
"Ih, masa sih? Benar yang kamu bilang itu?" tanya Kak Tyas.
"Iya. Masa aku bohong, sih? Kalian kan tahu sendiri, aku sering keluar subuh-subuh," ucap Merry. Tetangga nomor enam.
"Duh, kamu ini. Jarang-jarang pulang, giliran muncul dah bawa gosip aja," sergah Kak Nia.
"Dih, gak percayaan nih orang. Aku lihat sendiri, si Luke itu menuntun cowo ganteng itu dari rumahnya, menuju ke rumah sebelah. Baju Dede udah terbuka separuh. Kondisinya berantakan. Mereka habis ngapain coba? Apalagi mereka dulu satu SMA, kan?" jelas Merry.
"Tahu dari mana sih Lu berita di kontrakan ini? Munculin muka aja kagak pernah. Yang kita tahu, Luke itu kan selalu canggung sama cowok. Sama si Lukman yang udah sering ketemu aja, masih kaku kayak kanebo kering gitu," bantah Kak Nia lagi.
"Hadeh ... Yang namanya perempuan dewasa dan laki-laki dewasa, kalau udah 'ting', cocok gitu, mana tahu lagi malu atau canggung. Yang penting sama-sama enak," ucap Merry meyakinkan.
"Iya juga, sih. Luke sering kedapatan melihat Dede dan Ina dengan tatapan nggak suka. Padahal 'kan dia pernah sekelas dengan Dede dulu. Harusnya akrab, dong. Kecuali, kalau pernah ada sesuatu diantara mereka," tambah Kak Tyas.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka membuat jantung mereka hampir melompat. Spontan langsung menghentikan obrolan mereka.
"Mampus, kalian! Bininya keluar," bisik Kak Nia pada Tyas dan Merry.
"Nggak apa kok, Kak. Aku juga udah lihat langsung kelakuan mereka," jawab Ina sambil tersenyum manis. Tangannya menenteng ember cucian. Wajahnya terlihat sangat santai, bak gak ada masalah.
"Apa? Serius? Kamu dah dengar semuanya ya tadi? Terus perasaan kamu gimana?" tanya mereka bertiga.
"Iya. Kak Luke itu semasa sekolah nggak dekat dengan teman-teman, apalagi teman cewek. Dia selalu sibuk sendiri, sok cantik. Mendekati teman-teman cowok yang ganteng. Gak peduli si cowok udah punya pacar apa belum," kata Ina.
__ADS_1
"Hah? Beneran? Tampang lugu begitu?" tanya Kak Tyas.
"Serius," jawab Ina. "Banyak lho Kak, tampang lugu tapi sebenarnya menghanyutkan. Bahkan ada salah satu kakak kelas Ina, Kak Shilla sampai disingkirkan pacarnya sendiri demi Luke. Padahal dia itu culun banget lho," lanjut Ina.
"Waduh, parah banget tuh. Harus hati-hati kamu. Suami kamu kan cakep gitu. Entar dia asik bikin bayi sama tetangga sebelah," sahut Merry.
"Hhmmm iya, makasih sarannya kakak-kakak. Ina juga butuh bantuan Kakak untuk memperhatikan sikap mereka berdua di belakang Ina," ucap wanita cantik berambut panjang itu.
"Soal itu sih aman. Lagian Luke sekarang juga jarang di rumah. Gak tahu tuh ke mana? Padahal ia paling dikenal sebagai penjaga kontrakan sejak dulu. Saking 'mager'nya dia keluar," kata Kak Tyas.
"Sudah ku duga. Tidak mungkin tidak ada yang mendengar percakapan kami subuh tadi," batin Luke. Sejak tadi ia menyimak obrolan tetangganya di luar.
Pagi tadi ia sudah ke kampus untuk menghadiri seminar seorang mahasiswa. Usai seminar ia pun undur diri untuk pulang duluan, karena badannya terasa agak demam, akibat kurang tidur semalam. Padahal ia biasanya betah bersemedi di ruang perpustakaan jika tak ada aktivitas kampus lagi.
Luke memeras handuk kecil. Mengganti kompres kepalanya. "Kenapa jadi begini, ya? Aku kira Ina orang yang baik, tertanya musuh dalam selimut. Apa pula maksudnya aku merebut pacar Shilla? Katanya ia tidak mengenalku saat di SMA?" Luke mengingat-ingat.
Kepala Luke semakin berat memikirkannya. Bahkan untuk melabrak mereka di luar sana pun sudah tidak ada tenaga lagi.
"Yang jelas, mulai sekarang aku harus menghindari Dede. Bukan, menghindari semua cowo di kontrakan ini," batin Luke.
...*****...
"Ugh, lapar," Luke mengusap perutnya yang sudah 'dangdut koploan'.
"Astaga! Jam sepuluh? Berapa lama aku tertidur? Pantas saja aku lapar," gumam Luke.
__ADS_1
Ia baru ingat, persediaan di kulkas telah habis. Seharusnya hari ini jadwal dia belanja.
"Ya ampun, Dingin banget," Luke memasukkan jemarinya ke kantong jaket. Kakinya yang hanya beralaskan sendal jepit, melangkah menuju kedai nasi tak jauh dari kontrakan mereka.
"Duh, kalau lagi diperlukan, ojekfood malah gak ada. Kalau bukan urusan perut, malas banget deh keluar," gerutu Luke. Ia tadi mencoba pesan makan melalui aplikasi online, tetapi tak satu pun yang menerima pesanannya.
"Kepalaku makin nyut-nyutan. Kelar beli makan, singgah ke apotik deh," gumam Luke. Pandangannya mulai kabur.
"Luke? Ngapain kamu malam-malam gini keluar?"
Luke sontak menoleh, ketika mendengar suara pria yang sangat dikenalnya. "Dede? Kamu juga ngapain di sini? Memangnya istri kamu nggak masak?" balas Luke. "Duh, kenapa malah ketemu orang yang paling ingin ku hindari, sih?" ucap Luke dalam hati.
"Ehh ... Itu ..." Dede hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kamu kok jutek banget sih sama aku? Padahal dulu kamu orang yang paling ramah di kelas." Dede Mengalihkan pembicaraan.
"Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa datang padaku subuh tadi? Bukannya kamu nggak suka sama aku, illfeel denganku yang kucel ini?" balas Luke.
"Mbak, Mas, ini jadi pesan makan nggak?" tanya sang pedagang yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran keduanya.
"O-oh, iya. Jadi," jawab Dede.
BRUKK!!!
"Luke ... Luke ..." panggil Dede panik.
"Mbak ...Mbak ... Eh, coba tolong bantu angkat mbak ini dong. Ke atas kursi sana aja," ujar sang pedagang pada pelanggan lain.
__ADS_1
(Bersambung)