
Tling. Sebuah pesan masuk ke ponsel Luke. Dari layar yang terkunci, dia bisa melihat pesan dari nomor tidak dikenal.
"Dih, siapa nih?" ucap Luke sambil membuka pesan dari nomor tidak dikenal itu.
"Gimana kabar kamu? Udah beberapa hari gak ada kelihatan."
"Oh, iya. Ini aku, Dede," tulis Dede
^^^"Ih, ngapain kamu sok perhatian gitu? Lagian dapat nomor aku dari mana?" balas Luke.^^^
"Bukan perhatian. Udah hampir tiga hari kamu gak ada keluar. Kalau tiba-tiba ada bau bangkai kan gak lucu," balas Dede.
"Aku dapat nomor kamu dari Nenek kos. Kubilang saja kamu masih ada hutang padaku," balasnya lagi.
"Sialan," gumam Luke.
^^^"Tenang aja. Aku rajin minum formalin, kok. Jadi gak usah khawatir bau bangkai kalau aku mati," balas Luke lagi.^^^
"Hah, ada-ada aja anak ini. Bar-bar banget, deh. Perasaan dulu waktu SMA dia lembut banget," gumam Dede sambil tersenyum.
"Kenapa sih, Bang? Senyum-senyum sendiri dari tadi?" selidik Ina.
"Gak ada apa-apa. Makan, yuk," Dede mengalihkan pembicaraan. Ia lalu menyimpan ponselnya.
Sementara itu di rumah sebelah. "Ih, buang-buang waktuku saja," ujar Luke sambil meletakkan ponselnya. Ia kemudian sarapan nasi goreng dan telur dadar, ditambah teh manis. Sederhana, tapi nikmat.
Selesai mencuci piring, Luke langsung bersiap. Ia mengenakan setelan blus yang rapi, dipadu dengan rok tulle berwarna biru. Rambutnya yang panjang diikat dengan rapi, tak lupa disematkan pita biru yang mungil, senada dengan warna roknya. Bibirnya dipoles merah muda, sangat cantik. Suatu pemandangan yang sangat langka bagi Luke.
Pukul 07.15. Luke siap untuk berangkat. Dia berdiri diteras rumahnya dengan sangat anggun. Jarinya dengan lincah memainkan keyboard di ponsel.
"Wah, Luke. Cantik sekali hari ini. Mau ke mana?" tanya Kak Tyas. Ia sedang menjemur pakaian.
"Iya, nih. Lebih cerah dari pada biasanya," timpal Bang Toni, suami Kak Tyas yang sedang memanaskan sepeda motor, hendak pergi kerja.
"Ada keperluan sedikit," jawab Luke.
"Ke mana? Mau nebeng?" tawar Bang Toni.
"Terima kasih. Tidak usah, Bang," jawab Luke sopan.
Pintu kontrakan nomor tiga terbuka. Dede yang mengenakan kemeja putih dan rambut di sisir rapi, memandang Luke dengan tajam.
"Kenapa? Ada apa di wajahku?" tanya Luke ketus.
"Galak amat jadi cewek, Neng. Ntar cowok pada kabur kalau gini. Bakalan susah nikah," kata Dedek.
"Cih, gak gitu cowok juga pada kabur," balas Luke ketus.
Kak Tyas dan suaminya hanya menggelengkan kepala, melihat pertengkaran kedua tetangganya itu. "Kalian waktu SMA akrab banget, ya?" celetuk Bang Toni.
"Iya." / "Nggak." Luke dan Dedek menjawab bersamaan.
"Yang benar mana, nih? Dedek bilang kalian akrab?" selidik Bang Toni. Luke dan Dede hanya bertukar pandang sambil cengengesan.
__ADS_1
"Pasti ada sesuatu di masa lalu mereka," pikir Kak Tyas.
"Wah, semedi dua hari di dalam goa kamu berubah banyak ya, Luke. Gini, dong. Cantik banget loh. Kaya bidadari turun dari rumah susun," ucap Kak Nada. Tangan kanannya menenteng ember penuh cucian.
"Wah, ini lagi tetangga paling baik hati, pagi-pagi udah bikin emosi." Luke menanggapi Kak Nada sambil terkekeh. Mata Luke yang berwarna kecoklatan bolak-balik menatap layar ponsel, ia terlihat gelisah.
"Kami pikir, kamu berkurung dua hari udah jadi fosil aja di dalam. Hampir aja kami mendobrak pintu kamar kamu. Kalau ada yang kemalangan, kan biasanya lumayan tuh uang dan beras sumbangannya," lanjut Kak Nada.
"Cih, kirain pada khawatir. Susah kalau punya tetangga akhlakless gini," jawab Luke.
Drrrtt! Ponsel Luke berdering. Seseorang meneleponnya. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan pagar. Seorang lelaki muda menurunkan kaca jendela pengemudi, dan melempar senyum ke arah mereka.
"Ah, saya duluan, ya," kata Luke.
"Wah, siapa itu? Pacar kakak?" tanya Ina yang tiba-tiba muncul. Ia tampak cantik dengan daster biru dan rambut disanggul sederhana. Dede mengernyitkan alisnya. Matanya mengekor wanita itu pergi.
"Pacar? Luke punya pacar? Wah ini berita besar," seru Kak Tyas. Luke berlalu tanpa menyahut. Wanita berpenampilan rapi itu mempercepat langkahnya.
"Duh, maafkan teman-teman saya, Mas," kata Luke ketika membuka pintu depan dan duduk di sebelah pengemudi. Luke terlalu malu untuk jujur di depan Dede, kalau dia hanya dijemput oleh pengemudi online.
"Ah, tidak apa-apa. Senang bisa membantu," jawab pengemudi online tersebut dengan ramah.
"Ini tujuannya fakultas MIPA Universitas R, kan Kak?" tanya pengemudi itu.
"Iya," jawab Luke singkat.
Kuda besi itu perlahan meninggalkan kontrakan. Para tetangga masih melihat ke arah kendaraan itu hingga menghilang di sebalik bangunan Ruko. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, hati Luke terluka.
Dede yang pernah membuat kenangan manis dan pahit dalam hidupnya, kini justru kembali lagi dengan status yang berbeda. Ah, kenapa ia tidak menyadari, kalau Ina adalah adik kelasnya? Tentu saja Dede akan lebih tertarik pada wanita yang cantik dan feminim, bukan pada seseorang yang mampu menyaingi maskulinnya.
Sepanjang perjalanan Luke memilih diam. Jika saja orang tahu, penampilannya yang tomboy dan ilmu bela diri yang ia tekuni, demi melindungi dirinya sendiri.
Saat SMP ia hampir menjadi korban asusila oleh serorang kakak kelas, dan membuatnya sangat trauma. Namun hal itu justru membuatnya sakit dan dilukai oleh cinta pertamanya. Tidak hanya membuka luka lama, tetapi juga membuat trauma yang dialaminya semakin bertambah.
Ia bertekad, mulai saat ini perlahan akan kembali mengubah penampilannya. Bukan demi siapa-siapa, tetapi demi dirinya sendiri.
"Kak, kak... sudah sampai," tegur pengemudi itu, membuyarkan lamunan Luke.
"Eh, apa?"
"Sudah sampai tujuan."
"Oh, iya. Terima kasih, ya," ucap Luke sambil melirik jam tangan. "Waduh, sudah hampir jam delapan. Semoga belum terlambat," gumamnya.
"Terima kasih, ya," ucap Luke. Ia bergegas turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke gedung fisika.
"Kak, tunggu. Kakak belum bayar. Kakak tadi pilih pembayaran tunai," seru pengemudi itu.
"Waduh," ujar Luke menepuk jidat. Beberapa mahasiswa memandangnya sambil berbisik.
"Ini. Maaf, ya," ucap Luke sambil menahan malu.
"Tidak apa-apa. Saya tahu kakak buru-buru," jawabnya ramah.
__ADS_1
...*****...
Luke melangkah dengan canggung di gedung teras gedung itu. Entah berapa lama ia tidak menginjakkan kaki di sini.
"Masih adakah yang ingat denganku di sini?" gumam Luke.
"Duduk di sini dulu ya, kak. Nanti dipanggil," ucap salah satu pegawai jurusan fisika. Ah, ternyata sudah lumayan banyak yang berubah di sini.
Luke duduk di salah satu kursi kayu. Ada beberapa orang lain juga yang menunggu giliran. Luke tidak mengenal satu pun di antara mereka.
Sambil menunggu, Luke membuka ponselnya. Ia menemukan sebuah pesan masuk.
"Maaf soal tadi pagi. Ku harap kita bisa menjadi tetangga yang baik," tulis Dede.
"Maaf soal tadi pagi? Ada banyak hal maaf yang harus kamu minta padaku," ucap Luke dalam hati.
"Kak Lukella," panggil salah seorang pegawai muda.
"Iya."
"Silakan masuk, Kak. Pak Erwin dan beberapa dosen lain menunggu kakak di ruang rapat," ucap pegawai tadi.
"Oh, baik. Terima kasih," jawab Luke. Ia mengatur napas agar tidak gugup.
...*****...
"Kualifikasimu sangat baik. Tetapi kami pertimbangkan dulu. Meski kamu alumni di sini, kami tetap memilih satu yang terbaik," ucap Pak Erwin di ruang rapat tadi.
"Baik, Pak. Terima kasih. Saya berharap mendengar kabar baik," ucap Luke sebelum berpamitan.
"Hah, hari yang cerah," ucap Luke sambil menatap pohon angsana yang menggugurkan daunnya saat angin berhembus. Suasana kampus yang sejuk membuat kakinya malas untuk melangkah pulang.
"Apa musim gugur di luar negeri seperti ini, ya?" gumam Luke. Ia duduk di kursi tengah taman. Menikmati pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menggugurkan daunnya yang beraneka warna setiap angin bertiup.
"Ah, aku tahu harus melakukan apa," ucap Luke ceria.
"Luke?" sapa seorang wanita muda saat Luke memasuki sebuah ruangan di lantai tiga. Ia mengenakan hijab panjang berwarna abu-abu tua. Tangannya penuh dengan tumpukan buku.
"Hai, Kak Dian," sapa Luke.
"Hai. Sudah lama kamu tidak kemari. Banyak yang berubah darimu. Ada urusan apa di sini?"
"Ada sedikit urusan di jurusan," ujar Luke. Ia memilih duduk di kursi sudut ruangan. Sedikit tertutup oleh lemari-lemari buku tua. Itu adalah tempat favorit Luke di perpustakaan ketika mengerjakan tugas kuliah.
"Oh, kakak tinggal dulu, ya. Masih banyak kerja, nih," ujar Kak Dian, penjaga perpustakaan.
"Oke," jawab Luke singkat. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Beberapa orang mahasiswa sibuk mencari buku dan mengerjakan tugas.
Tling. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Selamat! Novel karya Lukella terpilih menjadi Novel terfavorit bulan ini. Silakan klaim bonus Anda di sini."
"Wah, Alhamdulillah," ujar Luke gembira saat membaca pesan dari aplikasi novel online tempat ia menulis. Ini menjadi pengobat hatinya dari beberapa kejadian buruk sejak pagi tadi.
__ADS_1
(Bersambung)