?" ucap Kak Nia.
__ADS_1
"Serius kamu?" tanya Fitri dan Merry yang baru bergabung.
(Bersambung)